
“Ris…apa aku boleh meminta sesuatu pada kamu….” Ucap ku sembari menahan tubuh Risa yang bersandar pada ku
“Katakan lah…?”
“Sebenarnya apa yang terjadi dimasa lalu…maksud ku hubungan kita dan juga Luna…hingga sekarang aku masih mencoba mengingatnya”. Tanya ku pada Risa.
“dulu kita ber empat sering bermain bersama….Aku, Kamu, david dan Luna…canda tawa selalu mengisi…dan suatu ketika kebersamaan mulai runtuh….kamu bertengkar dengan David untuk mendapatkan Luna, namun Luna lebih memilih mu dan David sangat kecewa dan berhenti berkumpul bersama…hingga suatu ketika tumbuh rasa cinta dalam diri ku ke kamu dan Luna menyadarinya…dia pun tidak mempermasalahkannya….namun aku menganggap kalian sudah seperti saudara kandungku.”
Sembari mendengarkan Risa bercerita aku mencoba mengingat apa yang terjadi dimasa lalu. Ingatan bayang masa-masa kebersamaan kami yang terlintas difikiranku pun mulai kembali.
“bagaimana dengan kematian Luna…?” Tanya ku memotong ucapan Risa.
Risa pun seketika menghadap kearah ku dan menatap wajah ku. Tidak lama dia pun kembali memalingkan wajahnya.
“Saat terjadi bencana kebakaran, Aku, Kamu sedang berada dihutan di pinggir desa untuk mencari kelinci kesayangan Luna yang hilang. Seketika semua terjadi….mendadak ada api yang mengelilingi kita dan kita pun bergegas menyelamatkan diri. Namun na’asnya Luna terperosok dan kamu berhasil meraih tangannya namun api semakin menjalar membakar hutan hingga ranting-ranting pohon terjatuh dan melukai ku. Kamu pun terkejut melihat ku terluka dan memalingkan pandangan mu padanya” ucap Risa mencoba menceritakan apa yang terjadi sambil menahan kesedihannya.
Aku mencoba mengingat kejadian waktu itu. Hingga muncullah potongan-potongan masa lalu dikepala ku dan seketika kepala ku pun mulai terasa sakit dan berat.
“kemudian apa yang terjadi…?” ucap ku ingin mengetahui lebih lanjut sembari menahan kepalaku yang semakin sakit karena memaksa otak ku berfikir untuk mengingat masa lalu.
“kamu tidak apa-apa…?” Tanya Risa sembari tangannya menyentuh wajah ku dan mengkhawatirkan kondisiku.
“Aku tidak papa…hanya kepala ku terasa sakit dan pandangan ku mulai kabur”
“kamu istirahat saja dulu…baringkan kepala kamu di pangkuan ku….aku kan melanjutkannya setelah kamu baikkan” Ucap Risa menyarankan ku untuk istirahat.
“Aku ingin mengetahuinya….lanjutkan ceritamu Ris…!” Balas ku mengharapkan Risa mau melanjutkan ceritanya.
“Baiklah….tak lama terdengar suara penduduk desa mencari kita, aku ingin mencoba minta tolong tapi aku terjatuh dan pingsan, namun sebelum aku pingsan aku melihat samar batang pohon yang patah karna terbakar terjatuh mengenai kepala kamu dan membuat mu tidak sarakan diri” ucap Risa meyakinkan ku akan ceritanya.
Aku pun kembali melihat bayangan di ingatan ku diwaktu kejadian itu tepatnya saat terlihat sebelum aku tak sadarkan diri. “aku melepaskan cengkraman ku dan membuat Luna terjatuh” gumam ku dan menetes keluar air mata ku.
“ARGHHHHHTT…”
Teriak aku keras memecah keheningan dan membelah kebisingan ombak pantai. Hingga samar aku melihat Risa mencoba menolong ku namun aku mulai tak sadarkan diri karena kepala ku yang semakin sakit.
Tenggelam aku dalam alam bawah sadar ku. Dimana aku melihat Luna yang berdiri dihadapan ku mengenakan gaun putih disuatu ruangan yang serba putih.
“Luna…!” Sapa ku ke wanita dihadapanku.
“Jangan kamu merasa bersalah lagi…aku sudah tenang…sesuai pemintaan ku…jaga dan cintailah Risa setulus hatimu…demi dia dan aku….” Jawab luna dan tersenyum pada ku
“tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dan mencintainya”
__ADS_1
“terima kasih cinta masa lalu ku, pertahap cobalah untuk melupakan ku dan letakkan foto Risa disetiap dinding hati dan ingatan mu…” Balas Luna.
Aku pun hanya menatapnya yang sedang tersenyum padaku.
“untuk David….tolong lah dia…!!” ucap Luna seketika dan keberadaanya mulai menghilang.
Cahaya matahari pagi menyadarkan ku kembali dan tampak Risa masih tertidur sambil memelukku di pantai dan tidak lama dia pun tersadar.
“ Kamu sudah bangun” ucap Risa pada ku.
“apa yang terjadi…?”
“kamu terjatuh sambil memegang kepala kamu hingga tidak sadarkan diri…akum au mencoba memapah kamu kembali kehotel tapi….” Ucap Risa, namun belum dia menyelesaikan ucapannya dia melihat kakinya yang terkilir dan membengkak.
“kamu gak papa Ris….ayo kita ke Hotel…aku akan akan menggendongmu…”
Aku pun bergegas terbangun dan menggendong Risa dipunggungku menuju Hotel.
Risa pun hanya terdiam di belakang punggungku menahan rasa sakit dikakinya.
Setibanya di Hotel terlihat Ibu Ratih yang sedang khawatir dan David yang sedang menemaninya di depan hotel.
“Kalian dari mana saja…ibu khawatir…Ibu dengar dari teman sekamar kalian, kalian belum kembali kekamar…” ucap Ibu Ratih menceramahi kami.
“Baiklah….setelah itu kamu ngadep Ibu di Ruang Rapat Kencana yang berada disebelah Dining Room…..!!” Balas Ibu Ratih dengan nada agak tinggi.
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku dan bergegas memasuki hotel.
“Apa perlu bantuan…?” Ucap David seketika setelah aku melewatinya. Hingga aku terhenti sejenak.
“tidak perlu…aku sendiri yang akan merawatnya…..” balas ku dan bergegas menuju Lift dan mengantar Risa yang pingsan karena menahan rasa sakit.
Tiba aku didepan kamar Risa dan belum sempat aku mencoba mengetuk pintu, Erika membukakan pintu dari dalam hingga membuat aku terkejut.
“masuk lah….David baru saja menghubungi ku….” Ucap Erika sesaat.
Aku pun bergegas memasuki kamar dan meletakkan Risa di tempat tidurnya. Namun setelah aku meletakkan Risa ditempat tidur, Erika langsung menarik lengan ku dan memasukkan ku kekamar mandi kemudian dia menguncinya.
“Erika…maksud kamu apa mengunciku disini…!!”
“Sudah diam saja dulu disitu…!! Aku akan mengganti bpakaian Risa..!!!” jawab Erika dengan nada agak tinggi dan sikap yang jutek.
Aku pun terdiam di dalam kamar mandi sembari mencuci tangan dan kaki ku yang agak kotor.
__ADS_1
“Klek…!!”
Terdengar suara kunci pintu yang diputar dan Erika pun membuka pintu kamar mandinya.
“sudah selesai….silahkan lanjutkan…David menyuruh untuk tidak mengganggu kalian,….untuk perban dan obat-obatan sudah ada dimeja….” Ucap Erika ketika aku melangkah keluar kamar mandi menuju tempat Risa terlelap.
“terima kasih sudah membantu” ucap ku dan menoleh kearah Erika, namun di tetap acuh padaku dan menuju pintu keluar.
“Oia, jangan lupa pakai pengaman ya…..! kalau gak keluarin aja diluar..!!!” Teriak Erika sesaat sebelum menutup pintu kamar dan meninggalkan ku.
Wajah ku seketika menjadi merah ditambah Erika mengerjaiku dengan membuat Risa mengenakan pakaian yang lebih pendek dan ketat.
“Dasar, Erika…..dia kira otak ku isinya sama apa kaya David” Gumam ku pelan.
Aku pun bergegas memngobati dan memperban pergelangan kaki Risa yang terkilir.setelah itu aku meninggalkannya untuk istirahat dikamar dan aku bergegas keruang Rapat Kencana untuk mendengarkan ceramah dari Ibu Ratih.
Setibanya aku di depan Ruang Rapat Kencana, tampak Ibu Ratih dari pintu kaca sedang menunggu ku.
“Dah siap belum mentalnya…hehehe” celetuk Iwan dari belakang ku mengejutkan ku.
“bikin kaget aja, kirain siapa….kemarin kamu kenapa gak ikut…”
“Lah, aku kekunci dikamar semalam…ada yang ngunciin aku dikamar….” Ucap iwan dengan nada agak kesal.
“Kok bisa….bukannya kunci sama kamu….?”Tanya ku penuh heran
“pas aku lagi mencari kamera, tiba-tiba ada yang membuka pintu…aku kira kamu, eh taunya dia ngambil kunci dan mengunci aku dari luar....” balas Iwan seraya menahan emosi.
“trus kamu kok bisa keluar…?”
“Fahmi yang kebetulan lewat membukakan pintunya….. dia curiga kok kunci menggantung dipintu luar….” Ucap Iwan menjelaskan padaku.
Terlintas sesaat ucapan Alecia semalam yang menjelaskan kalo iwan tidak bisa ikut karena sakit perut.
“aku yakin dia yang melakukannya…” gumam ku berbisik pelan.
“Dia….siapa…” ucap Iwan seketika dengan samar mendengar bisik ku.
“eh…gak…kok…aku harus menemui Ibu Ratih dulu….hehehe…”
“ya sudah sana…aku mau cari tau siapa yang mengunci aku dikamar semalam….mau tak pites tu orang…!!” ucap iwan sambal emosi.
Aku pun melangkah meninggalkan Iwan yang sedang kesal dan memasuki Ruang Rapat Kencana menemui Ibu Ratih.
__ADS_1
disana aku hanya mendengarkan ceramahnya yang hampir membuat telingaku panas sembari aku jelaskan semua yang terjadi.