
Mariana berjalan setengah berlari menuju ruangan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Ia baru menyelesaikan operasi , dan diberitahu oleh salah satu perawat kalau Profesor Bastian meminta menemuinya selesai operasi. TOK TOK Mariana mengetuk pelan pintu Bastian. "Masuk." terdengar suara dari dalam ruangan. CEKLEK Mariana membuka pintu dan menutupnya kembali. "Duduk Mariana." Bastian mempersilahkan Mariana duduk. "Terimakasih Prof." "Bagaimana operasinya?" "Berjalan dengan baik Prof." "Syukurlah. Saya memanggilmu karena ada sesuatu , minggu depan saya ada seminar di luar kota selama tiga hari. Tapi...ada sedikit kendala. Profesor Jackson akan datang ke sini bertepatan dengan hari seminar diadakan , sudah lama saya mengundang beliau. Dan baru sekarang rumah sakit kita dapat kesempatan dikunjungi orang hebat seperti beliau. Jadi, saya memintamu menggantikan saya mengisi seminar." "Saya sendiri Prof?" "Tidak, ada Dokter Galih juga. Sengaja saya memilih kalian berdua , karena saya melihat kalian cocok mengisi seminar yang di adakan di kampus yang pesertanya pastinya banyak dari kaum milenial." "Baik Prof, saya akan persiapkan semuanya. Kalai begitu saya permisi." ****** Pukul sepuluh malam Mariana dan Galih tiba di hotel x yang sudah disiapkan oleh panitia penyelenggara seminar. Karena sudah malam, dan badan juga lelah, Mariana berpamitan pada Galih untuk istirahat lebih dulu. Setelah membersihkan badan, Mariana merebahkan dirinya diranjang ,menatap langit langit kamar hotel yang remang remang karena ia hanya menyalakan lampu tidur sebagai penerangan. 'mudah mudahan acara besok berjalan lancar' gumannya. Mariana berjalan beriringan dengan Galih memasuki gedung yang digunakan untuk acara. Gedung sudah penuh dengan peserta padahal acara baru dimulai setengah jam lagi. Mariana dan Galih duduk di depan podium bersama dengan rektor juga beberapa dekan. Moderator mulai membacakan susunan acara, setelah acara dibuka oleh sang rektor dan beberapa patah kata dari salah satu dekan, akhirnya tiba pada acara inti. Moderator secara bergantian meminta Mariana dan Galih, berbagi ilmu juga pengalaman yang dapat memotivasi para mahasiswa agar bertambah ilmu juga semangat mengejar cita cita mereka. Sesuai recana dengan panitia, acara akan berlangsung selama dua jam. Tapi moderator secara tiba tiba memberi pengumuman , kalau pemilik kampus akan datang dan semua peserta diminta untuk tidak meninggalkan tempat. Lima belas menit , orang yang ditunggu pun datang. Seorang pria muda berparas tampan , senyum tipis hampir tak terlihat dengan tatapan matanya yang tajam. Berjalan dengan gagah ia memasuki aula, jangan lupakan asisten setianya yang juga memiliki aura yang sama, Brian. Mariana mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan laki laki yang sedang berjalan ke depan podium, ia tidak menyangka pemilik kampus yang cukup bergengsi ini adalah Keenan, laki laki arogan yang ia kenal. Keenan menyapa orang orang yang duduk didepan podium dengan ramah , tiba didepan Mariana ia hanya tersenyum miring seperti biasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mariana pun hanya menganggukkan kepala , kemudian memalingkan mukanya. Tapi sayangnya , Keenan justru mengambil duduk persis disebelahnya. Para kaum hawa yang menjadi peserta, tak melepas pandangannya dari pemilik kampus tempat mereka menimba ilmu. Mereka tidak menyangka kalau pemilik kampus masih muda, juga tampan. Moderator berdiri didepan podium, menyuruh peserta supaya tenang terutama para wanita. "Tuan Keenan, ini keberuntungan bagi kami karena dapat bertemu dengan anda secara langsung. Saya selaku moderator, mewakili para peserta mengucapkan terimakasih berkat diadakan acara ini, kami mendapat ilmu yang berharga juga lebih semangat lagi untuk meningkatkan prestasi. Juga untuk para narasumber, dokter Galih dan dokter Mariana yang sama sama spesialis dibidangnya, masih muda dan berprestasi terimakasih sudah berbagi ilmu juga motivasinya. Untuk itu acara saya tutup. Terimaksih." Semua beranjak dari duduknya, setelah moderator mengakhiri kalimatnya. Demikian juga Mariana, ia ingi segera keluar dari tempat itu. Galih yang melihat Mariana berjalan dengan terburu buru segera menyusul dan takut ada apa apa. "Dokter Mariana." Mariana menoleh tapi, tidak menghentikan langkahnya. "Kenapa buru buru?" tanya Galih yang sudah beriringan dengan Mariana. "Eh..tidak . Saya hanya ingat masih ada yang harus saya kerjakan untuk acara besok." "Saya kira ada apa. Tidak perlu dipikirkan, nanti saya bantu." Galih tersenyum manis dan membuat Mariana canggung. "Mau langsung ke hotel atau jalan jalan? " "Ke hotel saja Dok." Galih mengangguk dan mengikuti langkah Mariana menuju parkiran. Ketika mereka hendak masuk mobil, tiba tiba suara yang cukup Mariana kenal membuat mereka mengurungkan niatnya. "Dokter Mariana, bisa minta waktunya?" Mariana menoleh dan menghela nafas dengan pelan. "Ada yang bisa saya bantu Tuan Keenan?" "Iya, sebaiknya kita cari tempat yang nyaman. Dokter Galih, saya ada perlu dengan Dokter Mariana..jadi anda bisa pulang lebih dulu. Tenang saja, Dokter Mariana aman bersama saya." ucap Keenan dengan ramah. Galih menatap Mariana, dan dibalas anngukan oleh Mariana. Akhirnya Galih kembali ke hotel lebih dulu, meninggalkan Mariana dan Keenan. Tak berapa lama, mobil sport warna hitam berhenti didepan mereka. Brian keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada Keenan. "Masuklah." Keenan menyuruh Mariana masuk mobilnya, setelah Brian membukakan pintu. "Silahkan Nyonya." dengan sopan Brian mempersilahkan nyonya mudanya masuk mobil. "Terimakasih ." Setelah Mariana memakai sabuk pengaman, Keenan melajukan mobilnya. Brian menatap mobil tuannya sampai tak terlihat lagi. ******* Keenan membawa Mariana masuk kamar hotel yang cukup mewah . Mariana mengitari pendangannya, ada ranjang king size, juga sofa dan beberapa perabot lainnya yang menurutnya berharga fantastis. " Aku sudah memindahkan barang barang mu kesini, tidak ada yang ketinggalan." "Bagaimana bisa? Dan dari mana kamu tahu aku menginap di hotel x?" "Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu. Sekarang lakukan tugasmu sebagai istri, aku menginginkanmu." Keenan sedikit berbisik tepat ditelinga Mariana, dan membuat bulu kuduk nya meremang. "Aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket." "Kalau begitu kita mandi bareng, kita belum pernah melakukannya di kamar mandi." tanpa diduga Mariana , Keenan mengangkat tubuhnya ala bridal style dan membuatnya mengalungkan kedua tangannya dileher Keenan agar tidak jatuh. Sekilas mata mereka bertemu, tapi keduanya sama sama mengalihkan pandangan. Di kamar mandi itu terjadilah sesuatau yang seharusnya terjadi antara suami istri. Mariana melayani Keenan dengan sepenuh hati, meskipun pernikahannya dengan Keenan tak pernah ia inginkan, tapi selama statusnya masih istri Keenan, ia akan menjalankan kewajibannya dengan sungguh sungguh. Itulah Mariana, wanita kuat dan tangguh yang selalu totaliatas dalam melakukan apapun. Satu jam mereka baru keluar dari kamar mandi. Keenan menyembunyikan perasaan senangnya dengan memasang wajah dingin seperti biasa. Sedangkan Mariana tampak biasa saja, ia tidak bisa memonopoli antara hati juga raut mukanya. Raut mukanya akan menampakkan suasana hatinya. "Aku lapar, bisakah kamu pesankan makanan?" "Mau makan apa?" Keenan mangambil ponselnya mencari nama seseorang. "Terserah, yang penting bisa membuat perut kenyang." Keenan menahan senyum mendengar ucapan Mariana. Sebenarnya ia pun juga lapar setelah kegiatannya di kamar mandi tadi. Selesai memakai pakaian, Mariana menuju balkon untuk menikmati udara siang menjelang sore yang cukup terik. Angin semilir menerpa tubuhnya juga menerbangkan beberapa helai rambutnya yang masih setengah basah. Ia mengingat pernikahannya sudah berjalan satu bulan , heh..masih sebelas bulan lagi' batinnya.