Princess With Magic

Princess With Magic
Tujuh Kalung


__ADS_3

"Ayo kita mulai."


Perburuan harta karun dilanjutkan hari ini, tepatnya jam 11 pagi. Para putri bangsawan, Canesta, dan Flo sudah bersiap. Mereka bertekad untuk mengalahkan satu sama lain.


Perburuan dimulai. Mereka berpencar dan masing-masing berusaha mencari petunjuk. Mereka nampak sangat serius dalam hal ini.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Canesta pada Flo. Flo menggeleng,


"Belum."


"Sepertinya Countess Helen sangat pandai dalam hal menyembunyikan barang," keluh Canesta. Ya, orang yang menyembunyikan harta karun yang mereka cari-cari adalah Countess Helen. Countess Helen terkenal cerdas dan ia sangat menyukai teka-teki.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau Countess Helen yang menyembunyikannya," ucap Flo pasrah.


"Ayolah, kita tidak boleh begitu. Setelah ayah dan ibu meninggal, kita harus mengurus kerajaan. Kita bisa berlatih dari menyelesaikan teka-teki Countess Helen terlebih dahulu," nasihat Canesta.


"Baiklah. Kau benar, kak."


Tadi, Countess Helen memberi masing-masing anak satu petunjuk. Karena menurutnya teka-teki ini terlalu sulit untuk diselesaikan tanpa petunjuk.


"Hm petunjukku adalah 'bayangan kegelapan di bawah sinar matahari'. Apa maksudnya?" tanya Canesta entah pada siapa.


"Punyaku 'Di bawah kegelapan ada cahaya'," kata Flo. "Sepertinya petunjuk kita saling terhubung."


"Sepertinya begitu."


Canesta dan Flo duduk sejenak di bawah pohon untuk memikirkan arti petunjuk mereka. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Bayangan kegelapan ya..." gumam Canesta. Canesta teringat, lambang kegelapan di Kerajaan Songdam adalah bunga mawar hitam. Kerajaan Songdam adalah kerajaan tetangga yang terletak di selatan Kerajaan Calast.


"Apa ada hubungannya dengan mawar hitam?" pikir Canesta. Dia berdiri. "Aku akan berkeliling sebentar."


Canesta meninggalkan Flo yang kelelahan dan masih ingin duduk di bawah pohon. Canesta berjalan sendiri sambil mengamati setiap pohon.


"Aha!" seru Canesta. Flo yang hampir masuk ke alam mimpi sampai terbangun.


"Apa kakak menemukan sesuatu?" tanya Flo. Dia bangkit dan berlari ke arah suara Canesta.


"Ada apa?" tanya Flo penasaran.


"Apa bunyi petunjukmu, Flo?" tanya Canesta alih-alih menjawab.


"Petunjukku?"


"Iya."


"Hmm... 'Di bawah kegelapan ada cahaya'."


Canesta berlari entah ke mana. Flo memutuskan untuk berdiri dan menunggu.


Tak lama, Canesta kembali dengan membawa sebuah sekop. Ia segera menggali di bawah bayangan pohon.


"Ada apa kak? Kenapa kau tiba-tiba menggali?" tanya Flo. Canesta tidak menjawab. Dia tetap menggali.


"Ini dia," kata Canesta. Ia mengulurkan tangan ke dalam lubang dan menarik kembali tangannya yang memegang sebuah kotak.


"Wah. Apa itu?" tanya Flo.


"Aku juga tidak tahu," jawab Canesta. Flo mendekat dan Canesta membuka kotak itu.


"Wow!" seru Flo. Di dalamnya ada sebuah patung balerina kecil yang terbuat dari lilin. Balerina itu nampak tersenyum bahagia dengan gaun balet putih indahnya.


"Nampaknya ini salah satu petunjuk. Kita simpan dulu dan cari yang lain. Mungkin di antara petunjuk mereka ada yang berhubungan dengan ini," kata Canesta. Flo setuju.


Canesta menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam kantung makanan dan minuman yang sengaja ia bawa jika mereka lapar atau haus.


Canesta dan Flo berjalan dan mencari peserta lain. Dari kejauhan, mereka melihat rambut hitam legam Luna. Mereka berdua menghampiri Luna.


"Halo Luna."


Luna menoleh dan tersenyum. Di tangannya ada seekor kelinci berbulu putih yang nampak agak kusam, tapi tak bisa menutupi keimutan kelinci itu.


"Oh, halo Tuan Putri," balas Luna.


"Apa itu?" tanya Flo.


"Tadi saya menemukan kelinci imut ini terluka. Karena tidak sempat kalau harus kembali, saya merobek sedikit gaun saya dan memerban kaki kelinci ini," jelas Luna. Canesta dan Flo manggut-manggut mengerti. Gaun Luna terlihat sedikit robek di bagian bawah dekat kaki. Luna memang dikenal sebagai anak baik hati penyayang hewan. Di rumahnya, dia memelihara banyak sekali hewan dari berbagai spesies.


"Kau baik sekali," puji Canesta.


"Ah, ini bukan apa-apa Tuan Putri."


Setelah mengelus-elus kelinci, Canesta dan Flo menjelaskan tentang kotak yang mereka temukan dan meminta kerja sama Luna untuk menunjukkan petunjuknya yang mungkin saja berhubungan dengan kotak itu.


"Oh, petunjuk saya adalah 'Bagai permata di lantai dansa'."


"Bagai permata di lantai dansa ya..." gumam Flo.


"Bagaimana kalau kita mencari para nona dan mengumpulkan semua petunjuk?" usul Luna.


"Baiklah, ayo."


Mereka bertiga berjalan santai sambil sekali-sekali mengelus kelinci dan makan bekal. Saat mereka sedang duduk di bangku taman untuk beristirahat sejenak, datanglah Vizche dan Kara yang membawa sebuah buntelan.

__ADS_1


"Hai."


"Oh hai Tuan Putri dan Luna. Apa kalian sudah menemukan petunjuk?" tanya Kara.


"Sudah. Dan dilihat dari buntelan itu sepertinya kalian juga sudah menemukan petunjuk," jawab Flo.


"Mau bekerja sama?" tawar Canesta.


"Tentu saja. Kami memang sedang mencari peserta lain untuk menggabungkan petunjuk dan menemukan harta karunnya," jawab Kara.


"Ayo kita bertukar petunjuk," kata Vizche. Mereka berlima saling menukar petunjuk. Canesta membaca petunjuk milik Kara dan Vizche.


"Akulah bintang di bawah langit malam..." Canesta membaca petunjuk Kara.


"Aku sangat menyayangi benda itu dan ada petunjuk untukmu," Luna membaca petunjuk Vizche.


Mereka membuka buntelan itu. Isinya hanya sebuah kertas kosong.


"Kertas kosong?" tanya Flo.


"Ya. Kami juga bingung saat tak sengaja menemukannya di kamar pertama di antara tujuh kamar selir," jawab Vizche.


"Kami menemukannya di dalam lemari pakaian," kata Kara.


"Sepertinya aku tahu apa ini," ucap Canesta.


"Apa?"


Canesta memunculkan api dari tangannya. Ia mendekatkan api itu pada kertas dengan hati-hati agar tak membakarnya. Tak lama, tulisan mulai muncul di kertas itu seperti sihir. Setelah kertas itu dipenuhi tulisan, Canesta menghilangkan apinya.


"Ajaib!" seru Vizche.


"Kertas ini ditulis dengan air lemon. Ketika didekatkan dengan sumber panas, barulah tulisannya akan terlihat," jelas Canesta.


"Tuan Putri sangat pintar," puji Luna.


"Hehe biasa saja. Ayo kita baca tulisannya."


Mereka membaca kertas itu bersama. Isi kertas itu adalah :


Halo anak-anak. Kalian sudah memecahkan hint paling penting dalam perburuan ini. Hint ini baru aku buat tadi pagi. Hintnya adalah, harta karun itu berada di tempat yang tinggi dan kalian bisa mengambilnya dengan kekuatan Tuan Putri Canesta. Tempat harta karun itu berada, bersinar dan menyinari. Kalian juga harus menemukan nama pemilik harta karun ini.


Sejenak, suasana menjadi hening. Semua sibuk dalam pikirannya masing-masing yang mencoba mencerna arti kata-kata ini.


"Jadi tempatnya tinggi dan kita bisa mengambilnya dengan kekuatan kakak. Dan tempat itu juga bersinar dan menyinari. Begitu kan?" kata Flo mencoba menjabarkan.


"Sepertinya begitu," jawab Kara.


"Bersinar dan menyinari. Apa itu lampu?" tanya Vizche.


"Tapi ada banyak lampu di istana ini. Tidak mungkin kita cek satu persatu. Itu akan memakan waktu seabad," kata Vizche.


"Pertama kita harus mencari Arabella dan Jane," kata Canesta.


"Kalau begitu ayo kita cari mereka," jawab Flo.


Mereka berlima mengambil beberapa makanan untuk dimakan sambil berjalan. Sebenarnya tidak baik makan sambil berjalan, tapi mereka harus mencari Arabella dan Jane.


"Dua orang itu suka pergi ke tempat yang aneh," gerutu Flo.


"Jangan menggerutu. Kita cari saja."


"Hadehh... Baiklah."


Mereka berjalan santai mencari Arabella dan Jane. Sampai mereka mendengar sebuah suara,


"Aww!"


"Itu seperti suara nona Arabelle," ujar Vizche.


"Sepertinya datang dari gudang."


Canesta, Flo, Luna, Kara, dan Vizche segera berlari ke gudang. Namun mereka harus tetap berhati-hati, atau mereka akan tersandung gaun.


Mereka melihat ke dalam melalui pintu gudang yang terbuka. Nampak Arabelle yang terduduk memegangi kakinya yang terlihat lecet. Sementara Jane mengoleskan obat merah dan menyuruh Arabelle untuk menahan sakit.


"Ada apa?" tanya Kara. Arabelle dan Jane menoleh ke pintu.


"Kaki nona Arabelle lecet terkena sekop. Lukanya mengeluarkan darah. Aku sudah mengelap darahnya. Karena aku membawa obat merah, jadi aku oleskan pada luka nona Arabelle. Oh, dan apa ada yang punya perban?"


"Aku ada sisa kain yang belum terpakai saat mengobati Bunny tadi," jawab Luna.


"Bunny?"


"Iya. Aku memberi kelinci ini nama Bunny."


Luna mengambil sisa kain dan membantu memerban Arabelle. Arabelle sangat berterima kasih pada mereka.


"Terima kasih. Lain kali aku tidak akan ceroboh lagi," ucap Arabelle.


"Terima kasih kembali," jawab Jane.


"Ini bukan luka serius, jadi akan cepat sembuh," kata Luna.

__ADS_1


"Baiklah. Sekali lagi, terima kasih."


Mereka semua keluar dari gudang. Kara dan Jane memapah Arabelle yang sedikit kesulitan berjalan. Mereka duduk di bawah pohon.


"Jadi, petunjuk apa yang kalian punya," tanya Canesta.


"Kami tidak memiliki petunjuk apapun selain yang diberikan Countess Helen. Tadi kami sedang mencari petunjuk saat kakiku terkena sekop dan terluka," jelas Arabelle.


"Petunjukku yang diberikan oleh Countess Helen adalah 'Di tempat itu, aku bersinar'," kata Jane.


"Bagaimana denganmu, nona Arabelle?" tanya Canesta.


"Semua orang memandangku dan bertepuk tangan saat aku selesai menorehkan legenda," jawab Arabelle.


"Hm... Kira-kira apa arti semua ini?" gumam Canesta.


"Kalau kalian, apa petunjuk yang kalian dapatkan?" tanya Arabelle. Canesta, Flo, Luna, Vizche, dan Kara pun menjelaskan tentang petunjuk yang mereka dapatkan.


"Ah, sepertinya aku tahu di mana harta karun itu berada," ucap Arabelle sambil tersenyum misterius. "Tempat itu memang tinggi, dan kita butuh kekuatan Putri untuk mengambilnya."


"Apa itu?"


"Ikuti aku."


Arabelle berjalan dengan Canesta, Flo, Luna, Kara, Vizche, dan Jane mengikutinya. Sekarang luka Arabelle sudah sedikit membaik, sehingga dia sudah bisa berjalan tanpa dipapah.


Arabelle dkk memasuki istana. Mereka berjalan hingga sampai ke aula, tempat diadakannya pesta-pesta besar.


"Apa harta karunnya ada di sini?" tanya Flo.


"Iya."


Arabelle menunjuk ke atas, "Harta karunnya ada di sana."


"Di sana? Di lantai atas?" tanya Kara.


"Bukan. Harta karunnya ada di lampu besar itu," jelas Arabelle.


"Baiklah. Aku akan mengecek apa ada sesuatu di sana," ucap Canesta.


Canesta memejamkan matanya. Dia bisa melihat ada sebuah kotak di sana.


"Wah, memang ada sesuatu di sana," ucap Canesta setelah membuka mata.


"Cepat ambil kak," kata Flo.


"Ya, ya. Sabar."


Canesta mengayunkan tangannya ke arah lampu gantung besar aula. Beberapa detik kemudian, sebuah peti yang tidak terlalu besar, melayang ke bawah dan mendarat di tangan Canesta.


"Countess Helen sangat cerdik dan menaruhnya di sana dengan sedemikian rupa agar tidak terlihat," kata Vizche.


"Ayo kita ke kamarku dan buka petinya di sana," kata Canesta.


Canesta dkk pergi ke kamar Canesta dengan membawa peti itu. Setibanya di kamar, mereka disambut oleh para dayang, khususnya Countess Helen.


"Kalian menemukan harta karunnya?" tanya Countess Helen.


"Ya. Dan kami akan membukanya sekarang," jawab Canesta. "Countess sangat pandai menyembunyikan barang dan membuat teka-teki."


"Tentu saja. Aku sudah membuat perburuan ini sulit. Tapi kalian putri-putri pintar, kalian menemukannya," jawan Countess Helen sambil tersenyum.


Canesta menaruh peti itu di atas meja. Semua orang bahkan para dayang, memfokuskan mata mereka ke peti itu. Dan saat dibuka, isinya adalah...


"Wah!"


"Sangat cantik!


"Auranya juga sangat kuat."


Di dalam peti itu, ada tujuh kalung permata dengan tujuh warna berbeda yang sangat indah. Canesta juga merasakan aura yang sangat kuat dari kalung-kalung itu.


"Ini adalah kalung MillStone. Yang Mulia Raja memberikannya kepada saya untuk diberikan kepada kalian. Masing-masing kalung memiliki kekuatannya sendiri yang sudah dicocokkan dengan kalian," jelas Countess Helen.


"Jadi kami akan punya kekuatan seperti kakak?" tanya Flo antusias.


"Iya. Kalung ini terbuat dari sihir Tuan Putri. Walau tidak akan sekuat Tuan Putri, kalung ini akan memberi kalian kekuatan yang cukup besar," jawab Countess Helen.


"Kapan ayah mengambil sihirku?!" tanya Canesta kaget.


"Yang Mulia Raja menyuruh saya mengambilnya saat Tuan Putri tidur."


"Ya ampun. Ada-ada saja kelakuan ayah. Tapi ya sudahlah. Aku akan berbagi kekuatan sihirku dengan kalian."


Semua orang tertawa melihat Canesta. Lalu, Countess Helen mengalungkan kalung itu pada setiap orang. Kalung merah untuk Vizche, kalung oranye untuk Kara, kalung kuning untuk Jane, kalung hijau untuk Flo, kalung biru muda untuk Luna, kalung biru tua untuk Arabelle, dan kalung ungu untuk Canesta.


"Terima kasih, Countess."


"Berterima kasihlah pada Yang Mulia Raja yang meminjamkan batu penyerap sihir pada saya untuk mengambil sihir Tuan Putri, dan Tuan Putri yang sudah memberi kekuatan sihirnya," balas Countess Helen.


"Terima kasih, Tuan Putri. Dan sampaikan terima kasih kami kepada Yang Mulia Raja," ucap Arabelle mewakili semuanya.


"Sama-sama. Dan aku akan menyampaikan terima kasih kalian kepada ayah nanti," balas Canesta.

__ADS_1


Mereka minum teh dan makan beberapa makanan ringan. Lalu para putri bangsawan pamit dan pulang ke kediamannya masing-masing. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan bagi mereka semua, karena mereka mendapatkan pengalaman, kekuatan, dan sahabat baru.


...****************...


__ADS_2