Princess With Magic

Princess With Magic
Jejak Sihir


__ADS_3

"Saat ini belum ada Witchex lain yang diketahui selain tuan putri," jawab Countess Maria.


"Aku merasakan aura Witchex," kata Canetsa, "Dan auranya sangat kuat."


Viscountess Aini dan Countess Maria terkejut. Ada Witchex lain selain Canesta? Tentu itu akan menjadi berita besar kalau kerajaan Calast memiliki 2 Witchex sekaligus. Walau Witchex yang ini belum tentu berasal dari kerajaan Calast, tapi kemungkinan besar dia berasal dari kerajaan ini.


Canesta berpikir keras. Aura Witchex itu sangat kuat, walau tak sekuat dirinya. Dan lagi, untuk apa Witchex itu meracuni Flo?


"Aku rasa Witchex ini punya maksud lain," kata Canesta.


"Apa maksud tuan putri?" tanya Viscountess Aini.


"Ada kemungkinan dia tidak bermaksud meracuni kami," jawab Canesta.


Canesta menghela napas. Dia tidak bisa menghilangkan racunnya dengan sihirnya sekarang. Karena mungkin itu bukan racun, melainkan suatu cairan lain dengan niat baik.


"Sepertinya dia akan bangun dalam beberapa hari. Jaga dia baik-baik," kata Canesta.


Setelah berkata demikian, Canesta meninggalkan kamar Flo. Dia berjalan di koridor istana sambil berpikir. Siapa Witchex yang meracuni mereka berdua? Dan kenapa dia melakukannya?

__ADS_1


Canesta juga merasakan, racun yang ada pada dirinya lebih kuat daripada yang ada pada Flo. Mungkin Witchex yang memberinya tahu bahwa kekuatan sihir Canesta jauh lebih kuat daripada Flo. Jadi dia memberi racun yang lebih lemah agar tidak membahayakan Flo.


"Kalau dia memang berniat meracuni atau membunuh, kenapa dia masih memikirkan hal itu?" tanya Canesta pada diri sendiri.


Canesta kembali ke kamarnya. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah Arabelle.


...****************...


"Kau merenovasi kamarmu?" tanya Canesta melihat kamar Arabelle yang berbeda dari sebelumnya.


"Iya. Kamar ini sebelumnya adalah milik ibuku. Aku tidak begitu suka desainnya, jadi aku merenovasinya sesuai keinginanku," jawab Arabelle.


"Aku ke sini untuk meminjam perpustakaanmu," kata Canesta tanpa sungkan dan basa basi lagi.


"Bukankah perpustakaan istana jauh lebih besar?" tanya Arabelle.


"Ada banyak buku tua di perpustakaanmu. Itu yang aku butuhkan," kata Canesta.


"Baiklah, aku akan menemani."

__ADS_1


Canesta dan Arabelle pergi ke perpustakaan. Walau tidak sebesar perpustakaan istana, perpustakaan ini memiliki banyak buku tua dan tidak sembarang orang diizinkan masuk.


Canetsa membaca hampir setiap buku tentang Witchex dengan teliti. Dia harus mengetahui siapa Witchex yang meracuninya dan adiknya.


Kalau dipikir-pikir, mungkin Witchex itu punya maksud lain. Jika dia memang berniat untuk membunuh Canesta dan Flo, maka dia akan menaruh racun yang lebih kuat dan membiarkan mereka mati. Witchex itu juga mempertimbangkan kekuatan Canesta yang jauh lebih kuat daripada Flo.


"Ada petunjuk?" tanya Arabelle berjongkok melihat buku yang sedang dibaca Canesta.


Canesta menutup buku yang sudah berdebu itu, "Tidak ada."


Kini Canesta agak malas membaca buku lagi. Dia sudah mengecek puluhan buku dan sudah menemukan profil banyak Witchex. Tapi mereka semua sudah meninggal dan hanya beberapa yang kemungkinan memiliki aura sekuat aura yang dirasakan Canesta saat menjenguk Flo tadi.


"Aish perpustakaan ini penuh dengan debu," omel Arabelle. Di perpustakaan ini banyak buku dan beberapa barang tua, jadi wajar saja ada banyak debu bertebaran.


Tiba-tiba, sesuatu yang terlihat seperti debu melayang melewati mereka. Namun debu-debu itu bukan debu biasa. Mereka bersinar.


"Jejak sihir?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2