
Keenan menatap tajam laki laki paruh baya didepannya demikian juga asistennya,Brian.Sedangkan laki laki yang ditatap dua orang muda yang terkenal dengan dua tangan dingin dari Angkasa Raya,nama perusahaan Keenan, tak berani mengangkat kepalanya. Ia sadar kesalahannya begitu fatal,memberi kepercayaan pada anak laki lakinya untuk mengelola perusahaannya hingga mengakibatkan perusahaannya diambang kebangkrutan.Ia tidak mengetahui kalau selama ini anaknya tidak serius bekerja,hanya bersenang senang menggunakan uang perusahaan. Hingga membuat seorang Keenan murka karena ia sudah berinvestasi puluhan milyar dan berpotensi mengalami kerugian. Seorang Keenan tidak mau mengalami itu. "Bagaimana? Apa keputusan anda Tuan Harun?" Keenan menekan kata katanya. "Beri saya waktu lagi Tuan Keenan,saya janji akan mengembalikan kondisi perusahaan seperti dulu lagi." Harun terus memohon. "Bukankah aku sudah memberimu waktu yang cukup.Aku sudah muak dengan janji janjimu." Keenan menyilangkan kedua tangannya didada tapi pandangannya tetap tajam dan sanggup mengintimidasi lawan bicaranya. "Serahkan saja perusahaan itu padaku,dan aku anggap hutangmu lunas." lanjutnya. Harun nampak shock dengan penawaran Keenan,bagaimana nasibnya kalau sampai perusahaan sampai diambil alih Keenan? Keluarganya bisa jadi gelandangan dan juga ada beberapa anak anak kurang beruntung tapi berprestasi yang jadi tanggung jawabnya.Ia tidak bisa membayangkan semua itu,tiba tiba kepalanya pusing dan dadanya terasa sakit.Brian yang begitu jeli sadar akan hal itu. "Tuan Keenan." Keenan cuma menganngkat sebelah tangannya dan Brian mengangguk mengerti maksud atasannya. "Aku ada penawaran untuk anda,dan aku akan menganggap hutang perusahaanmu lunas kalau kamu setuju denganku." Harun seperti mendapat angin segar denga ucapan Keenan. "Apa Tuan?" "Apa kamu punya anak perempuan?" "Saya tidak memiliki anak perempuan Tuan." "Sayang sekali,tadinya aku ingin menukar anak perempuanmu dan ku anggap hutangmu lunas." Keena tersenyum sinis dengan kata katanya sendiri.Sementara Brian melotot tak percaya denga bosnya,apa bosnya akan menggunakan wanita tak bersalah untuk membalas sakit hatinya pada mantan kekasihnya dulu? Kalau benar dugaanya,ia akan sangat menyesal sudah memberikan informasi tentang Harun yang memiliki anak asuh seorang dokter cantik.Bahkan Brian memiliki rasa tertarik saat pertama kali melihat gambarnya.Ia menelan ludahnya denga susah,ia berharap semoga bosnya tidak melakukan hal bodoh dan gila. Harun menelan salivanya,akankah ia mengorbankan satu orang demi menyelamatkan banyak orang lain? Hatinya bimbang antara iya dan tidak. "Tuan,saya ada memiliki anak asuh meskipun bukan anak saya,tapi saya yang membiayai seluruh kebutuhannya dari bayi sampai ia mandiri seperti sekarang." "Hem..apa kamu ada fotonya?" Harun membuka ponselnya dan mencari foto wanita yang dimaksud dan menunjukkan pada Keenan. Keenan mengamati sekilas dan menarik sudut bibirnya sedikit hampir tak terlihat. "Aku menginnginkannya,kalau kamu bisa membawanya kesini hari ini aku anggap hutangmu lunas dan perusahaan itu tetap jadi milikmu." lanjutnya. Tubuh Harun begitu lemas,tapi ia tidak punya pilihan lain selai mengiyakan keninginan Keenan. ******* Di sebuah rumah sakit Seorang dokter cantik sedang duduk dikursinya sambil menyenderkan punggungnya, setelah menerima beberapa pasien. Ia tidak tahu mengapa sedari tadi hatinya tidak tenang dan merasa gelisah,tapi tidak tahu apa yang meneyebabkannya. TOK TOK terdengar suara pintu diketuk. "Masuk!" CEKLEK Harun masuk dengan wajah kusut dan lesu menatap wajah dokter cantik itu sekilas kemudian langsung menjatuhkan diri depan Mariana,nama dari dokter tersebut. Melihat Harun yang tiba tiba berlutut disampingnya membuat Mariana terkejut dan segera berdiri. "Pak Harun..jangan begini.Apa yang terjadi?" "Maafkan saya Mariana,sekali lagi maafkan saya.Terpaksa saya melakukan ini,saya tidak tahu lagi harus bagaimana." Harun tak kuasa menahan air matanya, laki laki yang tidak muda lagi itu menangis pilu dengan posisi masih berlutut. Mariana mengambil air minum juga tisu. "Bangunlah dulu Pak..tolong jangan seperti ini. Minumlah dan hapus air mata Pak Harun." Harun menuruti ucapan Mariana,setelah cukup tenang ia mulai menceritakan semuanya. Mariana mendengarkan dengan tenang dan seksama tanpa menyela sedikitpun. Setelah Harun bercerita, Mariana tampak berfikir dan mengetuk ngetukkan jari telunjukknya di atas meja . TUK TUK "Antar saya kesana Pak." ucap Mariana dengan yakin. "Saya ingin tahu apa yang diinginkan orang itu sebenarnya." lanjutnya. "Baiklah.Maafkan saya Nak...andai saya bisa saya tidak akan mengorbankan kamu." kata Harun dengan sedih. "Sudahlah Pak..pasti ada hikmah dibalik semua ini.Yakinlah semua akan baik baik saja, dan saya pastikan perusahaan akan tetap milik Pak Harun.Ayo kita berangkat,saya bawa mobil sendiri dan akan mengikuti Bapak di belakang." Harun mengangguk dan tanpa membuang waktu mereka segera berangkat menuju kantor Keenan. ****** Sampai di kantor Keenan, Harun dan Mariana langsung diantar sekretaris Keenan menuju ruangan bos perusahaan tersebut. CEKLEK pintu dibuka dari luar. "Tuan..tamunya sudah datang." ucap sekretaris. "Suruh masuk." jawab Brian mewakili bosnya. Harun dan Mariana masuk ke ruangan,Brian yang sedang duduk , reflek berdiri begitu melihat Mariana secara langsung. Begitu juga Keenan,ia tidak menyangka bahwa aslinya lebih cantik.Tapi kisah masa lalunya tiba tiba mendominasi sehingga ia berfikir bahwa semua wanita pasti sama. Brian tidak berkedip menatap Mariana, Keenan yang menyadari itu langsung meremas pundak asistennya cukup keras. Augh..ucap Brian lirih.Ia baru sadar bahwa sudah berlaku tidak sopan ,pikirnya. Tapi tidak dengan Keenan, ia berfikir Brian sudah lancang berani menatap wanitanya. Eh tunggu, wanitanya? Sejak kapan Mariana menjadi wanitanya, pikirnya. "Silahkan dudu Tuan Harun dan Nona..?" Brian sengaja menghentikan kalimatnya. "Mariana." jawab Mariana tegas. "Oh nona Mariana.. . Apakah Nona sudah tahu kenapa Tuan Harun membawa Nona kesini?" Brian mulai keinti pertemuan. "Saya tidak tahu." "Akan saya jelaskan." Brian mulai menjalaskan maksud Mariana dibawa juga keinginan Keenan. Mariana diam sesaat dan sudah menjadi kebiasaannya selalu mengetukkan jarinya bila sedang berfikir. Tapi kali ini tidak cukup satu jari, tapi lima jari dan bergerak bergantian. Kemudian menatap Keenan yang sedari tadi mata elangnya Keenan tidak berpaling memperhatikannya. "Apa benar kalau saya bersedia menikah dengan Anda,hutang Pak Harun lunas dan Anda tidak mengambil alih perusahaannya?" Keenan mengangguk. "Kalau begitu saya ingin dibuatkan surat perjanjian secara resmi dan juga ada saksi." Brian menatap Keenan dan dibalas anggukan. "Nanti saya buatkan. Dan ini perjanjian antara Nona dan Tuan Keenan." Brian menyerahkan kertas yang berisikan poin poin perjanjian selama Mariana terikat pernikahan dengan Keenan. Mariana menerima dan mulai membaca poin demi poin dan sesekali tampak alisnya berkerut. "Saya tidak setuju kalau saya harus berhenti bekerja, saya akan tetap bekerja." Mariana menatap tajam Keenan , tidak ada rasa takut sedikitpun berhadapan dengan laki laki dingin dihadapannya. { menarik...satu kata dari brian untuk mariana} tapi cuma berani diucapkan dalam hati. "Alasannya?" akhirnya Keenan bersuara. "Pernikahan ini hanya satu tahun,dan saya tidak tahu apa akan terjadi dalam satu tahun itu. Kedua perjuangan saya tidak mudah sampai berada dititik ini." "Keberatan diterima. Ada lagi?" "Apa saya juga harus melayani kebutuhan batin anda?" Brian dan Keenan melongo dengan pertanyaan to the point nya Mariana,tapi tidak dengan Harun karena ia sudah tahu karakter anak asuhnya tersebut. {sepertinya bos akan mendapat lawan yang seimbang, batin Brian}. Keenan tetap memasang wajah datar menutupi rasa malunya mendengar pertanyaan absurt itu. "Kamu sudah dewasa,pasti tahu kewajiban istri." jawab Keenan.