Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 19 Kunjungan Keenan


__ADS_3

"Mbak Lis, tolong lihat siapa yang datang." kata Mariana pada Sulis karena sepertinya ada yang memencet bel pintu apartemennya. Saat ini ia sedang melakukan treadmill untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Mariana terus berlari diatas treadmill ,tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya. Dengan memakai celana training dipadukan dengan atasan sport bra membuat penampilan Mariana tanpak seksi. "Bu Astrid..ada Pak Keenan." Mariana mematikan mesin treadmillnya,mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat diwajah juga leher. "Keenan?" tanya Mariana untuk memastikan pendengarannya dan di balas anggukkan oleh Sulis. DEG Mariana terkejut karena Keenan sudah duduk disofa dengan menyilangkan kakinya , matanya elangnya tak beralih dari Mariana. 'duh, kenapa bisa tidak tahu kalau ada keenan sih.' Mariana merutuki kecerobohannya karena fokusnya berlari , hingga tidak menyadari ada tamu. "Aku pakai baju dulu." ucap Mariana buru buru masuk kamar. Walaupun Keenan sudah pernah melihat tubuhnya, bahkan tanpa sehelai benangpun tapi sekarang statusnya sudah berubah, jadi ia memakai baju yang tertutup. Sepeninggal Mariana , Keenan menghembuskan nafas panjang. Melihat penampilan Mariana yang hanya memakai atasan sportbra saja membuat adik kecilya menggeliat. '****..kenapa hanya melihatnya saja kau sudah bangun jon?' batin Keenan menggerutu dalam hati. Beberapa menit kemudian , Mariana keluar tetap memakai celana trainingnya tapi atasannya ia ganti dengan kaos yang agak longgar. Rambutnya ia kuncir asal dan justru menambah keseksiannya dimata Keenan. Ia keluar dengan membawa dua gelas jus jeruk , minuman favorit mantan suaminya. "Minum Ken." ucap Mariana setelah meletakkan gelas dimeja. "Terimakasih." jawab Keenan. "Ada apa?" tanya Mariana to the point karena ia bukan tipe orang yang suka basa basi. "Nggak ada apa apa , cuma pengen lihat kamu saja." Mariana mengernyitkan kedua alisnya. ' alasan macam apa itu?' batinnya. "Aku merindukanmu." lanjut Keenan dengan senyum smirknya. UHUK UHUK Mariana yang sedang minum jadi tersedak mendengar ucapan Keenan. "Pelan pelan minumnya, aku tidak minta. Aku cuma minta hatimu." ucap Keenan lagi. "Hah...sudah pintar nggombal ya." timpal Mariana dan Keenan terkekeh pelan. DEG DEG Dada Mariana berdebar lagi melihat senyum Keenan , ia berusaha menormalkan detak jantungnya. Sejujurmya ia juga merindukan Keenan, dan juga senang dengan kedatangan mantan suaminya itu. "Bagaimana kabarmu?" Keenan menatap lembut Mariana. "Aku baik." "Trid..aku sudah jatuh cinta padamu.Dua bulan tidak bertemu denganmu membuatku pusing. Bagaimana kalau kita rujuk? Kita mulai membangun rumah tangga yang sesungguhnya." Keenan menatap Mariana dengan tatapan memohon. "Ken , aku belum bisa memberi jawaban sekarang." "Aku tidak butuh jawabanmu saat ini , aku akan menunggumu sampai kamu menyelesaikan studymu. Dan bila saat itu tiba , aku mohon jangan tolak aku. Aku tidak menerima penolakan." "Hiss..ungkapan cinta macam apa itu." Mariana mencebikkan bibirnya. "Ha..ha... kamu lucu kalau merajuk." Keenan tergelak karena berhasil mengerjai Mariana. "Baiklah..kali ini aku serius. Aku mencintaimu Mariana Astrid , aku akan menunggumu sampai kamu yakin denganku. Untuk saat ini tutup mata dan telingamu jika kamu tahu dari orang lain tentang aku. Saat ini aku sedang berjuang untuk masa depan kita." "Salah satunya mengenai wanita yang beberapa waktu lalu bersamamu di rumah sakit?" "Namanya Kinanti , wanita yang akan dijodohkan denganku oleh Kakek. Percayalah hanya ada nama Mariana Astrid dihatiku , hanya mengingat nama itu membuat jantungku berdebar kencang. Apalagi mengingat suara emasnya saat dibawah kungku.." PLAK Mariana memukul lengan Keenan dengan map yang ada dibawah meja. "Tidak usah diteruskan." raut muka Mariana merona karena malu. "Kapan berangkat?" tanya Keenan dan raut mukanya mulai serius. "Minggu depan." "Berapa lama?" "Paling lama tiga tahun." "Jaga hatimu untukku." "Ck..harusnya aku yang ngomong begitu. Kehidupanmu kan selalu dikelilingi wanita wanita yang terobsesi dengan mu." "Ya..ya..wanita selalu benar. Tidakkah kau menawari tamumu ini sarapan?" "Ha..ha..kamu kelaparan ya? Baiklah..ayo kita sarapan." Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan berbincang bincang santai di ruang tamu, dan Mariana jadi tahu kalau ternyata Keenan ternyata pribadi yang hangat. Tidak seperti tampilan luarnya yang terkesan dingin dan arogan. ***** Di kediaman orang tua Keenan terjadi perdebatan antara Kakek dan cucu, sedangkan Juan dan Tamara tidak bisa berbuat banyak. Keduanya tidak tahu harus dipihak siapa, karena mereka sudah pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan waktu Keenan membatalkan acara pertunangan secara sepihak dengan Jesica. "Kakek tidak berhak mengatur hidupku , aku punya pilihan sendiri. Dan keputusanku sudah bulat." "Kakek akan menerima penolakanmu andai wanita yang kamu cintai itu berasal dari keluarga yang berada.Dan keputusan Kakek juga sudah bulat, kalau kamu menolak menikah dengan Kinanti , maka posisimu akan digantikan oleh Rio." "Terserah Kakek, dan dengan senang hati aku akan mengundurkan diri dari perusahaan Kakek." "Keenan, pikirkan sekali lagi Nak. Mungkin saat ini kamu sedang emosi.' Tamara berusaha membujuk putranya. "Aku sudah memikirkan ini cukup lama , jadi jangan ada yang mencoba membujukku lagi. Mulai saat ini, aku lepas dari apapun tentang urusan perusahaan Dan...aku memang cucu Kakek, tapi tidak ada yang berhak mengatur urusan pribadiku." "Ck..bisa apa kamu hidup tanpa uang dari Kakek? Semua kemewahan yang kamu rasakan selama ini itu juga dari harta Kakek." Keenan tersenyum miring dengan ucapan Kakeknya. Andaikan yang didepannya ini bukan ayah dari Mamanya, pasti sudah ia robek mulutnya. "Kita lihat saja nanti.Oh ya...sepertinya Kakek sangat menyukai Kinanti. Kenapa tidak Kakek saja yang menikah dengannya?" "Jaga mulutmu." ucap Angkasa dengan geram. "Ken..tidak baik bicara seperti itu sama orang tua." kata Juan yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan mertuanya dan anak semata wayangnya. "Maaf." "Ayah..selama ini Keenan sudah bekerja keras untuk perusahaan. Ayah juga bisa lihat , perusahaan berkembang pesat ditangan Keenan. Jadi Mara mohon biarkan Keenan menentukan pilihannya sendiri." "Anakmu itu mana bisa memilih pasangan yang tepat." "Sudahlah Ma, tidak ada gunanya bicara sama Kakek. Kalau sudah tidak ada yang dibahas lagi , aku permisi." "Mau kemana kamu?" tanya Angkasa dengan geram. "Bukan urusan Kakek."



__ADS_2