Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 3 Ketegaran Mariana


__ADS_3

Dua hari setelah perjanjian pra nikah ditandatangani Keenan dan Mariana,akhirnya pernikahan keduanya pun terlaksana.Pernikahan dilaksanakan di apartemen yang akan mereka tempati dan hanya dihadiri beberapa orang,karena pernikahan tersebut dirahasiakan. Harun selaku wali nikah Mariana dan Brian sebagai saksi. Setelah akad nikah selesai,tidak ada acara lagi dan semua orang meninggalkan apartemen meninggalkan dua orang yang sudah halal itu. Mariana masuk kamar hendak mengganti pakaian yang lebih longgar agar leluasa bergerak. CEKLEK Pintu kamar terbuka dan Keenan masuk dengan wajah datar dan dingin melirik Mariana sekilas. "Apa kamu mau mandi?Biar aku siapkan air untukmu." "Iya." jawab Keenan singkat tanpa melihat lawan bicara. Mariana segera masuk kamar mandi dan menyiapkan air untuk Keenan mandi.Walaupun ia tidak menginginkan pernikahan ini, tapi selama ia menjadi istri Keenan ia akan melayani Keenan dengan baik. Keluar kamar mandi, Mariana menuju lemari pakaian untuk mengambilkan Keenan baju ganti juga ****** ********. Profesinya sebagai dokter tidak membuatnya canggung walaupun baru pertama kali memegang ****** ***** pria. "Apa pakaian yang aku pilihkan sesuai?" Mariana menunjukkan pakaian yang diambilnya pada Keenan. "Atau mungkin kamu akan pergi setelah ini." lanjutnya. "Tidak." jawab Keenan dan meraih baju dari tangan Mariana lalu masuk kamar mandi.Mariana pun segera keluar kamar berniat ke dapur mengambil minum.Ia melihat lihat setiap sudut apartemen yang akan di tempatinya selama satu tahun kedepan.Terakhir ia menuju balkon dan melihat pemandangan ibu kota disore hari.Angin sore yang lembut mengibarkan beberapa helai rambutnya. Mariana memejamkan matanya merasakan semilir angin yang menyapa kulit tubuhnya yang tidak tertutup kain.Kemudian ia menghembuskan nafas panjang secara perlahan sebelum membuka matanya. {hidup harus terus berjalan,tak peduli sekeras apapun itu.setidaknya hidupku tidak sia sia dan sudah membalas budi pada pak harun.} "Apa kau akan di situ sampai malam?" suara maskulin dari seorang Keenan membuat Mariana menoleh dan menatap Keenan tanpa ekspresi. "Apa kamu butuh sesuatu?" "Buatkan aku kopi." "Kopi seperti apa yang sesuai dengan keinginanmu?" "Tidak pahit tapi juga tidak terlalu manis." "Kamu mau minum kopi di sini apa di dalam?" "Di dalam." Mariana meninggalkan Keenan dan berjalan menuju dapur.Karena tempat baru,jadi ia agak kesulitan mencari barang yang ia perlukan. Setelah beberapa menit,kopi buatannya jadi tidak pahit juga tidak terlalu manis,menurutnya.Ketika ia berbalik akan meletakkan kopi di meja,ia sangat kaget karena Keenan berada tepat didepannya. " Kamu mengagetkan saja." "Duduklah ada yang ingin aku bicarakan." Mariana duduk berhadapan dengan Keenan.Mereka berdua sama sama diam dalam beberapa detik. "Selama kamu terikat pernikahan denganku,kamu akan tinggal di sini.Sedangkan aku bebas mau tinggal di mana dan akan datang ke sini kalau aku mau." Mariana masih diam menyimak kata kata Keenan,dalam hati ia senang kalau memang benar Keenan tidak akan tinggal dengannya. "Terserah kamu.Bagiku yang yang terpenting adalah melaksanakan kewajibanku sebagai istri selama satu tahun kedepan.Aku tidak akan bertindak lebih dari itu.Aku akan mematuhi isi perjanjian itu,dan ku harap kamu juga." Keenan tersenyun sinis mendengar ucapan Mariana. Ia tidak yakin dengan ucapan wanita didepannya, baginya wanita sama saja hanya baik kalau mendapatkan keuntungan. "Ini black card, gunakan untuk kebutuhanmu kamu bebas menggunakannya.Bukannya itu yang disuka para wanita." Keenan melempar black card keatas meja tepat dihadapan Mariana. ****** Mariana sedang makan siang di kantin rumah sakit dengan sahabatnya yang bernama Daniza, dokter kandungan. Sengaja Mariana mengambil tempat di pojokan dan agak jauh dari pengunjung yang lain. Sambil makan ia menceritakan keadaan yang ia alami pada sahabat baiknya itu. "Kamu gila Na..kenapa kamu main terima saja? Apa kamu tidak memikirkan masa depanmu sendiri? Bagaimana kalau sampai kamu hamil?" "Makanya kamu harus bantu aku?" "Bantu apa?" "Bantu aku pasang IUD. Cepat atau lambat pasti laki laki itu akan minta haknya." Daniza geleng geleng kepala dengan taqdir yang harus dilalui sahabatnya. Tapi ia sangat yakin sahabatnya mampu melewati semuanya, karena bukan sehari dua hari ia mengenal Mariana. Perjuangan panjang dan keras dalam hidupnya berhasil ia lalui dengan baik hingga menjadikan Mariana sosok yang tegas juga mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Dan diusia yang masih muda sudah menjadi dokter bedah terbaik di rumah sakit terbesar di negara ini. "Kenapa tidak minum pil saja?" "Aku takut lupa." "Meskipun IUD , juga tidak bisa menjamin kalau kamu tidak hamil." "Kita lihat nanti saja." "Pulang dari sini kita langsung ke klinik temanku.Aku sendiri yang akan melakukannya." "Terimakasih Niz." Mariana tersenyum pada sahabatnya dan melanjutkan makannya. Sementara Daniza hanya berdehem menatap nanar sahabatnya. "Sudah..jangan menatapku seperti itu. Dunia tidak akan berakhir." Mariana terkekeh melihat ekspresi Daniza. ****** Pukul tujuh malam Mariana baru sampai apartemen, karena sore tadi baru melakukan operasi besar. Gurat kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia segera menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk kamar mandi berniat berendam air hangat. Ia tidak menyadari kalau ada sepasang mata elang yang menatapnya tanpa berkedip.Mariana tidak menyadari kahadiran orang itu ,karena lampu kamar tidak ia nyalakan, hanya lampu tidur yang dari semalam menyala lupa tidak ia matikan. CEKLEK Mariana keluar kamar mandi hanya berbalut handuk dengan rambut yang masih basah, menuju lemari pakaian mengambil baju ganti. Sudah menjadi kebiasaannya ia tidak memakai dalaman kalau malam hari. TAK "HAH!" Mariana memekik kaget karena lampu kamar tiba tiba menyala. Keenan berjalan mendekati Mariana dengan tatapan yang tidak biasa. "Dasar ceroboh." ucap Keenan yang sudah berdiri tepat dihadapan Mariana. "Sejak kapan kamu di kamar ini?" Mariana berusaha menormalkan degup jantungnya dan merutuki kecerobohannya. Bersyukur laki laki di depannya saat ini berstatus suami. "Sejak kamu melepas semua pakaianmu." Keenan mengikis jarak,ia menghirup aroma sabun juga sampo yang dipakai Mariana. Ia suka wangi itu,lembut dan menenangkan. "Huh...lagian kamu kenapa diam saja.Apa kamu sudah makan?" "Sudah.Kenapa pulang malam? Bukankah peraturannya kamu pulang sebelum pukul enam?" Keenan berusaha menahan kekesalannya karena Mariana melanggar peraturan yang mereka setujui. "Aku ada operasi besar, sebenarnya jadwalnya besok pagi. Tapi karena kondisi mendesak, jadi harus dilaksanakan sore ini juga." Mariana menjelaskan sesuai dengan yang sebenarnya. "Bisakah kamu geser sedikit,aku mau mengambil bajuku yang berserakan itu." Mariana melirik baju kotornya yang ia letakkan asal di lantai.Keenan melihat beberapa potong pakaian yang dilempar asal oleh pemiliknya, ia tersenyum samar saat melihat cd Mariana berwarna merah dan berenda ditengahnya. Pikiran nakalnya membayangkan sesuatu yang dibungkus cd tersebut yang sempat ia lihat tadi. {cantik dan imut, batinnya}. "Tuan Keenan." Mariana melambaikan tangannya karena Keenan tidak bergeming dari posisinya dan malah bengong. "Hem..bereskan itu. Jorok sekali." Keenan berlalu menuju ranjang. Mariana memunguti pakaiannya dan menaruhnya dikeranjang baju kotor.


__ADS_2