Princess With Magic

Princess With Magic
Kenangan Arabelle


__ADS_3

"Hari ini ke rumah seseorang yuk," ajak Flo, "Aku bosan."


"Rumah siapa?" tanya Jane.


"Hompimpah," jawab Flo.


Mereka hompimpah. Ternyata Arabelle kalah. Jadi mereka akan ke rumah Arabelle.


"Wah ke rumahku," kata Arabelle.


"Siap-siap gih," kata Canesta.


Mereka akan menginap di rumah Arabelle selama satu hari. Rumah Arabelle terletak tak jauh dari istana. Mungkin hanya perlu 15 menit dengan kereta kuda.


Mereka pergi kesana dengan dua kereta kuda. Canesta, Jane, dan Luna di kereta kuda pertama. Flo, Arabelle, Kara, dan Vizche di kereta kuda kedua. Setelah semua orang naik, kedua kereta kuda mulai bergerak ke rumah Arabelle.


15 menit kemudian, mereka sampai di depan gerbang mansion Duke Calle. Mansion itu sangat besar dan indah dengan taman yang besar dan asri.


"Kamarku ada di lantai tiga," kata Arabelle saat mereka memasuki gerbang dan berjalan melewati taman sejauh mata memandang.


Mereka masuk ke mansion dan mereka disambut oleh Duke dan Duchess Calle.


"Ah selamat datang Tuan Putri," ucap Duke Calle. Mata biru yang sama dengan Arabelle dan rambut hitam legam dengan tubuh yang gagah.


"Terima kasih sudah mau datang ke tempat yang sederhana ini," ucap Duchess Calle. Dia memiliki mata hijau muda dan rambut coklat muda yang sama dengan Arabelle dengan tubuh yang tinggi langsing dan proporsional.


"Terima kasih sudah menyambut kami," ucap Canesta.


Arabelle mengantar mereka ke kamarnya diikuti beberapa pelayan yang membawa barang mereka. Canesta dan Flo membawa masing-masing satu dayang karena putri kerajaan memang biasanya membawa minimal satu dayang saat menginap di suatu tempat.

__ADS_1


Kamar Arabelle sangat luas dengan balkon yang menghadap ke taman. Pemandangannya sangat indah.


"Kamarmu bagus juga," ucap Vizche.


"Iya dong. Arabelle gituloh," canda Arabelle.


Mereka berganti pakaian dengan baju santai dan mengobrol tentang hal-hal tidak jelas dan random. Mulai dari beruang peliharaan Luna, bangsawan-bangsawan tampan, sampai kenapa langit biru.


"Kenapa langit biru?" tanya Flo.


"Karna ketumpahan air matamu," jawab Canesta.


Eaaakk :v


Karena mulai bosan, mereka memutuskan berkeliling. Arabelle yang memandu mereka.


"Ini kamar ayah dan ibu," kat Arabelle saat mereka melewati pintu dari sebuah ruangan yang tampaknya lebih besar dari kamar Arabelle.


"Selamat siang nona-nona," sapa Pak Alfred ramah.


"Siang, Pak Alfred," balas Flo.


"Wah ada kedua Tuan Putri juga," Pak Alfred tersenyum misterius, "Rumornya Tuan Putri Canesta adalah seorang Witchex?"


"Ya," jawab Canesta pendek. Dia merasa orang ini tidak benar-benar baik, "Ayo kita masuk."


Di dalam, semua bingung dengan sikap Canesta yang tiba-tiba dingin. Padahal Pak Alfred terlihat sangat ramah.


"Ada apa?" tanya Luna.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," balas Canesta melunakkan ekspresi wajahnya, "Ayo kita membaca saja."


Mereka bertujuh membaca beberapa buku. Mulai dari dongeng, pengetahuan, dan kisah romantis. Beberapa langsung baper dengan cerita yang mereka baca dan membuat drama tidak jelas. Bahkan Arabelle berkhayal dilamar oleh pangeran dari negeri tetangga.


Saat mencari buku, tanpa sengaja Canesta pergi ke tempat buku-buku tua. Arabelle sempat membicarakannya. Tempat ini sudah lama tidak didatangi orang dan beberapa buku di sini bahkan sudah ada sejak beberapa generasi sebelumnya.


Canesta memejamkan mata. Dia mencoba melihat beberapa kenangan tempat itu. Dia bisa melihat Arabelle kecil dengan gaun merah muda dan nenek Arabelle alias Duchess Calle generasi sebelumnya, memangku Arabelle yang saat itu masih berumur lima tahun.


"Nenek, apa ini?" Arabelle menunjuk gambar seorang pria yanh terlihat tampan dan gagah dengan rambut putih dan mata biru muda yang bersinar. Nenek Arabelle tersenyum.


"Pria ini bernama Lord Hansel. Dia disebut sebagai Witchex terkuat sepanjang sejarah," jelas nenek Arabelle.


Kenangan itu berubah ke kenangan lain. Kini Canesta melihat Arabelle kecil yang wajahnya sembab seperti habis menangis. Canesta melihat kalender. Hari itu adalah hari dimana Tiffany von Calle, nenek Arabelle, meninggal.


Canesta melihat Arabelle kecil menatap nanar tempat itu. Dia terduduk dan menangis dalam diam. Namun arwah Tiffany muncul. Canesta terkesima. Karena hanya perasaan yang sangat kuat, entah itu cinta atau dendam, yang bisa membuat arwah muncul ke dunia.


Arabelle kecil mendongakkan kepalanya. Dia berdiri tak percaya bisa melihat sang nenek. Arabelle berlari memeluk neneknya.


"Nenek, jangan tinggalkan aku," tangis Arabelle.


"Semua orang akan datang lalu pergi, Arabelle. Kau harus mampu menghadapinya," Tiffany tersenyum.


Tak lama, arwah Tiffany berubah menjadi butiran cahaya lalu menghilang. Arabelle memendang kosong lalu menangis.


"Ya, aku akan kuat nek."


Canesta terharu melihat hal itu. Dia juga pernah kehilangan neneknya. Dan walau mereka tak terlalu dekat, Canesta merasakan kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa. Canesta tak dapat membayangkan kesedihan dan rasa sakit yang Arabelle rasakan. Arabelle memang sangat dekat dengan neneknya. Neneknya sangat mencintai Arabelle, begitupun sebaliknya.


Canesta kembali ke dunia nyata. Kini ia memandang tempat itu dengan berkaca-kaca. Tempat ini menjadi saksi bisu pertemuan terakhir Arabelle dan neneknya serta luka lama seorang Arabelle.

__ADS_1


"Semoga tenang di alam sana, almarhumah Tiffany von Calle," ucap Canesta tersenyum. Dia membungkuk memberi penghormatan terakhir pada arwah Tiffany lalu pergi.


...****************...


__ADS_2