Princess With Magic

Princess With Magic
Rumah Duke Calle


__ADS_3

"Hoahmmm.."


Canesta menggeliat dan duduk. Pandangannya belum terlalu jelas, karena dia baru bangun tidur. Canesta melihat teman-temannya yang tidur sesuka mereka. Ada yang tidur di kasur bersamanya, ada yang tidur di sofa, ada yang tidur di karpet, bahkan ada yang tidur di lantai.


"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa Countess Aster.


"Pagi," balas Canesta lesu.


"Saya akan menyiapkan air untuk mandi."


"Bisakah mandikan teman-temanku juga?" tanya Canesta.


"Tentu saja. Tapi karena teman Tuan Putri lumayan banyak, jadi setengahnya akan mandi di kamar Putri Flo. Bagaimana?"


"Tidak apa-apa."


Para dayang segera menyiapkan segala kebutuhan. Mulai dari pakaian, air mandi, jadwal hari ini, dan lain-lain. Dan tentu saja mereka mau memandikan teman-teman Canesta karena mereka bangsawan. Jika itu rakyat jelata, para dayang tidak akan mau memandikannya.


"Airnya sudah siap, Tuan Putri," kata Viscountess Amelia.


"Hm."


Canesta berjalan ke kamar mandi. Lalu ia dimandikan oleh para dayang. Canesta terlihat mengantuk. Tentu saja, semalam dia dan yang lain tidur saat waktu hampir pagi.


"Tuan Putri terlihat sangat mengantuk," kata Marchioness Naya.


"Iya. Semalam aku tidur sangat terlambat," jawab Canesta sambil menguap.


"Saya akan membasuh wajah Tuan Putri supaya segar kembali," kata Viscountess Amelia.


Viscountess Amelia membasuh wajah Canesta dengan air dingin. Lalu dia memakaikan krim khusus dan potongan mentimun di mata kemudian memijat wajah Canesta.


"Nyaman sekali..." gumam Canesta.


"Baguslah kalau Tuan Putri puas."


Selesai mandi, Canesta memakai handuk lalu keluar. Di sana ada Arabelle yang sudah bangun tapi masih loading.


"Arabelle, ini giliranmu mandi," kata Canesta. Arabelle tersadar dari lamunannya.


"Eh? Apa boleh?" tanyanya.


"Tentu saja."


Arabelle berjalan ke kamar mandi dan dimandikan oleh para dayang, sementara dayang lainnya memakaikan pakaian ke Canesta. Sebuah gaun putih sederhana dengan hanya sedikit permata dan tatanan rambut ekor kuda.


"Bangunkan yang lain," pinta Canesta. Para dayang langsung membangunkan Flo dan teman-teman Canesta. Satu persatu mereka bangun lalu segera mandi. Setengah mandi di kamar Canesta dan setengah lagi di kamar Flo.

__ADS_1


"Baiklah. Karena semuanya sudah mandi, ayo kita sarapan," kata Canesta.


Mereka bertujuh pergi ke ruang makan. Arabelle, Vizche, Jane, Kara, dan Luna lumayan gugup karena makan bersama Raja dan Ratu.


"Santai saja. Kami tidak makan orang," canda Ratu.


"Haha. Kami tahu," jawab Arabelle.


"Tapi wajah kalian terlihat gugup."


"Maaf. Ini pertama kalinya kami makan bersama Yang Mulia Raja dan Ratu."


"Karena kalian sudah menjadi sahabat, mungkin kalian akan sering makan bersama kami," senyum Ratu Bertha.


"Haha. Tentu saja."


Setelah sarapan, mereka pergi ke rumah Duke Calle, alias rumah Arabelle.


"Ayahmu tidak galak kan?" tanya Luna yang paling anti dengan orang yang galak dan suka marah.


"Tentu saja tidak. Ayahku baik dan lembut kok. Begitu juga dengan ibu," jawab Arabelle menenangkan Luna.


Sesampainya di rumah Duke Calle, mereka bertujuh turun dari kereta kuda. Tentu saja para pengawal langsung mengizinkan mereka masuk karena ada Arabelle selaku putri Duke Calle, dan kedua Putri kerajaan Calast.


"Ah, selamat datang putriku. Akhirnya kau pulang. Dan selamat datang tuan putri beserta nona-nona bangsawan," sambut Duke Calle. Rupanya dia sudah menunggu dari tadi.


"Tentu saja. Silahkan duduk."


Canesta dkk duduk di sofa setelah Duke Calle mempersilahkan mereka. Pelayan datang dan membawakan teh beserta kue kering.


"Jadi ada apa Tuan Putri datang kemari?" tanya Duke Calle.


"Kami berniat membantu Duchess Calle mencari Viscount Neil yang kabarnya diculik bandit," jelas Flo.


"Oh Viscount Neil rupanya. Saya turut sedih mendengar berita adik ipar saya itu. Tapi menurut saya, seharusnya para bandit terlalu bodoh untuk menculiknya. Viscount Neil adalah orang yang cerdas. Bagaimana bandit bisa menculik dia?"


"Saya memiliki pendapat bahwa Viscount Neil tidak diculik," kata Canesta. Semua orang tampak terkejut.


"Apa? Bagaimana bisa??" tanya Duke Calle.


"Ya. Tapi itu masih pendapat saya dan semua itu akan terbukti jika Viscount berhasil ditemukan."


Suasana hening sejenak. Semua orang bahwa Viscount Neil diculik, dan sejauh ini belum ada opini bahwa dia tidak diculik.


"Maka dari itulah saya berkunjung kemari. Saya ingin mengorek beberapa informasi untuk mempermudah pencarian," kata Canesta lagi.


"Tentu. Aku akan menjawab apapun. Tapi lebih baik bertanya pada Duchess, karena dia lebih tau tentang Viscount Neil," kata Duke. Dia meminta pelayan untuk memanggil Duchess.

__ADS_1


Tak lama, Duchess Calle datang. Wajahnya tampak agak pucat. Kesehatannya menurun karena terus memikirkan keselamatan Viscount. Para bandit adalah orang jahat. Dia bahkan tidak tahu apa adiknya masih hidup di luar sana.


"Maafkan penampilan saya, Tuan Putri," ucap Duchess sambil mengangkat gaunnya dan duduk di samping Duke.


"Tidak apa-apa. Anda pasti sangat mengkhawatirkan Viscount."


"Ya. Dia adalah adik saya satu-satunya. Saya sangat menyayanginya."


"Kami ingin meminta beberapa informasi untuk mempermudah pencarian Viscount. Apa boleh?" tanya Vizche yang sudah bosan diam dari tadi.


"Tentu. Saya akan jawab apapun pertanyaan kalian."


"Baiklah. Bisa anda jelaskan tentang kebiasaan Viscount?" tanya Canesta.


"Dia adalah orang berjiwa bebas bagai burung. Viscount sangat tidak suka dikekang dan ingin melakukan apapun sesuai hatinya. Dia tidak ingin diatur, tapi dia adalah orang yang baik," jelas Duchess Calle.


"Hm. Begitu ya. Apa Viscount suka bepergian?" tanya Canesta lagi.


"Ya. Dia selalu minta izin sebelum pergi. Dan saya selalu menugaskan pengawal untuk menjaganya karena saya takut terjadi sesuatu."


"Tempat seperti apa yang Viscount sukai?"


"Dia menyukai semua tempat yang menantang."


"Ini pertanyaan terakhir. Apa Viscount pernah ingin pergi ke suatu tempat tapi tidak sempat pergi ke sana atau anda melarangnya?"


"Saya pernah melarangnya pergi ke Gunung Alast. Karena gunung itu terkenal berbahaya dengan banyak hewan aneh berkeliaran," jawab Duchess Calle.


"Baiklah. Terima kasih, Duke dan Duchess Calle. Maaf mengganggu. Kami akan segera mencari Viscount Neil," ucap Canesta sambil berdiri. Semua orang di ruangan itu juga berdiri.


"Sama-sama, Putri. Katakan apa saja dan kami akan membantu," kata Duke Calle.


"Terima kasih, Duke. Tapi informasi ini saja sudah cukup."


Canesta, Flo, dan teman-temannya pulang ke istana. Mereka akan bersiap mencari Viscount Neil.


"Siapkan tujuh kuda putih kesayanganku serta perbekalan untuk dua minggu. Kami akan pergi ke Gunung Calast tanpa pengawal," perintah Canesta.


"Tapi Tuan Putri tidak boleh pergi tanpa pengawalan."


"Kami akan baik-baik saja. Silahkan minta izin Raja juga. Dia pasti akan mengizinkan."


"Baik Tuan Putri."


Setelah ketujuh kuda dan perbekalan siap, Canesta dkk berangkat ke Gunung Alast disertai doa dari orang-orang istana. Tentu saja. Karena jika terjadi sesuatu pada Canesta dan Flo, maka kerajaan mereka tidak punya penerus.


"Semoga selamat Tuan Putri," ucap Viscountess Amelia. Canesta melihat ke belakang dan tersenyum lalu memacu kuda lebih cepat...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2