Psycolovers

Psycolovers
Episode 2 - (Hujan Air Mata)


__ADS_3

 “KKKRRRRRIIIINNNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG..........PRANK...”


Alarm pun berbunyi, karena kebiasaan ku yang tidak pernah hilang dari dulu. Dengan respek ku, terlempar jauh jam alarm yang berada dimeja sebelah ku.


“Hadeh...” ucap ku terkejut dan terbangun dari tidur ku karena suara alarm dan kebiasaan buruk ku yang suka melempar jam alarm, tapi untungnya aku terbangun jadi aku tidak kesiangan.


Aku segera bersiap-siap dan langsung keluar kamar. Aku mendekati kamar Risa dan ku memberanikan diri untuk mengetuk kamarnya. Namun belum sempat ku mengetuk, pintu kamar pun terbuka dan Risa keluar kamarnya. Aku terkejut dan sesaat aku hanya memperhatikannya. Dia hanya menunduk dan melirik kearah ku.


“ayo kita berangkat” ucap Risa sesaat. 


Aku hanya mengangguk dan berangkat ke sekolah bersama Risa. Jarak sekolah tidak begitu jauh jadi kita pun berjalan kaki ke sana. Hingga tampak terlihat banyak siswa dan siswi dengan seragam yang sama dengan Risa. Ku rasa sudah dekat sekolahnya.


“Risa...Risa..!!.”


Terdengar seseorang memanggil Risa, kita pun menoleh kebelakang terlihat seorang wanita lari dengan semangat menghampiri.


“ada apa len, kamu sepertinya tergesa-gesa” ucap Risa ke wanita itu.


“aku mau bilang, Alecia dari kemarin sore belum pulang, aku ditelepon berkali-kali oleh keluarganya yang khawatir” ucap wanita itu.


“yang benar kamu ...?” ucap Risa


“ia, gak ada untungnya aku bohong ma kamu Ris...”


“ya sudah tenangkan pikiran kamu dulu, kita masuk sekolah dulu dan memikirkannya lebih lanjut” balas Risa mengajak.


Wanita itu pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kami. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tak lama wanita itu memandang kearah ku. Mungkin aku terlalu mencolok karena seragam ku berbeda sendiri.


“Ris.., itu siapa?Apa pacar kamu?” bisik wanita itu ke Risa


“bukan, dia seseorang yang numpang tinggal di tempat ku, dan akan sekolah ditempat kita” ucap Risa dengan memandang sinis kearah ku.


“Hi……! Perkenalkan namaku Elen”. Ucap wanita itu mendekati ku dan menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


“Seto..” Jawab ku sepintas dan meraih jabatan tangannya.


“udah…., ayo kita segera kesekolah nanti telat” ujar Risa dengan memotong perkenalan kita.


Kita pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Dalam perjalanan aku melirik kebelakang, tampak Elen seperti melirik kearah ku.


Aku merasa terganggu sedangkan Risa seakan melirik kebelakang dan sesat kearah ku dengan pandangan tajam.


“mimpi apa aku semalam sampai terjadi seperti ini” gumam ku dalam hati dan menghela nafas.


Tak lama kita sampai disekolah dan kita berpisah di koridor karena aku harus keruang guru terlebih dahulu sedangkan Risa dan Elen langsung menuju kelas.


Sesampainya diruang guru aku hanya pelangak pelongok bingung harus bertemu siapa.


“kamu pasti Seto ya..murid baru yang dimaksud kepala sekolah” ucap salah satu guru berdiri dari kursinya dan melambaikan tangannya meminta aku untuk mendekatinya.


“perkenalkan….saya Ibu Ratih, wali kelas mu nanti, kepala sekolah sudah menjelaskan ke ibu dan Pak Reno juga sudah menghubungi ibu kemarin…. Ibu akan mengantar kamu kekelas” ucap guru itu dengan senyum manis diwajahnya.


“terima kasih Bu..!!".


Kami langsung menuju kelas yang dimaksud Ibu Ratih. Ku rasa ini rezeki aku mendapat guru yang cantik dan sexy. Sepertinya Ibu Ratih orang yang baik.


Sesampainya aku dikelas, Ibu Ratih memasuki kelas terlebih dahulu dan aku menunggu diluar kelas sampai Ibu Ratih memberi ku kode untuk masuk dan memperkenalkan diri.


“selamat pagi semua, hari ini kita kedatangan murid pindahan...” ucap Ibu Ratih didalam kelas ke murid-murid lainnya. Suasana kelas menjadi hening seketika dan semua perhatian menuju depan kelas.


Tak lama Ibu Ratih memandang kearah ku, seakan menyuruh ku masuk. Aku pun mengikuti maksud beliau untuk masuk ke kelas dan aku berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri.


“sekarang kamu bisa memperkenalkan diri” ucap Bu Ratih kepada ku.


“selamat pagi...nama ku Seto, saya berasal dari kota dan saya pindahan dari SMA Quantum 3” ucap ku didepan kelas dengan rasa malu.


“baiklah seto....kamu bisa duduk dibelakang sebelah kanan dibelakang Risa” ucap Ibu Ratih sambal menjelaskan tempat duduk ku.


Aku pun mengikuti instruksi dari Bu Ratih dan menempati tempat yang telah ditunjukkan wali kelas kepada ku.

__ADS_1


Karena aku duduk dibelakang, tampak jelas aku melihat semua teman kelas ku walau pun hanya tampak punggung. Aku pun melihat Elen yang duduk disebelah Risa dan bangku kosong yang berada di sebelah kanan ku.


Tanpa sengaja aku melihat seorang pria yang melihat ku dengan senyuman palsu di seberang bangku kosong di sebelah dan aku pun hanya menganggukkan kepala.


Tidak lama Ibu Ratih meninggalkan kelas dan seorang Pria Tua memasuki Ruang kelas dengan membawa buku di tangannya. Dia pun memulai pelajaran hari ini. Aku pun mulai membuku buku ku dan mencoba menyesuaikan diri.


 


“TTTTEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTT................!!!” Bell pulang pun berbunyi, tidak terasa waktu ku habiskan begitu cepat.


 “....kamu bisakan pulang duluan, aku dan Elen mau kerumah teman ku ... “ ucap Risa pada ku seketika dan tak lama Elen pun mendekati Risa.


“ia, aku bisa pulang sendiri...” ucap ku membalas permintaan Risa.


Mereka pun bergegas merapikan tempat duduk dan pergi meninggalkan ku dikelas. Aku segera membereskan buku-buku ku dan bersiap meninggalkan sekolah.


Namun tidak lama sebelum ku pijakkan kaki ku keluar gerbang aku menoleh kea tap sekolah dan aku melihat sesosok wanita mengenakan seragam disana.


Aku menjadi penasaran dan aku menunda untuk pulang. Aku kembali memasuki sekolah dan menuju atap gedung sekolah dengan tergesa-gesa. Yang aku tahu sekolah sudah sepi semua siswa sudah pada pulang. Namun aku penasaran dengan wanita dengan rambut terurai sebahu memakai berdiri diatap sekolah seakan ingin melompat.


Sesampainya diatas perlahan ku buka pintu atap sekolah. Tepat wanita itu ada dihadapan ku memandang berlawanan dengan ku menghadap langit dimana didepannya batas tepi gedung sekolah dan selangkah demi selangkah ku dekati wanita itu.


“maaf...” sapa ku pelan perlahan sambil mendekatinya. Wanita itu pun menoleh kebelakang. Tetes air mata yang menghapus keceriaan tampak padanya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Wanita itu pun tak berucap apapun, hanya merunduk kebawah membiarkan air mata membasahi sebagian permukaan atap gedung.


Ku coba untuk mendekatinya, dan wanita itu pun semakin menangis seakan dia mencoba menahan air matanya yang keluar namun tak kuasa. Aku bingung apa yang yang harus aku lakukan.


“mungkin aku tidak tau apa yang telah terjadi, tapi bisa kah kamu menjauh dari sana…, mungkin aku bisa membantu masalah mu….” Ucapku sambal perlahan mendekatinya dan mengulurkan tangan ku.


Wanita itu pun melihat kembali kearah ku dan perlahan mundur menjauhi tepi atas bangunan dan mendekat kearah ku.


“boleh kah aku bersandar padamu..” ucap wanita itu dengan air mata yang masih membasahi kelopak matanya.


"Heh...baiklah….bersandarlah selama yang kamu mau"; jawab ku dan membiarkannya bersandar pada ku dan aku pun perlahan mencoba mengelus kepala belakangnya dengan telapak tangan ku berharap dapat menenangkannya.


“menangislah sekeras-kerasnya untuk menghapus kepedihan mu, setelah itu kembali lah tersenyum” bisik ku halus pada wanita itu. Wanita itu pun menangis keras dan tak lama ia pun perlahan menghentikan tangisannya dan melepas tangisannya.


“ia , gak apa-apa....yang penting kamu sudah agak membaik” balas ku dan ku keluarkan sapu tangan dari saku celana, dan ku serahkan sapu tangan kepadanya tuk menghapus air matanya.


Aku penasaran kenapa dia sampai menangis begitu dalam, namun kusadari ini bukan waktu yang tepat menanyakan hal seperti itu, aku harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


“jika tidak keberatan biar aku antar kamu pulang...bagaimana?” ucapku pelan.


Wanita itu pun menatap ku. “apa tidak merepotkan kamu???” balas wanita itu pelan.


“tidak apa-apa, melihat dari kondisimu dan kondisi alam yang semakin gelap, kurang bagus seorang wanita berjalan sendirian” ucap ku membalas ucapannya.


“terima kasih banyak kalo begitu, dan maaf sudah merepotkan” balasnya dan melangkah mengikuti ku.


Kami pun langsung menuju pintu tangga turun. Dan berjalan melewati ruang-ruang kelas. Selangkah demi selangkah kita berjalan pelan. Bersamaan itu pula sudah nampak terlihat keindahan senyumannya walau hanya sedikit.


“sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu begitu terluka dan mengeluarkan air mata” ucap ku sambil berjalan pelan mengikuti irama langkahnya


“bacalah saat kamu dirumah, dan bakarlah surat ini untuk ku....aku yakin kamu akan mengetahuinya” balas wanita itu sambil menyerahkan lembaran kertas yang ia bawa.


“baiklah...” aku langsung mengantongi lipatan kertas itu. 


Tak lama kita sampai didepan rumahnya. Wanita itu pun memasuki pagar rumahnya.


“maaf...aku butuh ketenangan, jadi maaf aku gak mempersilahkan masuk...” ucapnya sambil berdiri dibelakang pintu pagarnya yang tinggi mencapai dadanya.


“ia, aku paham...baiklah aku pulang dulu, selamat malam and nice dream...” ucap ku padanya dan aku pun melangkah mundur menjauhi rumahnya perlahan.


“ia, selamat malam juga” balas wanita itu pada ku dan meninggalkan ku untuk memasuki rumahnya.


Aku pun langsung meninggalkan rumahnya dan melanjutkan perjalanan ku kerumah. Namun begitu bodohnya aku, aku lupa menanyakan namanya. Sudah lah biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir.


Hingga tiba aku dirumah. aku pun membuka pintu rumah. Ku melihat Risa sudah berdiri dibelakang pintu depan menunggu ku.


“aku pulang….…” ucap ku dan memasuki rumah.

__ADS_1


Tidak lama Risa datang menghampiri ku didepan rumah.


“PLAK....!!!!”


Untuk kesekian kali dia menampar ku keras. Namun kali ini dia langsung menangis dan pergi ke kamarnya, tak lama paman ku pun menghampiri ku.


“Risa sangat mengkhawatirkan mu, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan mu...dia  gelisah dari tadi, apa lagi kami belum paham betul daerah sini” ucap paman ku menjelaskan semua.


“maaf paman kalo aku pulang telat”. Jawab ku dan mencoba menjelaskan masalah yang aku hadapi.


“ia tidak apa-apa, yang penting kamu kasih kabar, oia...ini handphone untuk mu, disitu baru ada nomor Paman dan Risa, kalo ada apa-apa hubungi  Paman atau Risa” ucap Paman sambil menyerahkan handphone pada ku dan meninggalkan ku.


“ia...terima kasih Paman” ucap ku dan langsung naik kelantai dua ke kamar ku.


Aku pun bergegas membersihkan badan ku dan kembali ke kamar ku. Aku teringat dengan selembar kertas yang diberikan wanita itu pada ku. Segera kuambil kertas itu di saku seragam ku yang telah ku gantung ditembok kamar.


...----------------...


Alicia Vera


...Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan,...


...dimana takdir tak mengakui keberadaan kisah kita,...


...ku sadari dalam cinta,...


...namun tak sanggup jua ku melepas keberadaannya,...


...satu tahun sudah terukir cerita,...


...sekalipun khianat ku tak tersadari,...


...kau tetap setia....


...Saat ini juga ku putuskan untuk melepas mu,...


...maaf ku akan salah ku,...


...namun tak mungkin terulang waktu,...


...dengan ini ku pilih dia sebagai bagian hati ku,...


...harap ku kau mampu memahaminya,...


...karena ku ketahui bukan cinta yang memilih kita,...


...namun kita lah yang memilih cinta....


...*Selamat tinggal kasih dalam ingatan,...


...maaf atas ingkar ku,...


...harap kisah kita terhapus dengan kenyataan yang ada*,...


...tegar lah dalam hari mu,...


...hingga kau temui seseorang yang dapat membahagiakan mu,...


...lebih dari apa yang aku mampu...


...dari masa lalu mu yang berharap terhapus...


^^^Ricky^^^


...----------------...


Terkejut hati ku akan kata, kurasakan apa yang wanita itu rasakan. Aku mulai memahami semua ini. Satu hal yang lebih ku mengerti, namanya  Alecia Vera.


Nama yang indah dan cocok untuk dirinya, kehalusan perasaannya terurai saat air matanya menetes di pipinya dan keelokannya tercermin melalui hati yang terpancarkan di raut wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2