Psycolovers

Psycolovers
Episode 6 - (Sang pelukis)


__ADS_3

Terdengar suara pintu terbuka dan tertutup. Aku pun turun kebawah mencari tau siapa yang datang.


“hmmm...kamu belum tidur”. Ucap paman yang baru pulang dari klinik.


“aku masih terjaga...”.


“istirahatlah...sudah malam” ucap paman sambil membuka sepatunya.


"tadinya aku pikir siapa yang membuka pintu malam-malam, taunya paman”


"hahaha....maaf kl paman mengganggu mu...ya sudah kamu bisa istirahat lagi" ucap paman.


Aku pun bergegas naik kelantai dua lagi.


"hmm...oia dari tadi aku kok gak liat Risa ya...?" gumam ku seketika setelah melewati kamar Risa.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Karena penasaran aku pun berfikiran tuk memeriksanya kekamarnya.


“TOK-TOK-TOK”


“RIS...RISA...”


Tak ada jawaban apapun, karena penasaran, perlahan aku membuka pintu kamar Risa. Namun tak tampak batang hidung Risa dikamar. Aku segera kembali kekamar mengambil handphone ku.


Perasaan ku jadi tidak enak….!. Aku mencoba menghubungi handphone Risa berulang kali, namun tak ada jawaban.


Karena perasaan ku tidak enak akan kekhawatiran ku, Aku bergegas mengganti piyama ku dan segera keluar dari rumah untuk mencari Risa. Aku menjadi sangat panik. Aku berlari tanpa tujuan dan meneriakkan nama Risa sambil mencoba menghubungi ponselnya.


Aku berharap tidak terjadi sesuatu padanya.


Tidak lama terfikir dengan ucapan David di kantin ditambah lagi saat melihat Risa yang berbincang dengan Andri di kantin...


Akhirnya aku putuskan memeriksa kesekolah terlebih dahulu dan disaat perjalanan menuju ke sekolah aku melihat Alecia yang sedang berjalan berlawanan arah dengan ku.


“Alecia….!!” Teriak ku memanggilnya dan ia pun menoleh pada ku.


“apa kamu melihat Risa” tanya ku dengan rasa gelisah dan kondisi ngos-ngosan karna berlari-lari kesana kemari.


“tadi kalo gak salah pulang sekolah aku sempat melihat Risa ke ruang kesenian, emang ada apa?” ucap Alecia menceritakan apa yang dia tau.


“dia belum pulang dari tadi” jelas ku dan langsung melanjutkan langkah ku.


“aku akan menemanimu mencarinya” ucap Risa sambil berlari dibelakang ku.


“terima kasih, kita harus bergegas”


Sekolah sudah terlihat di hadapan kami. Tampak seseorang berdiri digerbang sekolah yang terbuka.


“Sudah aku duga kamu akan datang” ucap David yang mengajutkan ku.


“Apa maksud mu...kamu pasti tau dimana Risa” ucap ku dengan emosi yang meningkat dan menarik kerahnya keatas dengan tangan ku.


“sabar to...?” ucap Alecia pada ku dan memegang tangan ku untuk menghentikan sikap ku ke David.


“Dia benar, apa kamu mau menghabiskan waktumu hanya untuk bertengkar dengan ku” ucap David dengan pandangan tajamnya dan tersenyum samar.


“kau benar” ucap ku dengan menahan emosi ku.

__ADS_1


“ayo, kita harus bergegas” ucap David dan kita langsung menuju keruang kesenian mengikutinya.


Terkejut aku saat membuka pintu ruang kesenian, terpampang lebar lukisan dengan warna yang memukau menggunakan background merah. Tampak jelas pula Andri yang sedang asik melukis di ruangan dengan Risa yang terikat menjadi subjeknya.


Andri menyadari kedatangan kami. Namun dia tetap fokus melukis dengan santainya.


“Andri, apa-apaan ini?” teriak ku dengan penuh emosi karena melihat Risa terikat.


“diam...kau berisik sekali” balas Andri dan menoleh kearah ku.


Alecia langsung menuju Risa yang terikat dan melepas ikatannya. Tidak kuasa aku menahan emosi. Aku langsung mendekati Andri. Dengan kepalan tangan yang aku lesatkan kewajahnya.


Namun tak sempat kepalan ku mendarat diwajahnya, David menahan pukulan ku dengan tangan kanannya.


“Kenapa kau menghentikan ku” ucap ku ke David.


“serahkan dia pada ku, ini tugas seorang ketua Osis, lagi pula tujuanmu kesini mencari Risa bukan untuk menghajarnya” Ucap david pada ku.


“hmm...kalian senior yang mengganggu saja” ucap Andri dan Aku pun menurunkan tangan ku.


“to, Risa tidak bergerak…..” teriak Alecia mengejutkan ku.


“tenang saja, aku hanya membuatnya pingsan dengan bius yang aku gunakan membekapnya dengan sapu tangan ku. Sepertinya aku kebanyakan bius...hahahahaha” Ucap Andri sambil meletakkan tangannya diwajahnya dan tertawa.


“to, lihat lengannya” bisik David padaku dan melirik ke arah Andri.


“Luka..!!!, apa karena perlawanan Risa ” bisik ku ke David.


“ku rasa dia sendiri yang membuat luka itu, lihat warna merah di lukisan-lukisannya, tampak nyata. Kurasa dia menggunakan darahnya sendiri untuk menghiasi lukisannya” ucap David sambil memperbaiki posisi kacamatanya.


Aku menuju ke Risa yang tergeletak pingsan, dan menyadarkannya.


“naik lah” ucap ku sambil jongkok dan membelakanginya.


Risa pun naik kepunggungku dan aku menggendongnya. Aku segera pergi dengan melewati David


.


“aku serahkan Andri pada mu” ucap ku ke David saat melintasinya.


David hanya menatap ku. Aku dan Alecia segera pergi pulang. Aku khawatir dengan kondisi Risa. Walau aku sadar dia tampak manis saat terlelap.


“sudah sampai diperempatan jalan lebih baik kamu langsung pulang” .


“apa kamu tidak apa-apa” ucap Alecia


“tenang saja, pulang lah dan hati-hati dijalan” balas ku


“ya sudah...sampai bertemu besok” ucap Alecia.


Ku anggukkan kepala ku dan melanjutkan perjalanan ku dan tak lama aku sampai dirumah. aku rasa paman ku sudah terlelap.


Aku langsung membawa Risa kekamarnya dan meletakkannya di tempat tidur. Tidak lupa pula aku menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


Aku pun kembali kekamar dan istirahat. Sempat ku berfikir untuk tidak meninggalkan Risa lagi. Kini malam mulai membius ku terpaku aku dalam ragaku hingga terlelap dalam mimpi ku.


Terbangun aku dengan hembusan angin pagi melalui celah jendela dikamarku. Teringat akan janji yang terucap. Namun waktu masih senggang. Meski begitu aku tak mau mengecewakan sahabat ku Alecia, segera aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Ketika aku sampai depan kamar mandi. Aku mencoba mengetuk pintunya namun belum sempat aku mengetuknya Risa membuka pintu dari dalam hingga membuat aku terkejut.


“ untuk semalam makasih” ucap Risa pelan dan menundukkan kepalanya.


“ia, sama-sama” balas ku dengan tersenyum padanya


“PLAK”


“kenapa kamu..” ucap ku terhenti dengan risa mengacungkan telunjuknya kearah ku dengan pandangan tajam seakan ingin menerkam ku.


“itu karena kamu berani menyentuh ku dan menggendong ku” ucap Risa halus dan seketika meninggalkan ku.


“perempuan yang menyebalkan” menggerutu aku dalam hati.


Aku segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi. Sesuai janji Alecia akan menunggu ku di jembatan.


“aku berangkat dulu” ucap ku sesaat keluar dari rumah.


Selangkah demi selangkah aku meninggalkan rumah. Kurasa cuaca hari ini kurang bersemangat. Dimana matahari bersembunyi diawan yang gelap. Aku bergegas menuju jembatan sebelum air hujan turun membasahi ku dan sesampainya di jembatn terlihat Alecia sedang menunggu ku. Aku pun menghampirinya.


“maaf aku telat.....”


“tidak apa, aku juga baru sampai” balas Alecia dengan senyumannya.


“Ayo keburu hujan kita berangkat” ucap Alecia dan menarik tangan ku.


kita pun menuju ke tempat pemberhentian bus dan menaiki bus menuju pusat pembelanjaan dimana banyak tempat hiburan dan jual beli.


Tampak indah dan ramai tempat pembelanjaan di desa ini dan kami pun memasuki salah satu toko buku.


Sesampainya kita disana. Alecia langsung mencari buku yang dia cari. Selagi menunggunya aku membaca beberapa komik-komik yang sampulnya sudah terbuka.


Sesaat aku sedang asik membaca aku melihat seorang wanita yang selalu didekat David. Perlahan aku mendekatinya.


“Sendiri aja...” tanya ku halus padanya.


Dia hanya melihat ku dan langsng melanjutkan membacanya. Seakan dia menganggap aku bagaikan angin yang lewat.


“aku lihat kamu sering sama David, tumben sekarang enggak? Apa kamu sedang janjian dengannya” Tanya ku mencoba mencari tau.


Seketika wanita itu menarik kerah leher ku. Mendekatkan bibirnya di telinga ku.


“jangan pernah campuri kehidupan David, dari awal gw gak suka sama lo, ingat itu” ucapnya dan melepas cengkramannya dikerah ku dengan mendorong ku.


Tak lama wanita itu pergi dan Alecia yang melihat kami dan dia pun mendekati ku.


“ada apa..?” tanya Alecia.


“gak apa-apa”


“lebih baik kamu tidak mendekatinya, gosip disekolah dia orangnya tertutup dan aneh perilakunya” ucap Alecia sambil memandangi kepergian wanita itu.


“maksudnya..?”


“jangan bicarakan disini, lebih baik kita cari tempat ngobrol” ucap Alecia sambil memberikan saran.


“baiklah, trus buku mu bagaimana?”

__ADS_1


“aku sudah dapat” ucap Alecia sambil menunjukkan buku yang dia cari.


...Kami pun bergegas meninggalkan toko buku dan menuju ke kafe terdekat. ...


__ADS_2