Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 5 Sisi lain Mariana


__ADS_3

Seperti biasa, Mariana akan bangun dari tidurnya sebelum fajar dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Selesai melakukan rutinitas bangun tidur, ia akan mempelajari sekali lagi data data pasien yang memerlukan penanganannya. Pukul setengah enam, Mbak Sulis yang menjadi asisten rumah tangganya sejak setahunyang lalu datang. "Pagi Bu Astrid." sapa Sulis pada majikannya. Orang orang terdekat Mariana akan memanggilnya dengan panggilan Astrid. Panggilan Mariana hanya dipakai kalau ada dilingkungan kerja dan formal saja. "Pagi Mbak Lis. Aku tolong dimasakkan soto daging ya." pinta Mariana pada art nya. "Siap Bu." Sulis menuju dapur dan memulai aktivitasnya. ****** "Dokter Mariana!" Mariana menoleh kebelakang,dan melihat Doter Galih melambaikan tangannya. "Pagi dokter Galih." Mariana menyapa dokter didepannya dengan tersenyum ramah. Dokter spesialis jantung yang tidak jarang menjadi partnernya dimeja operasi, sekaligus dokter yang menjadi incaran kaum hawa dikalangan rumah sakit. Menurut polling digroup group para pegawai rumah sakit, ia merupakan dokter laki laki paling tampan. Mereka berjalan beriringan masuk rumah sakit, beberapa perawat yang berpapasan menyapa dengan ramah kepada dua dokter yang dikenal dengan tangan dinginnya dimeja operasi. "Sepertinya minggu depan, kita akan bertemu lagi di ruang operasi." "Benarkah? Kasus apa Dok?" "Seperti biasa, cangkok jantung. Nanti makan siang bareng yuk. Sudah lama kita tidak makan bareng." "Lihat nanti ya Dok, kalau tidak ada yang darurat kita bertemu di kantin." "Baiklah, aku duluan ya." "Silahkan Dok." mereka pun berpisah di ujung koridor. SIANG HARI CEKLEK "Astaga! Kebiasaan sekali kamu ini, masuk ruangan orang tidak ketuk pintu dulu." Mariana menatap kesal pada Daniza . Sedangkan yang bersangkutan hanya nyengir tidak merasa bersalah sedikitpun. "Ada apa?" tanya Mariana . "Mau ngajakin kamu makan siang. Kita makan di restoran biasa, aku yang traktir." "Ada momen apa nih?" "Em...momen karena temanku sudah tidak perawan lagi." PLAK Mariana menimpuk lengan dengan buku tamu yang cukup tebal dan membuat Daniza meringis kesakitan. Ia mengusap lengannya yang sedikit panas. "Kamu ini sarapan apa sih? Tenagamu kuat banget. Sakit tau." Daniza memasang muka cemberut. "Kamu juga, ngomong nggak difilter. Kalau ada yang dengar gimana?" "Jadi benar kamu dan suamimu sudah ...anu anu?" "Berhubungan badan maksudnya? Pakai istilah segala, sok malu malu." Daniza tertawa agak keras, benar benar temannya satu ini tidak suka basa basi. "Itu maksudku. Bagaimana rasanya?" "Mau aku timpuk lagi." Mariana sudah mengangkat bukunya. "Eh..nggak. Surat izin praktekku sudah turun, jadi kamu orang pertama yang aku ajak untuk merayakan hari bersejarahku." "Dasar lebay, pakai istilah hari bersejarah segala." "Terserah apa katamu lah." Mariana tersenyum dan menoel hidung Daniza dengan gemas. "Kamu bebas pesan apa pun." "Baiklah, tapi jangan nyesel ya." "Dompetku cukup tebal Nyonya, jadi jangan khawatir." Saat berjalan menuju pintu keluar , mereka bertemu dengan Galih. Daniza yang sudah lama menaruh hati pada Galih, tampak sumringah. "Dokter Galih mau ke mana?" Daniza bertanya dengan suara yang ia buat selembut mungkin, dan itu membuat Mariana geli. "Mau makan siang." "Wah kebetulan sekali, kami juga mau cari makan siang. Bagaimana kalau kita makan di restoran depan rumah sakit." "Boleh." Daniza kegirangan karena bisa makan dengan idola di rumah sakit ini. Mereka berjalan menyebrang jalan, menuju restoran yang dimaksud. Restoran cukup ramai, karena bertepatan dengan jam makan siang. Masing masing pun memesan makanan yang diinginkan. Sambil menunggu pesana datang, mereka berbincang cukup akrab dan sesekali diselingi suara tawa meskipun pelan. Tiba tiba ponsel Daniza berdering. { halo} {baik, lima menit saya sudah sampai} {makan siang jeng} "Waduh aku ada panggilan darurat, kalian lanjutkan makannya. Tenang, aku sudah bayar." Daniza buru buru ke luar restoran, meninggalkan makanannya yang belum habis. "Kita lanjut makan Dok." ajak Mariana dan diiyakan oleh Galih. "Sepertinya hubungan kalian cukup dekat?" tanya Galih setelah selesai dengan makanannya. "Saya mengenal Daniza saat sama sama kuliah di luar negeri. Sejak itu, kami bersahabat sampai sekarang." "Dan kebetulan satu rumah sakit juga." Mariana tersenyum , seluruh pegawai rumah sakit tidak ada yang tahu, kalau Daniza adalah anak dari pemilik rumah sakit, Prof. Bastian. "Benar, mungkin juga kami memang ditaqdirkan selalu bersama." Galih tersenyum penuh arti menatap Mariana, senyum yang tidak pernah ia tujukan pada wanita manapun. "Sebentar lagi jam istirahat habis, kita kembali sekarang." Mariana melihat jam diponselnya. "Baiklah." mereka berdua beranjak dari duduknya, dan berjalan beriringan. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang dari tadi memperhatikan mereka. "Cari tahu, siapa laki laki itu." "Baik Tuan." "Segera laporkan padaku." Brian segera menghubungi seseorang dan mengirimkan foto laki laki yang berhasil ia ambil secara diam diam. ****** Sudah satu minggu sejak Keenan meminta haknya, ia belum datang lagi ke apartemen. Mariana teringat kalimat terakhir Keenan, yang menganggapnya hanya penghangat ranjang semata. Ia memejamkan matanya,mengatur suasana hatinya agar tetap tenang. Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, dan diulang beberapa kali. Saat ini ia sedang berada di balkon kamarnya, menikmati suasana kota Jakarta pada malam hari. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah waktunya ia tidur. Ketika hendak berbalik, tiba tiba ia merasakan tangan kekar melingkar diperutnya. Ia kenal dengan aroma parfum ini. "Sedang apa di sini?" suara maskulin dan sedikit serak tepat ditelinga Mariana. "Menikmati suasan malam." jawab mariana singkat. "Aku menginginkanmu, puaskan aku malam ini.Bukankah besok kamu libur? Kita bisa melakukannya beberapa kali." bukan tanpa alasan Keenan berkata seperti itu, ia tersulut amarah melihat Mariana akrab dengan laki laki lain. "Baiklah, aku akan melayanimu sampai kamu puas." Keenan tersenyum miring, senyum yang sangat Mariana benci. { cih, mari kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu} , batin mariana. "Jangan lupa kalau aku ini dokter, aku sangat hafal setiap bagian tubuh manusia juga titik sensitif kaum laki laki." Mariana tersenyum sinis dan mulai menyentuh titik titik yang ia maksudkan. Keenan tidak tahan dan segera membopong tubuh Mariana masuk kamar. Apa yang dinginkan Keenan pun terpenuhi, Mariana menepati ucapannya dengan pelayanan yang diluar ekspetasi seorang Keenan. Pukul satu dinihari, mereka baru mengakhiri permainan panas keduanya.Mereka melakukannya beberapa kali, dengan gaya yang berbeda. Karena kelelahan, Keenan langsung tertidur sebelum membersihkan dirinya. Sedangkan Mariana,ia sempatkan membersihkan dirinya terlebih dulu dan membasuh seluruh tubuh Keenan dengan handuk kecil yang sudah ia basahi dengan air hangat, kemudian ia memakaikan pakaian untuk Keenan. Dengan telaten, ia menyelimuti tubuh Keenan dan mengatur suhu ruangan.Kemudian ia keluar kamar untuk tidur di kamar lain. PAGI HARI Keenan terbangun dari tidurnya, karena suara panggilan dari ponsenya. Ia melihat dilayar ponselnya nama si pemanggil {ada apa bri} {dua jam lagi kita harus berangkat tuan} {aku tidak lupa} {baik tuan, maaf menganggu} {hem} Keenan baru sadar kalau ia memakai pakaian, seingatnya ia tertidur sebelum sempat membersihkan diri. Dengan mata yang masih mengantuk, ia keluar kamar mencari keberadaan Mariana. "Di mana majikannmu Mbak?" tanya Keenan pada Sulis yang sedang memasak. "Bu Astrid ada di kamar tamu Tuan, tadi beliau berpesan agar Tuan minum ini." Sulis menunjukkan segelas minuman yang berwarna kuning pada Keenan. "Apa ini?" "Saya tidak tahu Tuan, Bu Astrid sendiri yang buat. Katanya bagus untuk kesehatan." Keenan pun meminum minuman yang di buatkan untuknya hingga habis. "Kenapa kamu memanggilnya Astrid?" Keenan penasaran dengan panggilan Astrid yang ditujukan untuk Mariana. "Saya hanya mengikuti orang orang saja, dilingkungan panti semua memanggilnya Astrid, juga teman teman beliau. Bu Astrid dipanggil Mariana hanya kalau dilingkungan kerja." "Sudah lama kamu kenal Astrid?" Keenan pun ikut ikutan menyebut Astrid. "Kalau kenal sudah lama,saya dulu bekerja di panti. Setelah Bu Astrid kembali dari luar negeri, baru saya ikut kerja pada beliau." "Terimakasih infonya, kamu bisa kembali bekerja." "Em..apa Astrid bisa masak?" "Bisa Tuan, waktu masih tinggal di kontrakan tiap minggu pasti Bu Astrid masak untuk anak anak." Keenan menatap kamar tamu, ia hendak masuk dan berpamitan tapi ia ragu. Selama dua minggu ia akan berada di luar kota,dan tentunya rasa gengsinya lebih mendominasi. Akhirnya, ia pun pergi tanpa berpamitan.


__ADS_2