Psycolovers

Psycolovers
Episode 11 - (Luka yang pernah ada)


__ADS_3

Malam pertemuan pun tiba, dimana para siswa berkumpul di Dinning Room sesuai jadwal yang telah ditetapkan.


“baiklah anak-anak….sembari menikmati makan malam, tolong dengarkan……acara karya wisata kali ini, Kami dari para guru berpesan agar kalian bisa menjaga diri masing-masing, tidak membuat kegaduhan atau keributan dan yang paling utama menjaga safety….paham semua…?” ucap Pak Rudi salah satu guru yang ikut mendampingi karyawisata..


 “Paham…Pak…!!!” jawab para murid sembari menikmati makan malam yang telah dihidangkan.


“To, malam ini kamu ada acara gak…?” Tanya Alecia sesaat aku sedang menikmati segelas minuman.


Aku pun hanya menggelengkan kepalasambil menyeruput minuman digelasku.


“habis makan malam, temenin aku ya…..” Ujar Alecia sambal menunjukkan wajah yang polos.


“emang kamu mau kemana….?”


“kebetulan barang aku ketinggalan dipantai tadi sore….” Ucap Alecia dan tersenyum manja.


“sama Elen dan Risa juga..??” Tanya ku seketika


“mereka ada acara katanya mala mini, mau mengganggu Ibu Ratna…makanya aku minta tolong kamu” balas Alecia.


“aku ikut ya…kebetulan aku mau ngambil foto pantai di malam hari…..?” ucap Iwan seketika yang duduk disebelahku dan menguping pembicaraan kita.


“ya…Ayo…” jawab ku sepintas.


Alecia pun langsung menunjukkan wajah cemberut. Sepertinya dia tidak setuju aku mengajak Iwan.


“sepertinya dah mulai pada bubar, aku ambil kamera ku dulu ya dikamar?” ucap Iwan.


“aku juga mau ambil senter dikamar ku…” ucap Alecia.


“ya sudah saya tunggu di lobby ya…..” jawab ku.


Iwan dan Alecia segera menuju kamar masing-masing mengambil perlengkapan dan aku menunggu di Lobby Hotel.


Selang beberapa menit aku menunggu Alecia pun datang menghampiri ku dengan membawa senter. Namun iwan tidak datang.


“ayo…kita berangkat…” ucap Alecia sembari mengajak ku.

__ADS_1


“Lah…iwan gimana….? Katanya dia mau memfoto suasana pantai malam hari….??”


“hmm….anu…e….tadi saya bilang, kalua dia tidak jadi ikut karena perutnya sakit setelah makan malam…..dia mau bertapa dulu di kamar mandi…hehhee” ucap Alecia.


“ooo….yasudah….lagi pula kalau menunggu dia takutnya keburu kemalaman…”


Kami pun bergegas berangkat menuju pantai yang lokasinya tidak jauh dari hotel.


Selangkah demi selangkah kita menapakkan kaki di pinggir pantai sembari mencari barang Alecia yang ketinggalan. Dinginnya malam pun ikut menemani langkah kita. Tidak lama Alecia menghentikan langkah.


“Ada apa….kok berhenti…?” Tanya ku sesaat ku membalik badan menghadap Alecia yang tertinggal dibelakang.


“aku sebenarnya mau minta maaf, sebenarnya aku berbohong…”


“Bohong apa…?” Tanya ku dengan bingung


“ia…sebenarnya barang ku tidak ketinggalan…aku hanya ingin berduaan sama kamu aja…”


“aku masih kurang paham….kenpa kamu harus berbohong dan tidak langsung berterus terang saja kalo mau jalan sama aku….” Jawab ku sesaat.


Aku pun mengikuti perkataan Alecia untuk memejamkan mata ku. Keheningan mengisi fikiran ku yang penuh Tanya. Suara ombak ditepi pantai dan angina malam yang mencoba membekukan tubuh ku semua aku coba untuk menikmatinya.


Tak lama Alecia mendekati ku dan mencium bibir ku. Aku pun terbawa suasana dan membalas ciumannya. Bibirnya yang indah dan lembut yang menyentuh bibirku.


“aku ingin bersama mu….Aku mencintai mu…” bisik lembut Alecia padaku.


Namun sekilas aku mengingat bayangan suatu perasaan yang pernah membekas.


“….dewasa kelak aku ingan jadi pengantin kamu….” Ucap seorang wanita dalam ingatan ku mengenakan pakaian putih disuatu taman dan kami pun saling memakaikan cincin yang terbuat dari tanaman.


Aku mencoba untuk memasuki ingatan ku lebih dalam lagi. Namun suasana bayangan ku berubah seketika. Sekelilingku hanya ada api yang membara dan wanita itu terbakar dihadapan ku dengan cincin tanaman yang ikut terlepas dan terbakar menjadi abu.


“Luna…….Luna……” ucap ku memanggil nya.


Alecia pun menghentikan ciumannya dan aku pun mulai tersadar kembali dan air mata ku pun keluar dengan sendirinya.


“Siapa Luna…?” Tanya Alecia dengan lembut dan heran.

__ADS_1


Aku pun hanya terdiam dan mengusap air mata ku. Namun tidak lama aku menolehkan pandangan ku, Risa sudah ada di di sebelah aku dan alecia dengan pandangan terkejut dan mata berair.


“Risa…aku bias jelaskan….” Ucap alecia mencoba menjelaskan ke Risa.


Risa pun seketika memalingkan badannya dan berlari pergi meninggalkan kami disana sambal menghapus air matanya.


“To…kejar dia….aku mohon…kejar…” Ucap Alecia kepadaku.


“baiklah…kamu pulang dulu aja ke Hotel… aku yang akan menyusul dengan Risa….”


Aku pun bergegas mengejar Risa yang berlari tanpa tau tujuan. Sedangkan Alecia kembali ke hotel dengan perasaan hampa.


“ Risa…tunggu….!!!” Teriak ku sambil mengejarnya namun dia tidak mau mendengarkan dan terus berlari meninggalkan ku.


Tidak lama Risa pun terjatuh karena kakinya tersandung sesuatu hingga terkilir sehingga aku berhasil memegang tanganya. Dia mencoba memberontak namun aku menahannya.


“Ris….diam dulu…dengarkan aku…” ucap ku seraya mencoba menenangkannya dalam pelukku.


“lepasin….biar aku sendiri….lepasin…” ucap risa dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


“Hik…hik…hik…”


Risa pun akhirnya mulai tenang dalam pelukkan ku. Terfikir kan oleh ku untuk memberanikan diri.


“Katakan lah semua pada ku…..semuanya…biar aku bisa meredakan beban yang ada padamu…” ucap ku sembari menenangkan Risa.


“buat apa….kembalilah ke Alecia…biarkan aku sendiri….seperti dahulu kamu memilih Luna” Ucap Risa dengan penuh emosi.


“Risa…dengar…aku gak kan melepas kamu lagi….jadi tetaplah disisi ku…” ucap ku sembari memegang kedua bahunya dengan tangan ku dan kami pun saling menatap satu sama lain.


Risa akhirnya tenang dan terdiam. aku pun melepas kedua tangan ku dan terduduk disebelah Risa.


“Ris…dari semua yang kita lalui…aku akan jujur….bahwa aku tidak bisa membohongi diri ku lagi…Aku menyukai mu dan aku sangan mencintaimu….” Ucap ku sambal melirik malu kearah Risa.


“Sudah cukup lama aku menunggu mu….dan kini penantian ku terbayarkan…aku pun mencintai mu…” jawab Risa sembari menahan tangi bahagianya.


Kami pun saling bertatapan dan berciuman dibawah luasnya langit malam dengan kebisingan suara ombak di pantai. Dan kehangatan perasaan membuat kami lupa akan dinginya malam.

__ADS_1


__ADS_2