Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 17 Hari itu datang juga


__ADS_3

Keenan mengecup kening Mariana cukup lama usai mereka melakukan hubungan suami istri , Mariana merasa dadanya sedikit bergemuruh. "Aku akan membersihkan diri. Kamu istirahatlah kalau masih lelah." kata Keenan sebelum ia turun dari ranjang, Mariana mengangguk karena tubuhnya memang lelah. Entah berapa kali Keenan mengajaknya bercinta tadi malam , dengan alasan untuk terakhir kali. Karena sudah mendekati waktu subuh, Mariana mengurungkan niatnya untuk tidur. Toh hari ini hari minggu , jadi ia akan tidur nanti setelah matahari sudah muncul. Mariana membuat minuman hangat untuk mengisi perutnya yang sudah meronta minta diisi. Keenan keluar dari kamar dengan membawa map di tangannya, duduk disofa menunggu Mariana menyelesaikan kegiatannya. "Minumlah selagi hangat." Mariana memberikan minuman yang ia buat pada Keenan. "Hem.. ." Keenan meneguk minumannya. "Ini untukmu , bukalah." Keenan memberikan map yang ia bawa tadi pada Mariana. "Apa ini?" "Bukalah dulu nanti aku jelaskan." Mariana membuka map tersebut dan melihat isinya , ia menatap Keenan minta penjelasan. "Itu ada surat kepemilikan apartemen yang pernah kita tempati , juga sertifikat sebidang tanah dan ada black card. Aku berikan untukmu, anggaplah sebagai bekal dariku setelah kita berpisah." Keenan menghentikan kalimatnya , suaranya seperti tercekat ditenggorokan. "Ini terlalu banyak Ken. Aku tidak bisa menerima semuanya." Mariana meletakkan map dimeja. Keenan menghela nafas , ia sudah menduga wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri ini akan menolak. Keenan menggenggam kedua tangan Mariana , ia tersemyum lembut. "Kamu bebas menggunakannya , aku tidak keberatan kalau mau kamu jual sekalipun. Karena aku ikhlas memberikannya , tidak ada istilah kebanyakan kalau suami memberikan hartanya untuk istri sepertimu. Aku mohon terimalah Trid , dan aku minta maaf selama menjadi suamimu aku banyak mebuatmu menderita. Aku akui , tujuanku mengikatmu bukanlah hal yang baik." Mariana masih diam memberikan waktu untuk Keenan bicara. "Aku melakukan semua ini karena aku sakit hati , aku benci pada wanita yang menikah karena uang. Tapi setelah aku banyak menghabiskan waktu bersamamu , aku bisa melihat kalau kamu wanita yang berbeda , kamu wanita paling spesial yang pernah aku kenal." "Baiklah , aku akan menerima. Tapi jangan marah kalau aku benar benar menjual semua pemberianmu dan menguras habis uangmu." Mariana dan Keenan sama sama terkekeh. "Apa rencanamu selama tiga bulan kedepan?" Keenan bertanya begitu karena waktu tiga bulan adalah masa iddah untuk Mariana. "Tadinya aku berencana untuk mengundurkan diri , tapi setelah aku pertimbangkan kembali aku akan tetap bekerja. Banyak yang harus aku biayai." "Kamu bisa tetap dirumah , nanti aku yang akan menanggung semua keperluanmu." Mariana menggeleng. "Aku sudah menduganya." lanjut Keenan. "Ken..terimakasih untuk semuanya. Dan aku juga minta maaf, aku juga belum bisa menjadi istri yang baik untukmu." "Trid, seandainya kamu melihatku di suatu tempat, dan aku tidak menyadari keberadanmu, tolong sapalah aku." "Hah..kalau kamu lagi sama kekasihmu ? Apa aku juga mesti nyamperin?" Keenan tergelak dan mengacak acak rambut panjang Mariana. "Aku akan bilang pada kekasihku kalau kamu adalah mantan terindahku." Mariana mencebik mendengar gombalan Keenan. "Kamu jadi melanjutkan studymu?" Mariana mengangguk. "Aku boleh mengunjungimu kalau aku merindukanmu?" "Tidak boleh." jawab Mariana cepat dan membuat Keenan mengernyitkan kedua alisnya. "Kenapa?" tanya Keenan. "Disana aku hanya fokus belajar , agar cepat selesai. Setelah itu aku akan mulai memikirkan masa depan." "Maksudnya apa?" Mariana nyengir dan mengusap tengkuknya. "Hem..mencari suami yang mau sama janda seperti aku." Keenan melongo dengan jawaban Mariana. "Kenapa bengong gitu? Apa ada yang aneh dengan ucapanku?" "Kalau aku mengajakmu rujuk apa kamu mau?" entah mengapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Keenan, padahal ia sudah menahan diri untuk tidak mengataknnya. "Kamu jangan bercanda." "Aku serius Trid." kepalang tanggung , akhirnya Keenan pun mengakui niatnya pada Mariana "Biarlah waktu yang akan menjawabnya Ken,aku belum bisa memberi jawaban sekarang. Menurutku sebaiknya kita berpisah dulu , untuk memberi ruang pada hati kita untuk menentukan pilihannya." "Apa kamu akan menerimaku nanti kalau aku sudah yakin dengan pilihan hatiku?" Mariana tersenyum , apa keenan sedang menyatakan cinta ?' pikirnya. "Kita lihat saja nanti, apa dihatimu ini hanya ada nama satu wanita, Mariana Astrid." ucap Mariana sambil menyentuh dada Keenan. "Baiklah , aku akan pastikan dihatiku hanya ada nama wanita yang saat ini ada didepanku.Dan saat itu tiba , aku akan menagih janjimu untuk kembali hidup bersamaku." kata Keenan dengan mantab. " Aku tunggu waktu itu." jawab Mariana dengan menyunggingkan senyum. "Boleh aku memelukmu?" kata Keenan meminta izin karena takut Mariana akan menolak. "Saat ini aku masih istrimu." mendengar kata kata Mariana , Keenan menyeringai. "Jangan berfikiran macam macam." pungkas Mariana seakan tahu apa yang ada difikiran Keenan. "Hanya satu macam , memelukmu yang lama." tak menunggu lama, Keenan merapatka tubuhnya dan memeluk Mariana erat. Bulir bening tampak mengembun dipelupuk matanya. 'mungkinkah aku sudah jatuh cinta dengan astrid? mengapa berat sekali melepasnya?' batinnya. Beda dengan Mariana , sedari awal ia memang sudah membentengi hatinya agar tidak terlalu memakai perasaan karena ia sadar hari ini pasti akan tiba. Tapi sebagai manusia biasa, ia juga merasa sedih dan kehilangan sosok laki laki berstatus suami. Kenangan ketika bersama tidak mungkin begitu saja bisa dilupakan atau akan tetap tersimpan rapi dimemori otaknya. Keenan melerai pelukannya setelah menghapus air matanya. Ia menangkup wajah Mariana dengan kedua tangannya, mendaratkan kecupan singkat dibibir merah itu. "Aku pamit , jaga diri baik baik. Kalau ada apa apa segera kabari aku." kata Keenan dengan suara serak dan diangguki oleh Mariana. Keenan beranjak dari duduknya berjalan menuju pintu. "Ken.. ." Keenan menghentikan langkahnya dan berusaha tersenyum kemudian berbalik. GREB Mariana menghampiri Keenan dan memeluknya erat , air mata yang sedari semalam ditahan akhirnya tumpah juga. Ia terisak dipelukan dada bidang itu. Keenan dengan lembut menepuk pelang punggung Mariana. "Bisa nangis juga ternyata." goda Keenan dan Mariana memukul pelan dada Keenan kemudian melerai pelukannya. Keenan menghapus air mata Mariana dengan ibu jarinya . "Kamu fikir aku robot." keduanya tertawa tapi tidak tahu apa yang membuat mereka tertawa, atau mungkin hanya untuk menutupi perasaan masing masing. "Jaga kesehatan Ken..makanlah tepat waktu." lanjut Mariana dan diangguki oleh Keenan.


__ADS_2