Psycolovers

Psycolovers
Episode 8 - (Antara 2 Pria)


__ADS_3

Tak terasa matahari kembali bersinar.  Aku pun segera bergegas membersihkan diri dan berangkat kesekolah. Hari ini tidak seperti biasanya, aku berangkat kesekolah sendiri, kurasa Risa telah meninggalkanku dan berangkat mendahuluiku.


“Yo…..Bagaimana kabarmu hari pagi ini…?” ucap David yang tiba-tiba muncul dari belakangku.


“sebenanya apa mau mu???!!!” tanya ku sambil menahan emosiku.


“ini baru permulaan, permainan baru dimulai sekarang” jawab David sambil melangkah melewati ku.


Aku tak kuasa menahan emosiku, aku pun membalikkan tubuhku dan melesatkan kepalan tanganku ke arah wajah David hingga membuatnya tersungkur.


David pun kembali berdiri dan menegakkan tubuhnya, dia membalas pukulan ku dan membuat ku tersungkur.


Aku menarik kerahnya “sebenarnya apa masalahmu dengan ku???!!!” ucapku dengan penuh emosi


“kau bilang apa masalahmu denganku, apa kau lupa dengan seseorang yang mencintaimu? apa kau lupa dengan seseorang yang telah memberimu harapan? apa ini balasanmu?” ucap David dengan mata yang melotot seakan mau keluar.


Seketika aku melepas cengkramanku dari kerahnya, aku berfikir sejenak sebenarnya apa yang telah ku lupakan.


“ceritakan kepadaku apa yang dulu pernah terjadi” .


“temukan saja sendiri jawabannya aku sudah tidak mau menangis karena mengingat masa itu” jawab David dan meninggalkan ku.


Sejenak ku tersadar dan melanjutkan perjalanan ku kesekolah. Hingga tiba ku disekolah, aku memasuki kelasku dan menempati tempat duduk ku.


Setiap pelajaran yang berlalu tak tampak sedikit pun Risa melirik ke arahku, hingga waktu istirahat tiba, aku beranikan diri untuk mendekatinya.


“Ris, aku mau minta maa...”ucap ku terputus sesaat Risa mengabaikan ku dan beranjak pergi dari tempat duduknya.


Aku kembali ke bangku ku. Dan hanya merenung dengan luka yang menemani ku menyandarkan kepala di meja ku hingga pelajaran berikutnya.


Aku tidak bisa menyimak pelajaran dengan serius, dimana pikiran ku sudah mulai bercampur aduk. Hingga waktu berlalu tak terasa. Hingga bel pulang pun berbunyi.


Aku bergegas merapikan buku-buku ku, aku harus cepat sebelum Risa meninggalkan ku. Kali ini aku harus bisa mengembalikan senyuman yang dulu pernah ada.


Risa bergegas keluar dari ruang kelas. Aku mencoba mengejarnya. Sesaat melewati beberapa kelas, seseorang membekap mulut ku dengan tangan dan menarik ku memasuki salah satu kelas dengan paksa. Aku mencoba berontak namun terkejut aku melihat orang itu ternyata Alecia dan Elen.


“ada apa ini?” 


“shttttt....kita sudah tau semuanya tentang apa yang terjadi kemarin” ucap Elen pada ku.


“jadi begini, saat jam istirahat aku dan Elen melihat Erika memasuki ruangan Osis dengan sikap yang mencurigakan, seakan dia menyembunyikan sesuatu, kemudian aku dan Elen diam-diam mengintip keruang Osis” ucap Alecia menceritakan apa yang dia temukan.


“disana kami melihat David menarik rambut Erika dan menjatuhkannya di sofa, tidak lama David pun menciumnya dan  yang lebih mengejutkan Erika pun menikmatinya” ucap Elen menjelaskan apa yang dia lihat.


“tunggu sebentar,,,,lalu apa hubunganya dengan ku” ucap ku memotong cerita mereka.


“dengerin dulu…aku belum selesai….!!” Celetuk Elen menegurku.


“Disana juga ada Andri yang sedang asik melukis diruang Osis, dan saat kami mencoba melihat lukisannya….ternyata dia melukis Risa dan banyak sekali lukisan wajah Risa berserakkan dilantai” ucap Elen menjelaskan apa yang mereka ketahui.


“Andri….apa yang dia lakukan disana” ucap ku dengan rasa kesal seketika.


”aku akan keruang Osis….” ucap ku kepada mereka.


“tunggu dulu….jangan gegabah…, aku rasa kita harus mengetahui dulu alur permainannya David” Ucap Alecia melanjutkan perbincangan ini.


“kurasa kamu ada benarnya juga, kita harus mencari tau apa yang akan dilakukan David selanjutnya….” Ucap ku dengan sedikit tenang.


“Tidak perlu repot-repot, aku akan memberitau kalian apa yang akan aku lakukan” Ucap David mengejutkan kami yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas dengan Erika.


“Dasar Cowok Brengsek...!!” ucap Elen seketika dengan penuh emosi.

__ADS_1


“terima kasih atas pujiannya” ucap David dengan nada seakan menghina.


“sebenarnya apa tujuanmu...?” tanya ku.


“aku akan merebut Risa dari mu” ucap David dengan penuh percaya diri.


“aku tidak akan membiarkan itu terjadi” ucap ku kembali.


“kita lihat saja nanti...hahahahahaha” ucap david dan seketika dia meninggalkan ruang kelas.


Perasaan ku mulai tidak nyaman, apa yang akan dia lakukan, apa David akan melakukan hal yang extrem ke Risa.


“To, kita akan bantu kamu?” ucap Alecia menenangkan ku.


“ia, aku tidak akan pernah memaafkannya, dan gak akan biarkan David mengganggu  Risa” ucap Elen seakan mencoba menahan amarahnya.


“lebih baik sekarang kita pulang dan memikirkan rencana berikutnya” ucap ku meninggalkan mereka dengan terpaksa.


Aku berfikir, ini adalah urusan ku dengan David. Aku tidak mau salah satu teman ku ada yang terluka karena aku. Jadi aku putuskan menyusun rencana ku sendiri.


Dalam perjalanan pulang aku terus mencoba berfikir. Kenapa bisa aku tidak ingat apapun kenangan masa kecil ku. Aku selalu mencoba mengingatnya. Kurasa semua terkait dari masa lalu. Apa lagi dengan ucapan david yang menyinggung ku akan masa lalu.


Tak terasa aku tiba dirumah. aku bergegas membersihkan diri dan memasuki kamar ku. Namun sebelum ku kekamar tampak paman sedang asik menonton TV diruang keluarga. Aku tidak peduli aku tetap melanjutkan langkah kekamar ku.


“Seto...” Terdengar paman memanggil ku, aku segera bergegas menghampirinya.


“ada apa paman?” tanya ku dan duduk disebelah paman ku.


“apa Risa sudah tidur?” tanya paman ku tanpa menjawab pertanyaan ku.


“aku rasa sudah” jawab ku dengan ragu-ragu.


“ada yang mau paman sampaikan ke kamu, jadi dengarkan baik-baik” ucap paman ku dengan serius tapi santai.


“Paman akan jujur, Risa sebenarnya bukan anak kandung paman” ucap paman ku dengan tenang dan aku pun terkejut mendengarnya.


“ayah risa adalah teman baik paman, dia seorang militer sedangkan ibunya sudah meninggal saat melahirkan Risa, ketika Risa masih berumur 2 Tahun Ayahnya mendapat tugas di Palestina, sebelum keberangkatannya dia berpesan untuk menjaga Risa sampai dia pulang, namun yang pulang hanya nama dan jasadnya, jadi paman berjanji akan menjaga Risa seperti anak paman sendiri” Ucap paman ku menceritakan kebenarannya.


“Apa Risa tau paman..?” 


 “paman, sudah cerita kemarin, dia tampak sedih dan hingga sekarang dia masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada” ucap paman ku dengan memaksakan tersenyum untuk menutupi air mata.


“kelak kalo paman sudah tiada tolong jaga Risa” ucap paman dengan air mata yang dia coba tahan.


“maksud paman apa berkata seperti itu?” tanya ku dengan penasaran.


“ini catatan dari kedokteran, disitu dijelaskan kalo penyakit paman sudah semakin parah dan dipastikan usia paman tidak lama lagi” ucap paman ku dan memberikan sebuah map dengan data kesehatannya.


Sesaat aku membuka dan mempelajari isi map tersebut. aku terkejut membaca hasilnya, khawasannya paman ku mengidap penyakit kanker paru-paru. Aku tidak begitu memahami tentang penyakit. Tapi yang ku tau selama ini paman ku orangnya selalu tertutup dan jarang terlihat dirumah.


“apa paman sudah berobat?” tanya ku dengan penuh kekhawatiran.


“sudah, dan dokter atau teman baik paman dikedokteran sudah berusaha menghilangkan kanker tersebut namun hasilnya Nol dan kanker sudah mulai menggerogoti paru-paru paman, waktu paman sudah tidak lama lagi, sekalipun sembuh itu merupakan sebuah keajaiban” ucap paman ku dengan mencoba tegar.


“apa yang bisa aku lakukan buat paman?” 


“pinta paman, tolong kamu jaga Risa, dan satu lagi paman tau kamu lupa tentang masa lalu kamu, kebetulan paman menemukan buku diarynya Risa, ku rasa disitu tertulis tentang kamu dan dia. Sekarang buku itu paman taroh di meja belajar kamarmu” jawab paman menenangkan ku.


“aku berjanji akan menjaganya” ucap ku dan melakukan perjanjian dengan paman ku.


“terima kasih, ya sudah Paman mau istirahat, besok paman harus menjalani rehabilitas medik di Rumah Sakit dan kamu juga harus istirahat” ucap paman dan mematikan televisi dan beranjak kekamarnya.

__ADS_1


Aku kembali kekamar ku. Dan berbaring dikasur ku yang empuk dan nyaman. Sesaat aku memandang kearah meja belajar ku. Aku teringat pesan paman yang meletakkan diary Risa di meja belajar ku.


Aku beranjak dari tempat tidurku dan menuju meja belajar ku. Tampak sebuah buku dengan warna biru muda, aku penasaran dengan isinya. Aku pun membuka buku itu.


“TOK-TOK-TOK”


Terdengar seseorang mengetok pintu kamar ku dengan pelan. Belum sempat aku membaca buku itu aku meletakkannya kembali namun didalma laci meja belajar ku. Perlahan aku menuju pintu kamar ku.


“TOK-TOK-TOK.... ini aku Risa, apa kamu sudah tidur” bisik Risa dari belakang pintu kamar ku.


Aku membuka pintu kamar dan tampak risa berdiri dihadapan ku sambil menundukkan kepalanya kebawah.


“Aku tidak bisa tidur, apa aku bisa menenangkan diri didekat mu” ucap Risa pelan.


“masuk lah....” 


Aku kembali menutup pintu kamar ku. Aku mempersilahkan Risa duduk dibawah lantai yang tertutup karpet. Aku pun duduk di sebelah Risa dan menghadap kearahnya.


“ jujur  sebenarnya aku belum siap dengan keadaan saat ini...” ucap Risa pelan.


“aku mengerti keadaan kamu......oia, untuk kejadian kemarin di taman kota aku bisa jelaskan” .


“ia, aku sudah tau dari Elen dan Alecia, dia tadi menghubungi ku” ucap Risa memberitau ku.


Seketika Risa tidak dapat menahan air mata yang menetes dipipinya. Dia berusaha menahannya dengan tangan nya. Namun emosi dan tekanan dalam batinnya tak mampu ia lawan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan dan sesaat terdengar rintikan diluar yang menyatakan hujan hadir dimalam yang gelap menemani kesedihan ini.


Tak kuasa aku menahan diri untuk menenangkannya. Perlahan tapi pasti aku memeluk Risa erat dan mengelus punggungnya berharap dia dapat menenangkan dirinya. Namun tak ku sangka dia berbalik memeluk ku erat, seakan malam ini serasa begitu indah.


Tak lama dia melepas pelukannya. Aku mengelus rambutnya. Kurasa Risa sudah mulai tenang.


“Aku ambil air minum dulu” ucap ku dan berdiri menuju dapur.


“JJEEEEEEGGGGGGGEEEEEEEEEERRRRRRRRRR!!!??!!!”


Terdengar suara halilintar yang keras. Belum sempat aku membuka pintu kamar. Risa tampak seperti orang ketakutan. Aku urungkan niat ku untuk mengambil minum. Aku mencoba mendekatinya. Sesaat dia memeluk kembali tubuh ku.


“Ris....kamu kenapa???” 


“aku takut...” jawab Risa dengan tubuh gemetar.


Aku berfikir bahwa Risa takut dengan halilintar. Ku baringkan dia ditempat tidur ku dan ku selimuti dengan selimut ku. Ku putuskan untuk menemaninya sambil mengusap keningnya hingga dia terlelap.


Aku khawatir dengan keadaannya sekarang. Jadi aku akan terjaga dimalam ini. Kebetulan besok tanggal merah jadi tidak masalah buat ku menemaninya.


Untuk menghabiskan malam aku mengambil buku yang tadi ku letakkan didalam laci. Dan membacanya sambil berbaring dikarpet ku.


Sekata demi kata ku baca dan ku pahami isi Diary itu. Tampak jelas dengan angan ku apa yang pernah terjadi 12 tahun yang lalu. Saat dimana aku, Risa , David dan Luna masih berbagi ceria.


 


Sabtu, 8 Januari 2020


Besok adalah hari yang ditunggu. Dimana janji akan bertemu. Aku tidak sabar untuk datangnya hari esok. Sungguh aku sangat merindukannya. Aku yakin dia tidak akan melupakan janjinya untuk selalu disisi ku tak akan meninggalkan ku....................


Minggu, 9 Januari 2020


Dia memang pantas aku tampar, jangan kan ingat akan janjinya bahkan dengan nama ku saja lupa. Aku berharap dia kembali seperti dulu saat dimana kita bisa bermain bersama. Mungkin setelah dia bertemu dengan David teman baiknya dia akan mengingat tentang semua kisah kita.......


Tak kuasa aku membaca keseluruhan. Aku sadar harusnya ini tidak ku lakukan. ini melanggar hak pribadi seseorang. Tapi kini aku tau perasaan Risa sebenarnya pada ku.


Sesaat aku menutup buku itu dan akan mengembalikan kekamarnya Risa. Jatuh sebuah kertas yang terlipat. Aku mengambilnya dari lantai.

__ADS_1


Ku buka lipatan kertas itu dan tampak beberapa lembar foto didalamnya. 3 buah foto menampilkan diri ku dan Risa dimasa kecil, serta sebuah foto tampak terlihat dari kiri Risa, aku, seorang wanita sepantaran kami dan David sedang bergaya. Aku penasaran siapa wanita yang berdiri di sebelah ku. Jika dia salah satu sahabat ku apa dia tidak tinggal di kota ini.


__ADS_2