Psycolovers

Psycolovers
Episode 5 - (Adik Kelas)


__ADS_3

Matahari pagi mulai menyinari permukaan bumi kembali dan menghangatkan ketenangan hati. Terlihat jelas waktu sudah menunjukan pukul 05.30 pagi. Segera aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah kembali. Rindu rasanya akan suasana sekolah dan suara teman-teman ku dikelas.


Tidak lama aku turun untuk menemui Risa yang sudah menanti ku dibawah dan kami pun berangkat kesekolah bersama-sama.


Tidak lama kami tiba di jembatan dekat sekolah dan terlihat Alecia dan Elen yang sedang bercanda.


“Selamat pagi...” .


“Pagi...”jawab Elen dan diikuti Alecia.


Kami pun melanjutkan perjalanan kesekolah. Risa dan Elen jalan didepan ku, sedangkan aku berjalan dibelakang dengan Alecia. Tampak keceriaan mengisi perjalanan kita..


“gimana kondisi kamu” ucap Alecia sesaat dalam perjalana.


 “Sudah baikkan” balas ku datar.


“syukur deh, kemarin aku jenguk kamu masih tertidur” ucap Alecia sambil menundukkan kepalanya kebawah.


“hmmm...terima kasih sudah datang..”. balas ku sambil memperhatikan dan tersenyum padanya.


“besok kan libur, apa kamu ada acara?”. Tanya Alecia pada ku,


“aku rasa gak ada, emang kenapa?”. Balas ku melanjutkan perbincangan ini.


“apa kamu mau menemani ku ketoko buku?” tanya Alecia kembali.


Aku pun hanya menganggukkan kepalaku menyatakan kesetujuanku mengikuti kemauannya.


“besok, jam 10 aku tunggu di jembatan biasa kita janjian berangkat sekolah” ucap Alecia dengan senyuman cerianya.


“ok” jawab ku singkat.


Tidak lama kami tiba disekolah. Terlihat suasana yang tidak berubah sama sekali. Seakan tidak terjadi apa-apa, munkinkah tidak ada permasalahan sejak perkelahian ku itu. Aku seakan tenang namun merasa sedikit keganjalan dihati dengan suasana ini.


Seketika ku memasuki kelas. Semua teman kelasku menatap tajam kepada ku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Tak lama siswa pria dikelas melesat kearah ku. Mereka mengangkat ku hingga membuat tas ku terjatuh.


“oooaaaa…..Hidup Seto...Hidup Seto...” teriak mereka keras sambil mengangkat ku.


Sebenarnya apa yang terjadi, apa aku menang lomba, tapi kurasa tidak. Tak lama mereka menurunkan aku. terlihat raut wajah mereka yang senang.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi..?” tanya ku pada Iwan teman kelas ku.


“karena kamu memenangkan pertarungan kemarin" ucap Iwan dengan rasa gembira.


“aku semakin tidak mengerti, kenapa mereka senang” gumam ku dalam pelan.


“Kok bisa begitu” ucap ku kembali ke Iwan.


“Bagas dan teman-temannya selalu bersikap semena-mena, mereka selalu memalak, bahkan mengancam kami dan kami pun pernah mencoba melawan namun tidak satu pun dari kami berhasil mengalahkannya” ucap Iwan menjelaskannya.


“hmmm begitu, terus apa hubungannya dengan Elen?”


“untuk masalah Elen, kebetulan Bagas sangat menyukai Elen, dengan berat hati Elen menerima cintanya Bagas, dan mengendalikan Bagas untuk tidak mengganggu kami” Ucap Fahmi yang berada disamping Iwan yang dari tadi ikut  mendengarkan percakapan kami.


Aku mulai mengerti serta aku juga paham perasaan Elen yang harus berkorban untuk teman-teman sekolahnya. Aku senang dan tidak menyesal memilih Elen menjadi salah satu sahabat terbaik ku.


“TAK-TAK-TAK......” terdengar suara sepidol diketukkan di meja dari depan kelas.


Terhenti kami merayakannya, tampak guru sudah ada di hadapan kami. Kami pun segera menempati kursi masing-masing.


“baik lah kalau sudah tenang, kita keruang kesenian, bapak akan menjelaskan pelajaran kali ini disana” ujar Pak Dimas guru kesenian ku dan sesuai arahan Pak Dimas kami pun menuju ruang kesenian.


 “baik lah, pelajaran kali ini melukis, kalian akan berpasangan dan melukis teman kalian sendiri, paham semua??” ucap pak dimas menjelaskan pelajaran kali ini sesampainya kita diruang kesenian.


“dan satu lagi, bapak hari ini ada rapat dadakan, kalian bisa belajar dari Andri. Mungkin dia masih kelas 2 adik kelas kalian, namun dia pemenang perlombaan melukis di Jerman tahun lalu dan semua karyanya dimuat dimajalah. Jadi bapak harap tidak ada kontrofersi antara junior dan senior, manfaatkanlah ilmunya untuk kalian pelajari” ucap Pak Dimas sambil memperkenalkan Andri yang sedang fokus tak berkata melukis dipojok kelas.


"Wah..lukisannya bagus sekali..." ujar para siswa dan siswi dikelas ku memuji hasil karya Andri.


Aku memulai melukis dan kebetulan aku berpasangan dengan Risa. Aku jadi sedikit khawatir dengan pelajaran kali ini. Karena kami diminta untuk saling berhadapan dan mencoba melukis wajah satu sama lain.


Aku berfikir bilamana lukisan ku tidak dia suka, pasti dia akan menamparku. Aku menghela nafasku dan aku pun mulai melukisnya. Perlahan demi perlahan aku memandang dari lekuk wajah hingga tubuhnya. Aku mencoba memainkan kuas ku diatas canvas yang putih. Namun tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat sembari aku menikmati pelajaran ini.


“TTTTEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT................!!!” Suara Bel menggema di ruang kelas.


Waktu istirahat tiba. Akhir pelajaran kesenian dan akhir pula ku gunakan kuas untuk melukis Risa. Aku harap Risa tidak melihatnya. Ku palingkan pandangan ku dari kanvas dan melihat kedepan, tak tampak Risa di depan ku sehingga aku memalingkan pandangan ku ke segala arah mencarinya.


 Aku merasa sepertinya dia sudah pergi tanpa aku sadari. Aku pun menghela nafas. Namun sesaat aku berdiri dan memutar badan ku. Terkejut aku Risa sedang menatap lukisan ku.


“gawat...aku harus kabur dari sini” gumam ku dalam hati dan mencoba meninggalkan tempat ku secara perlahan.

__ADS_1


“To...” ucap Risa memanggil ku.


Secara perlahan aku menoleh kearah Risa. Dia tampak tersenyum. Membuat ku larut dalam khayal ku. Aku ikut tersenyum.


“terima kasih” ucap Risa pelan.


Ku anggukkan kepala ku dan menatap senyuman manisnya. Aku senang dia bisa menerima lukisan ku.


“lukisan yang indah, ternyata kakak pinter melukis juga” ucap andri yang seketika mendekati untuk melihat lukisan ku dan mengagetkan ku.


“boleh aku membawanya kak, aku akan buat lukisan ini menjadi lebih hidup, boleh ya kak” ucap Andri dengan memohon padaku.


“tadinya aku ingin memberikan lukisan ini pada Risa, jadi terserah Risa” Ucap ku menjelaskannya.


“Kamu bawa saja, aku mau tau akan kamu buat seperti apa...” ucap Risa sambil memberikan lukisan ku itu.


“Makasih banyak kak,..” ucap Andri dengan senang dan membawa lukisan ku.


“bagaimana kalau kita ke kantin, aku yang traktir sebagai ucapan terima kasih karena lukisan mu bagus” ucap Risa dengan perasaan senang.


“baiklah” balas  ku dan kami meninggalkan ruang kesenian menuju kantin.


Sesampainya di kantin aku memesan makanan dan menyantapnya dan seketika aku menolehkan pandanganku sesaat aku menghentikan santapan ku. Terlihat jelas David dan seorang wanita disisinya menghampiri ku.


“kau harus berhati-hati dengan Andri, dia tidak seperti apa yang kau bayangkan” bisik David pelan ditelingaku.


“apa maksudmu..?” tanya ku padanya.


“segera kau akan mengetahuinya” ucap David dan pergi meninggalkan ku.


Aku tidak begitu memahami apa maksudnya. Aku jadi penasaran. Sebenarnya apa ada yang salah dengan Andri. Selera makan ku pun hilang. Aku merasakan perasaan yang buruk dalam hati ku.


“Risa, maaf aku mau balik ke kelas” ucap ku ke Risa


Risa pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengijinkan ku pergi meninggalkannya. Namun, saat aku keluar dari kantin aku mencoba menoleh kebelakang, terkejut aku melihat Andri mendekati Risa dan berbincang dengannya. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan.


Aku pun tak memperdulikannya dan menuju kelas dan sesampainya dikelas tepat bunyi bel sekolah menandakan waktu pelajaran dimulai. Tak lama semua siswa dan siswi memasuki kelas begitu juga Risa dan pelajaran dimulai. Semua perhatian tertuju kepelajaran selanjutnya hingga waktu pulang tiba.


“to, kamu pulang duluan saja, aku ada perlu” ucap Risa seketika pada ku.

__ADS_1


“ya sudah, kamu pulangnya hati-hati” ucap ku dan segera membereskan buku ku dan tak lama aku meninggalkan Risa.


Aku masih penasaran dengan ucapan David. Tak lama hingga aku sampai dirumah. Kurasa Paman belum pulang, sepertinya dia masih diklinik, aku langsung membersihkan diriku dan istirahat di kamar ku.


__ADS_2