Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 13 Keenan kesepian


__ADS_3

[trid..maaf aku ta..} {tidak usah mengkhawatirkan astrid , ia aman bersamaku. kamu urus saja kekasihmu itu} {siapa kamu} {aku temannya , aku akan melindunginya dari pria pecundang sepertimu} {apa maksudmu} {apa maksudku? apa kau tidak punya otak? bagaimana bisa kau meninggalkan astrid dipesta sendirian? kau begitu paniknya melihat kekasihmu pingsan.} {apa kau jesica?} {iya, dan lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Om Juan dan Tante Tamara kalau tahu kejadian malam ini} TUT TUT Jesica memutus secara sepihak , matanya merah karena geram.Mariana hanya melongo, ia tidak faham dengan hubungan masa lalu Keenan dan Jeje. "Ayo aku antar pulang." "Eh..tidak usah. Aku naik taksi saja atau nunggu Keenan." "Jangan harap Keenan akan ingat kamu.Kalau begitu kamu tidur di apartemenku saja.Aku akan bercerita banyak hal tentang pecundang itu." "Aku bilang Keenan dulu." Mariana sungguh bingung saat ini , ia juga ingin melepas rindu dengan Jeje, tapi ia juga harus izin dengan Keenan lebih dulu. "Aduh..merepotkan saja. Sini ponselmu." Jesica mencari kontak Keenan dan menghubunginya. {halo trid..aku akan men..} {astrid akan menginap di apartemenku.} {nggak bisa jes, aku akan menjemputnya} {sebelum kamu selesai dengan wanita itu, astrid akan aku bawa} Sekali lagi Jesica menutup telpon secara sepihak, dan menyerahkan kembali pada Mariana. "Kamu hoby sekali menutup telpon sepihak." ucap Mariana sambil memasukkan ponselnya kedalam tas. "Ayo kita pulang." Jesica menarik tangan Mariana menuju mobilnya diparkir. Mariana hanya geleng geleng kepala dengan sifat sedikit bar bar temannya yang tidak berubah. Jesica mengendarai mobil dengan kecepatan sedang , ia ingin menikmati udara malam yang cukup dingin bersama Mariana. Ia tersenyum mengingat waktu kecil , ia sering keluar rumah pada malam saat Papinya belum pulang atau saat di luar negeri. Ia akan main ke panti , yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Ia akan mengajak Mariana untuk bersepeda dengannya , ia juga yang mengajari Mariana kecil naik sepeda. "Kamu kerja di mana Trid?" "Di rumah sakit MEDISTRA." "Yang benar..yang punya rumah sakit itu adiknya Papi." "Profesor Bastian?" "He..eh." "Jadi kamu masih saudara sama Daniza?" Mariana tidak menyangka dua sahabat baiknya adalah saudara. "Ck..dokter kandungan itu. Kamu tahu , gara gara dia mengikuti jejak papanya , aku kena imbasnya." "Maksudnya?" "Kakek akhirnya memaksaku untuk kuliah ambil jurusan bisnis , membantu Papi mengelola perusahaan. Kamu kan tahu, apa cita citaku." Mariana tersenyum dan mengusap lengan Jeje. "Disyukuri saja..Daniza juga sama. Jadi dokter bukan pilihannya , ia ingin jadi artis." Jesica tertawa keras mendengar ucapan Mariana mengenai Daniza. Perutnya sampai sakit karenanya. "Ketawamu mengerikan." celetuk Mariana karena telinganya pengar dengan tawa Jeje yang cukup keras. "Ups..sorry. Ada ada saja anak itu , pengen jadi artis. Bisa digantung sama Kakek." "Alah...kamu sendiri juga sama. Pengen jadi guru karate , gara gara ketos kita yang jago ilmu bela diri." "Jangan buka aib." Mariana tergelak melihat muka Jeje yang kesal. "Apa kamu dekat sama Daniza?" "Dekat sekali.. . Waktu kuliah ia selalu ngekor dibelakangku, padahal jurusan kami berbeda." Jesica mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. {datang ke apartemenku sekarang juga} {malas..aku sudah tidur} {orang tidur mana bisa jawab telpon. cepet..ini penting} {iya..iya} "Daniza?" tanya Mariana memastikan. Jesica mengangguk , dan membelokkan mobilnya di kawasan apartemen yang cukup mewah. Sedetik kemudian , ia membelalakkan matanya. 'bukankah ini kawasan yang sama dengan apartemen yang aku tempati bersama Keenan? astaga , dunia ini sempit sekali' mariana bermonolog dalam hati. "Kamu kenapa Trid? Sepertinya gelisah?" 'Aku nggak nyangka, kamu tinggal di sini." "Baru kemarin aku pindah. Ayo masuk! Daniza pasti sudah ngomel ngomel, karena kelamaan menunggu." "Maksudnya?" "Daniza juga pindah kesini." "Apa?" kepala Mariana semakin berdenyut. ****** Di tempat lain , tepatnya di apartemen Keenan, laki laki itu tampak uring uringan karena Jesica membawa Mariana. Ia mengacak acak rambutnya denga kasar , ia menendang sofa beberapa kali. flashback off Keenan menggendong Nadya menuju mobilnya , ia meletakkan Nadya disamping kemudi.Segera ia melajukan mobilnya berniat menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit terdekat , ia membantu Nadya turun dan memanggil perawat yang sedang berjaga. Begitu melihat seragam yang dipakai perawat ia jadi ingat Mariana. Seketika , ia merutuki kebodohannya telah melupakan Mariana. Setelah mengetahui, bahwa Nadya hanya kelelahan , Keenan memesan taksi untuk mengantar Nadya pulang ke rumahnya. Tentu saja hal itu membuat Nadya kecewa . Dalam perjalanan pulang , Keenan menghubungi Mariana tapi sayang yang mengangkat panggilannya justru Jesica. flashback on 'gimana caranya menyuruh astrid pulang? kalau aku telpon, nanti jesica lagi yang angkat.bodoh..bodoh! bisa bisanya aku mengabaikan astrid' Keenan bicara sendiri. Sampai tengah malam ia belum bisa memejamkan matanya , biasanya jam segini ia sudah pulas karena tenaganya terkuras sehabis olah raga malam dengan istrinya.Keenan benar benar frustasi , kemudian ia bangun dan mencari ponselnya yang ia lempar entah kemana. Akhirnya Keenan memutuskan keluar menuju balkon kamarnya , menatap bintang bintang yang bertebaran dilangit . Sekitar tiga puluh menit ia berdiri dengan kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas. Sebenarnya saat seperti ini , ia ingin sekali merokok. Keinginan itu urung ia lakukan , mengingat Mariana tidak menyukai bau asap rokok. Karena udara semakin dingin dan matanya juga terasa berat , Keenan memutar badannya berniat masuk kamar. Tiba tiba telinganya mendengar suara tawa beberapa wanita di balkon bawah kamarnya. 'suara cempreng itu mirip suara jesica' Keenan menajamkan lagi telinganya. 'itu seperti suara astrid ' Keenan segera masuk kamar mencari ponselnya , setelah ketemu ia mengirim pesan pada Mariana. {kamu di mana? sedang apa sekarang?} Menunggu selama hampir lima belas menit , akhirnya pesannya dibaca terbukti centangnya berubah menjadi warna biru. Tapi tidak juga ada balasan hingga tiga puluh menit. Akhirnya Keenan tertidur pukul dua dini hari , karena menunggu Mariana membalas pesannya. ****** {aku langsung berangkat ke rumah sakit} {kenapa tidak pulang dulu?} {ini urgent, nanti aku ceritakan} {jam makan siang, aku akan menjemputmu} {iya} Keenan mendengus, ia tidak semangat pergi ke perusahaannya, padahal pagi ini ada meeting. Berharap Mariana akan pulang pagi dan melakukan ritual suami istri seperti biasa gagal total. SIANG HARI Keenan menjemput Mariana di rumah sakit untuk makan siang. Senyum licik tersemat dibibirya, ia sudah punya rencana untuk mengganti rutinitas malamnya yang terganngu karena ulah Jesica , lebih tepatnya ulahnya sendiri. "Kenapa kita ke sini Ken?" Keenan tidak menjawab pertanyaan Mariana , setelah menutup pintu dan menguncinya Keenan menghimpit tubuh Mariana ditembok dan menyerang bibirnya dengan buas. "Aku merindukanmu , kita lakukan dulu baru makan." Keenan membopong tubuh Mariana dan merebahkannya diranjang. Sesuai permintaan Mariana, tidak boleh lama lama karena jam istirahat Mariana terbatas. Setelah penyatuan yang singkat itu , keduanya mandi bareng untuk mempersingkat waktu. Niatnya hanya mandi , tapi justru Keenan semakin liar di kamar mandi. Andai Mariana tidak mengancamnya , pasti Keenan tidak akan berhenti. Keenan keluar kamar mandi dengan muka sumringah, beda dengan Mariana yang memasang muka datar. Gara gara ulah Keenan di kamar mandi , waktu makannya tinggal beberapa menit. "Pelan pelan makannya." kata Keenan yang melihat Mariana makan dengan buru buru. Mariana melirik sekilas tidak menghiraukan Keenan.


__ADS_2