
"Apa kamu sungguh sungguh ingin membantu Papa mengurus perusahaan?" tanya Juan pada Keenan . "Ya Pa." jawab Keenan singkat. "Mama pasti senang mendengarnya." "Silahkan lanjutkan pekerjaan Papa , aku masih ada urusan." "Temani Papa makan siang." Keduanya menikmati makan siang disalah satu restoran yang tidak jau dari perusahaan Juan. "Papa tanya sedikit boleh?" kata Juan setelah mereka menghabiskan makan siangnya. "Apa yang mau Papa tanyakan?" "Papa tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Apa kamu sudah punya kekasih?" "Doakan saja semoga dia mau menerima Keenan." Keenan menyunggingkan senyum mengingat Mariana. "Kenapa?" "Dia wanita yang luar biasa. Papa dan Mama tidak akan menyesal mempunyai menantu seperti dia." Juan tersenyum mendengar ucapan Keenan. "Apa itu alasanmu menolak Kinanti?" "Itu salah satunya , yang jelas Keenan tidak suka Kakek mengatur hidupku." "Papa yakin kamu bukan Keenan yang dulu, perjuangkan apa yang memang perlu kamu diperjuangkan." Juan beranjak dari duduknya dan menepuk punggung Keenan. "Terimakasih Pa." Keenan tersenyum pada Papanya , ia sangat menghormati kedua orang tuanya , mereka tidak pernah mengekang keinginan Keenan asalkan masih dijalur yang benar.Tidak seperti..ah..Keenan jadi malas mengingatnya. Dia akan sedikit memberi pelajaran pada orang itu. Tunggu kejutan dariku Kek.' batin Keenan. DERT DERT Keenan melihat layar ponselnya dan melihat nama yang tertera , ia menyunggingkan senyum miring. [halo] [ken, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah tidak bekerja di perusahaan?] [apa urusannya denganmu?] [ah..aku cuma terkejut bukan kamu ceo nya] [bekerjalah yang baik disana, kamu harus menyelesaikan sampai habis masa kontrak kerjamu] TUT TUT Keenan mematikan sepihak ponselnya , ia tidak tahu kalau saat ini Nadya tengah uring uringan. Rencanya untuk bisa lebih dekat Keenan gagal sudah. Ia harus menyelesaikan kontrak kerja selama setahun, kalau tidak akan kena denda 10 kali lipat dari gajinya. Dan bodohnya, waktu itu ia langsung tanda tangan tanpa membaca terlebih dahulu. ****** Tamara meminta Keenan untuk pulang ke rumah atas perintah Angkasa , nama Kakek Keenan.Sedangkan di kediaman Tamara, kedatangan Kakek juga kedua orang tua Kinanti. Kinanti menyusul Tamara ke dapur untuk membuat minuman. "Saya bantu Tante." "Terimakasih ya , jadi ngrepotin." jawab Tamara. "Nggak kok Tan." dengan cekatan Kinanti menuang minuman kedalam gelas yang sudah Tamara siapkan kemudian membawanya kedepan. Kinanti merasa gugup ketika mendapati Keenan sudah ada ditengah tengah mereka. Setelah cukup beramah tamah , akhirnya Kakek Kinanti mengutarakan kedatangannya mempertanyakan kelanjutan perjodohan Keenan dan Kinanti. "Angkasa , bagaimana kalau hari pertunangan kedua cucu kita dipercepat?" kata Hendrawan, nama Kakek Kinanti. "Aku setuju.Lebih cepat lebih baik." jawaban Angkasa tentu saja disambut baik oleh Kinanti juga orang tuanya. Kinanti tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia tersenyum meskipun dengan kepala tertunduk. Lainnya halnya dengan Keenan, ia mengepalkan kedua tangannya menatap tajam Angkasa yang acuh mendapat tatapan elang dari cucunya. "Segera kita atur hari yang tepat untuk acaranya." sahut Danu, ayah Kinanti.Sementara Tamara dan Juan hanya bisa menghela nafas pelan dengan sifat pemaksa Angkasa. Andaikan Keenan meyetujui perjodohan ini , mereka tidak keberatan karena menurut mereka, Kinanti wanita yang baik. "Sebentar Kakek Hendra, Om Danu. Saya akan meluruskan sekali lagi , dari awal saya tidak pernah menerima rencana perjodohan ini. Saya sudah berulang kali mengatakan pada Kakek Angkasa. Kedatangan saya kesini untuk memperjelas bahwa saya menolak perjodohan ini." kata Keenan dengan tenang, tapi mata elangnya tetap tajam menatap sang Kakek. Kinanti dan keluarganya terkejut dengan apa yang dikatakan Keenan, karena berbeda dari apa yang dikatakan Angkasa. "Angkasa, bisa kamu jelaskan ini?" tanya Hendrawan. "Keenan ,kamu benar benar mau melawan kakek? Mau jadi anak durhaka kamu?" hardik Angkasa tidak bisa menahan emosinya. "Papa! Tahan emosi Papa." kata Tamara menenangkan Angkasa. "Kenapa Kak?" tanya Kinanti. "Aku juga sudah berkali kali bilang sama kamu Kinanti , kalau aku tidak bisa menerima kamu lebih dari sekedar teman. Harusnya kamu sadar itu." Kinanti terisak, selama ini ia tidak menghiraukan penolakan Keenan, ia fikir seiring berjalannya waktu hati Keenan akan luluh dengan semua perhatiannya. "Nak Keenan, coba difikirkan sekali lagi. Kinanti anak kami satu satunya , kebahagiaanya adalah prioritas kami." kata Manda, Ibu Kinanti. "Tidak ada yang berhak mengatur kehidupan pribadi saya. Urusan saya disini sudah selesai." selesai dengan kalimatnya, Keenan beranjak dari duduknya hendak menuju pintu keluar. "Kamu akan menyesali sikapmu hari ini.Aku akan menarik semua sahamku diperusahaanmu." Keenan menghentikan langkahnya kemudian berbalik. "Asal Tuan Hendrawan tahu , saya sudah melepas jabatan sebagai CEO di perusahaan Tuan Angkasa yang terhormat. Jadi , itu bukan lagi urusan saya." Keenan tersenyum miring kemudian melanjutkan langkahnya menjauh dari rumah orang tuanya. "Aku tidak terima cucuku diperlakukan seperti ini Angkasa." ucap Hendrawan dengan tatapan tidak bersahabat menatap Angkasa. Sedangkan Kinanti terisak dipelukan Mamanya. "Tenang dulu Hendra , aku pastikan Keenan akan menikahi cucumu." "Cukup Pa!" pekik Tamara. "Aku tidak akan mempertaruhkan kebahagiaan putraku untuk ambisi Papa. Keenan sudah memutuskan tidak menerima perjodohan ini, jadi aku harap Papa juga Om Hendrawan sekalian menerima keputusan putraku."lanjut Tamara. "Tapi Kinanti mencintai Keenan , putriku pasti akan sangat bersedih." kata Manda. [cih! dasar egois , beruntung putraku tidak menerima perjodohan ini, batin Tamara.] "Lalu bagaimana dengan Keenan? Apa kalian memikirkan putraku?" kata Juan . "Juan, Tamara jangan ikut campur." "Justru Papa yang seharusnya tidak ikut campur kehidupan putraku, masih banyak cucu Papa yang lain. Mengapa tidak Rio saja yang Papa nikahkan dengan Kinanti. Aku dan Juan sudah cukup bersabar dengan sikap Papa terhadap Keenan selama ini, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi. Keenan sudah rela menyerahkan jabatan CEO,yang ia dapatkan dengan usaha dan kerja kerasnya bertahun tahun." "Saya rasa semua sudah jelas , saya harap Om Hendrawan dan keluarga menerima keputusan Keenan. Selama ini Keenan juga tidak pernah menjanjikan apa apa. Bukan demikian Kinanti?" Juan melirik Kinanti. "Apa putraku pernah menjanjikan sesuatu padamu?" tanyanya pada Kinanti dengan tatapan mengintrogasi. Kinanti menggeleng lemah. "Kalau Om Hendrawan tidak terima , silahkan minta tanggung jawab sama Papa. Saya harap tidak ada yang mengusik Keenan setelah ini."lanjut Juan.