Psycolovers

Psycolovers
Episode 4 - (Kekhawatiran)


__ADS_3

“………demi diri ku jaga lah dia dan cintai dia dengan sepenuh hati, sesungguhnya dia lah yang benar-benar mencintaimu…bukan aku….maaf atas dusta ku….” Ucap seorang wanita dalam lautan api yang membara. Aku pun mencoba meraihnya namun hanya air mata yang dapat ku capai. Tidak lama semua menjadi gelap.


Aku pun tersadar dalam sebuah ruangan. Pandangan ku pun kembali jelas, terlihat tubuhku yang penuh dengan perban dan jarum inpus yang menancap di tangan kiri ku. Rasa sakit yang ku rasakan semakin pekat.


Aku mencoba bangun dari tempat tidur. Terlihat Risa sedang tertidur dalam posisi duduk dan merebahkan kepalanya d kasur ku. Aku pun mencoba meraihnya.


Perlahan aku mulai mengingat hubungan antara kita dimasa lalu. Aku senang bisa mengingatnya setahap demi setaham namun tak lama Risa pun terbangun.


“...kamu sudah sadar..”. Ucap Risa sembari bangkit dari sandarannya.


"ia...." jawab ku dan menekuk wajah ku.


““PLAK....!!!!”


Melesat kembali telapak tangan Risa diwajah ku. Padahal pelan namun kondisi ku yang membuat tamparan itu terasa keras. Aku pun menjadi terdiam membisu, aku ingin memarahinya namun terlihat setetes demi setetes air mata membasahi pipinya. Tak lama Risa langsung memelukku.


“…….berulang kali kamu membuat aku khawatir...” bisik risa ditelingaku sambil menangis dan memeluk ku semakin erat. Aku pun mulai sesak nafas. Pelukannya bertambah erat sedangkan tubuh ku belum sembuh total.


“Risa...kalo kamu memeluknya seperti itu dia bisa mati” ucap Paman Reno sambil tersenyum dan mengagetkan kami berdua karena kehadirannya tanpa diketahui. Risa pun melepas pelukannya dan duduk kembali.


“gimana kondisi mu...sudah baikan?” tanya Paman.


“lumayan...aku sudah mulai bisa menggerakkan tubuh ku”. Jawab ku sambal mencoba menggerakkan beberapa bagian tubuh ku.


“syukurlah kalo begitu...”. balas Paman dengan meresa lega.


“aku keluar dulu...” ucap risa seketika memotong pembicaraan dan menuju keluar ruangan.


“Risa selalu mengkhawatirkan mu, sudah 2 hari dia kurang istirahat hanya menunggu kamu sadar” ucap Paman menjelaskan situasi yang terjadi.


“hmmm..jadi dia sudah menemani ku dua hari” ucap ku santai


“HAH.....APA SUDAH DUA HARI...!!!” ucap ku kembali dengan nada agak keras.


“Reaksi mu telat ...!!, apa kamu gak sadar sudah 2 hari kamu koma.” Ucap Paman menjelaskan.


Aku menundukkan kepala. Aku terkejut sudah dua hari aku disini dan tertidur. Rasanya seperti aku menyia-nyiakan waktu ku begitu saja.


“apa yang telah terjadi biarkan terjadi, ayah mu pernah mengatakan sesuatu padaku. Masa lalu biarkan menjadi kenangan namun masa depan jadikanlah harapaan” ucap Paman seakan dia sambal membayangkan masa lalunya bersama Ayah ku.


“jadi seperti itu...... terus apa yang terjadi disekolah saat aku pingsan? Apa paman tau” tanya ku.


“paman kurang begitu paham, sesampainya paman disana, semua sudah berakhir dan tampak jelas terlihat kamu terlelap dipelukan Risa, kami pun segera membawamu kerumah sakit” jawab Paman menceritakan situasi yang sebenarnya.


“hmm...” balas ku sambal membayangkannya.

__ADS_1


Aku mulai mengkhawatirkan Elen dan Alecia karena mereka terlibat dalam masalah ini. Aku rasa, aku harus meminta maaf kesekolah karena berbuat hal yang tidak lazim untuk dilakukan. Seharusnya aku melawan mereka saat aku belum terluka. Ini salah ku juga.


“mulai sekarang cobalah mengendalikan diri mu, jangan sampai kau lepas kendali lagi” ucap Paman menasehati ku.


Tak lama paman beranjak keluar ruangan. Hingga sepi yang menemani ku saat ini. Aku merenungkan semua kesalahan ku. Memang benar semua berawal karena aku tidak bisa mengendalikan diri ku.


Luka ini adalah perbuatan ku sendiri. Aku sangat menyesalinya. Ku harap itu yang terakhir kalinya.


“permisi...” terdengar suara dari arah pintu kamar. 


Beberapa orang terdengar mencoba memasuki kamar tempat aku dirawat dan ternyata mereka Ibu Ratih dan Elen.


 “bagaimana kondisi mu..?” tanya Bu Ratih pada ku.


“saya sudah baikkan bu, sebelumnya saya minta maaf dengan apa yang telah terjadi”. Jawab ku dengan meminta maaf atas apa yang telah ku perbuat.


“ia...sudah tidak apa-apa...sumber perkara Bagas dan temannya, mereka mencoba mencari masalah hanya karena kesalah pahaman…..sedangkan yang kamu lakukan hanya membela diri....” ucap Ibu Ratih sambil tersenyum pada ku.


"Set, aku mau minta maaf...ini semua salah ku..." Ujar Elen meminta maaf pada ku.


aku pun tersenyum pada Elen dan mengusap air mata di pipinya yang keluar. 


"Jangan terlalu difikirkan....aku tidak mempermasalahkannya...." ucap ku menenangkannya.


“oia...Risa dimana...bukannya dia ijin untuk menjaga kamu...” Ujar Ibu Ratih sambil memandang ke segela arah mencari Risa..


“Hmmm....begitu....kami harap kamu cepat sembuh dan kembali kesekolah” ucap Bu Ratih.


 “ia....ibu tidak perlu terlalu khawatir, aku akan cepat pulih dan kembali kesekolah” balas ku.


“Ibu rasa sudah sore, ibu gak bisa lama-lama, ibu ada janji.....” Ujar Bu Ratih.


“he...janji kencan ya bu” ucap Elen dengan nada menyindir.


“siapa bilang, dia hanya temen doank kok” jawab Ibu Ratih dengan panik


“hmmm....ketahuan....akhirnya ibu punya pacar” ucap Elen menyindir Ibu Ratih.


“ya sudah, ibu permisi dulu ya, semoga cepat sembuh” ucap bu Ratih dan meninggalkan ku.


“Selamat Istirahat dan terima kasih untuk semua, aku menunggu kedatangan mu di sekolah....daa...” ucap Elen sesaat dan pergi mengikuti langkah Ibu Ratih sambil menyindirnya.


Kesendiri kini menemaniku kembali. Tidak ada sesal yang terobati. Waktu yang bergulir seakan menyakiti. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Ku rasa ada yang salah dengan diri ku.


“lama tidak jumpa ya....!!!!”

__ADS_1


Terdengar seseorang berucap. Aku pun menoleh ke arah pintu. Terlihat jelas seseorang berdiri di pintu itu.


Perlahan dia menghampiri ku, wajahnya mulai terlihat dengan jelas sesaat cahaya memantulkan sinarnya kewajah orang itu.


“David...” ucap ku sambil terkejut.


“sudah lama tidak bertemu...”.


"Sedang apa kamu di sini..." Ujar ku.


“aku kesini untuk memastikan, apa kamu masih hidup atau tidak…” Ujarnya dan mendekati ku yang sedang terduduk di tempat tidur ku.


“Saya merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan…..” Tanya ku pada David dengan penuh curiga. Karena aku yakin dia memiliki maksud yang lain.


David pun mendekati wajahnya ke telingaku dimana aku sedang tidak bisa banyak bergerak karna luka ku. Dia pun berbisik halus pada ku "Aku ingin kamu merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu".


"TAP...!!!"


Terdengar suara pintu kamar ku dibuka dan tampak Risa yang sudah kembali ke ruangan ku.


"Maaf...apa aku mengganggu kalian " Ucap Risa pada kami.


"Aku rasa tidak...kebetulan urusan ku disini sudah selesai" Jawab David dengan menutupi semuanya dengan suatu sandiwara. 


 “baiklah kalau begitu, aku harap kamu cepat sembuh dan kita akan berjumpa lagi disekolah” ucap David dan meninggalkan kita berdua.


"Buru-buru sekali...sudah mau pulang saja...." Ujar Risa pada David yang ingin meninggalkan ruangan ku.


"Kebetulan masih ada hal yang harus aku kerjakan" Jawab David dengan santai.


"Hmmm...yasudah kalau begitu...hati-hati ya.." Balas Risa.


David pun meninggalkan kami berdua di ruangan dan Risa menuju ketempat tidur ku dengan membawa makan.


“oia...tadi Ibu Ratih dan Elen kemari untuk menjengukku dan mencari kamu.” Ucap ku mengalihkan perhatian...berharap Risa tidak menanyakan hal tentang David dan aku..


“PLAK....!!!!”


Sesaat Risa menampar ku lagi. Tanpa aku mengerti kenapa dia menamparku lagi, apa salah ku.


“ini gak adil...” ucap Risa dan menunduk hingga meneteskan air mata.


“Ris, kamu kenapa...?” 


“kamu masih ingat dengan David sedangkan kamu lupa dengan ku” ucap Risa sambil menangis.

__ADS_1


“maaf aku tidak bermaksud melupakan kamu, sekali lagi maaf” ucap ku dan mencoba menenangkan Risa dengan megusap-usap rambutnya dengan tangan berharap dia tenang


__ADS_2