
Kemarin, Jenny dan Jessi mengundang Canesta dan teman-temannya berkunjung ke rumah mereka, di kediaman Viscount Jezelle. Tentu Canesta menerima undangan itu dengan senang hati. Dan sekarang para dayang sedang sibuk memandikan, memakaikan pakaian, dan mendandani Canesta.
Canesta terlihat cantik. Dia memakai gaun putih polos biasa dan rambutnya diikat satu dengan kalung ajaib miliknya dan gelang permata. Canesta memang pada dasarnya sudah cantik. Dan kerajaan Calast mengakui bahwa putri mereka itu memang cantik.
"Tuan Putri sangat cantik," puji Countess Helen sambil memberi sentuhan terakhir pada rambut Canesta.
"Terima kasih, Countess," balas Canesta.
Canesta memakai sepatunya dan keluar kamar. Dia bertemu Flo yang juga sudah siap dengan gaun biru tua cantik dan rambut yang digerai. Mereka berdua turun ke bawah dan naik ke kereta kuda.
Perjalanan ke kediaman Viscount Jezelle memakan waktu sekitar setengah jam. Canesta memandang keluar jendela. Dia melihat rakyatnya yang cukup makmur. Namun Canesta tahu, bahwa di antara mereka masih ada rakyat miskin. Tentu saja, dalam sebuah negara mana ada rakyat yang tidak berkecukupan. Kerajaan Calast yang terkenal sebagai salah satu kerajaan paling makmur saja masih memiliki rakyat miskin di tengah rakyat yang sudah sejahtera.
"Aku percaya kau akan mengubah pemandangan itu suatu saat nanti," ucap Flo pada Canesta. Dia tahu apa yang Canesta pikirkan.
Canesta memandang Flo dan tersenyum, "Semoga."
Setengah jam kemudian, mereka sampai di kediaman keluarga Jezelle. Mansion keluarga Jezelle cukup besar. Keluarga Jezelle memang termasuk kaya di antara jajaran bangsawan Viscount lainnya.
"Selamat datang, Tuan Putri," Jessi menyambut Canesta dan Flo. Di belakangnya ada Jenny yang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum.
"Ah, Tuan Putri sudah datang. Suatu kehormatan bagi kami," sambut Viscount Jezelle dengan Viscountess Jezelle yang cantik di sampingnya.
Canesta dan Flo tersenyum lalu menjabat tangan Viscount Jezelle. Tak lama, terdengar suara beberapa kereta kuda. Itu pasti Arabelle, Vizche, Jane, Luna, dan Kara.
Luna adalah yang paling pertama masuk. Dia tersenyum dan sedikit membungkuk pada semua orang di ruangan itu. Luna memang berkepribadian baik, sopan, dan lembut. Dia juga penyayang.
"Selamat pagi, Tuan Putri, Putri Flo, beserta Viscount dan Viscountess Jezelle," ucap Luna. Mata biru permatanya berkilau indah.
"Selamat datang, Luna," balas Viscount Jezelle, "Silahkan duduk."
Luna duduk di sofa ruang tamu besar Viscount Jezelle. Tak lama, Arabelle, Vizche, Jane, dan Kara masuk dan memberi salam lalu duduk di sofa.
"Akhirnya kalian semua datang," kata Flo.
"Hehe ngaret sebentar Tuan Putri," jawab Vizche menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hey sudah kubilang jangan panggil aku Tuan Putri."
"Haha maafkan aku."
__ADS_1
Nina, pelayan keluarga Jezelle, datang membawa seteko teh dan beberapa cangkir yang cantik. Di belakangnya ada Rin yang membawa beberapa makanan ringan.
"Silahkan," ucap Nina. Dia menuang teh ke setiap cangkir dengan anggun. Nina sangat cantik. Dia memiliki kulit putih, mata hijau muda, dan bibir merah ceri yang indah.
'Kalau aku laki-laki aku pasti sudah jatuh cinta padanya,' pikir Canesta sambil menyeruput teh.
Mereka mengobrol dan basa-basi beberapa saat. Lalu Jenny dan Jessi membawa Canesta dkk ke kamar mereka.
Kamar Jenny dan Jessi cukup besar. Di sana hanya ada dua ranjang king size denagn seprai berwarna biru tua dan satunya berwarna merah terang. Wilayah di dekat kedua kasur itu terkesan memiliki vibenya masing-masing.
"Walau kami kembar, tapi kami tak sepenuhnya sama," jelas Jessi mengetahui pikiran mereka, "Aku menyukai hal seperti olahraga, berpedang, dan lain-lain. Sementara Jenny sedikit lebih feminim."
Canesta manggut-manggut mengerti. Walau wajah mereka sama, tapi kepribadian mereka berdua jauh berbeda. Canesta merasa mereka berdua cukup menarik.
Jessi mempersilahkan mereka duduk di manapun mereka mau tanpa sungkan-sungkan. Beberapa duduk di sofa dan beberapa duduk di kasur. Sementara Jenny membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kantong yang terlihat penuh.
Jenny membuka kantong itu dan mengeluarkan isinya. Nampak banyak snack dan camilan keluar dari kantong itu.
"Wow kau juga menyimpan hal seperti ini?" kata Arabelle, "Sama seperti Canesta."
"Ya, kami berdua memang suka memakan snack-snack seperti ini. Dan aku baru tahu Canesta juga menyukainya," jawab Jessi. Dia mencoba membiasakan diri memanggil Canesta dan yang lain dengan nama mereka.
"Panas sekali," keluh Canesta yang tidam terlalu tahan panas. Jessi menjadi bersalah melihatnya.
Canesta terpaksa menggunakan sihir. Dia menyuruh pelayan menutup semua jendela. Lalu Canesta memunculkan sebuah bola salju yang melayang di atas telapak tangannya. Canesta meniup bole salju itu dan butiran-butiran salju terbang ke seluruh ruangan lalu menghilang. Kini ruangan itu menjadi sejuk.
"Wow salah satu kemampuanmu adalah salju?" tanya Jenny kagum.
"Bisa dibilang begitu," Canesta tersenyum.
Dengan udara yang sejuk, kini mereka bisa lebih nyaman berada di kamar itu. Tapi lama kelamaan tentu mereka bosan.
"Apa kalian mau mabar?" tawar Canesta.
"Ide bagus," jawab Kara cepat.
"Aku juga mau," tambah Arabelle.
Jenny dan Jessi yang tidak tahu apa itu mabar menjadi bingung. Melihat kebingungan mereka, Canesta segera memunculkan dua HP lalu memberikannya pada mereka lalu menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Oh begitu. Baiklah kami ikut," kata Jessi paham.
Tak lama mereka mabar. Jenny dan Jessi menjadi beban tim karena baru pertama kali memainkan game itu.
"Maafkan aku," ucap Jenny merasa bersalah pada timnya.
"Iya, aku juga," balas Jessi.
"Tidak apa-apa. Kami juga begini saat pertama kali bermain," balas Jane tertawa mengingat pertama kali mereka memainkan game itu. Tim lawan mengatakan permainan itu terlalu mudah dengan musuh seperti mereka. Sekarang mereka belum bisa disebut pro sih, tapi sudah tidak terlalu beban seperti dulu.
...****************...
Setelah makan malam, Flo langsung menghempaskan dirinya di kasur. Dia kekenyangan karena tanpa sadar makan terlalu banyak tadi.
"Hey jangan berbaring setelah makan," tegur Canesta pada adiknya, "Kan dokter sudah bilang."
"Iya iya," balas Flo. Dia segera duduk dan memandang kakaknya yang sedang memakai barang yang dia munculkan. Canesta mengatakan benda itu bernama night cream dan ada satu lagi yang bernama day cream. Day cream untuk siang dan night cream untuk malam.
Setelah membalurkan night cream ke seluruh wajah, Canesta memijat wajahnya dengan lembut. Pelayan sudah menawarkan bantuan, tapi kali ini Canesta ini melakukannya sendiri.
"Aku mau coba," kata Flo yang tiba-tiba sudah berada di samping Canesta.
Canesta memandang Flo lalu memberinya night cream. Flo mengambil satu kursi lain dan duduk di depan meja rias. Dia membuka kemasan night cream lalu mengambil sedikit dan membalurkannya ke wajah. Lalu dia memijat pelan wajahnya seperti yang Canesta lakukan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arabelle melihat dua bersaudara itu. Yang lain juga berkumpul mengelilingi mereka.
"Kami memakai night cream. Dan ini untuk kalian," jawab Canesta. Dia memunculkan tujuh day cream dan tujuh night cream.
"Masing-masing dua," kata Canesta lagi.
Mereka semua segera mengambil satu day cream dan satu night cream untuk masing-masing orang dan hanya memandangnya bingung.
"Bagaimana cara menggunakan benda ini?" tanya Vizche.
"Colek sedikit ke telapak tanganmu dan balurkan ke seluruh wajah dengan merata. Lalu pijat dengan lembut," jelas Canesta, "Yang kemasan kuning itu day cream dan digunakan di siang hari. Yang kemasan hitam itu night cream dan digunakan di malam hari.
Ketujuh orang itu langsung mencobanya. Beberapa dari mereka memakainya di kamar lain, karena meja rias di kamar Jenny dan Jessi hanya ada dua dan sekarang digunakan oleh si kembar karena Canesta dan Flo sudah selesai.
...****************...
__ADS_1