
kesedihan kembali hadir dalam hidup kami. dimana kehilangan seseorang yang berharga membuat luka yang begitu menyakitkan.
air mata Risa terus membasahi pipinya hingga membuat matanya lebam. begitu juga diriku yang terpuruk bagai jatuh dalam jurang kepedihan.
Hari ini kita kehilangan orang yang kami cintai yang pernah mengisi ruang dihati kita.
Paman Reno, satu-satunya orang yang telah dianggap sebagai sosok seorang ayah bagi kita harus pergi meninggalkan kita semua.
Dan semenjak insiden itu, sekolah pun diliburkan beberapa hari hingga situasi kembali seperti sedia kala.
"Risa....Risa...." ucap ku sambil mengetuk pintu kamarnya.
Risa pun membuka pintunya sambil menutupi kesedihannya dan mencoba tegar akan kondisinya.
"Apa kamu ada waktu...? ayo kita keluar menghirup udara alam bebas"
"Aku siap-siap dulu...." ucap Risa dan kembali kekamarnya untuk bersiap-siap.
Aku pun bergegas mempersiapkan diri untuk keluar bersama Risa.
beberapa menit berlalu, aku yang menunggu Risa diluar rumah melihatnya keluar dengan kondisi lesu tanpa semangat.
"ayo...Ris...."
dengan berani aku memegang tangannya dan menarik pelan mengajaknya jalan sambil berpegangan tangan.
"Kita mau kemana....?"
"Ikut saja...."
kami pun menaiki bus hingga sampai di tempat pemberhentian dekat pantai.
"Pantai....!!"
"Ia....kenapa??kamu tidak suka..."
"aku suka...cuma aku tidak membawa bikini..." ucap Risa sambil malu-malu.
"Gak, papa....aku dengar dipinggir sana ada yang menjual Es krim enak...." ucap ku sambil menunjuk kearah toko yang berada di dekat pantai.
Risa pun hanya tersenyum dan kita pun kesana membeli dua buah es krim yang kita nikmati dipinggir pantai sambil melihat anak-anak yang ceria bermain di pantai.
sesaat ketika melihat anak-anak bermain bola di pantai, Risa menyodorkan Es krim miliknya kepada ku dengan malu.
"hmmm...kamu yakin...."
"gigit ....!!!"
seketika aku ingin menggigitnya, sebuah bola datang dan menghantam tangan Risa yang sedang menyuapi ku es krim. akhirnya es krim mengenai wajah ku.
"hups...."
Risa tersenyum seakan menahan tawanya melihat muka ku.
"kakak maaf...kami tidak sengaja...!" ucap seorang anak kecil yang mencoba mengambil bolanya yang mengenaiku
"dasar...bocah....!" ucap ku sesaat menatap mereka dan berdiri melempar bola mereka.
"hahaha....maaf ya kak....!" teriak mereka sambil berlari membawa bola mereka dan mentertawakan wajah ku yang terkena eskrim.
"...sudah sabar....mereka tidak sengaja....huft... hahahahahaha"
Risa pada tertawa pada akhirnya dan membuat ku lega.
"Akhirnya kamu tersenyum....aku ikut senang..."
__ADS_1
"terima kasih sudah membuat ku ceria...."
Aku pun mengangguk dan seketika Risa mendekati wajahnya ke wajah ku kemudian memejamkan matanya.
"jangan....jangan...baiklah kalau begitu..." gumam ku dalam hati dan mengikuti Risa mencoba menyodorkan bibir ku ke bibirnya dan menutup mata ku.
"Kok dingin ya...!!"
seketika aku membuka mata dan melihat es krim yang di sodorkan mengenai wajah ku oleh Risa.
"maaf...hahahahaha...." ucap Risa dan mencoba lari dariku.
"tunggu pembalasan ku...jangan lari...." ucap ku mengejar Risa sambil membawa esktrim.
"tangkap aku kalau bisa...hahahaha"
"hahahahaha...."
"......................"
canda tawa mengisi hari hingga tanpa sadar waktu berlalu dan langit pun mulai redup kita menikmati matahari terbenam ditepi pantai.
"Ris....setelah lulus apa kamu mau ikut aku ke kota"
"Aku tidak punya keluarga lagi....dimana aku harus tinggal" ucap Risa sambil menatap ke arah laut lepas dan bersandar pada ku.
"Tinggal lah bersama ku....aku sudah pernah bilang kalau aku akan selalu bersama mu...."
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu"
"aku sangat yakin.... karena aku memilih mu sebagai pendamping hidup ku"
mendengar hal itu Risa hanya bisa tersenyum bahagia.
"hi...to...Risa....!!!" teriak Elen memanggil kami yang sedang dihalaman sekolah dan kami pun menoleh kearahnya.
"rencana kalian mau lanjut kemana setelah lulus...? apa langsung nikah...?" tanya elen dengan ceria
"gak...Aku akan ikut seto ke kota dan mencoba kuliah disana...."
aku pun hanya tersenyum mendengar ucapan Risa.
"Kamu sendiri??" balas Risa.
"aku akan ikut paman ku belajar berbisnis...terus kamu to??"
"aku akan mencoba kuliah...biar aku bisa selalu disisi Risa...."
"Hmm....tau deh yang kasmaran...cie...cie"
"Hi, to....gimana kabar mu...sehat....?" tanya David yang seketika datang menghampiri dengan Erika.
"ooo...david....baik vid... kamu sendiri bagaimana....?"
"yah...gini lah..."
"apa kamu masih harus laporan ke kantor polisi..."
"tinggal sore ini saja...setelah itu aku bebas....lagi pula status ku kan membela diri....." ucap David.
"Syukurlah kalau begitu..."
seketika aku mendekati Risa dan berbisik padanya "Aku ada perlu sebentar...apa kamu keberatan...?"
Risa pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. kemudian aku mendekati David.
__ADS_1
"apa kamu punya waktu....??" bisik ku pelan
"kenapa....kamu ada perlu dengan ku..." jawab David dan senyum
"satu jam lagi temui aku di atap gedung sekolah..." bisik ku pelan
aku pun langsung melewati David dan meninggalkan mereka.
waktu perjanjian pun tiba dan aku sudah berada di atap gedung, tidak lama David pun datang menghampiri ku.
"tidak perlu lagi panjang lebar....ayo kita selesaikan..." ucap ku dan membalikkan badan sehingga kita saling menatap satu sama lain.
"Sepertinya kamu sudah ingat semua...."
aku dan David segera membuka jas kami dan aku langsung melesatkan pukulan ku ke David namun dia dapat menghindarinya dan langsung memukul ku hingga ku mundur.
"hanya satu yang aku tau....dibalik semua ini adalah permainan gila mu kan... Arghtttt....." ucap ku dan berlari memukul wajah David hingga dia terjatuh.
"Lihat perbuatan mu....hingga ada korban...!!!" ucap ku dengan marah.
"Hahahahaha...rupanya kamu sadar....baguslah aku tidak perlu menjelaskan lagi"
"Dasar bodoh....karna ulah mu paman, Fico dan Andri harus jadi korban..."
"lalu bagaimana...dengan mu sendiri bangsat..!!!" ucap David dan memukul wajah ku keras.
"gara-gara kamu, aku kehilangan satu-satunya orang yang berharga dalam hidup ku...." ucap David kembali dengan emosi.
"maksudmu Luna...." ucap ku dan membalas pukulan David.
"jika dulu kamu tidak mementingkan wanita itu...Luna gak akan mati...!!!!" ucap David dan terhenti menyerang ku, dia hanya menarik kerah ku dan mendorong ku.
Aku pun terjatuh dengan posisi berlutut didepan David dengan wajah yang penuh luka dan meratapi kesalahan ku dulu.
"maaf...aku tidak bisa menyelamatkan saudara mu..."
"Arghhtt.....!!! kenapa jadi begini..!!!!!.hik...hik...hik..." teriak David kemudian dia menangis.
"Ini juga kesalahan ku....aku sadar saat Fico mengancam ku dibangunan itu......saat aku menyelamatkan Erika....aku membakar kedua orang tuanya dan tanpa disadari api menjalar ke hutan tempat kalian berada.....hik...hik...hik.."
"Saat itu seto mencoba menyelamatkan Luna namun Luna memintanya untuk menyelamatkan ku..." ucap Risa yang seketika datang.
"Apa maksud mu....?" balas David.
"semua salah ku...andai saja seto tetap menolong Luna...."
"tidak, ini salah ku yang tidak bisa menjaga kalian...." sahut ku seketika.
"lalu...kenapa kau membunuh Andri...!"
"Aku tidak berniat membunuhnya...jika saja Fico tidak ada....dia akan tetap menjadi boneka ku.... tapi kehadiran Fiko merusak semuanya
...saat Andri mencoba membunuh mu, entah kenapa aku melihat sosok Luna uang melindungi mu.."
Aku pun mendekati David dengan perlahan dan menarik kerahnya dan memeluknya.
"semua sudah berakhir....maaf...maaf kan aku Vid..." bisik ku menenangkan David.
seketika David mendorong ku dan meninggalkan ku dengan Risa.
"To, jaga Risa dengan baik..!" ucap David dan meninggalkan kami.
aku pun hanya terdiam menatap langit dengan luka di wajah ku yang pasti aku ku ingat selalu.
tidak lama Risa membantu ku untuk pulang kerumah dan menyiapkan segalanya untuk pergi dari desa untuk mengejar cita-cita kami di kota.
__ADS_1