Psycolovers

Psycolovers
Episode 7 - (Senyum yang hilang)


__ADS_3

Awan gelap meredupkan cahaya matahari yang menerangi bumi. Kami pun tiba di sebuah kafe dan mengambil tempat duduk di pojok. Kebetulan kafe tersebut sedang sepi pengunjung jadi terasa lebih leluasa karena pelayan kafe tersebut hanya fokus dengan kami .


“kamu mau pesan apa?” tanya ku ke Alecia setelah seseorang pelayan memberikan daftar menu di meja yang kita tempati.


“aku pesan Orange Float” jawab Alecia


“mas, Orange Float 1 sama Cappucino Float 1” ucap ku ke pelayan tersebut.


“ada tambahan?” tanya pelayan itu pada ku.


“itu saja dulu, untuk daftar menunya ditinggal dulu disini” jawab ku dan pelayan itu pun pergi meninggalkan kami untuk mengambil pesanan kami.


“jadi begini, wanita yang tadi di toko buku namanya Erika, dia wakil ketua Osis” ucap Alecia membuka pembicaraan.


“Awalnya, dia hanya orang yang pendiam dan tidak suka ikut campur masalah orang lain, namun semenjak David mendekatinya. Tingkah lakunya berubah, dia seakan menjadi tergila-gila sama David” ucap Alecia.


“maksud mu bagaimana? Saya masih belum paham” tanya ku merasa belum mengerti perbincangan ini.


“begini, David seakan bagai seorang raja buat Erika, dulu pernah ada seorang siswi wanita yang mendekati David, namun ketahuan Erika, entah kenapa besoknya siswi itu tidak masuk sekolah, dan seterusnya siswi itu pindah tanpa memperlihatkan batang hidungnya lagi di sekolah” jawab Alecia menjelaskannya.


“hmmm...jika itu faktor cemburu mungkin saja terjadi, tapi aku kan laki-laki? Mestinya tidak jadi masalah” .


“kamu pasti masih ingat Bagas, dia dulu seperti bagian dari David, mereka selalu kompak dan selalu bersama, namun karena David terlalu dekat sama Bagas, Erika mengambil langka dan dalam seminggu Bagas menjauhi David dan bahkan dia tidak berani mendekatinya” Ucap Alecia menjelaskan semua.


“permisi...pesanan sudah jadi” ucap pelayan yang mendekati kami dengan menyuguhkan minuman yang kami pesan dan pelayan itu pun kembali meninggalkan kami.


“Sekarang keputusan ditangan mu, apa yang akan kamu lakukan to.. ?” Tanya Alecia.


“Aku dan David sudah berteman sejak kecil, cuman aku tidak ingat secara detailnya, begitu juga Risa, sepertinya ada hal penting yang aku lupakan” ucap ku dengan mencoba mengingat apa yang pernah terjadi.


“hmmm....jadi begitu...tapi yang penting berhati-hatilah dengan Erika” ucap Alecia memberi nasehat.


“tenang saja, aku akan berhati-hati” ucap ku dan tersenyum.


kita pun menikmati minuman dan suasana di kafe tersebut. Tak lama aku melihat kearah jendela luar dan aku melihat Risa yang sedang memasuki toko di seberang jalan.


“ada apa to?” tanya alecia sambil memandang keluar jendela.


“aku melihat Risa memasuki toko itu” .


“hmmm...sebenarnya aku penasaran selama ini, aku mau tanya langsung sama kamu, apa kamu sudah jadian sama Risa?” tanya Alecia.


“siapa bilang?” jawab ku seketika.


“aku yang bilang...habis kamu sama Risa terlihat dekat banget” jawab Alecia sambil tersenyum mengejek ku.


“hmm...kebetulan saja aku tinggal di rumahnya, lagi pula Risa kan saudara ku, ayahnya Risa paman ku di klinik” .


“syukur deh kalo begitu” jawab Alecia dengan pelan.


“syukur kenapa?” tanya ku.


“gak papa...” ucap Alecia seakan ada yang disembunyikannya.


Tak lama kemudian aku pun mengangkat tangan ku dan seorang pelayan menghampiri ku.


“saya minta bil nya” ucap ku kepelayan itu.


“mohon tunggu sebentar...” jawab pelayan itu dan pergi mengambil bil pesanan kami.


“yang membuat aku penasaran sampai sekarang, apa yang dilakukan David ke Erika, hingga dia menjadi seperti itu.” Ucap ku sambil memikirkannya.


“aku juga tidak tau” ucap Alecia.


Tak lama pelayan itu datang dengan membawa bil. Aku pun memberikan uang pass kepelayan tersebut sebagai pembayaran minuman kami.


“makasih ya...” ucap Alecia.


“makasih untuk apa?” 


“untuk traktirannya” ucap Alecia sambal tersenyum.


Kami pun segera beranjak dari kafe tersebut dan meninggalkan tempat tersebut menuju taman kota yang letaknya tidak terlalu jauh dengan berjalan kaki.


Sepanjang perjalanan aku memikirkan hal-hal yang aku rasa janggal, semenjak David menemui ku di rumah sakit dan disekolah, apa lagi dengan Erika.

__ADS_1


apa ada hubungannya dengan kejadian ku waktu itu aku berantem dengan Bagas. Bagaimana dengan Elin yang diakui Bagas sebagai pacarnya. Apa ada keterkaitan.


“To, kamu mikirin apa sih? Cepat jalannya” teriak Alecia yang sudah meninggalkan aku beberapa langkah sambil membalikkan badannya dan berjalan mundur.


Tersadar aku dari lamunan pemikiran ini. Sesaat ku meluruskan pandangan ku ke Alecia setelah mendengar teriakannya. Aku bergegas mempercapat langkah ku menyusulnya.


“TTTTIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNN.................!!!!”


Terlihat seseorang pengendara motor melebihi batas kecepatannya mengejutkan aku dan Alecia dengan suara klaksonnya.


“AWAS...!!!” teriak ku dan menarik tangan kiri Alecia yang sedang jalan mundur ke arah ku. Hingga membuat Alecia terjatuh dengan posisi memeluk ku.


“GOBLOK...!!!!!!!.” Teriak pengendara itu melewati belakang Alecia. Aku hanya memandang kearah pengendara itu dengan wajah kesal dan tak lama aku menjauhkan badan ku dari Alecia hingga membuat ku dan Alecia saling bertatap wajah.


“maaf...” ucap ku pelan dan membuang muka.


“tidak, harusnya aku yang berterima kasih, dan minta maaf atas kecerobohan aku tadi” ucap Alecia dengan mundur selangkah dan membuang mukanya.


aku melirik kearahnya kembali. Ku letakkan kedua tangan ku dibahunya hingga Alecia kembali menatap ku.


“tenang saja, aku akan melindungi kamu apapun yang terjadi” ucap ku dengan menatap kedua matanya.


Alecia merasa sedikit senang dan mukanya memerah sesaat serta tersenyum kepadaku. Dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Aku pun menurunkan kedua tangan ku dari bahunya dan melanjutkan langkah ku.


“itu lah gunanya teman” ucap ku menambahkan sambi menengok kearahnya dan sesaat ekspresi Alecia berubah.


“apa ada yang salah?” tanya ku ke Alecia.


“hmmm...enggak....ayo taman kota sudah dekat” ucap Alecia dan kembali bersemangat menuju taman kota. Aku mengikuti dibelakangnya.


Keindahan taman kota tampak jelas dimata ku, dimana tempat untuk bunga mendapatkan cahaya matahari yang cukup, dimana masih ada pepohonan menjadi tempat berlindung dan bersantai. Aku mencoba merasakan indahnya suasana disekitar sedangkan Alecia asik menikmati keindahan berbagai jenis bunga ditaman tersebut.


“aku akan membeli minum, kamu mau minum apa?” sapa ku ke Alecia.


“terserah kamu saja” jawabnya yang sedang asik sendiri.


Aku pun meninggalkan Alecia dan pergi ke mesin penjual minuman dan sesampainya di mesin minuman itu aku kesulitan memahami cara kerjanya dikarenakan mesin tersebut model lama.


“Seto….!......sedang apa disini?” sapa Elen mengejutkan ku dari belakang.


“eh…Elen, aku mau beli minuman, Cuma masalahnya aku tidak tau cara mengoperasikan mesin ini” jawab ku sambil mengkira-kira tombol mana yang harus saya tekan.


Aku pun mulai memahaminya. “kurasa ini sebenarnya simpel, mungkin karna aku saja yang gaptek” gumam ku pelan menggerutu diri ku sendiri.


“eh….kenapa...?” tanya Elen yang mendengar suaraku yang terdengar samar.


“gak papa kok. Terima kasih banyak sudah membantu ku...........by the way, apa yang sedang kamu lakukan disini?”  .


“jalan-jalan aja sih, kebetulan aku lihat kamu lagi umek sama mesin penjual minuman ini, jadi aku samperin deh” jawab Elen menjelaskan situasinya.


“hmmm ngomong-ngomong…..kamu beli minuman banyak buat siapa?” tanya Elen kembali.


“yang ini buat kamu sebagai ucapan terima kasih aku dan yang satu lagi buat Alecia, kebetulan hari ini dia minta ditemani mencari buku, sekarang tuh dia lagi asik sendiri ditaman” jawab ku sambil memberikan minuman dan kemudian menunjuk kearah taman tempat Alecia berada.


“hmmm begitu,...maksih ya buat minumannya” ucap Elen dan tersenyum pada ku.


“gimana kalo kita jalan bareng saja biar seru ramai-ramai” .


“apa gak ganggu...” balas Elen sambil menyinyir ku.


“ganggu kenapa? Kan makin banyak orang makin seru” ucap ku sepintas 


“ok deh kalau begitu” ucap Elen menerima tawaran ku.


Sesaat kami beranjak menuju tempat alecia yang sedang mengamati bunga di pusat taman kota dibawah pepohonan yang rindang.


Terlihat jelas tampak Alecia sedang asik ngobrol dengan Risa. Kurasa saat aku pergi Alecia bertemu dengan Risa.


“kayanya lagi seru nie” sapa Elen sesampainya.


“loh...Elen kok kamu ada disini” ucap Alecia.


“kebetulan lagi jalan-jalan terus ketemu sama Seto yang lagi rebut dengan mesin minuman” ucap Elen sambil menyindir ku.


“kalo tadi gak ada Elen, mungkin itu mesin sudah saya remukkan…hahaha..” ucap ku dan tertawa pelan.

__ADS_1


Sesaat Risa menujukan pandangannya pada ku. Aku merasa gugup. Terfikir dia marah karena tidak bilang masalah janjian ku dengan Alecia.


“oia, ni minumannya” Ucap ku dan memberikan minuman kepada Alecia dan Risa.


“lah, minum kamu mana?” tanya Alecia.


“gampang, aku akan membelinya lagi” jawab ku dan meninggalkan mereka bertiga membeli minuman untuk diri ku.


Setelah aku meninggalkan mereka dan sampai di tempat mesin minuman tampak David sedang duduk santai di tempat duduk yang terletak disebelah mesin tersebut.


“tangkap...” ucap David melempar sekaleng minuman.


Dengan reflek aku pun menangkap kaleng minuman yang dilempar David pada ku.


“itu untuk mu, jd minum saja” ucap David sambil meminum minumannya.


“sedang apa kamu lakukan disini”


“sedang menunggu Erika, sekalian menikmati suasana taman kota” jawab david dengan santai dan sambil tersenyum seakan ada yang disembunyikannya.


Kewaspadaan ku pun meningkat dengan kehadiran David. Aku mulai mencurigai ucapannya barusan.


“kamu gak percayaa….? Yasudah….” Ucapnya kembali karena melihat ekspresiku yang mencurigainya.


“aku merasa seperti ada yang disembunyikan” celetuk ku.


“hmmmmm” balas David dan tersenyum.


“kenapa?” tanya ku penasaran dengan sikapnya


David hanya tersenyum dan berdiri dari tempat duduk itu. Belum sempat David menceritakan maksudnya Erika datang dengan berlari ke arah David.


“Maaf ya sayang… aku terlambat” ucap Erika ke David dengan mata penuh penyesalan.


Sesaat David menatap mata Erika didekatnya. David pun tersenyum kepada Erika. Dan tidak lama David dan Erika memandang ku dan David berbisik ke Erika.


Setelah itu Erika melangkah ke arah ku perlahan selangkah demi selangkah. Aku penasaran apa yang akan dilakukannya. Erika hanya melangkah sambil menatap kearah ku. Tampak jelas seakan pandangannya kosong.


“mau apa kamu?” tanya ku setelah Erika pas tepat berada dihadapan ku.


Aku melirik ke arah David. Dia hanya menatap ku tajam dan tersenyum. Sesaat aku kembali menatap Erika dengan cepat dia menarik kerah baju ku dan mencium ku.


Aku terkejut dengan tingkah Erika yang seketika menciumku. Tak lama Erika melepas genggamannya dikerah ku dengan mendorong ku. Hingga membuat ku mundur satu langkah kebelakang.


“KLONTANG……!!”


 


Terdengar kaleng minuman yang jatuh, aku memandang ke belakang tampak jelas Risa dan yang lainnya berada dibelakang ku terkejut dengan apa yang barusan terjadi.


Erika pun pergi menjauhi ku dengan reaksi seakan dia telah dicampakkan. Tanpa kata David dan Erika langsung meninggalkan ku. Aku bingung harus mengucap apa?.


“lo gila ya to...” ucap Elen.


“aku bisa jelasin...” ucap ku dengan panik.


“apa yang perlu dijelasin” ucap Alecia dengan penuh emosi.


Risa hanya terdiam menahan air mata. Tidak lama Risa pergi meninggalkan ku dengan penuh kecewa.


“Ris...Risa....” ucap ku memanggilnya.


Risa tak menghiraukan panggilan ku. Dia tetap beranjak pergi meninggalkan ku. Tak lama Elen mengejar Risa sedangkan Alecia menghampirri ku.


“PLAK”


Tamparan tepat dipipi ku terima dari Alecia. Aku hanya terdiam bengong menerima tamparan itu. Mungkin aku memang pantas menerimanya.


“aku kecewa sama kamu” Ucap Alecia setelah menamparku dan pergi meninggalkan ku.


Tak lama ku tersadar dari rasa sakit ini, aku sudah masuk ke dalam permainannya si David. Yang belum aku pahami sampai sekarang, apa tujuan David sebenarnya. Dengan luka menyayat hati ku langkahkan kaki kembali ke rumah.


Ku lewati langkah-langkah ku dengan pikiran yang tak menentu. Semua bercampur menjadi satu di dalam otak ku. Sebuah senyuman telah berubah menjadi air mata, kenapa semua harus terjadi padaku, ku renungkan semua ini hingga aku tiba dirumah.


Akupun segera membersihkan diri dan kembali kekamar ku. Namun sesaat ku menuju kamarku dilantai 2, aku melihat Risa keluar dari kamarnya, dia pun menatapku dan tanpa kata dia kembali memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Aku rasa dia sangat kecewa dan marah padaku" gumam ku sesaat dan kembali melangkahkan kaki menuju kamar ku.


Aku berbaring ditempat tidurku dan mengharapkan waktu cepat berlalu. Ku harap hari yang baru kelak dapat merubah keadaan menjadi normal seperti semula


__ADS_2