
Keenan meninggalkan rumah orang tuanya dengan perasaan campur aduk, marah , jengkel juga lega karena akhirnya bisa lepas dari tuntutan sang Kakek yang pemaksa.Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. '{Bri, kemasi semua barang barangku di kantor dan antar ke apartemenku. Tunggu aku di sana.'} ['baik bos.'] Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang , ia menepikan mobilnya di depan sebuah cafe. Ia harus menjernihkan fikirannya untuk menyusun langkah selanjutnya. Keenan mencari meja yang terletak dipinggir jendela, sehingga ia bisa melihat pemandangan diluar cafe. Ia menyesap minuman yang telah ia pesan , kemudian membuka galeri ponselnya yang berisi banyak foto wanita yang ia ambil diam diam. Saat wanita itu memasak , tidur, membaca dengan mimik wajah yang serius dan masih banyak lagi. Ia tersenyum dan mengelus permukaan ponselnya. 'perjuanganku baru dimulai , tunggulah aku.' batinnya. Setelah dirasa cukup , Keenan beranjak dari duduknya ketika tiba tiba seseorang sudah ada didepannya. "Hai Ken..kamu di sini juga? Boleh aku duduk?" sapa Nadya dengan ramah. "Duduklah , tapi aku harus pergi." Keenan berdiri tapi tangannya ditarik oleh Nadya. "Lepaskan tanganmu." Keenan menatap tidak suka atas apa yang dilakukan Nadya. "Maaf Ken,aku tidak bermaksud lancang. Boleh aku minta waktumu sebentar?" kata Nadya dengan tampang memelas dan berhasil membuat Keenan mengurungkan niatnya untuk pergi. "Perusahaan Papaku bangkrut , saat ini aku butuh pekerjaan. Bisakah aku bekerja di perusahaanmu?" Keenan diam sejenak , ia tahu beberapa waktu lalu kalau perusahaan orang tua Nadya sedang dalam masalah , tapi ia tidak tahu kalau sampai gulung tikar. "Aku tanya Vina dulu." Keenan merogoh sakunya mengambil ponsel dan menghubungi Vina , sekretarisnya. Nadya menatap Keenan dengan senyum penuh arti. Setelah Keenan menyelesaikan bicaranya , Nadya memasang muka sedih lagi. "Besok kamu bisa datang ke kantor , temuilah Vina." "Terimakasih Ken.Apa kamu masih sering kesini?" Keenan hanya mengangkat bahunya tanpa ada niat untuk menjawab. "Aku sering kali menghabiskan waktu disini kalau lagi sedih.Dulu kita selalu menghabiskan waktu disini." "Hentikan omong kosongmu Nadya, aku tidak mau denagr apapun lagi tentang masa lalu. Karena aku sudah membuang semua hal yang berhubungan denganmu." tanpa mengindahkan Nadya, Keenan beranjak dari duduknya menuju pintu keluar. Nadya tersenyum miring , langkah pertamanya berhasil. Harapannya, dengan bekerja di perusahaan Keenan ia bisa menarik perhatian Keenan lagi. Ia sangat yakin Keenan masih mencintai dirinya, terbukti sampai saat ini ia belum pernah melihat Keenan dekat wanita. [aduh..pede sekali ya nadya ini] ****** Di Apartemen Keenan Keenan dan Brian tengah berada di balkon , memandang langit sore yang begitu cerah. Sesekali Keenan menyesap rokoknya dan menghembuskan pelan hingga membuat bulatan bulatan. Sejak tidak bersama Mariana, ia mulai aktif lagi merokok. Sewaktu bersama Mariana , wanita itu akan marah kalau mencium aroma rokok pada baju Keenan. Dan nyatanya seorang Keenan bisa menghentikan kebiasaannya merokok demi Mariana. "Ini lebih cepat dari yang kita perkirakan Ken." kata Brian membuka obrolan. Sebenarnya Brian itu sahabat Keenan waktu kuliah , jadi kalau tidak sedang di perusahaan , mereka akan bicara layaknya teman. Kalau Brian memang aslinya dingin tidak banyak bicara, lain dengan Keenan, ia sebenarnya pribadi yang hangat juga ramah dengan siapapun. Ia berubah seperti Brian, karena sakit hati dengan Nadya. "Aku sudah tidak tahan lama lama dengan Kinanti ,penuh dengan kepalsuan. Ck..dasar rubah." "Apa kita tetap dengan rencana semula?" "Tidak , kamu urus perusahaan kita di Singapura. Sementara ini aku akan bekerja di perusahaan Papa." "Apa kamu akan melepas perusahaan Kakekmu begitu saja?" "Hem..aku ingin lihat bagaimana perusahaan kakek tua itu tanpa kita." Keenan menyunggingkan senyum sinis. "Baiklah..besok aku akan berangkat." "Kamu fokus saja disana , dan aku butuh seseorang yang bisa aku percaya." "Fajar salah satu yang bisa kamu andalkan." "Aku percaya dengan pilihanmu. Bagaimana dengan tugas yang kuberikan menegenai Mariana?" "Kalau untuk itu aku yang harus turun tangan langsung , anak buahku bukan lawannya. Mantan istrimu itu terlalu cerdik , ia selalu tahu kalau sedang diawasi." bukannya kesal dengan jawaban Brian , Keenan justru tersenyum membayangkan Mariana dulu pernah melabraknya karena sadar tengah diawasi. "Kamu benar , istriku memang penuh rahasia." "Ck..mantan istri kalau kamu lupa." "Terserah aku menyebutnya apa , yang jelas tidak lama lagi ia akan menjadi istriku lagi." "Percaya diri sekali , siapa tahu Mariana sudah digaet oleh salah satu profesor ganteng disana." "Kalau sampai terjadi akan aku pisahkan mereka secara paksa." ucap Keenan dengan santai. "Dasar bucin akut. Dulu kamu tidak seperti itu sama Nadya." "Setelah kenal Mariana , aku baru sadar kalau perasaanku kepada Nadya dulu hanya sebuah obsesi karena waktu itu Nadya mahasiswi paling populer di kampus dengan kecantikan juga prestasinya. Seorang Keenan waktu itu tentu saja tidak mau kalah populer." "Dan waktu Nadya menikah dengan orang lain kamu merasa harga dirimu diinjak injak , kamu tidak terima." "Benar..jadi marahku waktu itu karena bukan karena frustasi, tapi lebih karena tidak terima bisa kalah bersaing. Ck..bajingan sekali aku." "Syukur kalau kamu sadar..kamu memang bajingan." "Tapi ada baiknya juga , kamu bisa lihat karena obsesiku tidak mau dikalahkan , aku bisa membawa perusahaan orang tua itu ke puncak kejayaan." Brian memutar bola matanya malas. [ sementara kita akan fokus pada keenan dulu ya , biarkan mariana fokus dengan pendidikannya.]