Princess With Magic

Princess With Magic
Acara Penobatan


__ADS_3

Hari ini adalah hari penobatan Canesta sebagai putri kerajaan Calast. Seluruh istana sibuk sejak beberapa minggu yang lalu demi mempersiapkan acara penobatannya.


"Tuan putri terlihat sangat cantik hari ini," puji Viscountess Amelia, salah satu dayang Canesta.


"Apa di hari lain aku tidak cantik?" canda Canesta.


"Bukan begitu. Tentu saja putri cantik setiap hari," balas Amelia sambil tertawa.


"Kau cantik saat tertawa."


"Terima kasih pujiannya."


"Hehe."


Para dayang dan seluruh istana sibuk mempersiapkan acara penobatan putri. Canesta sendiri sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sejak pagi buta. Ia sudah cukup terbiasa. Sebagai seorang putri, ini bukan pertama kali Canesta mengalami hal seperti ini yang mengharuskannya bersiap sejak pagi buta.


"Aku lapar," ucap Canesta.


"Sebentar lagi kita akan sarapan. Tapi sedikit saja, karena putri harus terlihat sempurna di acara penobatan."


"Baiklah."


Setelah mandi dengan prosedur yang panjang, rambut Canesta ditata dengan hati-hati. Lalu ia didandani dan sarapan.


"Akhirnya. Aku sangat lapar," gumam Canesta. Amelia yang mendengarnya langsung tertawa.


Canesta sarapan dengan hening. Canesta tidak sarapan bersama Raja, Ratu, dan adiknya Florence. Karena mereka semua sangat sibuk mempersiapkan acara penobatan.


"Baiklah aku sudah selesai," kata Canesta setelah menyelesaikan sarapannya.


"Akan saya bereskan," ucap Countess Helen.


"Aku ingin bertemu Flo sebentar. Dimana dia?"


"Putri Flo ada di kamarnya."


Canesta keluar dari kamar lalu pergi ke kamar adiknya, Putri Flo.


"Flo. Kamu di dalam?" tanya Canesta sambil mengetuk pintu pelan.


"Masuklah," terdengar suara Flo dari dalam.


Canesta masuk, dan di sana ada Flo yang sedang berbaring mengenakan gaun polos di kasurnya, serta para dayang yang sedang melakukan tugasnya masing-masing.


"Ya ampun. Sudah jam segini belum pakai gaun? Rambutmu bahkan belum ditata dan kau belum didandani."


"Maaf tuan putri, Putri Flo terus menolak untuk dipakaikan gaun, ditata rambutnya, dan didandani. Akhirnya kami mencoba memaksa, tapi Putri berontak," jelas Viscountess Aini sambil sedikit membungkuk.


"Anak ini tidak pernah berubah. Cepat bersiap!"


"Sebentar lagi kak."


"Sekarang!"


"Iya, iya."


Canesta mengalihkan pandangan ke arah para dayang, "Pastikan Putri Flo siap tepat waktu. Jika dia menolak, laporkan padaku."


"Baik, Putri."


Canesta pun meninggalkan kamar Flo. Flo menghembuskan nafas.


"Hadehh... Padahal ini acara penobatan kakak. Kenapa aku harus ikutan repot," sungut Flo.


"Karena Putri harus hadir sebagai keluarga," jawab Countess Maria. "Sekarang kita harus bersiap."


"Baiklah."


Para dayang memakaikan Flo gaun yang memang sudah dijahit khusus untuk keluarga kerajaan. Flo terlihat sangat cantik. Namun ia tidak menyukainya. Gaun itu membuat sesak dan repot memakainya.


"Putri terlihat sangat cantik!" seru Countess Lucia. Flo berusaha tersenyum.


Selanjutnya, Flo didandani. Flo didandani tipis-tipis karena dia tidak suka memakai banyak make-up di wajahnya.


"Sudah selesai, Putri. Selanjutnya penata rambut akan menata rambut anda."

__ADS_1


"Hm."


Penata rambut kerajaan datang lalu segera menata rambut Flo dengan hati-hati dan cekatan. Flo terkikik melihat penata rambut itu yang memperhatikan setiap sudut.


"Selesai, Putri," seru penata rambut itu setelah beberapa lama.


"Eh apa?" Flo linglung. Penata rambut itu menata cukup lama, dan Flo sudah hampir berada di alam mimpi.


"Oh, sudah selesai ya? Baiklah, terima kasih," ucap Flo.


"Merupakan kehormatan bagi saya," penata rambut itu membungkuk lalu pergi.


"Selanjutnya apa?" tanya Flo.


"Putri mau sarapan?"


"Aku sudah sarapan tadi pagi. Tapi tolong bawakan beberapa makanan ringan," pinta Flo.


"Baiklah."


Viscountess Aini membawakan beberapa biskuit dan kue kering. Serta snack kemasan dan teh.


"Jarang sekali ada keluarga kerajaan maupun bangsawan yang memakan snack kemasan," komentar Countess Maria.


"Hehe. Aku menyukainya. Kalian mau coba?"


"Apakah boleh?"


"Tentu saja."


Para dayang dan pelayan yang ada di sana mencoba snack kemasan. Ternyata rasanya enak.


"Ini enak sekali. Saya akan membelinya lagi dan menyimpan stok snack di rumah saya," kata Countess Lucia.


"Karena itulah aku menyukainya," senyum Putri Flo.


Setelah puas makan, Flo membaca novel yang berjudul 'Love Ain't a Science'. Flo sangat menyukai novel itu. Menurutnya novel itu bagus.


Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke kamarnya.


"Baiklah."


"Saya pamit undur diri," lalu pelayan itu pergi.


"Ayo segera turun, Putri. Semua dayang juga sudah siap," ucap Viscountess Nikhel. Para dayang berdandan selayaknya bangsawan. Fyi, dayang itu adalah bangsawan yang memiliki posisi sama atau lebih rendah dari yang dilayaninya.


"Oke."


Flo mengecek penampilannya sekali lagi, lalu segera keluar bersama para dayang. Tak sengaja, mereka bertemu Canesta.


"Ayo kita ke aula bersama," ajak Flo. Canesta mengangguk tanda setuju.


Mereka berjalan hingga ke pintu besar menuju aula. Sekarang mereka harus menunggu Raja dan Ratu terlebih dahulu, karena keluarga kerajaan harus memasuki aula lewat pintu besar bersama-sama.


"Kita harus menunggu ayah dan ibu," kata Canesta. "Dan aku tidak bisa bersender karena takut tatanan rambutku rusak. Juga tidak bisa duduk karena takut gaunku kusut."


"Sabar aja," jawab Flo.


Tak lama, Raja dan Ratu datang. Mereka nampak anggun dan berwibawa. Canesta juga seperti itu. Flo jadi kesal karena sepertinya penampilannya yang paling biasa. Tapi ya sudahlah. Flo juga tidak mau memakai aksesoris yang ribet.


"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Putri Canesta de Calast, dan Putri Flo de Calast, memasuki aula!" terdengar suara MC yang mengumumkan kedatangan mereka.


Canesta dan keluarganya memasuki aula dengan gagah dan elegan di atas karpet merah. Semua mata tertuju pada mereka. Mereka berempat berjalan hingga sampai di tempat tahta berada, lalu duduk di tempat masing-masing.


"Hari ini adalah acara penobatan putri tertuaku, Canesta de Calast, sebagai putri kerajaan Calast, serta pewaris tahta yang sah!" seru Raja.


Acara penobatan dimulai. Canesta berdiri, lalu seseorang membawakan sebuah bantal dimana di atas bantal itu ada sebuah tiara yang sangat cantik dan berkilau.


Raja mengambil tiara, lalu memasangkannya di kepala Canesta dengan hati-hati. Ia tersenyum.


"Dengan ini, Putri Canesta dengan resmi menjadi putri kerajaan Calast!" seru Raja Aries. Semua orang bertepuk tangan.


Setelah itu, Canesta kembali ke tempat duduknya. Acara berlangsung meriah. Makanan yang disediakan sangat mewah. Hadirin nampak senang sepanjang pesta berlangsung.


"Kalian tidak mau berdansa?" tanya Raja Aries pada Canesta dan Flo. Mereka berdua mengangguk. Raja tersenyum. "Berdansalah."

__ADS_1


Canesta dan Flo turun lalu berkeliling. Mereka makan dan minum sambil mencari orang untuk berdansa.


"Apa kau mau berdansa denganku, Putri?"


Canesta menoleh. Ternyata yang mengajaknya berdansa adalah Pangeran Thames, pangeran tertua kerajaan Tales.


"Baiklah."


Canesta dan Thames berjalan beriringan ke lantai dansa. Semua orang memandang mereka berdua. Banyak yang mengatakan mereka sangat serasi. Wajah Canesta sedikit memerah mendengarnya, namun berusaha ia sembunyikan.


Para musisi mulai memainkan musik terindah untuk Putri Canesta dan Pangeran Thames. Mereka berdua berdansa dengan sangat indah tanpa satu kesalahan pun. Ya, masing-masing merupakan penari terbaik di negerinya.


"Anda sangat cantik, Putri," puji Pangeran Thames.


"Terima kasih. Anda juga sangat tampan hari ini," balas Canesta.


"Apa di hari lain saya tidak tampan?"


"Saya tidak tahu, karena ini pertama kalinya kita bertemu."


"Anda ada benarnya."


Canesta dan Thames berdansa hingga alunan musik berakhir. Lalu mereka menunduk satu sama lain untuk memberi hormat.


"Lelahnya..." gumam Canesta.


"Stamina anda lemah sekali, Putri," komentar Pangeran Thames.


"Anda sangat tidak sopan, Pangeran."


"Maafkan saya kalau begitu."


Acara penobatan berlangsung hingga menjelang malam. Para tamu pulang dengan wajah senang.


"Hahh..." Canesta langsung menghempaskan diri ke kasur begitu sampai di kamar.


"Anda lelah? Perlu saya siapkan air untuk mandi?" tanya Viscountess Amelia.


"Ya. Aku perlu merelaksasi diri."


Para dayang segera menyiapkan air mandi, lalu memandikan Canesta.


"Kulit Putri sangat putih dan halus," puji Marchioness Lin.


"Jangan memujiku seperti itu. Aku jadi malu."


"Haha, maafkan saya."


Saat sedang mandi, tiba-tiba Flo masuk. Canesta sangat terkejut.


"Flo! Tutup pintunya! Bagaimana kalau ada yang melihat!" seru Canesta panik. Flo tertawa melihat reaksi kakaknya.


"Jangan khawatir. Aku sudah meminta penjaga untuk tidak membukakan pintu untuk siapapun dengan alasan apapun."


"Baiklah. Ada apa kesini?"


"Tidak ada."


"Ya ampun. Apa kau datang untuk mengintipku?"


"Haha, aku masih normal kok kak. Aku hanya datang berkunjung, tapi kebetulan kakak sedang mandi. Aku akan pergi sekarang."


"Segeralah pergi kalau begitu."


Flo langsung pergi. Dia tak lupa menutup pintu kamar mandi, lalu keluar dari kamar Canesta.


"Hahh..." Canesta menghembuskan nafas. "Dia tak pernah berubah."


"Bagaimanapun, Putri Flo adalah adik Putri," ucap Countess Hannah."


"Kau benar."


Selesai mandi, Canesta makan sedikit camilan. Lalu ia menggosok gigi dan tertidur lelap...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2