Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 11 Bertemu Jesica


__ADS_3

Sejak Keenan dan Mariana sepakat untuk memperbaiki hubungan , hubungan keduanya semakin dekat. Meskipun masih sebatas rasa sebagai teman tapi hal itu membuat Mariana bisa lebih tenang. Ia tidak harus mengolah emosi tiap bersama Keenan. Sedangkan Keenan , sikapnya pun sudah hangat terhadap Mariana. Tidak jarang kalau tidak ada pekerjaan , ia mengajak Mariana makan siang bersama. Ia juga sering menjemput Mariana kalau bisa pulang lebih awal , dan juga mengikuti orang orang terdekat Mariana yang memanggil Mariana dengan panggilan Astrid. Mariana sendiri sebenarnya tidak keberatan , mau ia dipanggil Mariana ataupun Astrid. {nanti siang kita makan siang di tempat biasa} {sepertinya nggak bisa ken , aku harus mendampingi profesor bastian menyambut tamu dari luar negeri} {kalau begitu pulang aku jemput , aku akan mengajakmu belanja} {iya..kabari aku kalau sudah sampai} Keenan tersenyum setelah mematikan ponselnya, ia berencana mengajak Mariana belanja dan membelikannya gaun untuk menghadiri undangan rekan bisnisnya. Di rumah sakit Mariana berjalan cepat menuju ruangannya , ia baru ingat kalau ada janji dengan Keenan untuk belanja. Diujung lorong ia berpapasan dengan Daniza yang juga hendak pulang. "Jalanmu seperti dikejar hantu saja." seloroh Daniza . "Ini lebih dari seram dari hantu." "Ada apa sih?" "Keenan mau menjemputku dan sudah dalam perjalanan." "Ya sudah , aku duluan ." "Oke , hati hati." Daniza tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju parkir. Sepuluh menit kemudian , Keenan sudah sampai di halaman rumah sakit dan tersenyum ketika dilihatnya wanita cantik berjalan mendekati mobilnya. Mariana segera masuk mobil dan duduk disamping Keenan kemudian memasang sabuk pengaman. ******* Di tempat perbelanjaan , Mariana memilih beberapa barang yang dibutuhkan sedang Keenan berjalan dibelakang mengikuti langkah Mariana. Selesai dengan pembayaran , Keenan membawa Mariana ke butik yang juga berada mall tersebut. "Kenapa kita kesini Ken?" tanya Mariana bingung karena ia tidak berniat membeli baju. "Lusa aku ada undangan pesta , dan aku ingin mengajakmu pergi." jawab Keenan sambil memilih baju yang sesuai untuk Mariana. "Sepertinya ini bagus , cobalah." Keenan memilih dua gaun dan meminta Mariana untuk mencobanya. Mariana keluar dari ruang ganti dan menghampiri Keenan. "Ken..bagaimana menurutmu?" Mariana saat ini berdiri didepan Keenan dan laki laki itu diam sejenak. "Coba yang satunya lagi." Mariana mengangguk kemudian masuk ke ruang ganti lagi. Tak berapa lama , Mariana keluar lagi dengan gaun yang berbeda. "Aku menyukai gaun yang kedua ini." ucap Keenan . "Kamu pintar juga memilih gaun." puji Mariana . "Aku sengaja menyesuaikan dengan karaktermu." Mariana mengangkat kedua bahunya karena memang ia tidak begitu memahami fashion. Dalam memilih pakaian ,baginya yang utama pakaian itu sopan dan warnanya tidak menyolok. Ketika keduanya hendak keluar butik , seorang wanita berpakaian cukup seksi mendekati keduanya dengan senyum lebar. "Keenan... ." sapa wanita tersebut dan membuat Keenan menghembuskan nafas dengan kasar. "Siapa dia Ken?" lanjut wanita itu yang tak lain adalah Jesica. "Dia.." "Saya temannya ." sahut Mariana cepat karena ia melihat Keenan tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Jesica. Sedangkan Keenan menatap Mariana dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Saya Jesica , mantan tunangannya Keenan." Jesica mengulurkan tangannya dan disambut oleh Mariana. "Saya Mariana." "Mariana!" Jesica mengernyitkan kedua alisnya , seperti mengingat ingat sesuatu. "Namamu mengingatkanku pada seseorang." lanjutnya lagi. "Kami harus pergi Jes." Keenan menarik tangan Mariana keluar dari butik. "Hei..tunggu! Kita harus bicara Ken." Jesica menyusul Keenan dan Mariana yang sudah berada diluar butik. "Kami lapar, mau mencari makan." sahut Keenan. "Kalau begitu aku ikut." "Kita cari makan di sini saja Ken." usul Mariana dan diangguki oleh Keenan. Akhirnya mereka bertiga makan makanan cepat saji yang tersedia di mall tersebut. Keenan sengaja meminta Mariana untuk duduk disebelahnya, berhadapan dengan Jesica. "Kemarin malam aku dan Tante Tamara mampir ke apartemenmu , tapi kata petugas yang yang sedang berjaga, kamu sudah lama tidak pulang." UHUK UHUK Mariana yang sedang mengunyah makanannya tiba tiba tersedak , dan Keenan segera memberikan minumannya. "Minumlah." Mariana meraih minuman yang diberikan Keenan dan meminumnya sedikit untuk menghilangkan sakit ditenggorokannya. "Aku tinggal di apartemen yang lain." jawab Keenan mencari alasan yang tepat. "Kok kamu nggak bilang Tante Tamara? Kemarin beliau sengaja datang ke tempatmu, karena susah dua minggu kamu tidak ke rumah." "Aku akan mengunjungi Mama besok." mata Jesica berbinar mendengar Keenan akan pulang besok. "Hem..Mariana , sudah berapa lama kamu mengenal Keenan?" tanya Jesica pada Mariana. "Baru beberapa bulan." "Semoga saja kalian memang hanya berteman." ucap Jesica dengan senyum sinis. "Kamu tidak punya hak mencampuri urusan kami Jes." sahut Keenan dengan geram. "Bukan begitu maksudku Ken...aku akan menunggumu besok di rumah." "Senang bertemu denganmu Mariana , aku pulang dulu." Jesica berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya , baru beberapa langkah ia berbalik dan menatap Mariana sekali lagi. 'aku seperti familiar dengan wajahnya , tapi siapa ya?' guman Jesica. 'sudahlah , mungkin aku terlalu merindukannya. aku harus segera ke rumah tante tamara' Jesica melanjutkan langkahnya kembali , melupakan tujuannya untuk berbelanja, ia berniat ke rumah orang tuanya Keenan . Sebenarnya Jesica sendiri bingung dengan perasaannya sendiri , apa ia masih mencintai laki laki yang sudah memutuskan pertunangan mereka setahun yang lalu. Atau keinginannya untuk mendapatkan Keenan hanya sekedar obsesi belaka? Huh! Jesica menghela nafas dengan kasar , 'lama lama aku seperti tidak punya harga diri , mengemis cinta pada laki laki yang jelas jelas tidak mencintaiku.masa bodoh dengan keenan , lebih baik aku bersenang senang dengan tante tamara saja.' Jesica menambah laju mobilnya. Di tempat lain , Mariana tengah menata barang barang yang baru ia beli di dapur. Semenjak hubungannya dengan Keenan membaik , ia lebih sering memasak sendiri sesuai permintaan Keenan. "Perlu bantuan?" Mariana menoleh kebelakang dan tersenyum. "Sudah selesai." jawabnya singkat. "Kamu kenapa?" tanya Keenan karena melihat Mariana dari tadi lebih banyak diam. "Aku pengen mandi dan segera istirahat." Mariana berlalu dari hadapan Keenan , tubuhnya terasa gerah dan lengket. Ia ingin berendam diair hangat untuk merilekskan urat uratnya yang tegang. Di dapur , Keenan tersenyum smirk dan menunggu beberapa saat, kemudian ia pergi ke kamarnya. CEKLEK Dengan langkah pelan, Keenan masuk ke kamar mandi mendekati bathtup dimana Mariana berendam dengan mata terpejam. Kemudian ia melepas semua pakaiannya dan .. BYUR Seketika Mariana membuka matanya dan kaget karena Keenan sudah berada di tempat yang sama dengannya. PLAK! Mariana memukul lengan Keenan cukup keras sampai Keenan meringis, tapi sedetik kemudian ia tersenyum devil dan membuat Mariana begidik. "Bukannya kamu sudah mandi." ucap Mariana bersungut sungut karena terganggu dengan adanya Keenan. "Sudah , tapi aku ingin mandi lagi." "Kamu menggangguku saja." Mariana hendak berdiri tapi dengan cepat tangannya dicekal oleh Keenan. "Kita belum pernah melakukannya disini." Keenan sudah merengkuh tubuh Mariana dan memeluknya dari belakang. Mariana akhirnya pasrah , niatnya ingin menikmati waktu sendiri , nyatanya akan gagal karena ia merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh bagian belakang tubuhnya. "Bebalik dan duduk dipangkuanku." pinta Keenan dengan suara serak dan pandangannya yang sudah berkabut oleh gairah. Akhirnya acara berendam Mariana gagal total dan menjadi aksi penyatuan keduanya didalam bathtup. Kamar mandi yang tidak seberapa luas itu dipenuhi dengan suara kecipuk air yang tumpah akibat pergerakan liar dua orang yang berada didalam bathtup juga suara ******* yang saling bersahutan.


__ADS_2