
Kembali aku tersadar dari lelap ku. Dimana tampak ruangan yang tidak asing lagi oleh ku dan terlihat Risa sedang tertidur di kursi sofa yang berada diruangan.
“Ade..de...deh....sepertinya punggung ku belum pulih total” ucap ku pelan sambil mencoba menggerakkan badan ku.
“aku rasa Risa ketiduran karena mengkhawatirkan ku....” Ucap dalam hati sambil melihat Risa yang tertidur ditempat tidur.
"TAP..."
Terdengar seseorang membuka pintu dan tampak paman datang membawa beberapa bingkisan.
“Kamu sudah sadar....gimana keadaan mu....”
“Ya seperti ini lah.....lagi-lagi aku terbaring di tempat ini....heh...” ucap ku kepaman sambil mengeluh dengan kondisi kamu.
“Ehmm...kamu dah bangun...!!” Ucap Risa bergegas bangun dan memelukku erat.
“AAAaaaaaaaaaa.....de....de....de..de....deh....!!”
“Maaf....!” ucap Risa dan segera melepas pelukkannya.
“Hahahaaa.......hampir aja seto mati Ris....hahaha” ucap paman meledek kita.
“Maaf....aku gak sengaja....aku cuma senang kamu sudah bangun...”
“Aku senang dipeluk kamu, namun kalo dalam kondisi seperti ini....hmmmm....aku menyerah....” ucap ku sambil menahan rasa sakit.
“Tap......!!! permisi...!!!!”
Terdengar suara orang membuka pintu dan Paman bergegas kearah pintu kamar untuk memeriksa siapa yang datang.
Tidak lama paman kembali dengan dua orang pria berbadan tegap dan mengenakan Jaket hitam.
“Maaf mas...apa betul dengan Mas Seto saya bicara...??” ucap salah seorang yang mengenakan jaket hitam.
“ia...betul....siapa anda...dan ada perlu apa ?” jawab ku dengan bingung apa lagi melihat Paman dan Risa yang mundur beberapa langkah seakan memberikan kesempatan kami berbicara.
“Nama Saya Sersan Reza dan ini rekan saya Sersan Fiko, kami dari kepolisian dan sedang menyelidiki kasus hilangnya perdagangan gelap jual beli senjata, kebetulan setelah kami mendapat info dari sekolahan dan memeriksa peluru yang mengenai punggung masnya kami menemukan fakta bahwa senjata yang digunakan pelaku di duga merupakan senjata dari kepolisian yang hilang di curi” ucap Sersan Reza sembari memperkenalkan rekannya Sersan Fiko dan menjelaskan tujuan mereka ke ruangan ku.
“Lalu apa hubungannya dengan saya...?”
“Apa masnya masih ingat atau melihat wajah pelakunya....??” tanya Sersan Reza
“Aku hanya ingat dia mengenakan jaket dengan tutup kepala dan mengenakan celana seragam sekolah” ucap ku mencoba mengingat kembali.
“Untuk wajahnya apakah anda melihatnya...?” balas tanya oleh Sersan Fico sambil mencatat apa yang dibahas.
“Saya kurang begitu yakin, karena wajahnya tertutup dengan tudung jaketnya..”
“Baik lah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya, kami akan terus berusaha menyelidiki kasus ini dan menangkap pelakunya...mohon maaf sudah menyita waktu istirahat anda...?” Ucap Sersan Reza.
“Tidak papa....bilamana ada sesuatu yang saya ingat saya akan mengabari anda”
“Ini nomor telepon kami.....bilamana ada sesuatu segera hubungi kami...” ucap Sersan Fico sambil menyerahkan kartu namanya.
“Baik kami undur diri dan selamat istirahat” ucap Sersan Reza menyambungkan ucapan Sersan Fico. Mereka pun kemudian pergi meninggalkan ruangan kami dan Paman mengantar mereka keluar ruangan.
“apa kamu butuh sesuatu..?” ucap Risa mencoba menawarkan diri.
“Gak...terima kasih untuk tawarannya...”
Waktu terus berlalu hingga saat aku bisa meninggalkan rumah sakit meskipun kondisiku belum pulih total.
Suatu hari Risa mengajak aku bersantai di taman desa dekat perbatasan untuk mengisi hari libur sekaligus berganti suasana untuk menghilangkan jenuh ku karena telah lama menginap di rumah sakit.
Aku sedang asik duduk di bangku dekat taman sambil menikmati suasana sekitaran dimana banyak anak-anak sedang bermain.
“Gimana...apa masih sakit luka kamu...?” tanya Risa menghampiri ku sambil memberikan minuman kaleng.
“Sudah agak baikkan....meskipun masih sedikit nyeri aja...”
__ADS_1
“hmm....suasananya nyaman ya....seakan damai.....” ucap Risa setelah duduk disamping ku.
“aku berharap ini tidak akan pernah berakhir.....”
“Maksudnya..?” tanya Risa
“tinggal beberapa bulan lagi kita sekolah dan lulus...aku takut kita akan berpisah...”
“hmm...kalau boleh tau setelah lulus kamu mau kemana....” tanya Risa kembali dengan suara pelan seakan ada yang dia pikirkan.
“aku belum tau....! kamu sendiri bagaimana....rencana kedepan mu apa...?”
“aku ingin kuliah Kedokteran....agar aku bisa mengobati Paman dan kamu...” jawab Risa sambil terenyum padaku.
“aku..??? aku memang kenapa...?? aku sehat-sehat aja kok” jawab ku sambil menggerakkan badan ku.
Risa seketika tersenyum pada ku dan menepuk pundak ku yang terluka.
“Plak..!!!”
“Adeh....!!” ucap ku merasakan kesakitan setelah dipukul oleh Risa.
“Katanya gak papa...” ucap Risa seolah meledekku.
“ya...tapi gak sah dipukul juga...ini belum pulih total....”
“Maaf....Cuma bercanda...yang jelas...aku ingin jadi yang terbaik buat kamu..” ucap Risa.
Aku pun hanya melirik ke arah Risa sambil memegang bekas lukaku.
“To...lama gak kelihatan...gimana kondisi kamu....?” Sapa David menghampiri kami yang sedang bercanda.
“David...sedang apa kamu disini....kondisi ku sudah baikkan...”
“Kayanya kalian semakin romantis saja....” ucap David meledek kami.
“Lah....Erika mana..??.biasanya kamu sama Erika...?” Ucap Risa sambil mengamati sekitar david
“Kamu gak coba kerumahnya...??”
“rencana aku mau kerumahnya...! bagaimana apakah mau ikut..?” Ucap David dan mencoba mengajakku.
“Bagaimana kalo kita bareng-bareng kerumahnya” Jawab Risa
“Kalo Risa ikut aku ikut...” sahut ku sambil menggenggam tangan Risan dan tersenyum padanya.
“Ya sudah .....ayo kita ke apartemennya....” Ucap David dan kita pun berangkat ke apartemen tempat tinggal Erika.
“To....! apa kamu menyadarinya...” ucap David sesaat dalam perjalanan.
“ dari tadi aku juga menyadari...aku pikir cuman perasaan ku saja....kalo kamu menyadari berarti memeng benar...”
“Menyadari apa...?” tanya Risa yang tampak bingung.
“Seseorang dari tadi mengawasi kita....” jawab David pelan.
“Eh...!!” seketika Risa terkejut dan mulai panik.
“tenang...jangan merubah ekspresi kamu....malah dia nanti curiga....” Ucap ku menenangkan Risa dengan merangkul bahunya. Risa pun menuruti ucapan ku dan kita melangkah bersama seakan tidak terjadi sesuatu. Hingga kita tiba di suatu mini market dekat apartemen. Kita pun memasuki mini market dan berpencar didalamnya
Aku berpura-pura membaca majalah sambil melirik kearah luar mini market dimana seseorang yang mengawasi kita bersembunyi dibalik tiang listrik sembari merokok. Risa sedang pura-pura berbelanja sedangkan David kearah pintu belakang.
“Apa dia masih mengawasi..?” bisik Risa pelan sambil membawa beberapa cemilan.
“Dia masih mengawasi.....dia mengenakan kacamata hitam, jadi wajahnya kurang jelas....” bisik ku pelan dengan memegang majalah sambil melirik kearah penguntit itu.
“trus kita harus bagaimana....”
“tenang saja, aku dan David sudah punya rencana..! ayo kita keluar...” bisik ku dan memegang tanga Risa tuk membayar cemilannya dan keluar dari mini market.
__ADS_1
Kami pun mempercepat langkah dan orang yang menguntit kita pun mencoba menjaga jaraknya. Kami memutari apartemen Erika hingga tiba disebuah gang kecil dibelakang apartemen yang jarang dilalui orang dan kami pin berhenti.
“Keluarlah...!! kenapa kamu mengikuti kami..???” ucap ku keras.
Orang itu pun bergegas membuang rokoknya dan keluar hingga kita saling berhadapan. Risa tampak , dia memegang tangan ku sangat erat.
“Arrgghhhtt.....!!!” seketika David menyerang pria misterius itu dari belakang menggunakan besi untuk memukulnya. Namun pria itu membalik badan dan menangkis serangan David.
Belum sempat pria itu meraih David, David melompat kebelakang menghindari tangan pria itu.
“David..! kita serang bersamaan..!!” ucap ku mengajak David kerja sama.
David pun menatap ku dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Tunggu....ini aku...Sersan Fico....!!” ucap pria itu sambil melepas kacamatanya.
“..... kenapa anda mengikuti kami.....??” tanya ku dengan sikap tetap waspada.
“...Aku sedang mencoba mencari tau pelaku penembakan dan pembunuhan...” balas Sersan Fico berusaha meyakinkan ku.
Aku pun memberi kode ke Risa dan David untuk tenang. David akhirnya membuang tongkatnya dan kamipun mencoba mendekati Sersan Fico.
“Pembunuhan...?? aku kan masih hidup dari insiden itu...???” tanya ku dengan bingung
“Sersan Reza.....! dia ditemukan tewas disebuah gedung tua dengan tangan terpaku ditembok dimana terdapat banyak sayatan di bagiat urat nadi dan seakan pembunuh mencoba menguras darahnya dari tubuhnya..”
Mendengar pernyataanya kami terkejut dan heran. Sebenarnya apa motif pelaku melakukan itu semua.
“trus...kamu mencurigai kami gitu...!!” ucap David dengan emosi.
“David...sabar dulu...kita dengarkan penjelasannya...” balas ku menenangkan David.
“terakhir Sersan Rezha menghubungi saya akan melakukan penyelidikan ke beberapa murid disekolah kalian....kemudian sudah tiga hari dia tidak ada kabar...kami pun mencoba mencarinya...dan ada seorang gelandangan melaporkan ada mayat digedung tua dan setelah kami selidiki ternyata itu Sersan Rezha...” ungkap Sersan Fico sambil menahan emosinya.
“Rencana kita akan kerumah Erika....kebetulan sudah beberapa hari dia tidak masuk dan tidak ada kabar....” ucap ku menjelaskan situasi yang sedang kami hadapi.
“Lebih baik anda ikut aja....dari pada menguntiti kita terus dan mencurigai kita...” ucap David sinis.
Sersan Fico pun hanya menganggukkan kepala dan kita pun bergegas menuju tempat Erika. Hingga kita tiba di depan pintu apartement Erika.
“Teeettttt.........Teetttttttt.......” suara bell berulang kali kita bunyikan namun tidak ada jawaban dari dalam.
“...hmmm...tidak ada jawaban...” ucap ku dan memandang David.
“Rik....Erika........Sayang ini aku David....!!!” ucap David sembari mengetuk pintu kencang namun tidak ada jawaban.
“.....Mungkin Erika sedang keluar....” ucap Risa
“apa boleh buat.... ya sudah kita balik aja...” ucap ku pasrah dan mengajak balik.
“Tunggu....biar aku periksa dulu....” ujar Sersan Fico seketika dan mendekatkan telinganya ke pintu sambil memberikan kita isyarat untuk diam.
Tak lama Sersan Fico mengambil inisiatif memutar dagang pintu dan ternyata pintu tebuka sedikit dan hanya terkunci oleh rantai pintu dari dalam.
Kami pun merasa kaget dengan perbuatan Sersan Fico yang seketika seperti orang panik mencoba membuka pintu.
“Brruuuuaaakkk..!!!!!.”
Seketika Sersan Fico tanpa peringatan mendobrak pintu dan tampak ruangan yang sangat berantakan. Kita pun bergegas masuk dan memeriksa ruangan tersebut.
“Erika....! Tolong...!!!” teriak Risa yang menemukan Erika terbaring di lantai salah satu ruangan dengan posisi tubuh terikat.
Kami bergegas ketempat Risa berada dan terlihat Risa sedang memeluk Erika yang lemas tak berdaya.
“Sayang....kamu kenapa sayang....sadar....” ucap David dengan panik dan mengambil badan Erika dipelukan David.
“lebih baik kita tolong nona Erika terlebih dahulu......, Saya akan melaporkan kejadian ini kekantor dan kesekolahan.....” ucap Sersan Fico.
“Baik pak...ayo kita bergegas bawa Erika ke rumah sakit...” ucap ku ke David dan Risa.
__ADS_1
Kami pun bergegas membawa Erika kerumah sakit, sedangkan Sersan Fico bergegas kembali kekantor untuk membuat laporan.