
Terkunci dalam ingatan ku, masa dimana aku berkumpul dengan sahabat ku serta masa dimana air mata tak henti bercucuran bagai keringat yang membasahi tubuh ku, namun semua harus terjadi.
Berawal dari sebuah desa yang masih memiliki keindahan alam dan kesegaran udara. Tempat dimana aku menulis cerita. Namun tragedi harus menghentikan kisah ku disana dan mengawali kehidupan di kota besar.
Hingga suatu hari dimana Papa ku naik jabatan dan ditempatkan dikantor cabang di luar negeri, sedangkan mama ku seorang novelis yang setia menemani Papa ku.
Aku harus menerima kembali kenyataan dan melanjutkan kisah yang pernah terukir dalam hati dan ingatan ku.
5 tahun sudah aku tidak kembali ke desa. Desa yang ku harapkan menjadi tempat terbaik dalam melewati hari-hari ku.
Hingga tak lama bus yang aku tumpangi tiba di sebuah tempat pemberhentian. Aku teringat pesan Papa ku bahwa dia telah menghubungi Paman Reno untuk mengurus ku dan menjadikan ku orang yang berhasil.
Paman Reno merupakan seorang dokter spesialis di desa tempat dia tinggal dan menjadi panutan warga setempat.
Tak lama bus yang aku tumpangi sampai di pemberhentian.
“To...Seto....!!!” Terdengar seseorang memanggil ku setelah ku turun dari bus. Ku lesatkan pandangan ke ke segala arah dan aku melihat Paman Reno datang menghampiri bersama seorang wanita.
“sudah lama kita tidak bertemu...kau tampak lebih tinggi” ucap Paman Reno.
“kira-kira sudah 7 tahun kan paman...” balas ku
.
“ia....apa kau masih ingat dengan wanita disebelah ku..” ucap ku sambil melirik kearah wanita itu.
“hmmm....maaf paman saya lupa???” bisik ku pelan ke Paman.
Kemudian wanita itu langsung menghampiriku dan menatap ku.
“PLAK....!!!!”
Terdiam aku tercengang saat mendaratnya telapak tangannya ke pipi ku. Wanita itu pun langsung berlari meninggalkan kami dan memasuki mobil. Aku benar-benar tak ingat siapa dia, sedangkan Paman hanya tersenyum padaku.
“kamu sih...masa gak ingat, padahal dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan mu” ucap paman.
Aku hanya terdiam mendengarkan ucapan paman ku dan sesaat kami pun menuju kendaraan pribadi Paman untuk melanjutkan perjalanan.
Sesampainya kami di mobil aku melihat wanita itu duduk diam dibelakang dan menampilkan wajah suramnya pada ku. Ku rasa dia kecewa pada ku, tapi memang kenyataannya aku tidak mengingatnya.
Paman mengemudikan mobilnya dengan pandangan focus ke jalan, sedangkan aku duduk didepan pas disebelah Paman. Perasaan tidak enak yang hadir semakin pekat, apa lagi ditambah wanita itu masih memandangi ku dari belakang. Seakan terpancar hawa yang menyeramkan keluar dari tubuhnya yang membuat ku tidak tenang.
Aku ingin bertanya dengan Paman, tapi kurasa kurang sopan menanyakannya dihadapannya. Dalam perjalanan hanya sunyi menemani kami, diam tak bersuara dalam kendaraan, aku ingin mengajak bicara Paman, namun dia sedang fokus menyetir sedangkan wanita itu masih saja melirik ku sinis penuh kebencian.
Tidak lama kami tiba dirumah Paman, terlihat dari kaca mobil dengan tampak sebuah klinik yang bersebelahan tempat dimana Paman Reno bekerja. Sesampainya di halaman rumah, wanita itu langsung bergegas keluar dari kendaraan dan meninggalkan kita berdua sambil menundukkan kepalanya.
“Kurasa dia masih marah dengan ku” gumam ku dalam hati. Hingga sampai sekarang aku masih mencoba mengingat kembali, namun tak jua aku mengetahui sesuatu tentang dirinya.
Aku jadi penasaran dengan hubungan ku dan dia, awal kedatangan sudah menerima hadiah yang menyakitkan darinya, namun kurasa dia lebih kecewa karena aku melupakannya. Ku harap seiring waktu aku akan mengingatnya setahap demi setahap, perlahan tapi pasti.
Aku pun mulai mengambil barang ku dan memindahkannya ke kamar yang telah disediakan oleh Paman dilantai dua rumahnya. Ruangan itu hanya ada tempat tidur, lemari pakaian dan sebuah meja belajar.
Begegas segera ku bereskan semua barang-barang dan membersihkan ruangan yang telah dijadikan kamar untuk ku.
“TOK-TOK-TOK”.
Terdengar ketukan di pintu kamar ku.
__ADS_1
“sebentar...” jawab ku, aku pun bergegas membuka pintu kamar.
Tercengang aku melihat wanita yang tadi menampar ku berdiri dihadapan ku. Aku pun selangkah menjauh untuk mengantisipasi tamparan kerasnya melesat lagi di pipi ku.
“boleh kah aku masuk...” ucap wanita itu.
Aku hanya mengangguk dan wanita itu selangkah demi selangkah memasuki kamar ku.
“maaf...kalo masih berantakan, silahkan duduk” ucap ku pelan sambal melirik kearah ruangan kamar.
Tak lama wanita itu pun duduk dilantai kamarku dan ku ikuti duduk didepannya hingga saling berhadapan.
“sebelumnya sorry...karena aku sudah menampar mu...sorry ya” ucapnya sambil menundukkan kepalanya dan membuang pandangannya.
“ia, tidak apa-apa...mungkin itu kesalahan ku juga”.
“ Risa...nama ku Risa” ucap nya sesaat dan memandang wajah ku.
Aku pun terkejut, wajah ku menjadi memerah saat menatap parasnya yang cantik dan tak lama aku berfikir kalo aku pernah mendengar nama itu. Mungkin memang benar aku dulu pernah mengenalnya.
“biarkan aku membantu mu membereskan kamar” ucap Risa
“apa tidak merepotkan kamu...” balas ku dengan nada datar
“enggak, lagi pula aku gak ada kegiatan” balasnya pelan.
Risa pun langsung membantu membereskan kamar yang aku tempati, bilamana dilihat dari kondisi kamarnya, sepertinya Paman sudah menyiapkan sejak lama kamar ini. Hingga banyak debu dan sawang-sawang di atap kamar.
Seharian kita hanya fokus bersih-bersih, serta hanya beberapa patah kata yang diucap Risa seperti ini taroh mana, itu taroh mana. Padahal aku berharap dia mau menceritakan apa yang pernah terjadi dulu.
Aku ingin menyinggungnya, namun aku merasakan dia masih kecewa yang mendalam dengan ku.
“terima kasih banyak sudah membantu ku” ucap ku padanya meskipun dia sempat terhenti mendengarkannya namun tanpa kata tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan ku dan menutup pintu kamar.
Kesunyian kembali hadir mengisi suasana kamar. Dengan badan yang penuh debu dan keringat, Aku mengambil pakaian ganti dan bergegas kebawah untuk membersihkan badan.
Tak lama aku keluar dari kamar ku untuk membersihkan diri. Aku tidak mendengar suara apapun atau siapapun. Seolah tidak ada orang selain aku dirumah.
“Paman...Paman Reno…Paman....!!! Risa....Risa...” teriak ku memanggil mereka namun tak jua ku terdengan balasan suara mereka. Ku rasa mereka sedang keluar tanpa memberitahuku.
Aku pun berjalan menuju kamar mandi yang berada di dekat pintu belakang dilantai dasar rumah.
Rumah ini tampak besar bagi ku dan banyak ruang yang harus dilewati untuk menuju kamar mandi dan kebetulan kamar mandi terletak dekat ruang keluarga dan ruang makan.
Tidak lama aku sampai di depan pintu kamar mandi dan aku perlahan membuka pintu kamar mandi tersebut.
“Hehh!!!” ucap ku sambal terkejut sesaat dan membatu dengan pandangan kearah dalam kamar mandi yang ku buka pintunya.
Aku lihat Risa sedang memakai pakaiannya. Dan tampak keindahan bentuk tubuhnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
teriak Risa keras sambal mencoba menutupi sebagian .
Aku pun bergegas keluar dan menutup pintunya saat mendengar teriakan Risa. Jantung ku berdetak kencang, nafas pun serasa agak sesak dan keringat dingin yang kurasakan. Sepertinya diakan marah. Selangkah demi selangkah aku menjauhi pintu kamar mandi, namun tak lama Risa membuka pintu kamar mandi keluar.
Aku terdiam seketika, ini salah ku, seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku beranikan diri tuk menghadapinya, hingga sampai aku menatap dirinya. Namun Risa hanya menatap ku tajam deengan tangan yang mengepal.
__ADS_1
“maaf aku gak tau kamu ada didalam kamar mandi...jadi maaf...” ucap ku penuh penyesalan.
Risa tak menjawab ucapan maaf ku dan tak lama dia mendekatiku sedangkan aku hanya terdiam menelan ludah serta siap menerima konsekuensinya.
“sepertinya kalian sudah baikan” ucap paman ku yang baru pulang
Aku pun sempat melirik sejenak kearah Paman yang tiba-tiba menyapaku dari belakang.
“PLAK....!!!!”
Terdiam aku kembali dengan memar dipipi ku, kali ini lebih keras dari sebelumnya, lesatan tangan halusnya mendarat kembali dipipi sebelah kiri dan Risa langsung pergi meninggalkan ku tanpa kata.
Aku hanya dapat melihatnya pergi kekamar sambal mengelus pipi ku yang memar karna serangannya. Sedangkan paman ku hanya diam saja karena terkejut.
“Ku rasa kalian harus belajar untuk lebih akur” Ujar paman ku sesaat dimana aku masih terdiam membatu dan meninggalkan ku menuju pintu.
“baiklah. sudah waktunya makan malam, semua bekumpul di ruang makan, tolong ingatkan Risa” ucap paman seketika sebelum keluar ruangan dan meninggalkan ku. Aku hanya menganggukkan kepala ku dan langsung menuju kamar mandi dengan memar dipipi ku untuk membersihkan diri.
Selesainya ku membersihkan badan ku, aku bergegas ke kamar Risa yang berada dilantai dua tepat berhadapan dengan kamar ku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, apa dia mau mendengar kan ku. Namun aku gak boleh takut.
“TOK-TOK-TOK” Ketuk ku halus dipintu kamar Risa.
“sa, maafin aku...aku benar-benar gak tau kamu dikamar mandi, sudah waktunya makan malam sudah ditunggu paman diruang makan.” Ucap ku di depan pintu kamarnya sambal mengetuk pintu kamarnya.
Tak terdengar sepatah kata pun yang terucap, aku pun menghela nafas. Kurasa dia sangat marah. Perlahan aku meninggalkannya dan turun menuju ruang makan.
Setibanya diruang makan aku terkejut sesaat membuka pintu ruang makan. Aku melihat Risa yang sudah diruang makan dan sedang menikmati makan malam nya bersama Paman.
“maaf kita mendahului makan, sepertinya Risa sudah lapar banget” ucap Paman dengan makanan yang akan disantap ditangannya.
Aku bergegas mendekati mereka dan duduk di kursi yang berada disebelah Risa. Aku melirik kearahnya, hanya jutek yang terlihat dari raut wajahnya.
Aku mengambil nasi dan memakannya dengan lauk yang sudah disiapkan terpisah oleh paman ku dimeja makan. Aku melihat ada sepotong daging stik yang di dalam piring kecil yang ada dihadapan ku.
Sesaat aku akan mengambil stik daging tersebut, melesat cepat garpu dari arah Risa kearah daging tersebut.
“ini buat ku, karna kamu sudah mengintip ku di kamar mandi” bisik Risa pada ku dengan raut menakutkan.
Aku cuma pasrah dia mengambil bagian ku dan menghela nafas ku. Dengan berat hati aku ikhlaskan stik kesukaan ku. Aku lanjutkan menyantap makan malam dengan sayuran yang tersisa saja. Mungkin ini hukuman buat ku atas peristiwa yang baru saja terjadi.
Selesainya makan malam, Risa mengangkat piring-piring kotor. Aku ingin membantunya namun seketika aku mau membantunya Paman menyuruh ku untuk tetap ditempat. Kurasa ada hal yang akan disampaikan.
“To, Paman sudah konfirmasi kesekolah baru mu, jadi besok kamu bisa kesekolah bareng Risa” ucap paman ku dan seketika Risa yang mendengar terkejut.
“jangan bilang dia akan sekolah ditempat ku…!!” ucap Risa dengan nada tinggi ke pada Paman.
“hahaha....ia..kamu akan berangkat bareng dengan Seto kesekolah” ucap Paman ku dengan gurau.
Sesaat Risa menatap ku tajam. Aku membalas memandang kearahnya. Tak lama dia membuang muka dan melanjutkan membersihkan piring-piring kotor itu.
Aku merasa tidak enak, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menerima keputusan Paman karena beliau sudah berusaha keras untuk membantu ku. Aku menuruti kemauan Paman.
“baiklah, hanya itu yang ingin ku katakan...selamat malam dan selamat beristirahat” ucap Paman dan langsung beranjak pergi dari ruangan makan.
Aku bergegas beranjak pula membantu risa membersihkan piring yang kotor. Aku mendekati Risa yang sedang mencuci piring tersebut.
“biar aku bantu” ucap ku pelan.
__ADS_1
Risa pun hanya melirik ku dan memberikan piring yang sudah di cucinya pada ku tanpa kata. Kurasa dia minta aku untuk meletakkan piring itu ke rak piring yang berada didalam lemari kaca.
Secepatnya aku membawa serta meletakkan piring-piring tersebut. Sedikit demi sedikit akhirnya selesai semua. Tanpa sepatah kata Risa kembali ke kamarnya, begitu pula aku langsung menuju kekamar untuk menyiapkan sesuatunya untuk dibawa dan kenakan besok disekolah.