Princess With Magic

Princess With Magic
Petak Umpet


__ADS_3

"Wah Tuan Putri sangat cantik saat memakai piyama," ucap Arabelle kagum karena melihat Canesta yang baru saja muncul dengan mengenakan piyama putih.


"Haha terima kasih," balas Canesta sambil tersenyum.


"Aku mau makan snack lagiiiii," kata Kara meregangkan tubuhnya.


"Snack terus, snack terus. Nanti sakit abis tu jadi tengkorak, mana bisa makan snack lagi," omel Vizche.


"Kayak emak-emak," ledek Kara.


"Hey jangan sembarangan kamu ya sama anak Marquess."


"Ih sombong."


"Hehe iya canda."


Mereka memutuskan untuk bermain petak umpet. Main petak umpet di malam hari? Ya, itulah tantangannya. Mereka harus mengumpulkan keberanian untuk permainan ini.


"Hiyy nanti kalo ada hantu gimana?" tanya Luna yang memang paling anti soal hal-hal yang menyeramkan.


"Aku juga takut," kata Arabelle yang sama penakutnya dengan Luna.


"Tenang saja. Seluruh istana sudah kuberi sihir pelindung sejak lama. Jika ada orang yang berniat jahat maka akan terluka, dan orang yang berniat sangat jahat akan mati. Sihir pelindung ini juga menangkal makhluk halus," jelas Canesta menenangkan Luna dan Arabelle.


"Wah apa Tuan Putri sekuat itu sampai mampu memberi istana yang sangat besar ini sihir pelindung?" kata Vizche kagum.


"Haha. Aku masih harus banyak berlatih."


"Ya udah ayo mulai permainannya," kata Flo yang sudah bosan menunggu dari tadi.


"Adikku sayang yang imut. Sabar dong," ujar Canesta sambil mencubit pipi Flo.


"Aw! Sakit tau," gerutu Flo.


"Yamaap."


"Udah, ayo mulai."


Mereka melakukan undian dan akhirnya Flo lah yang jaga. Dia mulai menghitung.


"1, 2, 3..."


"Aduh gimana ini. Flo pintar mencari," bisik Vizche pada Kara.


"Aku juga tidak tahu. Yang penting kita sembunyi dulu," jawab Kara balas berbisik.


"Takut..." ucap Arabelle dalam hati. Dia gemetaran. Arabelle memang memiliki semacam phobia terhadap kegelapan. Maka dari itu, Duke Calle menaruh lampu di manapun, bahkan di lemari. Dan Arabelle juga sudah terbiasa tidur dengan lampu menyala.


"Sembunyi di mana ya?" tanya Canesta pada Luna.


"Aku tidak tahu. Sepertinya aku akan pergi ke tempat lain. Kita berpisa di sini," jawab Luna lalu pergi.


"Hadehh... Sembunyi di mana ya," Canesta menggerutu karena tidak kunjung menemukan tempat sembunyi, sementara hitungan Flo sudah mencapai angka 80.


"Mana gak boleh pakai sihir menghilang pula."


Sebelum permainan dimulai, mereka membuat peraturan agar penggunaan sihir dilarang.


"Eh... Akhirnyaaaaa ketemu tempat sembunyi," sorak Canesta dalam hati sambil berlari ke suatu tempat.


"Seratus! Siap atau tidak, aku datang."


Flo mulai mencari. Awalnya dia kebingungan dan mulai putus asa. Tiba-tiba Flo melihat sepasang sepatu di bawah gorden.


"Hehe. Ketemu kau."


Flo berjalan ke gorden dengan berjinjit agar suara langkah kakinya tidak terdengar. Lalu ia membuka gorden dan...


"BAAAAA!!"


Tidak ada apa-apa. Ternyata sepasang sepatu itu hanya tipuan. Flo mengumpat dalam hati dan kembali mencari.


"Akhh kalian sangat pintar bersembunyi. Dan istana ini sangat luas," gerutu Flo.


Flo mulai bertekad dan mencari dengan teliti. Akhirnya ia pergi ke perpustakaan, membuka lemari, dan menemukan Vizche.


"Ketemu!" seru Flo senang. Vizche yang senang membaca buku hanya bisa menggerutu.


"Kenapa bisa ketemu sih?" gerutunya.


"Iyalah. Namanya aja Flo, putri terhebat sejagat raya," jawab Flo sambil mengibaskan rambutnya ala model di iklan sampo.


"Iya deh Tuan Putri. Cari yang lain aja dulu, aku mau lanjutin baca buku," kata Vizche lalu kembali sibuk dengan bukunya.


"Kau tidak pernah berubah," celetuk Flo. Walau agak barbar, tapi Vizche dikenal suka membaca buku dan ia cukup pintar.


Flo meninggalkan Vizche yang hanya ingin berdua dengan buku-bukunya. Flo kembali mencari yang lain. Target tersulitnya tentu Canesta, yang sangat pintar bersembunyi maupun mencari. Sejak mereka kecil Canesta selalu menang saat mereka main petak umpet. Karena itulah kali ini Flo bertekad untuk mengalahkan Canesta.


"Aku cari yang lain dulu. Kakak adalah final boss," gumam Flo.


Flo mencari dengan tekad yang membara. Akhirnya dia menemukan Luna di dapur yang tampak sedang berusaha bersembunyi sambil mencari-cari sesuatu.

__ADS_1


"Ketemu!" seru Flo.


"Hantu!" seru Luna walau tak terlalu keras. Luna langsung mengelus dada begitu melihat wajah Flo. Tadi jantungnya langsung dag dig dug karena dia mengira Flo adalah hantu.


"Tuan Putri mengagetkanku," omel Luna walau dengan bahasa yang sopan.


"Hehe. Aku sudah menemukan dua orang. Tinggal.. Ahh masih empat lagi," Flo menghembuskan nafas saat menyadari berapa orang yang masih harus dia cari.


"Aku akan membantu kalau Tuan Putri memberiku wortel dan sayur lainnya."


"Benarkah? Tapi untuk apa? Untuk Bunny?" tanya Flo sambil melirik ke Bunny yang sedang menikmati dielus Luna.


"Iya. Sepertinya dia lapar. Oh, dan bisakah minta air juga? Sepertinya Bunny haus."


"Tentu saja. Aku akan meminta pelayan untuk mengambilnya."


"Oke. Aku tunggu."


Flo meminta pelayan untuk memberi Bunny sayur dan air. Lalu dia pergi mencari yang lain. Luna akan membantunya setelah Bunny selesai makan dan minum.


"Luna sama Vizche udah ketemu. Tinggal Arabelle, Kara, Jane, dan kakak," gumam Flo. Kini Flo mencoba berpikir jernih. Dia akan fokus mencari Kara terlebih dahulu.


"Kara kan suka berpetualang. Pasti dia sembunyi di tempat yang menantang," pikir Flo. Ada beberapa tempat yang menurut Flo cukup menakutkan di malam hari. Yang pertama adalah taman istana. Suasananya gelap dan sunyi di malam hari. Di sana juga banyak pohon.


"Tapi peraturannya kan gak boleh sembunyi di luar," pikir Flo.


Flo mencari ke tempat-tempat gelap di seluruh istana. Namun ia tidak bisa menemukan Kara. Saat hampir putus asa, tiba-tiba Flo teringat bahwa Kara mengantuk saat akan bermain.


"Sepertinya aku tau dimana dia," pikir Flo sambil menunjukkan smirknya.


Flo berlari ke suatu tempat dan...


"KETEMU!" serunya keras hingga Kara yang sedang tidur pun bangun karena kaget.


"Eh apa? Ada apa?" tanyanya linglung. Setelah loading beberapa saat, akhirnya Kara sadar akan apa yang terjadi.


"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanya Kara. Flo tersenyum.


"Aku tahu, kau pasti pergi ke tempat yang gelap. Sebelum permainan dimulai, kau terlihat mengantuk, dan aku tahu bahwa seorang putri bangsawan tidak akan bisa tidur tanpa kasur. Jadi satu-satunya tempat yang memenuhi kriteria itu adalah kamar pelayan kosong dan hanya ada satu kamar pelayan kosong di istana ini," jelas Flo panjang lebar.


"Ah, Tuan Putri sangat pintar," kata Kara.


"Hehe. Aku akan lanjut mencari. Mau temani aku? Luna juga akan bergabung nanti."


"Tidak. Lebih baik aku lanjutkan tidurku. Bangunkan aku saat semua sudah ketemu," jawab Kara dan kembali tidur tanpa ba-bi-bu lagi.


"Kara jahad," kata Flo lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintunya agak kencang.


"Biarin. Ini kan istanaku," jawab Flo dan langsung pergi tanpa mendengar omelan Kara.


"Tinggal Arabelle, Jane, dan kakak," pikir Flo. Dia senang karena akhirnya kemampuan mencarinya sedikit meningkat. Dulu Flo makan waktu seharian untuk mencari Canesta. Entah Canesta yang terlalu pintar bersembunyi atau Flo yang terlalu payah mencari.


"Arabelle dulu ah. Dia kan tidak terbiasa dengan tempat gelap dan tidak nyaman. Jadi pasti akan lebih mudah mencarinya," pikir Flo sambil berjalan menyusuri lorong istana. Hanya ada beberapa pengawal yang berjaga di sana.


"Uh... Entah kenapa suasananya dingin dan menakutkan. Apa mungkin..." Flo bergidik. Lalu ia mencoba berpikir jernih, "Tidak, itu tidak mungkin. Apalagi kakak sudah memberi sihir pelindung pada istana ini."


Flo kemari berjalan. Entah kenapa perasaannya semakin tidak enak. Angin berhembus dan meniup rambut panjang Flo. Tiba-tiba...


"BAAAAA!!!"


"AAAAAA!!!"


Flo berlari sangat kencang. Dia tak berani melihat ke belakang. Terdengar langkah kaki cepat orang itu yang sepertinya sedang berlari mengejar.


"Oh iya. Aku kan punya sihir."


Flo memperlambat larinya dan berhenti. Dia menyiapkan sihirnya lalu memutar badan. Flo bersiap menyerang.


"MATI KAU HANTU SIALAN!"


Sedetik sebelum Flo melepaskan sihirnya, hantu itu menampakkan wajah. Bukan hantu tapi... seorang gadis?


"JANEEEEE!!!" seru Flo saat melihat ternyata itu adalah Jane. Jane hanya tertawa terbahak-bahak.


"Kau harusnya lihat ekspresimu tadi!" Jane tak berhenti tertawa.


"Candaanmu berlebihan," sungut Flo.


"Yamaap. Tapi wajahmu tadi itu sangat lucu."


Flo berniat menjahili balik. Flo fokus lalu ia menggerakkan tangannya dan...


"Eh? Kenapa aku melayang?!"


Jane melayang dan berputar di udara. Flo menggerakkan tangannya dengan lincah dan gerakan Jane semakin cepat.


"Haha. Ini balasanku."


"Turunkan akuuuuu!"


Setelah puas menjahili Jane, Flo menurunkannya. Jane mual karena diputar-putar oleh Flo. Ditambah dia takut ketinggian. Jane segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan estetiknya ke wastafel.

__ADS_1


"Rasakan," ujar Flo puas. Dia berjalan dan mulai mencari Arabelle, peserta terakhir sebelum f**inal boss.


"Waktunya mencari Arabelle."


Flo mencari ke tempat-tempat yang menurutnya cukup nyaman untuk Arabelle bersembunyi. Namun dia tidak juga menemukan putri keluarga Duke Calle itu.


"Mana dia," keluh Flo dalam hati. Dia mencoba memikirkan tempat lain yang cukup nyaman. "Aku sudah mengecek semua kamar dan dia tidak ada."


Di tengah keputusasaannya, Flo teringat sesuatu,


"Oh iya!"


Flo berlari ke ruang tamu. Dia tersenyum melihat Arabelle yang sedang berbaring sambil memeluk guling di salah satu sofa dengan bantal di kepalanya dan selimut hangat yang menyelimuti tubuhnya. Sepertinya Arabelle hampir tertidur.


"Ketemu kau."


"Ampuni akuuu!" seru Arabelle. Dia kembali tenang saat melihat wajah Flo. "Aku kira orang jahat."


"Tenang. Aku orang yang cantik, baik, dan rajin menabung kok," kata Flo.


"Tidak terlihat seperti itu."


"Hehe."


Setelah mengatur bantal sofa seperti semula serta mengembalikan guling dan selimut ke kamar pengawal, Arabelle membantu Flo mencari Canesta.


"Waktunya nyari final boss," kata Flo.


"Final boss siapa?" tanya Arabelle.


"Kakak. Dia sangat pandai dalam hal petak umpet. Sejak kecil aku selalu kalah setiap bermain dengannya," jelas Flo. Arabelle mengangguk paham.


Tiba-tiba Luna datang. Ternyata Bunny sedang tidur jadi Luna menitipkannya pada seorang pelayan. Kini mereka bertiga mencari Canesta.


Ternyata benar kata Flo, Canesta sangat pintar bersembunyi. Setelah setengah jam mencari, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar dan istirahat sebentar. Di sana ada Jane yang sedang mengobrol dengan Viscountess Amelia.


"Oh kalian kembali," Jane menyadari kedatangan mereka bertiga. "Apa semuanya sudah ketemu?"


"Kami masih belum menemukan kakak," jawab Flo lesu.


"Putri Canesta memang sangat sulit ditemukan," kata Viscountess Amelia. "Putri sangat pandai dalam hal petak umpet."


"Aku akan bantu kalian," kata Jane. Alhasil mereka berempat pun bergerak mencari Canesta.


"Akhh aku sangat frustasi mencarinya. Dulu dia pernah menyamar menjadi pohon dan penyamarannya sangat sempurna. Dia juga pernah bersembunyi di ruang bawah tanah yang bahkan seluruh Calast kaget istana memiliki ruang bawah tanah yang tidak diketahui siapapun," keluh Flo.


"Wah ternyata Putri lebih pintar bersembunyi dari yang kita kira," kata Arabelle kaget mendengar tempat persembunyian Canesta yang aneh dan estetik.


Mereka mencari dan mencari ke setiap sudut istana. Dan Canesta tetap tidak ketemu.


"Ayolaaaahh dimana kakak," keluh Flo yang kesal.


"Oke. Ayo berpikir jernih," kata Luna. Luna menengadahkan kepalanya ke atas. Ia tersenyum dan terlihat senang. "Aku tahu di mana Putri bersembunyi."


Semua orang menatap Luna.


"Beritahu kami!" seru Jane tidak sabar.


"Sabar dong. Kita perlu sedikit sihir untuk ke sana."


"Biar aku yang mengangkatmu," kata Flo yang kekuatannya paling kuat di antara mereka berempat. Karena Canesta memberi kekuatan sihirnya pada Flo sedikit lebih banyak dari yang lain.


"Baiklah. Tolong angkat aku ke atas."


Walau bingung, Flo mulai fokus dan Luna terangkat ke atas. Luna membuka langit-langit istana.


"Aku baru tau itu bisa dibuka," komentar Arabelle.


Luna menjatuhkan potongan langit-langit itu dan meminta Flo mengangkatnya masuk dengan isyarat. Flo mengerti dan membuat Luna masuk ke lubang itu.


"Ketemu!" seru Luna.


"Kau menemukanku," terdengar suara Canesta.


Flo menurunkan Luna. Lalu Canesta menggunakan kekuatannya untuk turun. Flo menatap Canesta kesal.


"Apa kakak tau, kami lelah mencari kakak dari tadi," omel Flo.


"Bukan salahku kalau kau tidak cukup pandai untuk menemukanku," jawab Canesta tak peduli dengan omelan Flo.


"Aku tidak menyangka Tuan Putri akan bersembunyi di plafon. Dan aku bahkan juga tidak tau istana ini punya plafon," kata Jane.


"Hehe. Aku melihat Luna yang menemukan aku. Bagaimana kau menemukanku?" tanya Canesta pada Luna.


"Hehe. Aku bisa melihat aura sihir Putri yang sedikit berbekas. Sepertinya salah satu kekuatanku adalah melihat aura sihir," jawab Luna.


"Kekuatanmu keren juga," puji Canesta.


"Terima kasih.".


Mereka menjemput Vizche di perpustakaan dan Kara di kamar pelayan lalu kembali ke kamar Canesta. Setelah main beberapa permainan sambil makan, akhirnya mereka tertidur lelap pada jam 2.30 malam...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2