Princess With Magic

Princess With Magic
Gunung Alast


__ADS_3

Gunung Alast adalah sebuah gunung di sebelah barat Kerajaan Calast. Konon di gunung ini banyak makhluk-makhluk ajaib yang tak seperti hewan biasa. Belum ada orang yang selamat setelah pergi ke Gunung Alast, kecuali Raja dan Ratu. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana mereka selamat padahal semua peingawal beserta orang yang ikut bersama mereka tewas dan hilang di gunung itu.


"Apa Putri yakin kita akan selamat?" tanya Luna, "Aku belum mau mati."


"Aku yakin," jawab Canesta.


"Aku mempercayaimu."


Di tengah jalan, mereka dihadang oleh bandit yang biasa berkeliaran di jalan dan memalak orang yang lewat.


"Serahkan semua uang kalian atau nyawa taruhannya," kata salah satu bandit.


"Tuan, apa kalian tahu siapa kami?" tanya Canesta sambil turun dari kudanya. Wajah Canesta dan yang lain memang tidak terlihat karena mereka memakai jubah.


"Aku tidak peduli siapa kalian. Cepat serahkan semua uang dan harta yang kalian miliki," kata bandit itu.


"Hoho sangat tidak sopan," kata Canesta lagi, "Apa kau berani padaku?"


Bandit itu mulai marah. Dia maju ke arah Canesta,


"Tentu saja aku berani padamu."


"Kalau begitu ayo bertarung," Canesta tersenyum.


Canesta menarik pedangnya dan menebas bandit itu. Bandit lain marah saat melihat rekannya ditebas dan mati begitu saja di tangan Canesta.


Bandit-bandit itu maju dan Canesta menghadapi mereka semua sendirian. Flo dan teman-temannya hanya duduk di kuda dan menonton Canesta bertarung. Mereka tahu, Canesta tidak perlu bantuan hanya untuk menghadapi bandit jalanan ini.


Dalam lima menit, semua bandit tewas. Canesta mengambil beberapa barang yang mungkin berguna dari para bandit lalu naik ke kudanya dan melanjutkan perjalanan mereka ke Gunung Alast.


"Bandit tadi tidak punya pemimpin?" tanya Vizche.


"Bandit jalanan biasanya tidak punya pemimpin," jawab Flo.


"Ouh."


Sesampainya di sebuah padang rumput, mereka memutuskan beristirahat sebentar setelah perjalanan jauh. Kini sudah sore dan mereka sudah melalui perjalanan sejak pagi.


"Hiyy aku takut. Di padang rumput begini kan biasanya banyak ular, tikus, bahkan singa," kata Arabelle khawatir.


"Tenang saja," kata Canesta. Dia menjentikkan jari lalu samar-samar muncullah sebuah kubah. "Ini akan melindungi kita."


Mereka mengeluarkan bekal dan makan. Mereka cuma makan sedikit, karena tadi sudah makan siang. Lagipula para putri bangsawan sudah terbiasa sesekali kelaparan. Karena terkadang mereka akan diberi diet ketat menjelang acara penting.


"Aku sangat lelah. Dan tidak baik melewati hutan di malam hari. Bagaimana kalau kita lanjutkan perjalanan besok pagi?" kata Flo.


"Iya. Aku juga lelah," timpal Kara.


"Ya udah. Karena semuanya lelah, kita lanjutkan perjalanan besok pagi," jawab Canesta.


Malam itu, Canesta menyalakan api unggun. Tapi api yang dibuatnya aman karena tidak akan membakar apapun. Lalu mereka mengobrol sedikit dan mendirikan tenda lalu tidur.


Tengah malam, Kara terbangun dan kebelet. Tapi dia ingat, mana ada toilet di padang rumput seperti ini. Dia pun membangunkan Canesta.


"Tuan Putri."


Canesta bangun karena Kara mengguncang tubuhnya. "Ada apa?"


"Maaf saya lancang. Tapi apa ada toilet?"


"Sebentar."


Canesta berdiri dan berjalan keluar tenda diikuti Kara. Dia mengayunkan tangan lalu muncullah sebuah toilet.


"Tuh."


"Terima kasih."


Kara segera melakukan urusannya sedangkan Canesta berniat kembali ke tenda. Namun dia mendengar sesuatu yang berlari mendekat. Canesta tidak khawatir, karena kubah buatannya akan melindungi mereka. Tapi dia ingin melihat makhluk itu.


ROAR!!!


Seekor singa bersayap berlari dengan kecepatan angin ke arah Canesta. Namun ia terbentur kubah dan jatuh ke tanah.


"Kasihan singa itu," pikir Canesta, "Dia punya sayap. Pasti dia adalah salah satu makhluk ajaib Gunung Alast."


Canesta mendekat dan menghubungkan pikirannya dengan singa bersayap itu.


"Apa kau bisa mendengarku?" tanya Canesta dalam pikirannya.


"Ya. Apa kau punya semacam kekuatan sehingga bisa menghubungkan pikiran kita?" singa itu balik bertanya.


"Begitulah."


"Kau yang membuat kubah ini?"


"Iyep. Aku akan membiarkanmu masuk jika kau berjanji tidak akan memakan aku dan teman-temanku."


"Tentu. Lagipula aku tidak lapar. Aku cuma mau minta tolong untuk mengobati sayapku. Sayap ini terluka saat aku terbang dan aku tidak bisa terbang lagi sekarang."


Canesta menghilangkan kubah, "Masuklah."

__ADS_1


Singa itu masuk dan Canesta mengaktifkan kubah kembali. Tiba-tiba Kara yang baru keluar dari toilet melihat singa itu.


"AAAAA!!!"


Kara langsung lari namun dia malah membentur kubah. Alhasil dia jatuh dengan benjol sebesar telur puyuh di kepalanya. Teriakannya membangunkan semua orang. Singa itu mendekat.


"Jangan sakiti aku!" seru Kara yang ketakutan.


"Rawwrrr."


"Jangan sakiti dia!" seru Vizche yang baru bangun dan melihat Kara diserang singa.


"Tenang dulu semuanya. Dia baik dan tidak akan memakan kita," kata Canesta menenangkan teman-temannya.


"Apa Tuan Putri yakin?" tanya Arabelle bergidik melihat singa yang nampak menyeramkan.


"Ya. Aku menghubungkan pikiranku dengannya," jawab Canesta.


"Wow. Apa kami juga bisa?" tanya Luna.


"Belum. Kekuatan sihir kalian masih belum cukup kuat untuk menghubungkan pikiran, apalagi dengan hewan. Kalau dipaksa, kalian akan mati."


"Baiklah. Aku tidak mau mati."


"Namaku Lia," kata singa itu pada Canesta.


"Namanya Lia," Canesta memberitahu pada teman-temannya.


Canesta menyuruh Lia duduk diam. Setelah Lia diam, Canesta mulai fokus. Perlahan, luka di sayap Lia mengecil dan akhirnya menghilang.


"Terima kasih!" ucap Lia senang. Dia berlari berputar-putar.


"Sama-sama. Lain kali hati-hati ya," kata Canesta. Lia memberi sesuatu pada Canesta. Kalung dengan permata kuning.


"Ketika kau berada dalam bahaya, ucap namaku tiga kali sambil memegang kalung ini dan aku akan datang bersama sepasukan singa," ucap Lia yang tiba-tiba bisa bicara dan menghilang begitu saja.


Semua teman Canesta langsung mengerubunginya karena ingin melihat kalung itu. Permata kuningnya bersinar indah dan ada sebuah permata kuning besar di tengah kalung.


"Cantik," kata Arabelle.


"Iya," tambah Kara.


"Ngomong-ngomong dimana Flo?" tanya Canesta melihat Flo yang tidak ada.


"Tadi Flo tampak tidak terusik sedikitpun walau teriakan Kara sangat keras. Malahan dia terlihat semakin pulas," jelas Vizche yang satu tenda dengan Flo.


"Hadehh anak itu memang susah bangun sejak dulu," keluh Canesta.


...****************...


"Flo, bangun!" seru Canesta mengguncang badan Flo. Flo hanya menggeliat dan kembali masuk ke alam mimpi.


"Ya ampun ni anak," keluh Canesta kesal. Canesta menggerakkan tangannya di udara dan membentuk sebuah gelembung air sebesar kepala. Gelembung itu meledak tepat di atas Flo.


"Ahh dingin!" seru Flo yang langsung terduduk kaget. Dia cemberut begitu melihat Canesta yang tertawa.


"Rasain. Makanya bangun."


"Ih ini berlebihan kak."


Pada akhirnya, Flo bangun dan mandi di kamar mandi yang sudah dibuat Canesta tadi pagi. Setelah mandi, berpakaian, sarapan, dan menikmati waktu sebentar, mereka melanjutkan perjalanan.


"Apa kalian tidak merasa aneh dengan singa kemarin?" tanya Canesta di tengah suara kuda dan deru angin pagi.


"Tidak. Memangnya ada apa?" tanya Vizche.


"Hewan ajaib hanya ada di Gunung Alast. Bagaimana singa itu bisa sampai di padang rumput yang jaraknya beberapa kilometer dari Gunung Alast?" jelas Canesta.


"Iya juga ya," kata Arabelle.


"Mungkin ada sesuatu yang mengganggunya," kata Flo.


"Itu yang harus kita selidiki," kata Canesta.


Rute perjalanan mereka melewati pinggir hutan. Terkadang ada ular, harimau, tikus, dan banyak hewan lain yang keluar dari hutan itu. Namun mereka mengusir semuanya tanpa melukai hewan-hewan tersebut.


"Gunung Alast tinggal dua kilometer lagi," Canesta mengumumkan setelah menghitung jarak dengan kekuatannya.


"Kekuatan kakak ada berapa banyak?" tanya Flo heran.


"Hmm... Biasanya para Witchex sebelumnya punya rata-rata empat kekuatan dan maksimal sepuluh. Tapi kekuatanku bisa dibilang tak terbatas," jawab Canesta yang membuat semua orang kagum.


"Apa itu berarti Tuan Putri lebih kuat dari Lord Hansel?" tanya Luna kagum. Lord Hansel adalah Witchex legendaris yang dikenal memiliki sebelas kekuatan. Dia sangat kuat dan tercatat dalam buku sejarah sebagai Witchex terkuat yang pernah ada.


"Ah, itu tidak mungkin. Kekuatan sihirku masih perlu dilatih," jawab Canesta. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya sekuat atau bahkan lebih kuat dari Lord Hansel sang Witchex legendaris.


Sesampainya di kaki Gunung Alast, Canesta menaruh tangannya di dahi ketujuh kuda bergantian, lalu ketujuh kuda itupun berlari menjauh.


"Loh kok dibiarin kabur kak?" tanya Flo heran melihat Canesta merelakan kuda-kuda kesayangannya begitu saja.


"Aku sudah menyihir mereka agar kembali ke istana. Dan jika ada bahaya, bahaya itu akan mati dan lenyap saat mendekat satu meter dari mereka," jelas Canesta.

__ADS_1


"Aku lupa kakakku sakti."


Canesta dkk mulai mendaki gunung. Sejak mendapatkan sihir, kekuatan fisik mereka juga meningkat drastis. Dengan kondisi tubuh yang dulu, mereka akan pingsan di tengah jalan. Karena semua orang tahu bahwa sebagian besar putri memiliki fisik yang lemah karena tidak terbiasa banyak bergerak dan olahraga. Di antara semua putri di Kerajaan Calast, Kara dan Canesta lah yang memiliki fisik terkuat. Kara kuat karena suka berpetualang, sementara Canesta kuat karena sihirnya. Sedangkan Vizche ada di urutan nomor 2 sebagai putri dengan fisik terkuat karena dia hampir seliar Kara.


"Awas!"


Canesta dengan sigap menggunakan sihirnya. Tubuh mereka terangkat ke udara, menghindari terkaman harimau yang memiliki kecepatan suara.


"Harimau berkecepatan suara," gumam Canesta. Dia menghubungkan pikirannya dan pikiran sang harimau.


"Kenapa kau mau menerkam kami?" tanya Canesta dalam pikirannya.


"Setiap manusia yang datang ke sini harus melewati medan yang sulit dan binatang buas," balas si harimau.


"Apa kami sudah lulus?"


"Belum. Kalian masih harus melewati yang lain."


Harimau itu pergi begitu saja. Canesta menurunkan teman-temannya yang masih shock dan bingung akan kejadian barusan.


"Aku yakin Tuan Putri menghubungkan pikiran dengan harimau itu. Apa yang dia katakan dan kenapa dia mau menerkam kita?" tanya Luna.


"Dia bilang setiap manusia yang datang ke sini harus melewati medan yang sulit dan binatang buas. Dia juga bilang bahwa masih ada tantangan lain menanti kita," jelas Canesta.


"Berarti kita harus hati-hati," kata Vizche.


"Iya. Atau kita akan berakhir di sini," tambah Kara.


"Ayo lanjutkan perjalanan kita," kata Canesta.


Mereka melanjutkan perjalanan. Kata-kata harimau itu memang benar. Semakin ke atas, medan yang dilewati dan binatang yang harus dihadapi makin sulit dan buas. Luna dan Arabelle yang memiliki fisik terlemah di antara mereka, walau tidak bisa dibilang lemah karena sihir memperkuat tubuh mereka, sudah kelelahan di tengah perjalanan.


"Aku capek," keluh Luna.


"Aku juga," sahut Arabelle.


"Kita akan berhenti beberapa menit lagi. Hari sudah mau malam dan kita memang harus istirahat," kata Canesta, "Bertahanlah sebentar lagi."


Beberapa menit kemudian, hari semakin sore dan mereka memutuskan untuk istirahat. Canesta membuat kubah pelindung yang lebih kuat dari sebelumnya karena binatang ajaib di gunung ini jauh lebih berbahaya dari binatang biasa. Dia juga membuat toilet, kamar mandi, api unggun yang tidak akan membakar apapun, dan benda lain yang diperlukan. Sementara yang lain mendirikan tenda.


"Karena tenaga kita sudah terkuras habis dua hari ini, besok kita istirahat. Kita akan melanjutkan perjalanan dua hari lagi," kata Canesta.


Canesta menjentikkan jari dan tujuh HP muncul. Dia memfokuskan pikirannya lalu membuka mata. Flo, Arabelle, Jane, Vizche, Luna, dan Kara bingung denga benda itu.Oiya. Kalau kalian bertanya ke mana Jane dari tadi, kemarin dia dimarahi oleh kedua orangtuanya dan dia menjadi sangat pendiam selama dua hari ini. Namun sekarang dia sudah mulai kembali seperti biasa.


"Apa ini?" tanya Vizche penasaran.


"Ini namanya HP. Aku bisa memunculkan beberapa benda dari masa depan. Dan menurut informasi yang kudapat barusan, HP ini digunakan orang-orang masa depan untuk hiburan dan berkomunikasi," jelas Canesta.


Canesta menghidupkan salah satu HP. HP itu bergetar dan muncul tulisan 'Syaiton', merek HP itu. Semuanya kaget.


"A-apa itu?" tanya Flo.


"Cara kerjanya memang begitu," jawab Canesta. "Tenang, ini tidak berbahaya."


Setelah HP itu hidup, Canesta mengusap layarnya dan HP itupun terbuka, menunjukkan beberapa aplikasi seperti Goole, MyTube, Goole Play Store...


"Aku akan ajarkan cara memakai semua aplikasi ini," kata Canesta.


Canesta mengajari cara menggunakan semua aplikasi satu persatu. Di sana Canesta juga membuat sinyal, jadi mereka bisa menggunakan internet. Dan batre HP ini unlimited, jadi tidak perlu dicas.


"Luar biasa," kata Jane yang terpesona.


"Wah gak murung lagi dia," celetuk Luna.


"Iyalah. Move on sis."


"Move on padahal jomblo dari lahir."


"Apa katamu?!"


"Gak kok, ga ada apa-apa."


Mereka tertawa melihat Jane dan Luna. Sahabat adalah orang yang akan paling sering bertengkar denganmu, namun itulah pertanda bahwa kau menyayangi seseorang.


"Tidur aja lah. Ngantuk," Kara menguap setelah mereka bermain HP selama tiga jam.


"Iya juga ya. Mataku lelah," balas Vizche.


"Main HP memang tidak boleh lama-lama. Mata kita bisa rusak," jelas Canesta.


"Ya udah tidur dulu deng," kata Arabelle mematikan HPnya lalu tidur begitu saja.


"Langsung tidur aja," omel Flo.


"Kita juga harus tidur," kata Jane.


Tak lama, mereka pun tidur nyenyak tanpa menyadari sesuatu yang memperhatikan mereka sedari tadi...


"Anak ini boleh juga."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2