Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 10 Hubungan baru


__ADS_3

"Ken , setelah jatuh talak, suami masih berkewajiban memberinya tempat tinggal juga nafkah selama tiga bulan. Karena selama tiga bulan itu, ia diharuskan tetap dirumah dan dalam pengawasan. Kecuali , kalau wanita itu melakukan perbuatan yang tercela baru bisa dikeluarkan dari rumah." "Jadi?" "Jadi berilah aku tempat tinggal yang layak juga makan , karena selama itu aku tidak bisa bekerja." "Apa kamu akan tetap tinggal di sini?" "Kalau kamu mengizinkan , dan carilah orang yang bisa kamu percaya untuk mengawasiku di sini." "Kalau Mbak Lis?" "Siapapun yang kamu percaya , asalkan perempuan." "Baiklah , biarlah Mbak Lis yang akan menemanimu. Apa kau sudah mengajukan cuti?" "Besok aku akan mengirimkan surat pengunduran diri lewat email." "Kenapa?" "Biar tidak ada beban." "Aku tidak percaya kamu akan berdiam diri saja." Mariana terkekeh. "Aku akan bekerja menjadi asisten dosen untuk menyusun makalah. Juga...belikan aku samsak yang bisa aku gunakan saat aku suntuk." keduanya tertawa bersama untuk pertama kalinya. "Bisakah kita tetap menjalin hunbungan , sebagai teman misalnya." "Boleh , tapi tetap ada batasan meskipun berteman." "Maafkan aku." ucap Keenan dengan tulus. "Sebelum kamu minta maaf , aku sudah memaafkanmu. Kamu masih ingin tahu mengapa aku mau menjadi penghangat ranjangmu?" "Jangan ucapkan kata itu." Mariana mencebikkan bibirnya dan membuat Keenan gemas , tapi ia berusaha menahan diri. "Pak Harun memilik beberapa anak asuh yang sangat berbakat dan berprestasi dibidangnya masing masing , mereka dibiayai secara pribadi oleh beliau dan saat ini masih menjalani masa pendidikan. Mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi mereka punya semangat juang yang besar. Bayangkan , kalau sampai Pak Harun bangkrut, apa yang akan terjadi dengan mereka? Sekalipun ada , apa mereka bisa setulus Pak Harun?" "Pak Harun berharap , anak anak asuhnya bisa mengikuti jejak beliau memperbanyak manfaat dalam hidupnya. Itu sudah cukup membuat beliau bahagia." Keenan begitu tersentil hatinya mendengar ucapan Mariana. Ia begitu menyesal telah memperlakukan Mariana begitu buruk selama ini. "Apa mereka hebat seperti kamu?" "Ha..ha..aku tidak ada apa apanya dibanding mereka. Aku ibarat setitik debu bila dibandingkan mereka. Mengapa kamu mengatakan aku hebat?" "Memang itu yang aku lihat ." "Sudahlah, mau berpisah saja kau mengucapkan kata manis. Coba dari dulu." "Memang kenapa kalau dari dulu?" "Kalau dari dulu kamu bersikap baik , aku pasti akan mengikatmu hingga kau tidak akan bisa pergi." "Apa kalau aku bersikap baik, kamu mau menjadi istriku lagi?" Keenan seperti punya secercah harapan , semangatnya tiba tiba bangkit. "Aku tidak menjawab itu sekarang, biarkan semua mengalir seperti yang seharusnya." "Apa kau sudah siap." Mariana mengangguk , seperkian detik kemudian Keenan mngucapkan kata talak untuknya. Hatinya begitu lega, meskipun ada rasa kehilangan direlung hatinya yang terdalam. ******** "Ken...Keenan! Bangunlah." Mariana menepuk nepuk lengan Keenan agak keras , berharap laki laki itu bangun. "HAH!" akhirnya Keenan membuka matanya seperti orang terkejut , nafasnya terengah engah. "Apa kamu mimpi buruk?" tanya Mariana. "Mimpi?" Keenan masih bingung dengan apa yang terjadi. "Kamu tadi pulang dari kantor langsung tertidur disofa , sengaja tidak kubangunkan karena tidurmu begitu pulas." Mariana masih berjongkok di lantai memperhatikan Keenan yang seperti orang linglung. Keenan memeriksa kakinya , kemudian mengamati kondisi ruang tamu apartemennya yang rapi , seperti tidak terjadi sesuatu. "Apa tadi terjadi sesuatu diantara kita?" "Sesuatu apa maksudmu? Mandilah dulu , aku sudah menyiapkan air hangat juga baju ganti." "Mariana, apa kita masih suami istri?" "Tentu saja ,kita masih ada waktu lima bulan . Apa kamu ingin mempercepat masa kontraknya?" Mariana tersenyum menggoda Keenan. "Tidak." sahut Keenan cepat , dan membuat Mariana tertawa lebar . "Aku akan membuatkanmu air jahe hangat segeralah mandi." Mariana berdiri menuju dapur meninggalkan Keenan. Di dapur , Mariana membuat minuman hangat untuk Keenan juga untuknya dan menambahkan sedikit madu. Setelah selesai , ia letakkan di meja makan , sambil menunggu Keenan ia membuka pesan yang masuk diemailnya. "Aku akan coba bicara dengan Keenan, siapa tahu dia mengizinkan?" "Izin untuk apa?" Mariana menoleh kebelakang , hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Keenan , karena Keenan tepat berada dibelakangnya. "Heh..mengagetkan saja." Keenan terkekeh dan malah membuat Mariana semakin aneh dengan Keenan. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Keenan karena Mariana terus menatapnya. "Apa kamu baik baik saja?" "Hem." Keenan menghabiskan minuman yang dibuatkan Mariana sampai tandas tak tersisa. "Sebenarnya kamu mimpi apa tadi? Kelihatan kamu begitu gelisah saat tidur , akhirnya aku berinisiatif membangunkan kamu." "Mimpi yang sangat buruk." Keenan menghela nafas dan merasa lega karena itu hanya mimpi. "Lain kali , jangan tidur menjelang magrib tahanlah sebentar atau bersihkan diri dulu." "Aku tidak akan melakukannya lagi." "Takut mimpi buruk lagi?" ledek Mariana. "Salah satunya." "Ken...aku mau bicara." "Bicara saja." "Pimpinan rumah sakit memintaku untuk mengikuti program bea siswa strata tiga di luar negeri." Mariana menghentikan kalimatnya karena ingin tahu reaksi Keenan. "Lalu?" "Kalau kamu mengizinkan, aku akan ikut ujian." "Kalau aku tidak memberi izin?" "Aku tidak ikut ujian." Keenan diam memikirkan sesuatu , jujur dalam hati ia tidak rela Mariana jauh dari jangkauannya. Awal menikah , mungkin ia hanya menyukai tubuh Mariana. Tapi setelah ia memutuskan tinggal bersama , lama kelamaan ia terbiasa dengan keberadaan istri kontraknya . "Aku mau tidur lebih dulu , jangan lupa matikan lampu dapur." "Masih jam segini." "Aku harus segera tidur , besok ada operasi." Mariana merebahkan tubuhnya , tak berapa lama ia pun sudah berada di alam mimpi. Tiga puluh menit kemudian , Keenan masuk kamar dan ikut merebahkan dirinya disamping Mariana. Sejenak ia pandangi wajah cantik istrinya yang polos tanpa makup, dan berhenti dibibir ranum yang tidak tipis juga tidak tebal kemudian mengecupnya sekilas. Ia tresenyum kemudian membelai setiap inci wajah Mariana dengan jari telunjuknya. Merasa tidurnya terusik , Mariana membuka mata perlahan dan mendapati Keenan tersenyum kearahnya dengan posisi miring dan sebelah tangannya menopang kepala. "Apa aku menganggu tidurmu?" "Iya , aku baru saja tidur." Keenan tersenyum dengan lembut , dan kembali memainkan telunjukknya diwajah Mariana. "Ken..aku ngeri melihatmu tersenyum seperti itu." "Na...maafkan aku." Mariana merubah posisinya menjadi duduk dan diikuti Keenan. "Untuk?" "Untuk semua sikapku selama ini." "Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf." "Aku ingin kita bisa lebih dekat." "Heh...dari awal kamu sendiri yang menciptakan jarak itu Ken.Kamu ingin kita dekat seperti apa?" "Sebagai teman mungkin." "Baiklah , sekarang kita berteman." keduanya tersenyum dan saling menautkan jari kelingking. "Juga teman di ranjang." tambah Mariana dan membuat Keenan tertawa. "Jadi sekarang kita bisa melakukannya?" "Melakukan apa?" tanya Mariana dengan polos. "Berteman di ranjang." jawab Keenan sambil berbisik tepat ditelinga Mariana. "Ken..tadi aku baru lepas iud." "Apa ada masalah?" "Iya...tubuhku beberapa hari ini cepat sekali capek dan lelah , aku fikir itu efek dari alat itu." "Aku harus bagaimana?" "Kamu harus keluarkan diluar atau pakai ko***m." "Aku akan coba pakai k****m , aku rasa kamu sudah menyiapkan alatnya." Mariana tersenyum kemudian membuka laci dan mengambil dua bok berisi k****m dan memberikan pada Keenan. "Aku sengaja membeli banyak , karena semalam kamu membutuhkan lebih dari satu." lagi lagi Keenan tergelak. "Tapi kamu juga menyukainya."


__ADS_2