
Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan. Tepat satu bulan, Mariana menjalani hari harinya tanpa Keenan. Ia hanya keluar untuk bekerja dan langsung pulang. Untuk semua kabutuhannya, ia menyerahkan pada Sulis. Sebulan juga ia dan Keenan tidak saling bertemu atau sekedar bertukar kabar.Keduanya sama sama menyibukkan diri dengan aktivitas masing masing. Selesai melakukan kunjungan pada pasien , Mariana langsung masuk ke ruang kerjanya untuk makan siang.Ia tak lagi makan di luar seperti dulu. Ia tiap hari membawa bekal untuk makan siang. CEKLEK Tanpa melihat kearah pintu , Mariana sudah tahu siapa yang membuka pintu. Ia heran dengan anak pemilik rumah sakit ini , selalu saja buka pintu tanpa mau mengetuknya terlebih dahulu, dan kalau ditegur jawabanya sama, 'sorry lupa'. "Woy!...selalu saja makan duluan." celetuk Daniza.Sejak Mariana bawa bekal dan makan siang di ruangannya, Daniza pun tak mau ketinggalan. Tiap jam makan siang ia akan ke ruangan Mariana. "Jangan cerewet, cepat makan." jawab Mariana, kemudian ia melanjutkan makannya. Daniza membuka tempat bekalnya dan mulai memasukkan makanan kemulutnya. Keduanya makan dalam diam karena memang itu salah satu adabnya. "Pulang kerja nyalon yuk?" kata Daniza setelah mereka selesai makan. Mariana mencubit kedua pipi Daniza dengan gemas. "Anak ini benar benar ya...selama tiga bulan ini aku hanya keluar untuk pekerjaan dan urusan darurat saja." "Huh! Masih dua bulan lagi dong." Daniza menyenderkan punggungnya disofa sambil memeriksa beberapa email yang masuk keponselnya. "Kamu sudah tahu kabar terbaru dari mantan suamimu Trid?" kata Daniza lagi. "Belum. Sudah sebulan ini kami lost kontak." ******* Di tempat lain Keenan tengah menikmati makan siang di ruang kerjanya. Sebenarnya ia tidak berminat sama sekali untuk makan makanan yang dibawakan Kinanti , wanita yang akan dijodohkan dengannya oleh sang kakek. Kinanti dengan telaten dan senang hati menyiapkan makanan untuk Keenan. "Mau nambah lauknya Kak?" tanya Kinanti dengan lembut. "Nggak, aku sudah kenyang." jawab Keenan."seandainya astrid yang ada didepanku saat ini, aku pasti tidak menolak.' batin keenan. "Kinanti, aku sudah selesai makan dan juga masih banyak pekerjaan. Jadi pulanglah." mendengar ucapan Keenan, seketika membuat Kinanti sedih. Tapi ia tetap tersenyum didepan Keenan , ia bertekad akan mengejar cinta Keenan dengan dukungan semua keluarga. "Iya Kak..besok Kak Keenan mau dimasakkan apa?" HUH! Keenan menghembuskan nafas dengan kasar kemudian memijit kedua pelipis nya. Ia benar benar pusing tiap hari menghadapi Kinanti yang seperti tidak mengerti dengan ucapannya. "Kinanti , ini terakhir kali aku bicara denganmu. Aku menolak perjodohan kita, aku tidak perduli dengan ancaman Kakeku. Aku ucapkan terima kasih untuk usahamu selama ini . Tapi maaf, aku benar benar tidak bisa membuka hati untuk wanita lain. Jadi jangan repot repot lagi untuk menarik simpati dan perhatianku." Kinanti menunduk menyembunyikan matanya yang sudah mengembun. "Aku pulang dulu Kak. Dan aku belum menyerah untuk mendapatkan cinta Kak Keenan." Kinanti tersenyum dan segera keluar dari ruangan Keenan. Kinanti adalah cucu dari sahabtnya kakek Keenan , mereka sengaja menjodohkan kedua cucunya untuk lebih menguatkan kerjasama antara dua perusahaan tersebut. Keenan mendapatkan ancaman dari kakeknya kalau tidak mau menerima perjodohan ini ,posisi Keenan sebagai CEO akan digantikan oleh adik sepupunya andai ia menolak. Dan yang membuat Keenan semakin tidak menyukai Kinanti adalah gaya bicaranya yang dibuat buat , seolah ia wanita yang lemah lembut. Tidak seperti Mariana, meskipn wajahnya terkesan datar dan cuek, tapi Keenan bisa melihat ada ketulusan dan kesungguhan dari hatinya.Mengingat Mariana, Keenan jadi teringat akan mantan istrinya itu. Ia memejamkan matanya mengingat Mariana, mengingat saat istrinya itu dibawah kendalinya mendengar suara erotisnya dan juga semua perhatiannya untuknya tanpa berniat untuk mendapatkan simpati Keenan. "Aku merindukanmu." ucap Keenan sambil mencium foto Mariana yang tersimpan digaleri ponselnya. TOK TOK "Masuk." jawab Keenan ketika ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. "Bos..ada seseorang yang ingin bertemu." "Siapa?" "Nadya Bos." Sekali lagi Keenan menghembuskan nafas dengan kasar. "Suruh masuk." Vina pun keluar untuk memanggil Nadya.Tak berapa lama, Nadya masuk dan diikuti oleh Vina. "Siang Ken." sapa Nadya. "Hem." jawab Keenan dengan singkat.Kali ini hatinya lebih tenang berhadapan dengan Nadya, karena ia sudah yakin hatinya berlabuh untuk siapa. Ia juga sudah melupakan saki hatinya pada Nadya , mungkin inilah cara Tuhan mempertemukannya dengan Mariana, wanita yang saat ini ada dalam hatinya. "Ken..aku minta maaf atas sikapku selama ini yang membuatmu tidak nyaman." Nadya menjeda kalimatnya melihat reaksi Keenan. Sementara Keenan tetap bergeming , ia menyenderkan bahunya dikursi kebesarannya dan kedua tangannya ia lipat didepan dada dengan tatapan elangnya. Nadya kesusahan menelan ludah karena hatinya menciut mendapat tatapan tajam dari Keenan, tapi demi misinya ia akan mengesampingkan rasa takut juga malunya. "Aku benar benar minta maaf. Kalau begitu aku permisi." Nadya tersenyum kemudian beranjak dari duduknya berjalan kearah pintu, dalam hati hati ia berharap Keenan akan memanggil namanya dan menahannya untuk tidak pergi. Tapi sayangnya, keinginannya itu hanya sekedar keinginan. Ketika ia menoleh kebelakang, Keenan tetap pada posisinya. Akhirnya terpaksa ia membuka pintu dan keluar dari ruangan Keenan. "Kamu boleh keluar Vin." kata Keenan pada sekretarisnya setelah Nadya keluar. "Iya Bos." ******* Mariana berjalan beriringan dengan dua sahabatnya, Jesica dan Daniza. Jesica sengaja menjemput Mariana di rumah sakit karena ketiganya berencana akan bermalam di apartemen Mariana.Ketika sampai di parkiran , tak sengaja mereka berpapasan dengan Keenan bersama Kinanti. "Selamat sore Dok." sapa Kinanti pada Mariana. "Sore Nona Kinanti. Mau jemput Adit?" jawab Mariana dengan ramah. "Benar.Dokter mau pulang?" "Iya. Saya permisi." Mariana tersenyum dan menatap Keenan sekilas, kemudian masuk mobil Jesica.Keenan menatap sendu kepergian Mariana. "Kak Keenan kenal sama dokter itu?" tanya Kinanti. "Dokter?" Keenan balik tanya. "Iya , itu tadi Dokter yang mengoperasi Adit. Dia dokter bedah terbaik di rumah sakit ini." "Oh ya?" sahut Keenan. "Benar Kak , setahun lalu waktu kakek operasi dia juga yang menangani. Kabarnya dia akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini." hati Keenan seakan tercubit mendengar ucapan Kinanti. "jadi benar, kamu akan melanjutkan studymu ke luar negeri.' batin Keenan. "Ini ruangan Adit Kak. Masuk yuk." Keenan dan Kinanti masuk ke ruangan Adit yang mengalami kecelakaan tunggal beberapa hari lalu. Adit adalah adik Kinanti. Didalam mobil, Mariana lebih banyak diam, ia tidak begitu mengikuti obrolan unfaidah Jesica dan sepupunya itu. Ia terbayang pertemuannya dengan Keenan setelah hampir dua bulan mereka berpisah. "Namanya Kinanti , perempuan yang akan dijodohkan dengan Keenan." kata Jesica seakan tahu apa yang difikirkan Mariana. "Kamu masih update berita mengenai mantan calon tunanganmu juga ya." celetuk Daniza. "Nggak juga, beberapa hari lalu aku bertemu Tante Tamara.Beliau bercerita kalau Keenan dipaksa Kakeknya untuk menerima perjodohan itu, kalau tidak mau, posisi Keenan sebagai CEO akan digantikan oleh adik sepupunya." "Terus bagaimana keputusan Keenan?" tanya Daniza antusias. "Keenan belum memberi keputusan pada Kakeknya. Keenan bilang pada Mamanya, kalau ia sudah mempunyai wanita yang sangat ia cintai. Tapi yang jelas bukan Nadya." kata Jesica sambil melirik wanita yang saat ini ada disampingnya demikian juga Daniza yang duduk dibelakang menoel pinggang Mariana. "Kalian ini kenapa sih?" "Idih ..sok sokan nggak ngerti. Pasti yang dimaksud Keenan itu kamu." kata Daniza. "Aku tidak mau terlalu berharap."