
Malam ini Keenan mengajak Mariana dinner. Ia ingin memanfaatkan waktu yang masih tersisa ini untuk membahagiakan istrinya, sesuai keinginan Mariana , memiliki kenangan yang baik selama hidup bersama. Keenan menggandeng tangan Mariana saat memasuki restoran , keduanya saling melempar senyum. "Kamu pilih menu apa? Biar aku pesankan." kata Keenan. "Aku ikut kamu saja Ken." "Baiklah." Keenan memilih beberapa menu , kemudian ia melambai pada pelayan restoran. "Ken..besok Jesica mau nginap di apartemenku. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak. Bolehya?" kata Mariana penuh permohonan. "Ck...menyusahkan saja. Semalam saja." Keenan mendengus kesal. "Terimakasih Ken." Mariana tersenyum bahagia , akhirnya bisa terbebas dari rengekan Jesica. Sambil menunggu pesanan datang , mereka saling bertukar cerita. Obrolan mereka berhenti ketika pelayan mengantar makanan mereka. "Bagaimana makanan di sini? Apa kamu suka?" tanya Keenan setelah keduanya menghabiskan makanannya. "Suka...cocok dilidahku. Apa kamu sering ke sini?" "Dulu iya..tapi setahun belakangan ini aku jarang sekali makan di luar." "Kenapa?" Keenan ingin sekali menjitak kepala Mariana. Bukannya setahun belakangan ini ia sudah terbiasa denga masakan Mariana , ia sudah tak berselera makan selain masakan istrinya itu. "Karena sudah ada seseorang yang selalu masak untukku." Keenan mengerlingkan sebelah matanya. "Genit." Keenan terkekeh "Pulang yuk!" lanjut Mariana dan diiyakan oleh Keenan. Keduanya beranjak dari duduknya, tapi mereka urungkan karena kedatangan dua orang peruh baya . Mereka adalah Juan dan Tamara, orang tua Keenan. Keenan menyembunyikan rasa gugupnya, sedang Mariana tampak tenang. "Kamu di sini Ken?" tanya Tamara ketika sudah mendaratkan beban tubuhnya dikursi. "Iya Ma , kami baru selesai makan." "Selamat malam Tuan Juan , Tante Tamara." Mariana menyapa kedua orang tua Keenan dengan sopan.Juan hanya mengangguk , karena memang ayah Keenan itu tidak banyak bicara. "Malam Dok." "Ini bukan di rumah sakit , panggil nama saja Tante." Keenan menatap Mariana juga mamanya , ia tidak menyangka kalau Mariana dan orang tuanya saling kenal. "Kenapa kamu menatap Mama seperti itu?Ada hubungan apa kamu sama dokter Mariana?" "Kami berteman Tante , saya juga tidak tahu kalau Keenan ini putra Tante Tamara." Keenan mendesah dengan kasar , lagi lagi Mariana yang mengendalikan keadaan. "Ken..besok pulanglah ke rumah. Kakek ada di rumah ." "Apa Kekek akan membahas perjodohan lagi?" "Mama tidak tahu , setidaknya pulanglah untuk menemui Kakekmu." "Aku tidak mau pulang kalau Kakek tetap memaksaku untuk menerima perjodohan itu." "Kita pesan makanan saja Ma , biarkan Keenan yang bicara sama Ayah sendiri." Juan menengahi pembicaraan ibu dan anak itu. Karena kalau tidak segera ditengahi , pasti akan merembet kemana mana. "Kamu kok bisa kenal sama orang tuaku?" tanya Keenan pada Mariana. "Tentu saja kenal , Mariana ini kan pe.." "Kami bertemu di rumah sakit beberapa waktu lalu." Mariana buru buru memotong kalimat Tamara dan memberi kode pada Tamara dengan menggelengkan kepala pelan. "Kami sudah selesai makan , kami pulang dulu Ma." kata Keenan. "Iya..besok jangan sampai tidak pulang. Atau Kakekmu akan murka." "Akan Keenan usahakan." Keenan beranjak dari duduknya. "Om..Tante, saya permisi." Tamara dan Juan mengangguk bersamaan. Keduanya berlalu meninggalkan pasangan suami istri yang memandang kepergian mereka hingga keluar restoran. ******* Mariana tengah rebahan disofa ketika bel pintu berbunyi. Ia beranjak dan terlebih dulu mengintip siapa yang datang sebelum membuka pintu. CEKLEK "Malam!" Jesica tersenyum lebar ketika pintu dibuka. Mariana menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Jesica masuk , kemudian menutup pintu kembali. "Daniza nggak jadi kesini?" tanya Mariana setelah keduanya duduk disofa. "Dia masih ada urusan. Trid... ." Jesica menatap sahabatnya sejenak. GREP Tiba tiba Jesica memeluk erat Mariana , ia terisak dan membuat Mariana bingung tapi ia tidak ingin bertanya terlebih dulu. "Mengapa kamu menyimpan rahasia ini sebesar ini Trid?" tanya Jesica setelah ia melerai pelukannya. "Rahasia apa?" "Pernikahanmu." Mariana terkejut Jesica mengetahui pernikahannya. "Aku.. ." Mariana tidak sanggup melanjutkan kalimatnya , air matanya akhirnya tumpah juga setelah sekian lama ia tahan. Bohong kalau ia tidak prihatin dengan kehidupannya sendiri , selama ini ia berusaha tegar dan menerima dengan lapang. Jesica kembali memeluk Mariana, membiarkannya menangis sampai puas. "Apa laki laki itu Keenan?" tanya Jesica setelah Mariana berhenti menangis. "Iya." Jesica berdecak kesal. "Dan wanita yang ia tolong waktu dipesta itu adalah Nadya , mantan kekasih Keenan yang meniggalkannya dan menikah dengan pria lain dengan alasan hutang budi." lanjut Jesica. "Aku juga pernah memergoki mereka kantor Keenan." "Apa yang mereka lakukan?" "Kamu pasti bisa menebak kalau dua orang pernah saling mencinta lalu bertemu." Mariana mendesah pelan. "Apa kamu sudah jatuh cinta pada Keenan?" "Aku tidak tahu Je. Yang aku inginkan saat ini , secepatnya lepas dari situasi seperti ini." "Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" "Aku manusia biasa Je..aku juga bisa merasakan sakit hati. Apa lagi diawal pernikahan , Keenan memperlakukan aku kurang baik. Tapi seiring berjalannya waktu , ia mulai bersikap baik. Apa lagi mendekati hari perpisahan kami , ia bersikap layaknya suami yang baik." "Apa rencanamu setelah menjanda?" Mariana menimpuk lengan Jesica dengan bantal sofa yang ia pegang. "He..he..aku tidak salah kan. Sebentar lagi statusmu kan janda , tapi kalau kalian rujuk beda lagi." "Keputusanku sudah bulat Je..aku memilih berpisah dari Keenan." "Kalian sudah hidup bersama cukup lama , pasti ada rasa suka meskipun sedikit. Maksudku cinta." "Aku tidak tahu." "Kalau seandainya Keenan mengajakmu rujuk dengan alasan sudah jatuh cinta , apa kamu akan menerimanya?" "Tidak...aku tetap pada keputusanku." Jesica tersenyum. "Kamu pasti sudah memikirkan keputusanmu dengan matang Trid. Aku mendukung apapun keputusanmu." ****** TOK TOK "Masuk!" CEKLEK "Bos..diluar ada wanita yang ingin bertemu anda." kata sekretaris Keenan. "Siapa?" "Wanita yang tempo hari diusir satpam. " Keenan menghembuskan nafasnya denagn kasar, ia melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. 'sebentar lagi waktunya makan siang' guman Keenan. "Suruh masuk , tapi kamu temani saya disini." "Baik Bos." Tak berapa lama , Nadya masuk dengan wajah sumringah. Ia datang membawa paper bag berisi makanan untuk makan siang juga Keenan. "Siang Ken..aku membawa makan untukmu buat makan siang." Keenan hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya. "Ken..aku ingin bicara berdua denganmu, bisakah sekretarismu kamu suruh keluar." Nadya bicara dengan nada lembut. "Apa kamu tidak tahu kalau ini masih jam kerja , aku sibuk Nad. Vi..kamu periksa berkas ini." Keenan memberikan beberapa lembar dokumen pada sekretarisnya. Nadya mendengus kesal karena diabaikan oleh Keenan. Keenan dan sekretarisnya masih fokus dengan berkas ditangan mereka. Demi misi mendapatkan Keenan kembali , Nadya memasang muka tebal. "Kamu tega sekali Ken mengabaikan aku." Nadya memasang muka melas. "Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" kata Keenan agak ketus. "Tentang kita , aku ingin kita menjadi pasangan kekasih seperti dulu." Nadya tidak perduli meskipun duruangan itu ada sehretaris Keenan. "Aku tidak mau Nad , lagian aku sudah punya kekasih." "Apa wanita yang waktu itu?" tanya Nadya menyembunyikan kekesalannya. "Bukan urusanmu. Vi..aku ada urusan di luar. Kamu lanjutkan pekerjaanmu." Viola mengangguk tapi tidak beranjak dari duduknya. "Aku membawakanmu makan siang , ini aku sendiri yang masak. Aku masih ingat makanan favoritmu." Nadya tersenyum sambil mengeluarka makanannya. "Aku ada janji dengan seseorang , kamu bawa kembali makannmu atau kamu bisa makan di sini bersama Viola." Keenan beranjak dari duduknya tidak peduli dengan Nadya yang terisak karena diabaikan Keenan. "Keenan tunggu..beri aku kesempatan lagi.Aku mohon Ken." kata Nadya setelah berhasil mengejar Keenan. "Ck..kamu pikir aku apa? Dulu kamu pergi meskipun aku memohon bahkan sampai mengemis dikakimu , dan sekarang kamu kembali lagi setelah suamimu bangkrut. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu kembali." Keenan mempercepat langkahnya agar tidak terkejar oleh Nadya. Sedangkan Nadya terperangah dengan ucapan Keenan, ' keenan tahu kalau aku berpisah dengan roni karena perusahaan rono bangkrut? aahh..aku tidak boleh menyerah.' batin Nadya dengan senyum liciknya.