Princess With Magic

Princess With Magic
Pulang


__ADS_3

"Monster ini harus kita apakan?" tanya Canesta melihat monster yang terus meninju kubah.


"Hmm..." pikir Viscount Neil.


"Aku punya ide," kata Canesta. Dia meminta Viscount Neil membuat kubah menggantikannya. Lalu Canesta menggambar sebuah lingkaran besar di salju. Lingkaran itu menjelma menjadi sebuah kalung bulat yang terpasang di leher monster Alast dengan sendirinya. Monster itu meraung keras seiring cahaya keluar dari kalung. Monster itu mendadak tenang saat cahayanya meredup. Monster itu memandang Canesta dan teman-temannya.


"Hati-hati," kata Vizche melihat monster itu menatap mereka aneh.


Namun monster itu justru membungkuk pada Canesta, "Hormatku pada tuan."


"Tuan??"


Canesta menghilangkan kubah. Sepasang sayap putih muncul di punggungnya dan Canesta terbang ke kepala monster lalu membelainya. Monster itu tidak menyerang. Dia malah terlihat senang karena dibelai.


"Aku jadi ingat bagaimana dulu ibu membelaiku seperti ini," kata si monster.


"Ternyata monster juga punya kisahnya sendiri ya," kata Jane.


"Monster juga punya kehidupan," balas Kara.


"Kenapa monster ini tiba-tiba jinak pada kakak?" tanya Flo. Canesta tersenyum lalu terbang kembali ke arah mereka dan mendarat mulus di salju.


"Aku memasangkan kalung pengikat padanya. Dengan ini, kami berdua sudah terikat sebagai tuan dan peliharaan," jelas Canesta.


"Bukan pelayan?" tanya Vizche.


"Aku lebih suka menyebutnya peliharaan," senyum Canesta, "Lagipula mulai sekarang kami adalah teman."


"Bagaimana cara kita membawanya ke istana?" tanya Flo, "Walau dia sudah jinak tapi tubuhnya masih besar. Dia akan menghancurkan semuanya sepanjang jalan ke istana."


"Tenang. Aku sudah memikirkannya."


Canesta memunculkan sebuah kantung dan membuka kantung itu. Monster Alast seperti tersedot masuk ke dalamnya. Setelah monster itu benar-benar tersedot masuk, Canesta menutup kantung itu.


"Ini adalah kantung hewan peliharaan. Aku bisa memasukkan dan mengeluarkan monster Alast kapan saja," jelas Canesta melihat teman-temannya yang bengong melihat kejadian barusan.


"Begitu rupanya," kata Arabelle.


"Kau hebat bisa menjinakkan monster sebesar dan seganas ini," puji Viscount Neil.


"Haha aku masih harus banyak belajar."

__ADS_1


Mereka membongkar tenda dan merapikan semuanya lalu bersiap pulang ke istana.


"Apa kita akan melewati jalan penuh makhluk gila lagi?" tanya Kara mengingat saat mereka mendaki gunung. Banyak hewan Gunung Alast yang menyerang mereka dengan alasan bahwa itu ujian sebelum sampai ke puncak gunung.


"Tidak. Ayah dan ibu bilang mereka tidak akan menyerang saat kita menuruni gunung," jawab Flo.


"Baguslah. Walau bisa menghadapi mereka, tapi aku muak dan lelah harus melawan mereka terus," kata Kara lega, "Akhirnya ada perjalanan yang damai."


Mereka mulai berjalan menuruni gunung. Benar saja, tidak ada hewan yang menyerang mereka. Hewan-hewan itu malah tersenyum ramah dan beberapa melambai saat mereka lewat.


"Mereka sangat ramah," kata Luna.


"Tentu saja. Mereka hanya tidak ingin sembarang orang pergi ke puncak Gunung Alast karena tempat itu hanya untuk orang-orang terpilih yang cukup kuat untuk pergi ke sana," kata Viscount Neil.


Sesampainya di kaki gunung, di sana sudah ada delapan kuda putih. Canestalah yang memanggil mereka kemarin dan kuda-kuda itu berlari dengan sendirinya dari istana ke kaki Gunung Alast.


"Apa Viscount bisa berkuda?" tanya Flo.


"Jangan meragukanku nona."


Viscount Neil menunggang kuda seperti seorang profesional. Bahkan dia sempat menunjukkan beberapa akrobat. Canesta dan yang lain bertepuk tangan sambil tertawa melihat kelakuan konyol pria yang sudah berumur 21 tahun itu.


"Viscount awas!"


"Siapa orang yang berani menantang nyawa ini," kata Canesta marah.


Canesta berlari masuk ke dalam hutan berniat mencari pelakunya. Flo dan yang lain mencoba menghentikan, tapi Viscount Neil melarang mereka.


"Biarkan saja dia. Jangan lakukan apapun saat seorang Witchex marah."


Akhirnya mereka bertujuh memutuskan untuk menunggu Canesta di pinggir hutan. Setelah 15 menit, Canesta kembali dengan tangan kosong.


"Kakak tidak berhasil menangkap pelakunya?" tanya Flo.


"Haha bicara apa kau."


Canesta mengeluarkan sebuah bola kaca dimana di dalamnya ada seorang gadis 20 tahunan yang mengetuk-ngetuk bola kaca itu minta dikeluarkan.


"Dia pelakunya dan aku akan membuat perhitungan," kata Canesta memandang gadis itu penuh dendam.


"Ya sudah, ayo kita pulang," kata Viscount Neil.

__ADS_1


Canesta menghilangkan bola kaca itu dan memindahkannya ke semacam ruang penyimpanan tanpa batas. Canesta naik ke kudanya dan mereka melanjutkan perjalanan pulang.


Setibanya di istana, kedatangan mereka disambut semua orang. Rupanya di tengah jalan menuju istana, seorang petani melihat mereka pulang dan menyebarkan kabarnya.


Duchess Calle berlari memeluk Viscount Neil. Dia sangat rindu dengan adiknya dan sempat mengira Viscount tidak akan selamat.


"Terima kasih banyak, Tuan Putri," ucap Duchess Calle.


"Sama-sama, Duchess," balas Canesta sambil tersenyum.


...****************...


Canesta dan teman-temannya kembali ke kamar. Mereka sangat lelah. Terutama Canesta yang memakai banyak energinya untuk membuat kubah sepanjang malam, kubah untuk menahan monster Alast, memberi kalung pengikat, dan banyak lagi kegiatan yang menguras energinya.


"Perlu saya siapkan air untuk mandi, Tuan Putri?" tanya Countess Aster.


"Ya. Siapkan untuk Flo dan teman-temanku juga," jawab Canesta. Countess Aster membungkuk lalu menyuruh pelayan menyiapkan air mandi.


Canesta menggeliat. Dia memutuskan segera tidur setelah mandi. Sepertinya yang lain juga berpikiran sama.


"Aku capek," keluh Flo, "Tapi kakak pasti yang paling capek."


"Begitulah~" balas Canesta.


Setelah air mandi siap, mereka mandi. Canesta merasa nyaman berendam di bak mandi yang hangat setelah berhari-hari berada di Gunung Alast yang dingin.


"Nyamannya..."


"Tuan Putri pasti sangat lelah ya," kata Countess Helen sambil membasuh lengan Canesta.


"Iya," jawab Canesta.


Selesai mandi, mereka beristirahat dan main HP sebentar. Semua dayang dan pelayan yang melihatnya langsung heran dan bingung akan benda asing itu.


"Apa itu, Tuan Putri?" tanya Viscountess Amelia.


"Ini handphone. Bisa disebut ponsel atau HP," jawab Canesta. Canesta menjelaskan tentang benda yang ia munculkan dari masa depan tersebut. Setelah dijelaskan Canesta, semua orang manggut-manggut paham.


"Putri kita sangat kuat," ucap Viscountess Eliza bangga.


"Biasa saja," balas Canesta tersipu. Mungkin ia harus membiasakan diri mendapat banyak pujian.

__ADS_1


Canesta menonton sebuah video yang membuatnya mengantuk. Canesta mematikan HPnya lalu tidur.


...****************...


__ADS_2