
"Aku bosan..." gumam Canesta. "Flo sedang berlibur ke negeri Jordia, jadi aku tidak punya teman..."
"Bagaimana kalau tuan Putri mengundang teman-teman tuan Putri?" usul Viscountess Eliza.
"Ide bagus," jawab Canesta. "Kirim undangan untuk para nona bangsawan."
...****************...
Saat Canesta datang, sudah banyak gadis bangsawan yang berkumpul. Mereka menyambut Canesta.
"Halo tuan Putri," sapa Luna de Louris, putri kedua keluarga Viscount Louris.
"Halo, nona Luna," balas Canesta. Canesta duduk di kursinya. "Pesta minum tehnya kita mulai."
Pesta minum teh dimulai. Para pelayan menuangkan teh pada semua cangkir. Mereka meminum teh itu dengan sopan.
"Tehnya enak sekali," ucap Arabelle von Calle, putri pertama keluarga Duke Calle.
"Nona Arabelle sangat anggun saat minum teh," komentar Jane de Hansel, putri pertama keluarga Marquess Hansel.
"Terima kasih nona Jane," balas Arabelle.
"Ngomong-ngomong, kalian sudah dengar tentang skandal Countess Fiytra?" tanya Luna memulai gosip.
"Sudah. Katanya dia baru melahirkan seorang bayi, namun bayi itu sama sekali tidak mirip dengannya maupun Count Fiytra," jawab Canesta.
"Wah ternyata Tuan Putri juga tahu gosip ya."
"Tentu saja."
"Padahal Countess Fiytra dikenal baik. Tak disangka dia melakukan hal seperti ini," kata Kara de Gatrey, putri ketiga keluarga Viscount Gatrey.
"Ini pasti menjadi pukulan berat untuk kehidupan sosialnya," kata Vizche de Faui, putri pertama keluarga Earl Faui.
"Orang yang baik di depan bisa jadi buruk di belakang," ucap Arabelle, "Jangan terlalu mempercayai seseorang."
"Baiklah. Cukup tentang Countess Fiytra. Apa kalian tahu Xena de Liammsse, putri pertama keluarga Viscountess Liamasse?" tanya Jane memulai topik baru.
"Tentu saja tahu. Dia disebut-sebut sebagai wanita tercantik kedua di kerajaan ini setelah Tuan Putri Canesta," jawab Luna. "Ada apa dengannya?"
"Gosip ini baru, jadi tidak banyak orang yang tahu," jawab Jane. "Katanya dia membunuh kakaknya sendiri."
"Sulit dipercaya. Orang yang sangat cantik seperti itu membunuh kakaknya sendiri. Apa alasannya membunuh kakaknya?" tanya Kara.
"Tidak ada yang tahu. Sekarang dia dikurung di penjara bawah tanah dan akan diadili seminggu lagi," jawab Jane.
"Daripada bergosip, apa kalian mau melakukan hal lain?" usul Canesta. Semua mata langsung tertuju padanya.
"Kita mau melakukan apa," tanya Arabella penasaran.
"Kita berburu harta karun."
"Hah?"
...****************...
"Ada sebuah harta karun yang disembunyikan di istana. Kalian akan menemukan petunjuk di beberapa tempat yang akan membuat kalian lebih mudah menemukannya. Di istana memang ada beberapa ruang yang tidak boleh dimasuki, ruangan-ruangan itu sudah dikunci. Jadi kalian bebas memasuki ruangan manapun yang tidak terkunci," jelas Aster, dayang Canesta yang baru menjadi dayang pagi ini. Dia adalah putri ketiga Count dan Countess Homen.
"Tidak sulit. Baiklah, ayo kita bermain," kata Jane dengan percaya diri.
"Pede banget. Jangan sampai kalah ya," ledek Vizche. Putri bangsawan yang satu ini memang agak barbar.
"Tentu saja. Aku akan mengalahkanmu," balas Jane.
"Kita lihat siapa yang menang," tantang Vizche.
"Permainan dimulai dari... sekarang," ucap Aster. Semua putri bangsawan langsung berpencar ke seluruh istana. Canesta memilih mencari bersama Arabelle.
"Apa tuan Putri tahu dimana harta karun itu?" tanya Arabelle.
"Bicara non-formal saja," balas Canesta. Arabelle tertawa.
"Baiklah."
Mereka berdua mencari ke seluruh pelosok istana, namun tak menemukan apapun. Akhirnya Canesta memutuskan untuk menenangkan diri dan berpikir jernih.
"Katanya petunjuk itu tersebar di seluruh istana. Jadi seharusnya kita sudah menemui bayak petunjuk. Pasti kita melewatkan petunjuk-petunjuk itu tanpa sengaja," ucap Canesta.
"Masuk akal juga," balas Arabelle.
"Ayo kita kembali ke dapur. Aku merasa ada petunjuk di sana."
Canesta dan Arabelle pergi ke dapur. Canesta memperhatikan setiap sudut dapur dengan teliti. Ia membuka sebuah rak.
"Ini dia!" seru Canesta.
"Apa yang kau temukan?" tanya Arabelle penasaran. Canesta menunjukkan secarik kertas padanya.
Canesta membuka dan membaca kertas itu,
"Di antara tujuh, ada satu yang memiliki bekas luka."
__ADS_1
Canesta dan Arabelle saling berpandangan. Mereka sama-sama bingung dengan artinya.
"Di antara tujuh?"
"Bekas luka?"
"Aku tak paham semua ini."
Akhirnya mereka memutuskan duduk di meja dapur sambil makan dan memikirkan arti petunjuk tadi.
"Apa ada sesuatu yang berjumlah tujuh di istana ini?" tanya Canesta.
"Tuan Putri lebih tahu, karena Tuan Putri besar dan tinggal di sini," jawab Arabelle.
"Benar juga," Canesta menghela nafas. "Tujuh ya..."
Tiba-tiba ia teringat dengan Istana Kabut. Dinding istana tersebut berwarna abu-abu seperti kabut. Dulu istana itu digunakan untuk tempat tinggal selir Raja. Tapi di masa pemerintahan ayah Canesta, istana itu terbengkalai karena Raja ingin setia mencintai Ratu dan tidak ingin memiliki seorang selir pun.
"Di istana Kabut ada tujuh ruangan. Ketujuh ruangan itu digunakan untuk tempat tinggal selir Raja. Pada masa pemerintahan Raja Warthon II, ketujuh ruangan ini ditinggali oleh ketujuh selir Raja. Dan salah satu dari mereka mengalami kejadian tidak mengenakkan disini," jelas Canesta panjang lebar. Arabelle manggut-manggut mengerti.
"Ayo kita ke istana itu," ajak Arabelle.
"Sebentar. Aku ingin makan burger ini lagi."
"Haha sepertinya saya menjadi yang pertama melihat Putri makan seperti ini," canda Arabelle.
"Tolong dirahasiakan ya," Canesta menaruh telunjuk di mulut.
"Tentu saja."
Setelah Canesta menghabiskan burgernya, mereka berdua bergegas pergi ke Istana Kabut. Di jalan, mereka bertemu Flo dan Vizche.
"Flo? Kau juga ikut?" tanya Canesta.
"Iya. Aku baru saja pulang dari negeri Jordia dan aku mendengar dari para pelayan, bahwa kalian sedang berburu harta karun. Jadi aku ikut," jawab Flo.
"Apa kalian mau bekerja sama?" tanya Arabelle.
"Kenapa tiba-tiba mau bekerja sama? Apa kalian ingin memanfaatkan petunjuk kami? Kami sudah menemukan satu petunjuk," tuduh Vizche.
"Kami juga sudah menemukan satu petunjuk. Kita bisa menggabungkan keduanya dan mencari bersama," jelas Canesta.
"Hm... baiklah kalau begitu."
Akhirnya mereka berempat bekerja sama dan memperlihatkan petunjuk masing-masing. Canesta dan Arabelle menbaca kertas petunjuk milik Flo dan Vizche.
"Buku tua yang berisi semua tentangnya," baca Canesta. "Buku tua? Di istana ini tentu sangat banyak buku tua. Kita tidak mungkin mencarinya satu persatu."
"Hm tujuh ruangan... Apa ini tujuh ruangan di Istana Kabut?" tanya Flo.
"Iya. Kami sedang menuju ke sana saat kita bertemu," jawab Canesta.
"Ya udah, ayo kita kesana dulu."
Canesta, Arabelle, Flo, dan Vizche pergi ke Istana Kabut. Istana itu masih terlihat bagus walau terbengkalai. Ada beberapa pelayan yang tinggal di sana untuk merawat istana itu setiap harinya.
"Oh, halo Tuan Putri," sapa Lilian, salah satu pengurus Istana Kabut, "Ada apa Tuan Putri mampir ke sini?"
"Kami sedang berburu harta karun. Dan salah satu petunjuknya mengarah ke istana ini. Apa boleh kami berkeliling istana untuk mencari harta karun?" jawab Canesta.
"Tentu saja boleh. Apa perlu saya tugaskan seseorang untuk memandu anda berempat berkeliling istana."
"Tidak perlu. Kami ingin berpetualang."
"Hoho Putri kecil kami sudah besar," Lilian mencubit pipi Canesta. Canesta tertawa. Lilian sudah menjadi pelayan di istana sekitar setahun sebelum Canesta lahir. Dia jugalah yang mengambil peran paling besar dalam merawat Canesta jika dibandingkan dengan pelayan dan pengasuh lain.
"Maafkan kelancangan saya Tuan Putri," ucap Lilian saat menyadari apa yang diperbuatnya.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa. Saya pamit dulu, kami akan melanjutkan berburu harta karun."
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Tuan Putri."
Mereka berempat masuk ke Istana Kabut, lalu berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua. Tujuh kamar selir itu berada di lantai dua.
"Istana ini sangat indah," puji Arabelle.
"Sepertinya mereka merawatnya dengan baik," kata Flo.
Mereka naik ke lantai dua, lalu lantai tiga. Mereka mencari tujuh kamar sambil jalan-jalan dan mengamati istana.
"Aku tidak tahu dimana tujuh kamar itu," kata Canesta. "Ah, itu ada kakak pelayan. Ayo kita tanya."
Mereka menghampiri seorang pelayan. Dia adalah Viscountess Sophia, dayang selir Raja sebelumnya yaitu Countess Sia yang belum lama ini meninggalkan Istana Kabut. Viscountess Sophia juga akan pergi setelah membereskan beberapa hal.
"Permisi. Apa kakak tahu di mana tujuh kamar selir berada?" tanya Canesta sopan.
"Tuan Putri? Oh, tujuh kamar itu ada di dekat sini. Tuan Putri tinggal jalan lurus, lalu belok kanan," jelas pelayan itu sambil tersenyum.
"Terima kasih. Ayo, teman-teman."
Flo heran karena cara bicara Canesta yang sedikit berubah. Sepertinya hanya Flo yang cukup peka untuk menyadari hal itu.
__ADS_1
"Ada apa, kak?" bisik Flo.
"Aku merasakan aura yang buruk dari pelayan itu," balas Canesta berbisik pula. Arabelle dan Vizche tidak mendengar mereka.
Tak lama, mereka berempat sampai di tujuh kamar. Saat mereka sedang mengecek kamar pertama, tiba-tiba Canesta berkata pelan pada mereka berempat,
"Cepat sembunyi!"
"Ada apa, Tuan Putri?" tanya Vizche heran.
"Pokoknya sembunyi saja!"
Mereka bertiga menurut. Mereka tahu, Canesta bukan tipe orang yang menyuruh orang melakukan sesuatu tanpa alasan.
Beberapa menit setelah mereka bersembunyi, pintu terbuka. Datanglah Viscountess Sophia dengan pisau di tangannya.
"Aku tahu kalian ada di sini. Keluarlah!" seru Viscountess Sophia seperti orang gila.
Tiba-tiba Canesta keluar dari tempat persembunyiannya. Walau kaget, Viscountess Sophia langsung merespon dan berlari ke tempat Canesta. Canesta mengayunkan tangannya dan tubuh Viscountess Sophia berhenti bergerak. Pisau di tangannya jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?! Apa ini?!" seru Viscountess Sophia.
"Kekuatanku," jawab Canesta santai. "Kalian, keluarlah."
Flo, Arabelle, dan Vizche keluar dari tempat persembunyian mereka. Arabelle dan Vizche tercengang melihat Canesta memiliku kekuatan sihir.
"Pu-Putri?"
"Nanti akan aku jelaskan semuanya. Dan tolong jangan beri tahu hal ini pada siapapun."
"Tenang saja. Rahasia ini mana bersama kami."
Canesta menyuruh mereka memanggil pengawal. Akhirnya Flo lah yang turun ke bawah untuk memanggil mereka.
Beberapa menit kemudian, beberapa pengawal datang. Satu detik sebelum pengawal pertama memasuki ruangan, Canesta melepas kekuatannya pada Viscountess Sophia dan ia bisa bergerak lagi.
"Kau ditangkap atas percobaan pembunuhan keluarga kerajaan."
Para pengawal menangkap Viscountess Sophia yang meronta-ronta. Canesta baru sadar, ada bau alkohol dari wanita itu.
Canesta, Flo, Arabelle, dan Vizche mengikuti para pengawal. Viscountess Sophia dibawa ke istana dan untuk sementara akan dikurung di penjara bawah tanah sebelum diadili. Sementara itu, semua gadis bangsawan yang menghadiri pesta minum teh Canesta, berkumpul di taman. Mereka duduk di meja tempat mereka pesta minum teh tadi siang.
"Dia pasti akan dihukum mati karena percobaan pembunuhan keluarga kerajaan. Apalagi yang ia coba bunuh adalah aku selaku pewaris tahta," kata Canesta.
"Aku tak menyangka Viscountess Sophia akan melakukan hal seperti ini. Seingatku Viscountess adalah wanita lembut yang sangat baik," ucap Vizche.
"Katanya dia berubah sejak anaknya, Harry de Sophia, meninggal. Sepertinya Viscountess sangat terpukul dan dia menjadi agak gila. Orang juga mengatakan bahwa ada bau alkohol dari tubuh Viscountess," tambah Kara.
"Semua ibu pasti sedih jika anaknya terkena kesulitan, sakit, apalagi meninggal. Sepertinya aku bisa memahami perasaan Viscountess," kata Canesta.
"Aku tahu. Ibuku sangat sedih ketika adikku meninggal. Ibu sampai menangis dan mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Ibu terlihat seperti orang gila selama beberapa hari itu. Untung saja ibu sadar dan melupakan kesedihannya setelah dibujuk olehku dan ayahku," cerita Arabella. Adik Arabella, Bayni von Calle, meninggal di usia 6 tahun karena penyakit langka yang bahkan sampai saat ini belum ada obatnya.
"Aku turut berduka untuk adikmu," ucap Jane.
"Tidak apa," balas Arabelle. Setetes air mata terjatuh. "Ah, maafkan saya."
"Hapus air matamu, Putri Arabelle. Kau harus percaya bahwa Tuhan menyayangi adikmu sehingga memanggilnya untuk kembali," hibur Luna sambil memberi sapu tangan miliknya.
"Terima kasih," Arabelle menerima sapu tangan dari Luna dan menghapus air matanya.
"Ngomong-ngomong apa kalian menemukan harta karunnya?" tanya Flo.
"Tidak. Tapi kami menemukan petunjuk," jawab Luna. "Aku dan Luna mencarinya bersama."
"Berarti Jane mencarinya sendiri?" tanya Canesta.
"Hehe. Awalnya aku mencari, dan itupun dengan santai sambil jalan-jalan. Tapi hari ini sangat panas, jadi karena kebetulan rumahku dekat dengan istana, aku pulang dulu untuk mandi. Saat aku kembali, kejadian ini sudah terjadi dan berkumpul dengan kalian," jelas Jane.
"Ya ampun."
Semua orang tertawa mendengar cerita Jane. Jane memang dikenal sebagai bangsawan yang tidak tahan panas. Bahkan dia mendapat julukan 'Putri Vampir'. Selain tidak tahan panas, ia juga membenci bawang putih. Sangat mirip dengan vampir.
"Karena ini sudah mau sore, perburuan harta karun akan dilanjutkan besok jam 11 pagi. Terima kasih sudah hadir, semuanya," ucap Canesta.
"Ah, sudah selesai ya," ucap Arabelle.
"Aku sangat menikmati hari ini. Tidak hanya pesta teh, Tuan Putri bahkan mengadakan perburuan harta karun," kata Luna.
"Putri pasti akan menjadi Ratu yang baik," puji Kara.
"Terima kasih. Hati-hati di jalan ya."
Mereka semua pulang dengan bahagia. Canesta dan Flo juga kembali ke istana.
"Menurutku Viscountess sudah membunuh beberapa orang," ujar Canesta tiba-tiba.
"Apa?" tanya Flo kaget. Canesta tidak menjawab. Sesampainya di depan kamar, Canesta langsung masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa. Flo hanya bengong memandangnya.
"Kakakku memang aneh."
...****************...
__ADS_1