
Mariana mengerjapkan matanya, perlahan ia membuka matanya dan mengambil ponsel di meja nakas guna melihat waktu. Ketika hendak bangun, ia baru sadar kalau ada tangan kekar yang melingkar diperutnya, ia lalu menoleh kesamping. Keenan tidur dengan pulas, terdengar tarikan nafanya yang terdengar teratur. Dengan perlahan, Mariana menyingkirkan tangan kekar itu dari perutnya. Dirasa Keenan tidak terusik , ia pun berjalan perlahan menuju kamar mandi. Selesai dengan rutinitasnya , Mariana mengambil berkas berisi riwayat pasien yang akan ia operasi nanti siang. Dengan serius ia mempelajari sekali lagi. Sejak pulang dari kota B, Keenan tiap hari pulang ke apartemen. Meskipun sikapnya masih dingin dan seakan acuh dengannya, tapi Mariana tetap melayani segala keperluan Keenan dengan baik , mulai dari membuka mata dipagi hari hingga berangkat tidur pada malam hari. "Jam berapa sekarang?" tanya Keenan dengan suara serak, membuat Mariana menoleh kearahnya dan tersenyum. "Baru pukul empat dini hari , tidurlah lagi. Aku akan keluar kalau kamu merasa terganggu." "Tidak perlu , apa kamu ada operasi lagi?" "Nanti siang aku ada operasi besar. Dan itu membutuhkan persiapan yang lebih ." "Lanjutkan saja, dan bangunkan aku pukul enam." Keenan kembali melanjutka tidurnya, dan Mariana juga melanjutkan membacanya. ****** "Tuan , ada Nona Jesica di luar." "Jesica? Mau apa ia kesini?" "Bagaimana Tuan?" Brian menunggu keputusan bosnya , dalam hati ia berharap Keenan tidak menemui Jesica. Ia cukup senang melihat kehidupan bosnya setelah menikah. Emosi bosnya sudah mulai stabil dan juga tidak gila kerja , jadi ia punya waktu lebih untuk istirahat. Tapi kalau Jesica masuk di kehidupan bosnya lagi, pasti ia yang akan pusing mengurusi wanita itu. Jesica pernah bertunangan dengan Keenan karena perjodohan oleh kedua orang tua mereka , tapi waktu itu Keenan membatalkan perjodohan secara sepihak karena ia sudah punya kekasih. Tapi sayang, kekasihnya memilih menikah dengan laki laki lain dengan alasan hutang budi. Semenjak itu Keenan berubah menjadi pendiam dan emosinya sering tak terkendali. "Biarkan dia masuk." "Kalau begitu saya permisi." Brian kembali ke ruangannya , tapi terlebih dulu menghampiri Jesica dan menyuruhnya masuk. CEKLEK Jesica masuk keruangan Keenan dengan senyum sumringah , setahun ia tinggal di luar negeri sejak Keenan memutuskan pertunangan mereka. Sebenarnya ia belum bisa melupakan laki laki yang masih mengisi hatinya itu. "Apa kabar Ken?" tanyanya dengan senyum menghiasi bibirnya . "Seperti yang kau lihat , aku baik." jawab Keenan dengan wajah datarnya. "Kau tidak berubah Ken..tetap angkuh." "Ada apa kau kemari?" "Ha..ha..apa kau tidak merindukan teman masa kecilmu ini? Sudah setahun kita tidak bertemu." "Ayolah Jes, aku tidak ada waktu untuk basa basi. Waktuku sangat berharga." "Baiklah baiklah..aku butuh pekerjaan. Aku ingin bekerja di kantormu ." Keenan memijit pelipisnya , ia belum tahu posisi yang pas untuk Jesica andai ia memperkerjakan Jesica di perusahannya. "Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan keluargamu?" "Huh..aku ingi suasana baru. Aku ingin kerja di perusahaan orang lain." "Lalu kenapa kamu memilih perusahaanku" "Aku malas membuat surat lamaran." "Aku belum bisa memberi jawaban sekarang, aku harus bicara dengan Brian." "Kamu ini kan bosnya, kenapa pakai tanya Brian segala?" Jesica kesal karena Keena selalu melibatkan Brian. Rencana untuk mendekati Keenan bisa gagal kalau Brian ikut campur. Ia sudah tahu kalau Keenan tidak jadi menikah dengan kekasihnya , tapi waktu itu ia harus menyelesaikan kuliahnya. "Terserah aku, kamu tidak punya hak melarangku." Keenan mulai emosi dengan sikap Jesica , wanita itu masih sama , manja dan keinginannya inginnya selalu dituruti. "Maafkan aku, bukan begitu maksudku. Kalau begitu aku pergi , aku ada janji sama Tante Tamara mau menemaninya ke salon." "Hem." Jesica keluar dari ruangan Keenan dengan hati dongkol , tapi ia tidak akan menyerah kali ini, ia bertekad akan mendapatkan Keenan. ****** "Bagaimana hubunganmu dengan suaminmu?" Mariana dan Daniza sedang menikmati makan siang mereka di kantin rumah sakit. "Sudah seminggu ini dia pulang ke apartemen. Sikapnya masih sama , menurutmu apa yang mesti aku harapkan?" "Mungkin dia bisa sedikit bersikap selayaknya seorang suami." "Untuk saat ini aku tidak ingin berharap apapun dari nya , dia tidak mencekikku saja sudah baik." Daniza tergelak. "Dasar kau ini , apa saat kalian berhubungan kau juga menikmatinya?" PLAK Reflek Mariana menggeplak paha Daniza cukup keras dan membuat Daniza meringis mengusap ngusap pahanya. Ia heran, mengapa tenaga Mariana bisa sekuat ini. 'apa dia ikut kelas tinju, tenaganya kuat sekali' , batinnya. "Aku kan cuma nanya?" "Huf...pertanyaan nggak ada mutunya." "Memangnya berapa sih hutang Pak Harun?" "Puluhan milyar. Sudahlah, ngapain dibahas juga. Bagaimana klinikmu?" "Lumayan , mungkin dalam waktu dekat aku akan menambah tenaga beberapa perawat lagi." "Aku ikut senang mendengarnya. Kita balik yuk, habis ini aku ada meeting sama Dokter Fajar." "Oke. Besok kamu ada waktu nggak?" "Kenapa?" "Kita sudah lama nggak jalan. Aku ingin nyalon." "Lihat besok ya." keduanya berjalan meninggalkan kantin. DERT DERT Mariana melihat layar ponselnya yang menyala dan menampilkan nomer baru. {selamat siang} {apa aku menganggu?} 'keenan', batin mariana. {nggak, aku baru selesai observasi dan mau pulang} {datanglah ke kantorku } {sekarang?} {hem} {baiklah} Sementara itu di ruangan Keenan, laki laki itu tersenyum setelah menutup ponselnya. Entah mengapa ia begitu merindukan istri kontraknya itu. Seminggu tinggal bersama istrinya, ia mulai bisa merasakan kalau Mariana wanita yang baik. Wanita itu selalu melakukan kewajibannya dengan baik. TOK TOK "Masuk." "Tuan, di luar ada seorang wanita katanya anda yang menyuruhnya datang." kata sekretaris Keenan. "Suruh masuk." sekretarinya mengangguk dan keluar. Tak berapa lama Mariana masuk ruangan di antar oleh sekretarisnya. "Kamu boleh keluar dan tutup pintunya. Dan untuk aku tidak menerima tamu, siapapun itu." " Baik Tuan." setelah pintu tertutup, Keenan memencet remot untuk mengunci pintu. Ia menoleh kearah Mariana dan menyuruhnya mendekat. "Ada apa?" tanya Mariana setelah ia berada di samping Keenan. "Duduklah sini." Keenan menepuk pahanya, agar Mariana duduk . "Apa kau menyuruhku datang hanya untuk duduk seperti ini?" Mariana tidak tahu apa yang dinginkan Keenan sebenarnya , laki laki itu menyuruhnya duduk dipangkuannya , sedang ia fokus dengan laptopnya. "Diamlah dulu, aku lagi membaca laporan yang baru saja masuk." setelah selesai, Keenan mematikan laptopnya dan beralih menatap Mariana. Ia menelusuri wajah Mariana dengan jari telunjuknya. "Kita lakukan di sini." Keenan melepas dua kancing kemeja Mariana yang atas. "Di sini?" Mariana belum faham apa maksud Keenan. "Ya, dengan posisi seperti ini." suara Keenan semakin serak dan pandangan sudah berkabut. Mariana menghela nafas pelan ' jadi ia memintaku ke sini untuk melayaninya? sadar mariana, bukankah ini memang sudah menjadi kewajibanmu' mariana berbicara sendiri, tapi hanya mampu ia ucapkan dalam hati.