
"Tuan Putri, Duchess Calle datang menemui anda."
"Biarkan dia masuk."
Seorang wanita cantik yang nampak habis menangis masuk. Dia adalah Duchess Calle, ibu Arabelle von Calle.
"Silahkan duduk, Duchess. Ada apa menemuiku?" tanya Canesta. Dia menyuruh semua orang keluar. Duchess Calle duduk dan air matanya mulai menitik.
"Tolong bantu saya, Tuan Putri. Viscount Neil, adik saya, sudah menghilang selama berhari-hari. Saya mohon, bantu saya mencarinya. Saya sangat menyayanginya," pinta Duchess Calle sambil menangis.
"Viscount Neil yang katanya diculik bandit itu?" tanya Canesta. Rumor tentang Viscount Neil memang sudah menyebar luas.
"Iya. Tolong temukan adik saya."
"Kenapa anda tidak minta tolong pada ayah atau ibu?" tanya Canesta. Biasanya orang-orang akan meminta tolong pada Raja atau Ratu.
"Yang Mulia Raja tidak menyukai Viscount Neil, karena ia pernah melihat Viscount Neil mengobrol dengan Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia salah paham. Sedangkan Yang Mulia Ratu sangat sibuk mengurus hubungan dagang dengan negeri Jordia. Dan saya juga mendengar tentang Tuan Putri yang memecahkan teka-teki Countess Helen. Jadi minta tolong ke Tuan Putri adalah pilihan terbaik," jelas Duchess Calle.
"Baiklah. Aku akan berusaha untuk membantu. Flo juga akan membantu."
"Terima kasih banyak, Tuan Putri."
"Tapi bisakah anda menjawab beberapa pertanyaan dari saya?"
"Tentu saja. Tanya apapun dan saya akan menjawab sesuai apa yang saya ketahui."
"Apa Viscount Neil orangnya suka bepergian?"
"Ya, dia suka kebebasan dan benci dikekang."
"Apa dia pernah berbuat jahat atau melaporkan kejahatan seseorang?"
"Setahu saya dia tidak pernah berbuat jahat pada siapapun. Walau tidak terlalu peduli dengan tata krama, Viscount adalah orang yang baik. Dan dia juga bukan tipe orang yang suka melaporkan suatu hal jika hal itu bukan urusannya," jelas Duchess Calle panjang lebar.
"Oke. Itu saja yang ingin saya tanyakan. Tenang, saya akan berusaha mencari Viscount Neil."
"Terima kasih banyak Tuan Putri. Suatu saat saya akan membalas kebaikan Tuan Putri."
"Tidak perlu. Saya melakukan ini dengan ikhlas."
"Tuan Putri benar-benar orang yang baik."
"Haha terima kasih."
"Saya pamit pergi. Sekali lagi terima kasih sudah bersedia membantu saya."
"Sama-sama, Duchess."
Duchess Calle sedikit menunduk lalu pergi. Canesta mempersilahkan para pelayan dan dayang kembali masuk.
"Maaf, tapi ada apa dengan Duchess Calle, Tuan Putri?" tanya Marchioness Naya.
__ADS_1
"Duchess meminta tolong padaku untuk mencari Viscount Neil."
"Viscount yang hilang itu? Kabarnya dia diculik oleh gerombolan bandit. Gerombolan bandit sekarang memang sering berkeliaran," kata Viscountess Luna.
"Menurutku, Viscount tidak diculik," ujar Canesta.
"Bagaimana Tuan Putri tahu?" tanya Countess Helen heran sekaligus kagum dengan kecerdasan Canesta yang bisa membuat gagasan seperti itu.
"Ada alasannya."
...****************...
"Jadi, kenapa Tuan Putri mengajak kita berkumpul?" tanya Kara pada Luna. Mereka berdua sengaja naik kereta kuda yang sama.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya penting," jawab Luna sambil mengelus Bunny.
"Sepertinya begitu. Tuan Putri bukan orang yang suka mengajak berkumpul tanpa alasan," kata Kara sambil memandang keluar jendela. Dia menoleh ke arah Bunny, "Aku jadi mau punya kelinci juga."
"Kau bisa membelinya di toko hewan atau mencarinya."
"Tapi aku tidak tahu cara merawat kelinci atau hewan lainnya. Aku pernah memelihara seekor ikan dan ikan itu mati."
"Apa kau sering memberinya makan?"
"Ya. Bahkan airnya berubah warna entah kenapa."
"Ya ampun Kara. Jika kau memberi ikan makanan terlalu banyak, makanan itu akan mengendap di dasar air dan menjadi racun."
"Ya. Jangan memberi ikan makan terlalu banyak dan sering-sering bersihkan air mereka. Juga jangan taruh mereka di luar air."
"Aku pernah menaruh ikanku di samping akuariumnya dan dia meloncat-loncat. Aku kira dia senang."
"Sepertinya kau benar-benar bodoh."
"Haha aku memang tidak tahu apa-apa soal dunia hewan."
Mereka mengobrol hingga kereta kuda berhenti tepat di depan gerbang istana. Kara dan Luna turun dan langsung dipersilahkan masuk oleh pengawal, karena Canesta memang sudah menunggu mereka. Pertemuan kali ini diadakan di kamar Canesta. Karena mereka sudah menjadi sahabat, kali ini mereka akan pesta piyama.
"Datang juga kalian," kata Vizche begitu pintu terbuka yang menunjukkan Kara, Luna yang menggendong Bunny, dan Countess Aster yang membawa tas berisi keperluan mereka berdua.
"Maaf kami terlambat," ucap Luna.
"Tak apa. Ayo duduk. Di mana saja boleh," kata Canesta yang sedang duduk bersila di kasurnya dengan mengenakan celana. Tidak seperti negeri lain, di negeri Calast, perempuan yang memakai celana sudah dianggap biasa.
"Wah Tuan Putri tampil tomboy hari ini," komentar Kara.
"Haha. Iya, aku bosan selalu memakai rok yang menyulitkan," jawab Canesta sambil tertawa kecil.
"Baiklah. Karena semua sudah datang, ayo kita bahas topik utamanya," kata Flo. Semua langsung menjadi lebih serius.
"Duchess Calle meminta bantuanku untuk mencari Viscount Neil. Seperti yang kalian ketahui, rumornya Viscount Neil diculik bandit yang memang sering berkeliaran akhir-akhir ini," jelas Canesta. Suasana hening sejenak. Semua orang 'ngebug' selama beberapa menit.
__ADS_1
"Jadi ibuku meminta bantuan Tuan Putri untuk mencari paman?" tanya Arabella selaku anak dari Duchess Calle.
"Ya. Dan aku butuh bantuan kalian."
"Kami bersedia membantu. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Jane percaya diri.
"Kita akan menyelidiknya bersama-sama dan menemukan Viscount Neil. Dan kalian memang berencana untuk menginap di sini selama beberapa hari kan? Nah kita akan mencari Viscount Neil," jelas Flo.
"Terdengar seperti sebuah petualangan," kata Vizche. Dia memang suka dengan hal yang berbau petualangan. Bahkan sempat heboh berita Vizche yang menghilang. Ternyata dia sedang berburu di hutan.
"Ya udah. Mau ngapain dulu kita?" tanya Canesta.
"Main yuk," kata Jane yang sedang berbaring di sofa. Di situasi sekarang, mereka tak lagi berperilaku layaknya bangsawan.
"Makan dulu lah. Aku belum makan siang," kata Kara. Anak ini menang suka makan. Tapi anehnya tubuh Kara tetap langsing dan cantik.
"Makan terus," celetuk Arabelle. "Tapi ya udahlah aku juga lapar."
"Huuuu tadi komen sekarang ikutan."
"Hehe."
Canesta meminta para pelayan membawakan makanan dan minuman untuk tujuh orang ke kamarnya. Mereka ingin makan di kamar, karena lebih nyaman. Kerajaan Calast berada di dekat gunung, jadi udaranya sejuk.
"Apa ini?" tanya Luna sambil menunjuk sebungkus snack.
"Itu snack. Coba saja," jawab Flo. "Rasanya enak."
Ya wajar saja kalau Luna dan yang lain belum pernah mencoba snack. Para bangsawan biasanya makan makanan mewah dan jarang makan makanan seperti itu. Apalagi sahabat-sahabat Canesta dan Flo ini adalah putri dari keluarga bangsawan kaya.
"Wah enak!" seru Luna saat mencoba salah satu snack, "Rasanya asin dan gurih. Juga kriuk kriuk di mulut."
"Itu Chipato. Chipato adalah keripik kentang kemasan terlaris di kerajaan Calast," jelas Canesta. Dia jelas tahu snack apa yang dibelinya.
"Yang ini juga enak," komentar Arabelle saat mencoba snack yang berbeda dari punya Luna, "Punya Luna asin dan gurih, yang ini manis dan berbentuk seperti bola."
"Itu Chibi. Ini termasuk merek lama, tapi rasanya memang enak. Selain rasa coklat yang kau makan, ada juga rasa keju," jelas Canesta lagi.
Mereka makan snack-snack itu dengan bersemangat karena rasanya yang memang sangat enak. Sampai Canesta menghentikan mereka karena makan snack terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan. Akhirnya mereka berhenti dan makan makanan biasa.
"Entah kenapa aku sangat suka steak padahal aku sudah sangat sering memakannya," kata Kara, "Bahkan aku pernah membuat steak dari hasil buruanku."
"Hentikan jiwa petualanganmu selama di sini, Kara," kata Vizche.
"Tapi kita membutuhkan jiwa petualanganku saat mencari Viscount Neil nanti."
"Itu nanti, bukan sekarang."
"Iya deh, iya."
...****************...
__ADS_1