
Keenan membawa Mariana menghadiri pesta yang diadakan salah satu kolega bisnisnya. Mariana begitu cantik dan anggun mengenakan gaun yang dipilihkan Keenan. Berjalan beriringan , mereka tampak begitu serasi dan mencuri perhatian para tamu. Tidak sedikit yang berdecak kagum baik pria maupun wanita. Setelah menemui tuan rumah , Keenan mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Sengaja Keenan menempati meja yang paling ujung agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian. Ia sangat terganggu dengan tatapan para pria yang menatap Mariana dengan tatapan lapar. Tidak menyangka Mariana begitu mempesona memakai gaun pesta, padahal gaun yang ia pilihkan untuk Mariana cukup tertutup, panjangnyapun hampir menutupi mata kaki.Dalam hati ia menyesal membawa Mariana karena tidak rela pesona istrinya dinikmati banyak pria. "Mau minum apa?" tanya Keenan pada Mariana. "Jus jeruk." Keenan melambaikan tangannya pada pelayan dan memesan minuman. "Kamu cantik sekali malam ini." puji Keenan. "Jadi hanya malam ini aku cantik." balas Mariana. "Nggak, kamu selalu cantik. Tapi malam ini kamu beda , lihatlah mata pria pria itu, tak berkedip melihatmu." Keenan bersungut sungut mengata kannya. "Perasaanmu saja kali..aku lihat para wanita juga cantik cantik dan gaun yang mereka pakai menurutku terlalu terbuka." "Tapi kamu lebih seksi dari mereka." Keenan sengaja berbisik ditelinga Mariana. Tampa sengaja, matanya memergoki seorang laki laki yang sedari tadi menatap Mariana. "Terimakasih pujiannya , lain kali kalau ada pesta lagi ajak aku." Mariana tersenyum menggoda Keenan. "Nggak! ini yang pertama dan terakhir." tolak Keenan cepat. Mariana tertawa dan semakin terlihat cantik. Keduanya ngobrol santai membicarakan hal hal yang tidak terlalu penting. Sampai akhirnya mc meminta para undangan untuk berdiri , karena pasangan pengantin akan melempar bunga. Keenan mengenggam tangan Mariana erat, karena wanita itu ingin kedepan. Sebenarnya Mariana bukan ingin mendapatkan bunga pengantin , tapi ingin menghampiri seseorang yang sangat mirip dengan temannya. PUK! Ternyata pengantin melempar bunga cukup kuat hingga terlempar sampai kebelakang dan tepat mengenai Keenan dan Mariana. Mata orang orang mengikuti arah bunga yang melayang, dan semua bersorak begitu tahu bunga itu berhasil didapatkan Keenan. Sedangkan Keenan tersenyum senang dan menyerahkan bunga itu pada Mariana. "Untukmu." Keenan menyerahkan bunga itu pada Mariana. "Apa kamu juga berfikir seperti orang orang itu, kalau yang mendapatkan bunga ini akan menyusul kepelaminan?" Mariana berbisik di telinga Keenan. "Menurutmu?" Keenan balik bertanya. "Tentu saja aku tidak percaya." Keenan memicingkan kedua matanya. "Apa kamu lupa kalau kita ini sudah menikah." Mariana menepuk lengan Keenan pelan. Keenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengiyakan ucapan Mariana. Sepasang mata tampak geram memperhatikan keintiman mereka. Matanya menatap nyalang Mariana, karena cemburu. Ia tahu arti tatapan Keenan terhadap Mariana. Mengatur nafas , ia berjalan mendekati meja Keenan. "Apa kabar Ken?" sapa wanita itu dengan lembut. Keenan menoleh kesumber suara dan seketika jantungnya berdetak dengan cepat. Rahangnya mengeras , menahan sesuatu dalam hatinya. ia tidak tahu apa yang dirasakan terhadap wanita yang saat ini ada dihadapannya. "Nadya." bibirnya terasa berat menyebut nama itu. Nama wanita yang sudah menorehkan luka pada hatinya. "Boleh aku bergabung?" Mariana menatap Keenan yang masih terdiam. "Silahkan." akhirnya Mariana yang menjawab , Nadya tersenyum dan duduk berhadapan dengan Keenan. Sedangkan Keenan memalingkan muka saat Nadya menatapnya. "Kenalkan aku Nadya." Nadya mengulurkan tangannya pada Mariana. "Saya Mariana." Mariana membalas ukuran tangan Nadya. "Kalian kelihatan serasi. Apa kalian sepasang kekasih?" "Em..kami .." kalimat Mariana terhenti. "Kami memang sepasang kekasih." Keenan menyela ucapan Mariana. Nadya tersenyum kecut mendengarnya. "Selamat ya..kamu beruntung bisa dicintai Keenan. Keenan hanya bisa cinta dengan satu wanita." ucapan Nadya membuat Keenan kembali memalingkan muka. Mariana menyadari perubahan sikap Keenan , ia menduga ada hubungannya dengan wanita yang bernama Nadya. "Senang berkenalan denganmu Mariana , aku permisi dulu." Nadya beranjak dari duduknya dan menjauh dari meja Keenan. "Kita pulang sekarang." Keenan berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan Mariana . Dengan gaun yang cukup panjang, Mariana kerepotan mengimbangi langkah Keenan. "Ada wanita pingsan di depan." ucap salah satu tamu. "Siapa?" "Nggak tahu , ia memakai gaun berwarna biru muda." Deg Mendengar ucapan tamu iyu, Keenan teringat Nadya yang juga memakai gaun serupa. Ia menyeruak diantara kerumunan orang ingin memastikan dugaannya. "Nadya...Nad. Bangun!" Keenan berjongkok menepuk nepuk pipi Nadya. ia tampak begitu khawatir dengan kondisi Nadya yang pucat. Perlahan, Nadya membuka matanya. Ia melihat kesekitar dan tatapannya tertuju pada Keenan yang saat ini sangat dekat dengannya. "Ken...kepalaku sakit sekali." ucap Nadya dengan lemah. "Aku akan membawamu ke rumah sakit." Keenan menggendong Nadya keluar dari kerumunan orang menuju mobilnya. Mariana tersenyum hambar melihat Keenan begitu panik melihat Nadya pingsan, padahal kalau Keenan berfikir jernih ia kan bisa memintanya untuk memeriksa keadaan Nadya. Dan malah meninggalkannya sendiri. huf Mariana menghembuskan nafas dengan kasar. "Hai!" "Jesica , kamu disini juga." "Iya, sudah dari tadi aku memperhatikan kalian. Ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Jesica menggandeng tangan Mariana berjalan menuju taman yang sepi. "Kita duduk disini." Jesica dan Mariana duduk dibangku taman yang masih berada di area hotel. "Aku harap kamu dan Keenan benar benar cuma sebatas teman. Jangan sampai kamu menaruh hatinya pada laki laki pecundang itu." ucap Jesica dengan berapi api. "Maksudmu?" Mariana sungguh tidak faham dengan kata kata Jesica. "Wanita yang tadi pingsan itu adalah Nadya, mantan kekasih Keenan. Dulu mereka pacaran , tapi orang tua Keenan tidak merestui hubungan mereka. Akhirnya Tante Tamara menjodohkan aku denga Keenan. " "Kenapa orangtuanya tidak merestui mereka?" "Keenan sudah dibutakan oleh cinta, hingga tidak tahu wanita seperti apa yang ia cintai. Aku mengajakmu kesini bukan untuk membahas Keenan , males banget." Jesica menatap lekat Mariana dan membuat Mariana merasa ngeri. "Apa anting dan kalung ini milikmu?" tanya Jesica menyelidik. "Tentu saja ini milikku." Mariana sewot dengan pertanyaan Mariana. "Apa hubunganmu dengan panti asuhan MUTIARA KASIH?" "Aku dibesarkan disana." jawab Mariana jujur. "Apa kamu punya sahabat yang bernama Jeje?" tanya Jesica dengan tidak sabar menanti jawaban Mariana. "Kamu kenal Jeje?" Mariana malah balik bertanya. "Jawab dulu pertanyaanku." "Jeje itu sahabat baikku pada waktu itu , tapi sayang keluarganya pindah keluar negeri. Dan sejak itu aku tidak tahu lagi kabarnya." tatapan Mariana menerawang mengingat sahabat kecilnya itu. GREP Spontan Jesica memeluk erat Mariana hingga membuat Mariana engap. Otak Mariana masih blank karena tiba tiba dipeluk Jesica. "Astrid aku kengen sekali sama kamu." "Jes..bisa dilonggari nggak pelukannya? Aku nggak bisa nafas." mendengar ucapan Mariana , Jesica tersadar kalau ia memeluk Mariana begitu erat. "Sorry..aku terlalu bahagia. Aku Jeje, sahabat kecilmu. Aku harap kamu tidak melupakan aku." Mariana diam terpaku mendengar kata kata Jesica, sedetik , duadetik. "Jeje!" giliran Mariana yang memeluk Jesica , ia menagis meluapkan rasa bahagianya. "Hiks..kamu kenapa nggak ngubungi aku lagi. Tiap malam aku selalu berharap kamu akan menelponku. Hiks..!" Jesica menghapus air mata Mariana, jujur ia merasa bersalah karena sudah ingkar janji. "Maaf ya..Papi memberiku jadwal yang begitu padat. Aku sangat sibuk juga lelah, hingga tidak ada waktu untuk diriku sendiri." "Kasihan sekali..tapi kamu akan menetap di sini kan?" "Iya..aku akan membantu Kakek mengurus perusahaan. Eh..beberapa tahun lalu aku sempat ke panti , kata ibu panti kamu kuliah di luar negeri." "kok ibu nggak pernah bilang ya?" "Mungkin beliau lupa." "Iya juga." DERT DERT Mariana mengambil ponsel dari tasnya dan melihat siapa yang menghubunginya , Jesica memajukan kepalanya. Begitu tahu siapa yang menghubungi ponsel Mariana ia segera mengambil ponsel yang dipegang Mariana. Dan segera menekan ikon berwarna hijau, ia juga me loudspekernya. {Trid..maaf aku ta...'}