Rahasia Dokter Mariana

Rahasia Dokter Mariana
Bab 8 Kekesalan Mariana


__ADS_3

{ada apa} {hari ini aku tidak langsung pulang, mau ke panti dulu} {ya} huf! Mariana menghembuskan nafas dengan kasar. ' yang kuat mariana , kamu jangan berharap lebih dari keenan atau kamu akan lebih sakit lagi ' Mariana berbicara sendiri sambil merapikan berkas berkas di atas mejanya. Sore ini ia sudah berjanji dengan ibu panti untuk datang , sejak menikah dengan Keenan ia jarang mengunjungi panti. Mariana kecil tumbuh di panti , hingga Pak Harun yang menjadi salah satu donatur mengetahui kalau Mariana anak yang cerdas dan selalu berprestasi akhirnya tergerak untuk memasukkan Mariana di sekolah yang lebih maju. Di tempat lain , Keenan sedang mengadakan meeting dengan salah satu klien di sebuah cafe. Tangannya mengepal dengan kuat ketika matanya melihat wanita dari masa lalunya tengah tertawa bahagia dengan pasangannya , mereka saling melempar senyum. Yang laki laki beberapa kali menyuapkan makanan kemulut wanita itu. Brian yang melihat ada perubahan pada raut muka bosnya , mengikuti kemana arah pandang bosnya. Ia menelan salivanya saat melihat siapa yang dilihat bosnya. 'nadya' batin Brian. "Bos ..kita pulang sekarang?" "Hem." keduanya segera keluar dari cafe. Selama dalam perjalanan , tidak ada yang mengeluarkan suara. Brian tahu suasana hati Keenan sedang tidak baik. Jam delapan malam , Mariana baru sampai di apartemen. Ia berfikir Keenan belum pulang , karena penerangan belum dinyalakan. Ia menyalakan lampu pada ponselnya untuk mencari tempat saklar. TAK , lampu akhirnya menyala. "HAH!" Mariana memekik kaget karena Keenan tengah duduk disofa dengan tatapan yang tajam. "Mengapa lampunya tidak kau nyalakan? Aku kira kamu belum pulang." "Apa sudah cukup bersenang senangnya?" kata Keenan dengan dingin. "Apa maksudmu?" "Bukannya ke panti hanya alasanmu saja? Kamu pasti baru baru bersenang senang dengan kekasihmu." "Kamu ini bicara apa? Aku memang habis dari panti. Dan juga, aku tidak punya kekasih." Mariana hendak melangkahkan kakinya, tapi tiba tiba Keenan mencekal lengannya dengan kasar. "Wanita sepertimu pintar sekali mencari alasan. Dengan alasan balas budi , berapa yang kamu dapatkan dari Harun itu hah?" Keenan menaikkan nada suaranya. "Cih! Kau tidak ada bedanya dengan wanita wanita penghibur." Mariana memejamkan matanya , menahan agar air matanya tidak keluar. Setegar tegarnya Mariana , ia juga manusia biasa yang punya hati. Sudah enam bulan ia hidup dengan Keenan , selama itu ia berusaha kuat dengan semua sikap laki laki yang menjadi suaminya. "Kenapa diam? Apa kau tidak punya alasan untuk berkilah?" Keenan melepaskan cengkeramannya dan mendorong Mariana hingga jatuh kesofa. Kemudian ia mencumbu Mariana dengan kasar. "Keenan jangan seperti ini. Kau menyakiti aku." Mariana berusaha melepaskan diri dari kungkungan Keenan. "Kau mabuk Keenan , aku mohon hentikan." Telinga Keenan seakan tuli, ia tidak menghiraukan rintihan Mariana yang terisak dan terus menghentakkan miliknya denga kasar. Selesai melakukan penyatuan Keenan ambruk dan langsung tertidur . Sambil terisak Mariana bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi ia menumpahkan semua kesedihannya dengan menangis. ******* Keenan terbangun dari tidur menjelang dini hari , ia memijat pelipisnya karena kepalanya agak sakit. Ia memandang sekeliling dan heran seingatnya tadi ia di ruang tamu menunggu Mariana, tapi kenapa ia bisa di kamar? dan juga bajunya sudah ganti dengan piyama? Ia mengambil minuman yang berada diatas nakas, kemudian meminumnya sampai tandas . Ia tidak tahu minuman apa yang siapkan Mariana , tapi rasa sakit dikepalanya mulai menghilang dan ia mulai bisa mengingat yang terjadi. 'ya Tuhan , apa yang sudah aku lakukan padanya?' ia merutuki perbuatannya sendiri dan melihat kesamping tapi tidak mendapati keberadaan Mariana. Dengan sedikit sempoyongan , Keenan keluar kamar untuk mencari Mariana . Hidungynya mencium aroma masakan , ia yakin istrinya itu berada di dapur. Untuk memastikan , ia berjalan menuju dapur dan melihat wanita dengan pakaian rumahan yang sederhana dan rambut yang cepol asal , tapi tidak mengurangi aura kecantikannya. Merasa ada yang memperhatikan , ia melirik sekilas tapi tidak menghentikan kegiatannya karena ia harus segera menyelesaikan masakannya. Sekitar sepuluh menit , masakan telah siap terhidang di meja. "Makanlah sup ini selagi hangat , ini cepat untuk memulihkan tubuhmu karena pengaruh alkohol." Keenan baru sadar kalau dari tadi , ia terus memperhatikan Mariana , hingga tak sadar kalau wanita itu sudah berdiri didepannya. "Aku harus segera berangkat , karena ada urusan yang penting." selesai dengan ucapannya Mariana segera berlalu dari hadapan Keenan. "Tunggu! Apa kau marah soal semalam?" "Apa aku punya hak untuk marah?" Keenan tertohok oleh jawaban Mariana. Keenan mengambil sup dan mulai memakannya dengan perlahan , dalam hati ia ingin minta maaf pada Mariana tapi rasa gengsinya lagi lagi mendominasi. Belum selesai dengan makannya , Mariana keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Ia mengacuhkan keberadaan Keenan yang melihat kearahnya dan mengambil segelas susu yang sudah ia siapkan untuknya. "Jam segini sudah mau berangkat?" "Aku ada urusan." "Urusan apa?" Mariana meletakkan gelasnya yang sudah kosong dan menatap laki laki didepannya denga tatapan yang tidak biasa. "Apa aku mesti menjelaskan semua kegiatanku? Apa kamu kira aku tidak tahu , kalau kamu membayar orang untuk mengawasi aku? Dan kamu sendiri yang membuat peraturan untuk tidak saling tahu urusan masing masing . Dan tugasku bukankah cukup memuaskanmu di ranjang? Jadi aku harap kamu juga sadar dengan posisimu. Seujung kuku pun aku tidak ingin tahu tentang dirimu dan masa lalumu." Mariana beranjak dari duduknya dan meninggalkan Keenan yang diam terpaku mencerna ucapan Mariana. BRAK! "Astaga! Dia bisa bar bar juga." Keenan bicara sendiri sambil mengusap dadanya beberapa kali karena terkejut dengan suara pintu. "Apa dia marah? Eh..dia tahu kalau aku membayar orang untuk mengawasinya? Sebenarnya wanita seperti apa yang aku nikahi? Sepertinya Brian harus mencari informasi yang lebih lengkap lagi." Keenan kembali melanjutkan makannya dan tersenyum lebar , mengingat baru kali ini ia melihat istrinya bicara panjang lebar dengannya. ******* Di sebuah ruangan , Mariana tengah duduk berhadapan dengan beberapa doktor ahli dibidangnya masing masing . Saat ini ia sedang menjalani wawancara seleksi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikannya. Sebenarnya ia cukup dilema ,kontraknya dengan Keenan masih lima bulan lagi. Kalau lulus , dalam waktu paling lama dua bulan ia harus berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan kuliahnya. "Bagaimana wawancaranya?" tanya Gilang yang juga ikut ujian tapi di ruang yang berbeda. "Hem..saya pesimis Dok.Pengujinya orang orang ahli semua , dan saya sebenarnya juga kurang persiapan." Mariana pesimis ia bisa lolos , selain waktunya mepet beberapa hari ini ia merasa ada yang tidak nyaman dengan badannya. "Yang penting kamu sudah berusaha dengan maksimal , lolos apa tidak sudah ketentuan Tuhan." Galih berusaha memberi semangat untuk partnernya di ruang bedah itu. "Dokter benar , tidak seharusnya saya berfikiran negativ."


__ADS_2