
Kamar tamu...
Hari ini aku terbaring lemas di tempat tidur, tidak bergerak ataupun berbicara. Aku merasa pusing seperti sesuatu energi masuk ke dalam tubuhku, energi tersebut sangatlah dingin dan membuat hatiku yang terbakar mendingin kembali. Saat aku mulai menggerakkan jari-jari ku dan membuka mata perlahan terlihat para Pangeran dan Baginda Ayah Kaisar menunggu ku dengan rasa kecemasan itu sangat terlihat jelas di raut wajah mereka.
"A...Ayah... Kakak!" Panggil Erces dengan nada nya yang sedu.
"Iya sayang ayah di sini! Kamu istirahat lah" Kaisar memegangi tangan Erces sambil mengusap dahinya dengan lembut yang bertujuan agar putrinya kembali beristirahat.
"Kakak! Huhuhu akhirnya kau sadar juga!" Teriak Pangeran ke-lima sambil langsung memeluk Erces .
"Apakah acaranya sudah selesai?"
"Sudah... Pikirkan saja dirimu yang seperti sampah saat ini!" Jawab Rulian dengan nada tegasnya dengan raut wajah memperlihatkan kekhawatiran.
"Rulian!" Bentak Kaisar.
"Kau berani mengatakan bahwa putri ku yang manis ini sampah? Kaulah yang sampah apa kau tahu!?"
"Cih, ayah aku tahu kau khawatir, dan apa kau kira bahwa kakaknya ini sama sekali tidak mengkhawatirkan adiknya?, Dasar kau Erces tidak bisa menjaga dirimu!"
Brak!!! Pintu tertutup dengan keras.
Kata terakhir kakak ku membuatku tersadar bahwa benar aku sampah yang tidak bisa mengendalikan kekuatan ku, aku rasa Kak Rulian memang tidak salah. Ia hanya menjalankan kewajiban nya sebagai seorang kakak. Pastinya kakak akan mengkhawatirkan satu-satunya adik perempuan yang ia miliki.
"Kakak aku mengerti, maaf"
"Sudah lah, adik sebaiknya kau banyak istirahat saja, untuk sementara kau libur dulu untuk tidak melakukan pembelajaran" Ujar Pangeran Pertama agar adiknya tidak terlalu memikirkan perkataan yang di ucapkan Rulian.
***
"Hiya... Senangnya menjadi putri tunggal seorang Marquess, tinggal minta langsung ada, hahah..."
"Hmmm apa yang harus aku beli? Saking banyak dan cantik-cantik aku tidak sanggup untuk tidak membeli..." Ucap Thanaiya dengan nada sombongnya.
"Nona, sebaiknya kita sudah harus pulang ini hampir menjelang malam" Ucap pelayan pendamping Thanaiya
"Benar nona..." Jawab ksatria yang bertugas melindungi keluarga Marquess.
"Cih, baiklah kalian terlalu cerewet juga!"
Saat dalam perjalanan pulang samar-samar terdengar oleh Thanaiya dan pelayanan tersebut di dalam kereta kuda. Banyak desas-desus bertebaran bahwa anak tunggal atau pewaris tunggal konglomerat ke-2 meninggal dengan tragis.
"Ya Tuhan kasihan sekali nasib anak itu...Saya jadi merasa sedih, benarkan nona?"
"Non...Nona"
__ADS_1
Sudah beberapa kali pelayan tersebut memanggil Thanaiya tetapi ia tidak sadar dan tetap dengan renungannya.
Pak!!!
"Non, ada apa?" Pukul pelayan tersebut dengan pelan ia merasa bingung ada apa dengan nona yang ia layani.
"Cepat! Pulang! Aku ingin pulang...!" Bentak Thanaiya dengan wajah gusarnya seperti orang ketakutan karena melihat setan secara langsung. Sontak itu membuat sang kusir, pelayan, dan ksatria nya kaget, tetapi mereka hanya bisa mematuhi perintah tuan-nya.
"Sial apa yang terjadi, ke... Kenapa dia bisa mati, aku harap ini tidak ada kaitannya dengan ku!"
Gubrak!!!
Aakhhhh!!!
Sring!!!
Trang!!!
"Akhhh nonaaa, cepat lindungi diri anda. Seseorang ingin membunuh nona!" Ksatria itu mencoba untuk melindungi tuannya dari ancaman bahaya ia menghadang pintu kereta kuda agar si penjahat tidak berhasil untuk membunuh Thanaiya.
Saking ketakutannya Thanaiya tidak dapat berfikir ia sudah ada di ujung kematian, saat hampir belati menusuk dadanya dari belakang ia menyadari nya dan terpaksa mengorbankan pelayan yang ada di sampingnya, dan terbunuh.
"Tidak, aku tidak boleh mati!. Aku harus lari mencari perlindungan!" Thanaiya berlarian kesana-kemari untuk mencari secercah perlindungan tetapi tidak ada seorangpun saat itu juga. Tentu saja karena jalan yang ia lewati hanyalah hutan belantara.
"Argh, hiks aku tidak kuat lari lagi"
"Tol... Tolong... Saya di kejar oleh bandit" Memohon Thanaiya.
Senyum. "Cih, menyelamatkan mu? Apakah kau tahu kau itu sudah hampir membunuh belahan jiwaku malam itu" Jawab pria tersebut dengan nada kecilnya namun itu membuat Tahaniya sedikit bingung dan takut.
"Apa maksud anda?"
"Ini adalah akhirnya, kau harus mati..." TEBAS.
"Ini lah akibatnya jika ada yang menggangu belahan jiwaku!"
"Akhhhh tidak mungkin!" Thanaiya terbunuh dengan sangat tragis kepalanya terpenggal saat keesokan harinya para pengembara menemukan seseorang yang berbaring di tanah dan dia langsung di bawa untuk diumumkan dan untuk menemui keluarga.
Susana haru menyelimuti keluarga besar Marquess Bai. Dua suami-istri tersebut menangis tersedu-sedu tidak menyangka bahwa putrinya akan meninggal. Pemakaman di mulai dan selesai tepat siang hari. Semua yang hadir turut berdukacita dan meninggalkan pemakaman tersebut.
"Sayang! Aku tidak percaya anak kita mati, kau... Hiks... Kau harus membalaskan dendam anak kita...hiks... Harus!".
"Iya! Aku juga tidak percaya, aku harus membalaskan dendam ini! Tapi itu tidak akan berjalan mulus pastinya".
"Apa sebaiknya aku menemui Kaisar Fianlor"
__ADS_1
***
Aku segera menuju ruang Baginda Ayah Kaisar setelah mendengar kabar bahwa putri keluarga Bai meninggal. Aku terkejut apakah ini semua adalah perlakuan orang dalam kekaisaran atau ini malah perbuatan yang dilakukan oleh kakak-kakak ku.
Tok...Tok...Tok!!!
"Semoga ayah di berkahi oleh Dewa Agung" Salam Erces saat sudah ada di depan ayahnya.
"Ada apa kau mencariku Erces?"
"Ayah aku dengar bahwa Putri keluarga Bai meninggal, apa benar?"
"Iya benar, aku turut berdukacita tapi entah kenapa aku senang, hahah. Hkm"
"Ayah kau tidak boleh begitu, bagaimana pun orangtuanya pasti sedih ditinggal oleh anaknya lebih dulu, itupun berlaku untukku dan ayahanda"
Kaisar sadar bahwa setelah istri sekaligus permaisuri kekaisaran Fianlor meninggal tidak ada lagi kenangan yang ditinggalkan oleh mendiang. Hanya ada satu yaitu Erces Fianlor, maka dari itu Kaisar ingin melindungi anaknya bagaimanapun dengan segenap nyawanya. Dengan kalimat yang di ucapkan Erces tadi ia merasa terpukul.
"Ah... Maaf, memangnya kenapa kau menanyakan tentang hal itu?" Tanya Kaisar.
"Tidak, hanya saja apakah semua kejadian yang di alami Thanaiya Bai ada hubungannya dengan anggota kekaisaran?" Tanya Erces penasaran.
"Tidak! Tentu saja tidak!" Tegas Kaisar.
"Baiklah jika memang tidak ada aku jadi merasa tenang, aku pergi dulu ayah. Sampai jumpa" Erces meninggalkan ruangan kaisar dengan senyuman manisnya, dan itupula di balas oleh kaisar dengan senyuman menawan.
"Aku rasa dia sudah tiba..."
.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
NEXT->
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN ADD TO FAVORIT AGAR AUTHOR LEBIH SEMANGAT LAGI, THANKS!