Princess With Magic

Princess With Magic
Si Kembar


__ADS_3

"Kakak kemana saja?" tanya Flo.


"Kakak pergi ke tempat buku-buku tua," jawab Canesta sambil duduk dan membuka buku yang dibawanya, "Dan aku menemukan buku ini."


Semua mata langsung tertuju pada buku Canesta. Mereka langsung mengerubunginya seperti semut mengerubungi gula.


Buku itu berjudul 'Magic'. Buku di tangan Canesta tersebut sangat tebal. Isinya adalah segala hal tentang sihir. Dilihat dari nama yang tertera di sampul buku, buku itu adalah milik Duke Nicole von Calle, ayah Tiffany.


Canesta membuka buku itu dan terkesan dengan isinya. Bab pertama berjudul 'Witchex'. Canesta membaca halaman pertama.


'Withcex adalah orang yang muncul setiap sepuluh ribu tahun sekali. Terkadang ada lebih dari satu Witchex, tapi itu sangat jarang. Dan walau ada dua Witchex, salah satu Witchex akan lebih lemah dari Witchex pada umumnynya. Rata-rata Witchex memiliki empat kekuatan dan maksimal sepuluh. Hanya ada satu Witchex yang memiliki lebih dari sepuluh kekuatan, yaitu Lord Hansel. Dia memiliki sebelas kekuatan dan disebut sebagai Witchex terkuat yang pernah ada.'


"Kekuatan Tuan Putri malah tidak terbatas," kata Jane setelah membaca buku itu.


"Mungkin kekuatanku memang tidak terbatas. Tapi sepertinya hanya ada empat sampai sepuluh kekuatan inti," kata Canesta.


"Apa itu kekuatan inti?" tanya Kara.


"Kekuatan inti adalah kekuatan utama," jawab Canesta.


Canesta lanjut membaca buku itu,


'Lord Hansel disebut sebagai Witchex terkuat yang pernah ada. Dia pernah mengalahkan kerajaan musuh yang menyerang Kerajaan Calast. Nama lengkap Lord Hansel adalah Hansel de Brigeria. Dia adalah putra pertama keluarga Count Brigeria.'


"Sudahlah kita baca sampai sini aja dulu. Kita lanjut jalan-jalan," Canesta menutup buku itu. "Apa buku ini boleh aku bawa?"


"Emm... gimana ya. Itu warisan kakek buyutku. Tapi Tuan Putri tentu membutuhkannya," kata Arabelle, "Bawa saja."


"Terima kasih. Tenang, aku pasti akan menjaganya dengan baik."


Canesta mengintip dari balik rak. Ini jam makan siang dan kebanyakan pegawai istana pergi untuk makan, termasuk Pak Alfred.


"Ayo kita jelajahi perpustakaan ini. Aku merasakan sesuatu," kata Canesta.


"Sesuatu?" tanya Luna. "Aku sih ikut aja."


"Aku juga," kata Vizche.


Akhirnya mereka menjelajah perpustakaan. Canesta merasakan sebuah aura yang agak samar-samar. Arabelle tak bisa merasakannya, karena kekuatan pelacak aura Arabelle tak sekuat dan sepeka Canesta. Canesta merasa sumber aura itu ada di bawah tanah.


"Biarkan aku mencoba sesuatu seperti di novel," kata Canesta. Semua orang menatap Canesta dengan pandangan bertanya apa yang akan dilakukannya.


Canesta memastikan pintu perpustakaan tertutup. Lalu dia memandang rak penuh buku tua di depannya. Canesta menutup mata lalu membukanya setelah beberapa saat. Dia menekan beberapa buku secara acak.


"Apa yang kakak lakukan?" tanya Flo bingung.

__ADS_1


"Lihat saja," balas Canesta.


Canesta menekan beberapa buku lagi. Tiba-tiba lantai perpustakaan sedikit bergetar. Rak buku itu bergeser membuka ke samping dan menunjukkan sebuah ruangan gelap. Flo, Jane, Luna, Arabelle, Kara, Vizche, bahkan Canesta, terkejut dengan hal itu.


"Sudah kuduga ada sesuatu," kata Canesta, "Ayo masuk."


"Masuk? Apa Tuan Putri yakin?" tanya Arabelle.


"Berhenti memanggilku Tuan Putri. Sekarang kita adalah sahabat."


"Hehe maaf."


Canesta dkk masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita tersebut. Saat mereka semua sudah masuk, rak perpustakaan bergeser dengan sendirinya kembali seperti semula, menutup satu-satunya jalan keluar.


"Buka pintunyaaa!!" seru Luna panik dan mulai menggedor rak itu.


"Raknya tidak akan terbuka nona," kata seseorang. Semuanya menoleh. Tidak ada cahaya sama sekali di ruangan itu. Mereka bahkan tak bisa melihat telapak tangan mereka sendiri.


"Siapa itu?" tanya Canesta. Dia menyalakan sebuah api dengan sihirnya. Nampak dua gadis duduk di sebuah sofa. Sepertinya mereka kembar.


Kini Canesta dan yang lain bisa melihat ruangan itu dengan jelas. Ruangan sederhana dengan dua sofa, satu meja, dan satu lemari. Beberapa bagia ruangan itu tampak sudah berlumut.


"Siapa kalian?" tanya Flo.


Canesta dan yang lain duduk di sofa. Kedua gadis itu memperhatikan mereka dari atas sampai bawah. Canesta merasa risih dengan hal itu.


"Jadi ada apa?" tanya Kara, "Dan siapa kalian?"


"Perkenalkan. Namaku Jenny dan ini kembaranku, Jessi. Kami sudah terjebak di sini sejak... mungkin sekitar sebulan yang lalu," jelas Jenny yang berambut pirang. Sementara Jessi berambut cokelat tua.


"Apa kalian gadis kembar keluarga Viscount Jezelle?" tanya Canesta kaget. Sekitar sebulan yang lalu, kedua gadis kembar keluarga Viscount Jezelle dikabarkan menghilang. Semua orang sudah mencari ke seluruh negeri, tapi mereka tetap tidak ditemukan.


"Iya," jawab Jenny.


"Bagaimana kalian hidup?" tanya Vizche. Di ruangan itu tentu tidak ada makanan maupun minuman.


Jenny tersenyum. Dia memandang ke langit-langit dan meminta sepotong sandwich. Tiba-tiba sepotong sandwich muncul di tangannya.


"Hah?" Jane bingung dan heran melihat hal itu.


"Kami tidak tahu, tapi setiap kami memandang langit-langit dan meminta sesuatu maka benda itu akan muncul," kata Jessi yang sedari tadi hanya diam.


"Kenapa kalian tidak keluar," tanya Flo.


"Karena kamu tidak bisa," jawab Jessi, "Rak itu sangat kuat."

__ADS_1


"Apa kalian mau keluar?" tanya Canesta. Jenny dan Jessi seketika menatap Canesta.


"Tentu saja kami mau!" seru Jenny.


"Ikuti aku."


Canesta berdiri dan semua orang mengikutinya. Jenny dan Jessi sangat bersemangat, karena ini bisa jadi kesempatan mereka keluar dari ruangan berlumut ini setelah sebulan.


Canesta menaruh apinya di udara. Lalu dia menutup mata dan mulai fokus. Tiba-tiba lingkaran cahaya muncul di bawah Canesta.


"Wi-Witchex?"


Canesta membuka matanya dan memandang ke arah mereka,


"Berdirilah di atas lingkaran ini."


Semua orang segera berlari dan berdiri di atas lingkaran, takut ketinggalan dan harus berada di ruangan itu selamanya.


Setelah memastikan semua orang berdiri di atas lingkaran, Canesta kembali menutup matanya. Dalam sekejap, mereka sampai di kamar Arabelle.


"Hah?" Flo masih mencoba memproses kejadian barusan.


"Akhirnya kita bebas!" seru Jenny. Jenny dan Jessi berpelukan sambil menangis terharu. Lalu mereka memandang Canesta.


"Terima kasih banyak. Kalau bukan karena dirimu, kami pasti sudah berada di sana selamanya," ucap Jessi, "Ngomong-ngomong siapa namamu?"


"Canesta de Calast," jawab Canesta sambil tersenyum.


"Ca-Calast? Tuan Putri?!" seru Jenny kaget.


"Maaf aku tidak mengenali Tuan Putri," Jessi menunduk.


"Tidak apa-apa," jawab Canesta, "Dan... maukah kalian menjadi sahabat kami?"


"Sahabat," tanya Jenny bingung, "Apa boleh?"


"Tentu saja boleh," Flo merangkul Jenny dari belakang, "Perkenalkan namaku Florence de Calast."


"Tuan Putri juga?!" tanya Jenny reflek melepas rangkulan Flo, "Ah, ma-maaf."


"Tentu saja kami mau menjadi sahabat kalian," Jessi tersenyum. Canesta memeluk Jessi. Sekarang mereka adalah sahabat.


...❤...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2