Psycolovers

Psycolovers
Episode 9 - (Puing ingatan)


__ADS_3

Tersadar aku keesokan harinya, sepertinya semalam aku ketiduran memandangi foto itu. Ku harap kelak jawaban tanya ku akan terungkap.


Sesaat aku beranjak dari pembaringan. Semua masih terasa samar. Sesaat semua menjadi jelas ku lihat Risa sudah terduduk menunggu ku terbangun.


“PLAK”


Lagi-lagi aku mendapatkan tamparan darinya. Kali ini apa lagi salah ku. aku hanya terdiam Risa pun memandangku dengan fokus. Seketika ku alihkan pandangan ku. kebawah terlihat Risa sedang memegang buku diarinya. Kurasa aku tau sekarang salah ku.


“maaf...aku minta maaf” ucap ku pelan dengan penuh penyesalan.


Risa hanya berdiri tanpa kata dan meninggalkan aku. Selalu saja tanpa penjelasan. Dan membuat ku tertekan begitu dalam.


Seperti halnya hari yang tak terencana. Tidak ada kegiatan yang aku lakukan di hari libur ini. Hingga kejenuhan menemani ku.


Aku mengurung diri dikamar ku dan bermain dengan laptop ku untuk menghilangkan kejenuhan dan tak lama aku teringat ucapan paman kemarin. Kurasa ada baiknya aku menyusul paman ku. segera aku prepare untuk pergi ke rumah sakit tempat biasa paman ku berobat.


Rumah Sakit Harapan adalah satu-satunya rumah sakit yang berada didesa. Setibanya disana aku mencoba kebagian resepsionis untuk mencari pasien atas nama paman ku.


“Kamu seto ya…..?” seorang wanita tua menegur ku halus sambil mengamati ku.


“maaf…apa anda mengenal saya…” balas ku sepintas menanyakan ke wanita tua itu.


“kamu sudah dewasa ya….padahal dulu kamu masih lucu-lucunya…..hhahahaah” ucap wanita itu sambil tertawa ringan.


Aku pun hanya terdiam mencoba mengingat siapa wanita tua ini. Seolah dia benar-benar mengenalku.

__ADS_1


“kamu lupa ya…..dulu saya yang merawat kamu dulu…” ujar wanita itu mencoba membantu ku . Namun hingga kini aku pun tak sanggup mengingatnya.


“Mohon maaf, saya tidak ingat…..” 


“Saya Suster Ratna….wajar kamu tidak ingat, karena benturan keras dikepalamu yang membuat kamu Amnesia sama kaya dulu pas kamu sadar dirumah sakit kamu pun tidak mengenal teman-teman mu bahkan orang tua mu sendiri….” Ucap wanita itu sambil tersenyum padaku dan menjelaskan sepintas kejadian dimasa lalu yang membuat ku penasaran.


“Boleh kah saya menanyakan sesuatu….? Terkait masa lalu saya” ucap ku berharap Suster Ratna dapat membantu ku mengingat apa yang terjadi dimasa lalu.


“kebetulan saya sedang tidak sibuk…..mending kita ngobrol dikantin saja” balas Suster Ratna dan mengajak ku ke Kantin Rumah Sakit.


“bagaimana kabar Ibu dan Bapak mu…apa mereka sehat…?” Tanya Suster Ratna sesaat sesampainya kita dikantin.


“Mereka sehat….Sus” jawab ku dengan ramah.


“Syukurlah kalau begitu…..mereka dulu sangat terpukul saat mengetahui kamu hilang ingatan” balas Suster Ratna sambil tersenyum halus pada ku.


“Detailnya saya kurang begitu paham….semua berawal saat terjadinya bencana kebakaran di hutan dekat perbatasan desa. kalian diantar oleh ambulance ke Rumah Sakit ini, saya dengan para dokter bergegas menjemput di depan rumah sakit dan membawa kalian keruang ICU. Dari hasil pemeriksaan mu ditemukan ada kerusakkan otak bagian belakang karna benturan keras…itulah yang menyebabkan kamu kehilangan ingatan mu” jawab Suster Ratna sambil mengingat-ingat kejadian yang lampau”


“Kalian…???” Celetuk aku memotong ucapannya.


“Kamu dan dua orang wanita….namun sayang  salah satu wanita itu tidak selamat. Dia mengalami pendarahan dan luka bakar di tubuhnya sedangkan wanita satunya hanya mengalami cedera ringat dan trauma saja” jawab Suster itu.


“Apa suster masih ingat siapa wanita yang tidak selamat itu…?” Tanya ku dengan rasa penasaran.


“Kalau tidak salah namanya Luna….” Balas Suster Ratna mencoba mengingat namanya.

__ADS_1


“anda yakin namanya Luna….!!”


“saya yakin….soalnya saat di kamar mayat ada seorang anak yang menangisinya dan memanggil nama Luna sambil meminta maaf dihadapan mayatnya” jawab Suster Ratna seketika meyakinkan perkataannya.


Saya pun mulai mendapat bagian-bagian ingatan saya yang hilang. Sepintas saya mendapatkan gambaran situasi yang terjadi saat itu. Namun saya masih penasaran siapa anak yang menangisi Luna.


“To….kamu sedang apa disini…?” sesaat Paman Reno dating menghampiri kami.


“Paman….gimana…apa sudah selesai pemeriksaanya…..? saya khawatir, jadinya saya menyusul Paman kerumah sakit…” Ucap ku menjelaskan dengan beberapa alasan yang terlintas difikiran ku.


“Pak Reno ya…?” sapa Suster Ratna ke Paman Reno.


“Loh…Suster Ratna ya….lama gak jumpa….gimana kabarnya sus…?” balas Paman Reno sesaat.


“Baik pak, Bapak sedang apa kemari…?” balas Suster Ratna sembari melempar pertanyaan kembali kepaman.


“Biasa sus, Check Up rutin…maklum sudah tua…hahaha” balas Paman dengan gurauannya.


“Bisa aja becandanya pak” balas Suster Ratna dengan canda tawanya.


“Suster Ratna….Dokter Firman memanggil ibu….katanya ibu diminta keruangannya..” Celetuk seseorang mendadak menghampiri Suster Ratna.


“Baiklah…saya akan segera kesana…” balas suster ratna ke orang itu dengan wajah serius.


“maaf…sepertinya saya harus mengakhiri obrolan kali ini…” ucap Suster Ratna kepada kami dengan sopan.

__ADS_1


“ia…gak papa sus, lain kali saja bilamana Suster tidak sibuk kita bisa ngobrol lagi” balas paman sesaat.


Tak lama Suster Ratna meninggalkan kami dan kami pun segera bergegas meninggalkan Rumah Sakit. Akhirnya aku pun pulang bersama Paman.


__ADS_2