Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 4 Laki laki labil


__ADS_3

Selesai membereskan pakaiannya, Mariana duduk di depan meja rias guna melakukan ritual malam sebelum tidur. Ia mengoleskan cream malam diwajah dan lehernya dilanjutkan denga serum. Terakhir ia mngambil hand body dan dibalurkan di tangan juga kakinya. Semua itu tak lepas dari pantauan mata elang Keenan. { dasar wanita,mau tidur saja ribet}, batinnya. Mariana hendak membuka pintu tapi tertahan oleh suara Keenan. "Mau kemana?" Mariana berbalik dan menatap Keenan. "Mau ambil minum, apa kamu juga mau diambilkan?" Keenan mengangguk, dan Mariana pun keluar kamar. Dada Keenan berdetak lebih cepat ditambah lagi pangkal pahanya sudah mengeras dari tadi. Mariana masuk dengan membawa dua gelas air putih. Keenan kesuliatan menelan salivanya melihat Mariana yang berjalan makin dekat dengannya, ia yakin saat ini wanita itu tidak memakai daleman sama sekali. {apa dia sengaja menggodaku}, fikirnya. Mariana meletakkan gelas Keenan di atas nakas, sedangkan gelasnya ia letakkan di atas meja rias. Segera ia naik ke tempat tidur dan merebahkan dirinya tapi sebelum itu sudah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. "Aku tidur dulu, selamat malam Tuan Keenan." Mariana memejamkan matanya dan tak lama terdengar tarikan nafasnya sudah teratur menandakan kalau ia sudah tidur. Keenan melongo, apa apaan ini?bisa bisanya ia langsung tidur begitu saja? ia ingin protes, tapi percuma karena wanita itu pasti sudah berada di alam mimpi.Ia mengamati wajah cantik yang sudah pulas disampingnya itu. Bibir merah, tidak begitu tebal, hidung mancung dan mata agak sipit persis mata wanita negeri gingseng. Kulit putih bak susu. CUP Keenan mengecup bibir wanita yang sekarang sudah halal untuknya itu. Ia tersenyum sambil meraba bibirnya sendiri. Sebenarnya ia tahu semua kegiatan yang dilakukan istrinya itu, karena ia memiliki mata mata untuk mengawasi setiap gerak gerik Mariana. Ia maklum kalau Mariana pasti sangat lelah, karena hari ini ia melakukan beberapa kali operasi. Keenan pun ikut merebahkan dirinya dan miring menghadap Mariana. Kepalanya berdenyut karena adik kecilnya tidak mau tidur. Ia akan menunggu sampai Mariana cukup istirahat dan harus tanggung jawab menidurkan adik kecilnya. ***** augh! Mariana menggeliat, ia terbangun karena merasa haus . Begitu membuka mata ia kaget karena Keenan menatap dengan tatapan yang penuh arti. "Apa tidurmu pulas?" tanya Keenan dengan suara terdengar seksi ditelinga Mariana. "Iya. Tapi aku haus." Mariana bangun dari tidurnya hendak mengambil air minum, tapi Keenan sudah menyodorkan minumannya. "Minum." "Terimakasih." Mariana mengambil gelas dari tangan Keenan dan meminum beberapa teguk. " Kamu tidak tidur dari tadi?" "Aku menunggumu bangun." "Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" "Iya, aku membutuhkanmu. Aku menginginkanmu saat ini." masih dengan wajah datar, Keenan menatap Mariana serius. Mariana menelan salivanya, meskipun ia sudah menyiapkan diri ,tapi bagi wanita yang baru akan melakukan hubungan suami istri pasti ada rasa takut. "Apa kamu takut?" Keenan memindai wajah Mariana yang kelihatan agak gelisah. "Sedikit." "Rileks..aku akan melakukannya dengan lembut." perlahan Keenan mengikis jarak, dan mulai melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan terhadap wanita yang berstatus istri tersebut. Keduanya larut dalam rasa yang baru pertama mereka lakukan, setelah satu jam bemandi peluh akhirnya Keenan berhasil mengeluarkan bibit kecambahnya ke tempat yang seharusnya. Keduanya sama sama mengatur nafas ,menatap langit langit kamar dengan pikiran dan suasana hati yang tidak sama. Mariana menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan tidur dengan posisi membelakangi Keenan. Sedangkan Keenan masih tetap tidak berubah posisi, ia tersenyum tipis teringat rasa yang baru seumur hidup ia rasakan. {sepertinya aku akan lebih sering melakukannya} , katanya dalam hati. Lain lagi dengan Mariana, meskipun matanya terpejam, tapi hatinya bergejolak. Ada rasa tidak rela ketika sesuatu yang ia jaga, di ambil oleh seseorang yang baru dikenal meskipun itu suaminya sendiri. {ini baru awal astrid, kamu harus kuat.hal seperti ini pasti akan terjadi lagi, lagian kamu tidak berzina. } mariana bermonolog dalam hati. "Apa kamu sudah tidur?" suara maskulin itu membuatnya menoleh dan merubah posisi tidurnya menghadap laki laki disampingnya. "Belum, ada apa lagi?" "Apa kamu menyesal telah melakukannya denganku? Bukan dengan laki laki yang memang kamu inginkan." Keenan seakan tahu apa yang di rasakan Mariana saat ini. "Menyesal atau tidak pun, sama saja. Hal ini pasti akan terjadi. Kamu susah menikahi aku, dan aku juga sudah bersedia menjadi istrimu jadi kamu berhak atas diriku." Mariana masih menatap Keenan dan menunggu laki laki itu berbicara. "Apa alasan yang sebenarnya kamu mau menikah denganku?" "Bukannya kamu sudah tahu alasanku." "Karena uang." Keenan berkata dengan nada sinis. Mariana menghembuskan nafas panjang, hatinya agak tercubit dengan ucapan Keenan, meskipun bisa dikatakan itu benar. "Kamu benar, karena uang. Dengan aku menikah denganmu, setidaknya hidupku ada manfaatnya. Aku bisa menyelamatkan beberapa orang yang menggantungkan rezekinya melalui Pak Harun. Dan aku juga bisa membalas kebaikan Pak Harun padaku selama ini." hati Keenan yang sudah tertutup oleh luka masa lalunya tidak bisa melihat ketulusan Mariana. Baginya Mariana sangat pintar mengambil kesempatan, dengan menjadi istrinya Keenan akan mencukupi semua kebutuhannya juga apartemen mewah yang di tempatinya saat ini dan lagi black card yang ia berikan. "Cih..kamu pandai sekali bicara." "Terserah, aku tidak terlalu pusing dengan penilaian orang terhadapku." Mariana meraih piyama dan segera memakainya. "Meskipun statusmu istriku, tapi bagiku kau tidak lebih dari wanita penghangat ranjang." Mariana mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tidak sakit hati dengan perkataan Keenan,baginya dicela atau pun dipuji sama saja. Ia hanya ingin menimpuk mulut laki laki di depannya dengan barbel. "Kau benar, aku hanya penghangat ranjangmu. Aku akan mengingatnya." selesai dengan ucapannya, Mariana menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia akan berendam lagi, biar otaknya agak dingin. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Keenan segera memakai pakaiannya dan keluar apartemen. Hatinya tiba tiba merasa marah dan benci, tapi tidak tahu karena apa. Ia melajukan mobilnya menuju club malam, tempat yang selalu ia datangi kalau suasana hatinya tidak baik. CEKLEK Mariana keluar kamar mandi dengan pekaian lengkap. Ia tidak mau kecolongan lagi. Ia mengitari pandangan keseluruh sudut kamar, tapi tidak mendapati Keenan. 'mingkin ia di luar, gumannya. Setelah mengeringkan rambutnya, Mariana mengambil tas kerjanya dan mengambil map coklat berisi data salah satu pasien yang harus ia operasi. Satu jam berkutat dengan berkas ditangannya, dan Keenan tak kunjung masuk, Mariana berniat tidur. Tapi sebelum tidur, ia mengganti sprei yang terdapat noda darah kesuciannya. Ia mencuci pas dibagian noda itu dan menaruhnya dikeranjang baju kotor. Ia keluar ingin melihat keberadaan Keenan, tapi tidak mendapati laki laki itu. Akhirnya ia pun masuk kamar dan melanjutkan tidurnya. Untuk saat ini ia hanya ingin fokus pada pekerjaanya, sebagai kepala dokter bedah.Fokusnya tidak boleh pecah saat dimeja operasi, karena nyawa pasien taruhannya. Alasan inilah yang membuat kepribadian Mariana menjadi pribadi yang disiplin juga tegas, ia tidak suka bertele tele dalam menghadapi masalah apapun. Terlebih lagi membawa urusan pribadi dalam pekerjaan.


__ADS_2