
"Katanya puncak Gunung Alast adalah tempat angker di mana roh jahat berkumpul," kata Arabelle merinding.
"Ayolah. Masa putri Duke kalah dariku. Aku aja berani," sindir Kara.
"Mana ada. Aku berani kok," balas Arabelle walau tubuhnya masih gemetar seiring mereka mendekati puncak gunung.
CLEP!
"Bedebah-bedebah ini lagi," keluh Flo. Dia baru saja memanah seekor ular emas dengan panah yang sudah dilumuri cairan sihir. Flo mendekati ular yang sudah mati itu dan memasukkannya ke dalam kantung, sama seperti hewan lain yang mereka bunuh sebelumnya.
"Wah ular emas," kata Canesta kagum, "Ular emas adalah ular yang sangat langka dan hanya bisa ditemui di puncak Gunung Alast."
"Kita belum sampai puncak gunung. Kenapa ular ini ada di sini?" tanya Vizche.
"Mungkin kasus yang sama dengan harimau bersayap sebelumnya," jawab Canesta, "Seharusnya ada alasan mengapa mereka turun dari gunung."
"Tidak hanya mereka. Lihat itu!" seru Luna.
Semua orang memandang gerombolan kambing Alast yang berbondong-bondong menuruni gunung. Mereka seperti takut akan sesuatu. Kambing Alast adalah kambing bertanduk pelangi yang hanya ada di sekitar puncak Gunung Alast dan hidup berkelompok.
"Kambing-kambing itu kenapa?" tanya Kara.
"Entahlah. Aku tidak bisa menghubungkan pikiranku dengan salah satu kambing karena mereka sedang panik dan terburu-buru," jawab Canesta yang sudah mencoba menghubungkan pikirannya dengan salah satu kambing.
"Sepertinya ada sesuatu di atas sana," Arabelle memandang ke puncang gunung. Kemarin dia menemukan bahwa salah satu kemampuannya adalah deteksi aura. Namun kemampuannya baru bisa mencapai jarak maksimal 10 km.
"Aku tidak bisa merasakan aura apapun karena puncak gunung masih lumayan jauh," kata Arabelle.
"Aku bisa merasakan sedikit aura," ucap Canesta yang kemampuan deteksi auranya maksimal 100 km, sepuluh kali lipat dari kemampuan Arabelle.
"Aura apa?" tanya Vizche.
"Sebuah aura jahat. Namun seperti ada yang menahan aura itu," jawab Canesta masih memfokuskan pikirannya, "Sisanya hanya beberapa hewan ajaib biasa yang sedang berlari ketakutan menjauhi sumber aura itu."
"Pasti sumber aura itulah penyebab semua ini," duga Jane.
"Mungkin. Kita akan menyelidikinya begitu sampai di puncak gunung. Ayo jalan," kata Canesta yang sudah jalan duluan.
"Hey jangan tinggalkan kami," Flo berlari menyusul Canesta.
"Hati-hati jatuh," Luna mengkhawatirkan Flo. Bagaimanapun, Flo adalah putri Kerajaan Calast.
"Iya," balas Flo sambil tetap menyusul Canesta.
Setelah berjarak kira-kira 10 km dari puncak gunung, Arabelle bisa merasakan aura makhluk itu. Seperti yang dikatakan Canesta, aura itu adalah aura jahat.
"Aku bisa merasakan aura makhluk itu," kata Arabelle.
"Bagaimana bisa?" tanya Vizche.
"Apa kau lupa aku punya kemampuan deteksi aura dalam jarak 10 km?" jawab Arabelle.
"Oh iya aku ingat."
Semakin mereka mendekat, auranya semakin kuat. Canesta menajamkan penglihatannya.
"Ada sesuatu yang besar!" seru Canesta, "Kita harus bantu dia!"
"Bantu siapa?" tanya Flo. Namun Canesta sudah lari duluan. Mau tak mau, mereka mengikutinya
"Hiyy."
Di depan mereka, seekor monster besar sedang meninju udara. Samar-samar terlihat apa yang dipukulnya. Sepertinya itu kubah seperti yang Canesta ciptakan.
"Siapa yang membuat kubah ini??" tanua Kara.
"Sepertinya aku bisa merasakan sebuah aura kuat lagi," kata Canesta. Dia melihat sekeliling dan berseru, "Ketemu!"
__ADS_1
Canesta berjalan mendekati sebuah pohon albino. Pohon albino sangat langka dan hanya ditemukan di beberapa tempat, itupun sangat sedikit. Canesta menjulurkan tangannya dan samar-samar tampak seperti ia menyentuh sesuatu. Sepertinya ada kubah yang melindungi pohon ini. Atau lebih tepat, melindungi sesuatu di dalamnya.
Dengan satu serangan, kubah itu hancur dan Canesta masuk dengan enteng. Dia berbicara dengan pohon albino itu,
"Apa ada seseorang di dalammu?"
Pohon itu hanya diam. Akhirnya Canesta terpaksa menggunakan kekuatan melihat tembus pandangnya. Di dalam pohon, Canesta bisa melihat seorang pria sedang duduk santai. Maklum, batang pohon itu sangat besar dan cukup untuk dijadikan sebuah ruangan kecil di dalamnya.
"Kau pikir kau bisa bersembunyi dariku?"
Canesta melangkah dan masuk ke dalam pohon. Dia menggunakan kekuatan menembus benda yang bisa membuatnya menembus apapun.
"Kau menemukanku," pria itu tersenyum.
"Ya aku menemukanmu Viscount."
...****************...
Canesta duduk di kursi yang ia buat sendiri. Canesta memandang Viscount Neil yang terlihat seperti sedang menggunakan kekuatan sihirnya walau ia terlihat santai. Dan ia seperti sedang menahan sesuatu.
"Apa kau yang membuat kubah itu Viscount?" tanya Canesta.
"Bagaimana Putri tahu?"
"Tidak sulit menebak bahwa kau sedang menggunakan kekuatan sihirmu dan menahan sesuatu."
"Ya, akulah yang membuat kubah itu."
Viscount Neil berjalan keluar menembus dinding batang pohon dan Canesta mengikutinya. Di luar, ada teman-teman Canesta yang sudah menunggu dari tadi.
"Lama bet dah," protes Flo.
"Yamaap."
"Paman!" Arabelle memeluk Viscount Neil.
"Keponakanku sudah besar rupanya. Bagaimana kabar ibu dan ayah?" Viscount membalas pelukan Arabelle dengan sayang.
"Ini Viscount Neil?" tanya Luna.
"Iya," jawab Canesta. Sebagai Putri terutama pewaris tahta, ia tahu semua nama bangsawan dan pejabat. Bahkan ia tahu raja, ratu, putri, pangeran, bangsawan, pejabat dari kerajaan lain juga. Canesta memang tipe orang yang belajar giat kalau sudah mood. Tidak seperti Flo yang malas belajar dalam situasi apapun.
"Aku kira Viscount udah tua," kata Jane.
"Sembarangan. Pamanku ini masih 21 tahun," kata Arabelle.
"Yamaap."
Mereka duduk dan Viscount Neil menceritakan semuanya,
"Monster ini adalah monster Gunung Alast yang sudah lama tersegel dan dikurung di dalam gunung. Aku mengetahuinya karena aku suka berpetualang ke banyak tempat dan beberapa orang menceritakan tentang monster Gunung Alast yang akan bangkit dan lepas dari segelnya pada bulan kelima. Mendengar itu, aku segera ke Gunung Alast berniat untuk menahan monster itu. Aku memiliki kekuatan sihir walau tidak terlalu kuat. Dan dengan itu aku melewati semua rintangan Gunung Alast dan sampai ke puncak. Di sana aku melihat monster raksasa yang memakan beberapa kambing Alast. Aku menyelamatkan semua hewan dengan mempertaruhkan nyawaku dan membuat kubah agar monster itu tidak bisa keluar."
Otak mereka mencoba mencerna perkataan Viscount barusan. Jadi Viscount menahan monster ini selama berhari-hari?
"Bagaimana Viscount bisa menahan monster ini selama berhari-hari?" tanya Flo.
"Aku punya kekuatan menyimpan energi. Jadi aku menyimpan energi yang kumiliki di saat monster itu sedang tidak aktif dan menggunakannya saat monster itu aktif," jelas Viscount.
"Monster itu kadang aktif dan kadang tidak aktif?" tanya Canesta.
"Ya. Monster juga perlu istirahat."
"Tapi aku curiga akan sesuatu," kata Canesta.
"Kau selalu curiga pada apapun," celetuk Arabelle.
"Hmmm...."
__ADS_1
Viscount menghancurkan kubah itu dan kini Canestalah yang membuat kubah menggantikan Viscount yang sudah menahan kubah selama berhari-hari. Mereka makan dan minum. Canesta tak lupa memberi Viscount Neil sebuah HP dan menjelaskan cara menggunakannya.
"Ada yang aneh dengan monster ini," gumam Canesta melihat monster itu yang tiba-tiba seperti tidur. Sekilas, ia melihat sebuah aura hitam.
"Ada seseorang dibalik perbuatan monster ini!" seru Canesta. Canesta menghancurkan kubah dan mendekati monster itu.
"Hati-hati Tuan Putri!" seru Viscount yang kaget dengan tindakan nekat Canesta.
"Aku menangkapmu," kata Canesta saat sudah sangat dekat dengan monster itu, "Eudora."
Eudora keluar dari dalam tubuh monster itu. Dia tersenyum sinis ke arah Canesta.
"Rupanya kau menangkapku, anak kecil."
"Aku sudah besar," balas Canesta.
"Kau tetap anak kecil yang lemah."
Eudora langsung menyerang. Untung Canesta sudah melatih kesigapan dan kepekaannya, jadi ia bisa menghindari serangan Eudora dan membalas serangan.
"Akhh... Bagaimana kau bisa punya sihir?" tanya Eudora setelah mendapat luka bakar di lengan akibat api Canesta.
"Aku? Perkenalkan, aku Witchex generasi ke 21."
"W-Witchex?!"
Mendengar Canesta yang merupakan seorang Witchex, Eudora berniat kabur, namun Canesta menahannya.
"Jika kau dibiarkan kabur, aku yakin kau akan membuat banyak kekacauan kedepannya. Maka dari itu, aku harus mengakhirimu di sini."
Canesta membunuh Eudora dengan sekali tebasan. Darah hitamnya membanjiri tanah. Semua orang yang melihat itu merasa ngeri melihat Canesta yang membunuh seseorang dengan enteng.
Canesta menciptakan sebuah kantung plastik besar dan memasukkan mayat Eudora. Mungkin mayat ini akan berguna.
"Urusan kita sudah selesai dan Viscount Neil sudah ketemu. Ayo kembali ke istana," kata Canesta.
"Lebih baik kita bermalam di sini dulu. Hari sudah sangat sore," kata Viscount Neil. Canesta memandang langit yang sudah mulai gelap.
"Ya sudah kita bermalam dulu di sini."
Canesta membuat kubah dan api unggun lagi sementara yang lain mendirikan tenda. Viscount Neil membakar daging dengan api unggun 'sungguhan'.
"Wah Viscount pandai memasak," puji Vizche saat mencicipi daging buatan Viscount.
"Iya. Viscount memang yang paling pandai memasak di keluarga kami," jawab Arabelle.
Setelah kenyang, mereka mabar. Tim mereka menggunakan kombinasi yang aneh dan mereka kalah.
"Hueeee kalaaahhh," keluh Flo melempar HPnya ke salju.
"Main lempar aja," kata Canesta.
"Yamaap. Habisnya kan kesal."
Puas mabar, mereka menonton dan mengobrol. Lalu mereka mengelilingi api unggun dan bernyanyi.
"Like an echo in the forest. Haruga doraogetji. Amu ildo eopdan deusi. Yeah, life goes on. Like an arrow in the blue sky. Tto haru deo naragaji. On my pillow, on my table. Yeah, life goes on. Like this again," nyanyi Canesta.
"Wah suara Putri bagus juga," puji Arabelle.
"Seumur hidup baru pertama kali aku dengar kakak nyanyi," kata Flo. Kakaknya itu memang tidak berminat pada seni sedikitpun. Baik seni gambar atau suara atau apapun itu.
"Kalau Tuan Putri mau, Putri bisa saja menjadi penyanyi profesional," kata Luna. Luna menyukai seni suara walau dia tak pandai bernyanyi. Luna sudah mendengar banyak penyanyi profesional maupun amatir. Dan suara Canesta setara dengan Haseul, penyanyi paling terkenal di kerajaan mereka.
"Ah suaraku tidak sebagus itu," balas Canesta yang malu karena dipuji berlebihan.
Setelah bernyanyi, mereka tidur.
__ADS_1
Udah itu aja🗿
...****************...