Psycolovers

Psycolovers
Episode 3 - (Luka)


__ADS_3

Terbangun aku di pagi yang cerah, tersadar aku akan lelap setelah membaca lembaran kertas yang diberikan oleh Alecia. Sesuai pintanya pada ku aku pun segera kebelakang rumah dan membakar lembaran itu. Hingga tersisa debu yang tersapu angin berhembus.


Saat aku ingin kembali ke kamar ku, tampak Risa ketika terbangun dari tidur dengan pakaian yang tipis dengan celana yang sangat pendek. Sepertinya dia tidak menyadari ku dan langsung memasuki kamar mandi. Aku langsung pergi keatas sebelum dia menyadarinya dan mendaratkan tamparannya lagi. Tapi bila diingat dia tampak lucu saat bangun tidur. Tak henti pikiran ku menghayal jauh.


Aku menyiapkan seluruh kelengkapan sekolah. Tak lama aku pun bergegas mandi namun sebelumnya aku mengetuk berulang kali, aku takut kejadian kemarin terulang lagi.


Selesai ku prepare aku segera turun dari kamar dan tidak aku sangka ternyata Risa sudah menunggu ku. Sepertinya dia sudah tidak begitu kesal dengan ku.


“ayo berangkat...aku akan pastikan kamu sampai disekolah” ucapnya seakan menyindir ku.


“ha...ku harap kau tidak meninggalkan ku lagi” balas ku sinis kepadanya.


Tak lama kita pun berangkat bersama dan dengan diiringi awan yang agak mendung kita percepat langkah kita.


Sesampainya dekat jembatan sebelum sekolah  kami melihat Elen dan seorang wanita menghadap membelakangi kita. Kami pun segera menghampirinya.


“Elen...Alecia...” teriak Risa keras memanggil mereka.


Aku terkejut saat Risa menyebut nama Alecia.


“Risa..Seto...selamat pagi”ucap Elen.


“kamu...” ucap ku ke wanita itu yang ternyata Alecia yang bertemu dengan ku di atap.


“selamat pagi...terima kasih untuk yang kemarin” ujar Alecia


“heh...kalian sudah saling kenal ya” ujar Elen.


“ia, dia yang menolong ku kemarin” balas Alecia.


“jadi ini alasan kamu telat pulang kemarin...” sambung Risa dengan wajah bingung.


“ya...gitu deh...oia nama ku Seto” balas ku sambal memperkenalkan diri ke Alecia.


“senang berkenalan dengan mu” ucap Alecia dengan berjabat tangan dengan ku.


“sudah cukup salamannya, ayo berangkat...” Ujar Elen memotong pembicaraan dan melepas jabatan tangan ku dengan Alecia serta menarik ku.


Risa dan Alecia hanya tersenyum dan kami melanjutkan berangkat kesekolah bersama-sama.


Sepanjang pelajaran aku hanya fokus memperhatikan Risa dari belakang. Tak lama sampai waktu istirahat tiba. Seperti biasa Risa janjian dengan Elen dan Alecia pergi kekantin sekolah. Aku pun hanya merebahkan kepalaku di meja.


“apa lo yang bernama Seto” terdengar suara memanggil nama ku. 


Seketika aku terbangun dan melihat tiga orang pria dihadapan ku. Mereka sepertinya punya niat yang tidak baik pada ku. Terlihat jelas dari penampilannya.

__ADS_1


“bisa kita bicara sebentar dibelakang gedung sekolah, tidak baik membicarakan hal penting ditempat seperti ini” ucap salah satu dari mereka.


“baiklah,,,” balas ku dan kami pun menuju belakang sekolah.


Langkah yang ku pijakkan dilorong kelas seakan menggema. Kurasa teman kelas ku mengikuti ku dari kejauhan.


Tak lama hingga aku tiba belakang sekolah. Terlihat ada sekitar 6 orang menunggu ku. Aku bertanya dalam hati ku "siapa mereka, apa yang mereka rencanakan."


Hingga seseorang dari mereka menghampiri ku.


“jadi lo yang namanya Seto...gw dengar lo berani mendekati Elen.” Ucap orang itu padaku. Aku hanya diam dan ku lihat kearah lainnya. Aku mulai khawatir dengan ini semua.


“asal lo tau, Elen tu cewek gw...” ucapnya dengan mendekati wajah ku dan menarik kerah bajuku kemudian sesaat menghempaskan ku hingga terjatuh ke permukaan tanah.


“guys, kayaknya ni bocah harus dikasih pelajaran” ujar pria itu ketemannya.


Mereka berpencar disekelilingku. Tak lama salah satu dari mereka memukul ku dan diikuti dengan yang lainnya.


Rasa sakit seakan menyelimuti tubuh ku. Aku hanya diam dan pasrah. Hingga darah perlahan keluar dari tubuh ku. "Apa ini kerasnya hidup" gumam ku dalam hati. Terurai dan berceceran darah yang mewarnai baju sekolah ku.


“elo ingat ya, nama gw Bagas, dan gw gak suka elo dekat sama Elen lagi” ucap pria itu memperingati ku.


Bagas pun meninggalkan ku sejenak dan temannya hanya meludahi ku serta menginjak-injak aku layaknya binatang yang hina mereka memperlakukan ku..


Bagas pun mengangkat tangan kanannya yang memegang paralon dan mencoba mengarahkan paralon itu untuk memukul ku. Ingin rasa hati melawanya, namun tak kuasa tubuh ku telah melemah karna luka yang aku terima dari teman-teman Bagas dan aku putuskan untuk diam dan menerima dengan menutup mata ku.


“Hentikan...!!!!!!!!.”


Jelas terdengar teriakan yang memecah suasana dan membuat Bagas menghentikan perbuatannya.


“Bagas...apa-apaan ini...? maksudnya apa...??” ucap Elen lantang dan mendekati Bagas sedangkan Risa dan Alecia menghampiri ku mencoba menolong ku. Sehingga terjadilah pertikaian antara Elen dan Bagas.


“...aku sudah muak sama ulah kamu dan teman kamu....mulai sekarang kita PUTUS...” ucap Elen dengan penuh emosi kepada Bagas.


“PUTUS...kamu gak salah ngomongkan....” ujar Bagas mencoba mendapat rasa simpatisan dari Elen.


“enggak...kita PUTUS…kisah kita cukup sampai disini,” ucap Elen memperjelas ucapannya.


“ARGH….SETAN..!!!...ni semua gara-gara dia pasti...BANGSAT...biar gw habisin ini bocah.” Ucap Bagas dengan penuh emosi dan kembali mendekati ku.


Aku hanya melihat mereka yang bertengkar. Elen pun mencoba menghentikan Bagas yang penuh emosi. Namun, Bagas menjatuhkan Elen dengan tangan kanannya yang reflek mengenai badan Elen.


Alecia mencoba melindungi ku namun teman mereka langsung memegangnya. Hingga tinggal Risa yang berdiri dihadapan ku seorang diri.


“mending lo minggir, gak usah ikut-ikutan” ucap Bagas dengan menjulurkan paralon ditangan kanannya.

__ADS_1


“gak...aku gak akan pergi…..cukup…hentikan ini semua” ucap Risa yang menyentuh hati ku. Serta membuat Bagas semakin kesal. Tak lama Bagas pun mendorong Risa dengan tangan kirinya hingga terjatuh.


Sesaat aku merasakan hampa yang memilukan dihati ku. “Apa yang terjadi??,” gumam ku sesaat dalam hati seakan aku mengingat sesuatu. Ingatan dimana dulu pernah terjadi hal serupa.


Risa mencoba bangkit dan terus mencoba melindungi ku. Hingga dia memegang kaki Bagas yang membuatnya semakin marah. Bagas pun mengangkat paralon itu dengan penuh emosi dan mencoba menghantamkannya ke tubuh Risa.


“PPPPPRRRRRRRRRAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK.....!!!!!!!”


Terdengar suara paralon patah di lengan kiri ku saat aku melesat dengan reflek ku untuk melindungi Risa. Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi. Namun satu hal yang aku tahu, aku harus melindunginya.


Tak lama tangan kanan ku melesatkan kepalan kewajah Bagas hingga membuat wajahnya terlempar kekanan. Ku lanjutkan dengan menghantam perut tepat di ulu hatinya yang membuat Bagas merunduk.


Aku mulai terbawa suasana hingga ku tak kuasa mengendalikan diri seakan ada yang mengendalikan ku dari dalam hati ku. Ku arahkan kaki ku keatas dan menghantamnya pas di kepala kearah bawah hingga ia tergeletak dipermukaan.


Aku semakin tidak bisa mengendalikan diri dan terbawa suasana. Bagas mencoba melihat kearah ku, aku menjilat darah yang ada di lengan ku dan tak lama aku langsung tersenyum lebar dengan mata melotot kearahnya.


Terlihat jelas rasa ketakutan seakan menyelubungi tubuhnya hingga membuat gemetar. Teman Bagas pun mencoba membantu. Mereka mengepungku dari berbagai arah. Namun aku hanya tertawa sambil menadahkan tangan kanan ku kewajah ku yang penuh dengan darah.


Mereka menyerang ku secara bergantian. Namun aku dapat mengatasinya dengan, satu persatu ku hajar mereka hingga terjatuh dan aku mematahkan beberapa tulang ditubuh mereka saat mencoba menyerang diriku. Aku semakin menggila dengan darah yang masih membasahi tubuh ku.


Kesadaran ku seakan hilang. Satu persatu dari mereka mendapatkan balasan dari ku dan tak lama Bagas mencoba berdiri. Dia mencoba untuk melarikan diri, namun aku mengetahuinya.


Aku mendekatinya. ku jambak rambutnya serta menariknya keatas dan menabrakkan wajahnya ke permukaan tanah hingga tetesan darah tercecer dipermukaan tanah. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan memaafkan orang-orang yang menyakiti Risa.


Hingga tak lama Bu Ratih datang dengan beberapa guru dan satpam sekolah melihat keadaan yang diluar batas kewajaran sekolah.


Terlihat jelas aku yang terluka sedang mencoba melawan mereka dan terlihat jelas pula aku berhasil menghabisi mereka satu persatu.


Satpam mencoba untuk mendekatiku. Namun usahanya sia-sia aku langsung melesatkan kaki ku tepat diperut satpam hingga terjatuh. Aku tak bisa membedakan lagi mana kawan mana lawan. Semua ku hajar habis-habisan.


“AAARRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHHTTTTTT..............!!!!!”


Teriak ku keras yang membuat takut semua. Teman-teman Bagas bersembunyi dibelakang Bu Ratih.


“Seto cukup…, tenangkan fikiran mu….” ucap Bu Ratih kepada ku mencoba membuat aku tenang dan menjauhkan ku dari mereka.


Aku mencoba mendekati mereka. Selangkah demi selangkah seakan aku haus akan darah mereka. Mereka harus mengganti tiap darah yang aku keluarkan dan merasakan balasan dari perbuatan mereka.


“Sorry to….kita mohon….ampuni kami….” Ucap salah satu dari mereka meminta ampunan dengan meminta maaf berulang kali, namun aku tidak peduli, karena semua percuma aku sendiri hanya bisa menyaksikan tubuh ku yang diluar kendali. Aku pun bingung apa yang terjadi.


“cukup...sudah cukup...aku tidak apa-apa..., hentikan...aku mohon...”ucap Risa dengan air mata yang menetes di pipinya sambil memelukku seketika dari belakang.


Aku pun terhenti mendengar ucapan Risa. Kembali teringat dulu dia pernah melakukan hal yang sama. Meski samar aku mulai mengingatnya, dengan erat Risa memelukku yang membuat diri ku tenang. Hingga aku terdiam dan hanyut dalam ketenangan.


Risa pun menangis dipunggungku. Aku mencoba berbalik badan namun tak sanggup ku berdiri lama. Akhirnya aku pun terjatuh dalam pelukan Risa dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2