
Mariana memaksa Keenan mengambil alih kemudi , ia harus segera sampai di rumah sakit karena ada meeting penting. Dengan terpaksa, Keenan menyerahkan kunci mobilnya. Mariana melajukan mobil cukup kencang , ia akan mengurangi kecepatan mobilnya jika jalanan cukup ramai. Keenan sampai mencari pegangan karena merasa ngeri dengan cara Mariana membawa mobil , meskipun begiti sudut bibirnya menyunggingkan senyum. 'rahasia apa lagi yang belum aku ketahui tentang kamu trid?' batin Keenan. Perjalanan yang harusnya ditempuh selama dua puluh menit itu menjadi sepuluh menit. Mariana membuka sabuk pengamannya, sebelum turun ia menoleh kesamping dan beradu pandang dengan Keenan yang menatapnya tajam. "Aku harap kamu tidak punya riwayat penyakit jantung." Mariana nyengir melihat muka tegang Keenan. "Kau harus dihukum karena mengemudi ugal ugalan." ucap Keenan dengan muka datarnya. "Hukumannya nanti malam saja ya...aku ada urusan penting." Mariana tersenyum dengan mengerlingkan sebelah matanya dan segera keluar dari mobil. Dalam mobil , Keenan menatap Mariana yang berjalan setengah berlari hingga tidak kelihatan dari pandangan matanya. 'awas kau nanti malam , tidak akan aku biarkan tidur dengan nyenyak' guman Keenan dengan senyum lebar. Sedetik kemudian senyum itu hilang ketika seorang wanita melintas didepan mobilnya. ***** Keenan baru saja keluar dari ruang meeting dan berjalan menuju ruangannya sampai didepan pintu sekretarisnya datang menghampiri. Sekretaris itu menundukkan kepalanya dengan takut. "Ada apa?" tanya Keenan tegas. "Bos..tadi ada wanita mencari anda. Saya sudah mengatakan kalau anda sedang meeting, tapi dia ngotot ingin menunggu anda di dalam. Dia mengatakan kalau dia orang dekat anda." "Lain kali jangan diulangi, kamu pasti tahu siapa yang boleh masuk ke ruanganku." "Baik Bos." Keenan masuk ruangannya , ia tertegun melihat seorang wanita sedang duduk disofa dengan menyilangkan salah satu kakinya. "Hai Ken...maaf aku lancang masuk ruanganmu." "Kalau sudah tahu lancang kenapa kamu lakukan." jawab Keenan dengan ketus. Ia berlalu dari wanita itu dan duduk dikursi kerjanya. Nadya tersenyum canggung, dan mendekati Keenan. "Terimakasih kemarin sudah membawaku ke rumah sakit." Nadya memegang tangan Keenan tapi ssegera ditepis oleh Keenan. "Aku sibuk..silahkan pergi." Keenan masih fokus dengan berkas berkas ditangannya. "Ken...bisakah kita kembali seperti dulu?" Keenan melirik sekilas pada Nadya. "Apa maksudmu?" "Aku sudah bercerai dari suamiku. Aku masih mencintaimu Ken." "Mengapa dulu kamu menikah dengannya kalau mencintaiku?" Keenan meletakkan berkasnya dan menatap Nadya tajam. "Aku terpaksa , kalau aku tidak menikah dengannya perusahaan keluargaku akan diambil alih." "Lalu kenapa kalian bercerai?" "Karena dia selingkuh." "Dan perusahaan keluargamu?" "Sudah stabil.." "Apa yang membuatmu percaya diri hingga memintaku untuk kembali padamu?" "Aku tahu kamu masih mencintaiku Ken. Kamu belum bisa melupakan aku." "Percaya diri sekali kamu." "Apa kejadian dipesta kemarin tidak membuktikan kalau masih ada aku dihatimu? Kau begitu khawatir saat aku pingsan." Keenan meremas berkas yang ia pegang. "Keluar sekarang atau aku yang akan menyeretmu." bukannya takut Nadya justru mendekati Keenan dan membelai wajah Keenan dengan telunjuknya. Darah Keenan berdesir takkala jari lembut dan halus itu menyentuh kulitnya. Ia memejamkan matanya , hatinya menolak tapi sentuhan itu membawanya kembali kemasa saat masih berhubungan dengan Nadya. Melihat Keenan menikmati sentuhannya , Nadya semakin berani dan mendekatkan bibirnya pada bibir Keenan. Kesadaran Keenan seperti melayang, ia menarik tengkuk Nadya dan ******* lembut bibir merah jambu itu. CEKLEK "Ups...sorry." Keenan tersadar setelah mendengar suara pintu terbuka. "Lancang!" Nadya menatap tajam orang yang membuka pintu yang ternyata Mariana. "Jaga ucapanmu Nad." bentak Keenan karena ia tidak suka Nadya membentak Mariana. Keenan melihat Mariana yang menatapnya dengan tatapan kecewa . Sekali lagi ia merutuki kebodohannya karena masih saja terbuai oleh sentuhan Nadya. Mariana kembali menutup pintu dan pergi dari perusahaan Keenan. Ia tidak bisa mengartikan apa yang ia rasakan saat ini. Meskipun ia tidak mencintai Keenan , tapi ada rasa sakit dalam lubuk hatinya yang paling dalam saat melihat Keenan bercumbu dengan wanita yang ia cintai. 'bodoh kau astrid , mengapa harus sakit hati. benar kata jeje, aku tidak boleh menggunakan hati ku.' mariana menghapus air matanya. saat ini ia telah berada dalam taksi menuju apartemennya sendiri. Di ruangan Keenan Dua orang satpam membawa Nadya keluar dari ruangan Keenan dengan paksa. Keenan mengejar Mariana ,tapi ia tidak menemukan Mariana bahkan sampai di tempat parkir. Dengan lunglai , ia kembali ke ruangannya dan memeriksa cctv dimana ia bisa melihat Mariana berjalan cepat sambil mengusap matanya. Keenan yakin saat itu Mariana menangis. Ia mencoba menghubungi ponsel Mariana tapi tidak diangkat. Ia benar benar jijik dengan dirinya sendiri , ia benci situasi seperti ini. Ia sudah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan Nadya menyentuhnya. ****** Mariana merebahkan tubuhnya di sofa apartemennya sendiri. Meskipun sudah lama tidak ditempati , tapi Sulis rutin membersihkannya tiap tiga hari sekali atas permintaan Mariana. 'kurang satu bulan , aku ingin segera lepas dari keadaan ini.' guman Mariana. DERT DERT Mariana merogoh tasnya dan mengambil ponsel yang berdering. Ia menghela nafas dengan kasar melihat orang yang menghubungi ponselnya. {ya ken} {kamu di mana trid? kenapa belum pulang} {malam ini aku tidur di apartemenku} {kenapa? apa kamu marah atas kejadian tadi} {tidak} {aku bisa jelaskan , itu tidak seperti yang kamu fikirkan} {aku capek mau istirahat} Mariana melemparkan ponselnya asal , dan masuk kamar mandi. Ia ingin segera tidur dan mengistirahatkan jiwa dan raganya, tidak lupa ia mematikan ponselnya. Pukul tiga dini hari Mariana terbangun karena merasakan ada sesuat yang menimpa perutnya. Ia melihat ada tangan kekar yang melingkar diperutnya. Dengan gerakan pelan , ia menyingkarkan tangan itu dari perutnya. 'bagaimana ia bisa masuk? seingatku aku sudah mengunci pintunya.' batin mariana. Mariana segera membersihkan dirinya dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba hingga fajar menyingsing. Pukul lima, ia embangunkan Keenan. "Jam berapa Trid?" "Jam lima , segeralah bangun dan bersihkan dirimu." selesai dengan ucapannya Mariana berlalu meninggalkan Keenan yang masih mengumpulkan kesadaran nya. Didapur , Mariana sudah membuatkan minuman hangat untuk Keenan. Ia memasak ala kadarnya untuk sarapan, menyesuaikan bahan makanan yang ada di dapurnya. Keenan menyusulnya dan duduk menghadap Mariana. Ia menyesap minuman yang dibuatkan Mariana sedikit demi sedikit karena masih hangat. Minuman khusus yang dibuatkan Mariana tiap pagi dan malam menjelang tidur. Mariana menata makanan dimeja, walaupun hanya nasi goreng dan telur ceplok tapi sudah membangkitkan rasa lapar Keenan. "Makan sekarang?" tanya Mariana dan diangguki Keenan. Mariana mengambilkan nasi dipiring Keenan ditambah telur ceplok. Dengan lahap , Keenan menyantap habis makanannya hingga piringnya bersih. "Mau nambah lagi?" lagi lagi Keenan mengangguk seperti balita. Ia juga tidak tahu mengapa lidahnya jadi kelu untuk mengeluarkan suara. Ia ngeri melihat Mariana yang terkesan dingin kepadanya. "Ken...mulai sekarang aku akan tinggal di apartemenku." kata Mariana setelah Keenan menyelesaikan makanannya. "Jesica tinggal dikawasan apartemen yang sama dengan kita. Ia juga merengek ingin nginap di apartemenku." "Apa hanya itu alasan kamu mau tinggal disini?" "Maksudmu?" Mariana memicingkan kedua matanya. "Apa kamu marah soal kemarin?" "Kemarin yang mana? Bicara yang jelas Ken?" tatapan Mariana begitu tajam dan membuat Keenan begidik ngeri. Ia merasa seperti suami yang ketahuan selingkuh. "Waktu diruanganku kemarin." jawab Keenan dengan suara hampir tidak terdengar. BRAK Mariana menggebrak meja dengan salah satu tangannya.Hingga Keenan terjengkit karena kaget dan mengelus dadanya. "Menjijikkan!" satu kata keluar dari mulut Mariana dan berhasil membuat Keenan terhempas kejurang paling dalam. Ia sendiri juga merasa jijik dengan dirinya sendiri . "Itu tidak seperti yang kamu fikirkan , aku bisa menjelas..." "Cukup! Setidaknya kamu hargai aku sedikit Ken...kamu yang memintaku datang dan tidak boleh terlambat. Apa kamu tahu..aku mengorbankan sesuatu yang penting bagiku demi memenuhi permintaanmu. Pernikahan ini tinggal hitungan hari...aku ingin mempunyai kesan yang baik dan menyenangkan saat kita berpisah nanti." GLEK Keenan kesulitan menelan ludahnya dan tersa sangat sakit ditenggorokan. Ia melupakan kalau pernikahannya dengan Mariana sudah berjalan hampir mendekati satu tahun. Itu artinya ia harus melepaskan Mariana , dan kebodohannya kemarin benar benar fatal.