
Mariana meletakkan barang belanjaannya di dapur begitu saja , ia kembali ke ruang tamu dan merebahkan tubuhnya disofa. Beberapa belakangan ini tubuhnya sering kali cepat lelah, dan sering mengantuk. "apa aku hamil? tapi kan aku pasang iud , besok aku harus periksa pada daniza." Mariana berguman sendiri dan tak berapa lama ia sudah terlelap. Sementara itu Keenan masih di ruang kerjanya tengah menunggu hasil penyelidikan Brian mengenai Mariana. Ia juga mendapatkan informasi dari orangnya kalau Mariana lolos seleksi untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikannya di luar negeri dua lagi. Keenan memijit pelipisnya , ia memikirkan keputusan yang akan ia ambil untuk Mariana. Sebenarnya ia mengakui kalau selama ini Mariana menjalankan kewajibannya dengan baik , meskipun ia memperlakukan istrinya dengan buruk . Tapi kalau ia harus menahan Mariana agar tidak pergi, sama saja ia mematikan karirnya. Tapi kalau mengijinkan Mariana pergi, berarti ia akan jauh dari istrinya itu. 'tidak! aku tidak bisa membiarkannya pergi , ia harus menyelesaikan kontraknya denganku.' TOK TOK "Masuk!" Brian masuk dengan membawa map coklat berisi informasi mengenai istri bosnya, kali ini ia turun tangan sendiri karena tidak mau sampai kecolongan sedikitpun. "Bagaimana?" "Silahkan Bos baca sendiri." Brian menyerahkan map yang dipegangnya pada Keenan. Dengan seksama Keenan membaca secara detail informasi yang didapat Brian, sesekali alisnya mengernyit kemudian manggut manggut. "Apa informasi ini dapat dipercaya?" "Saya jamin Tuan , saya sendiri yang turun lapangan." barulah Keenan percaya kalau Brian sendiri yang bertindak. "Untuk hasil wawancaranya kemarin jangan sampai ia tahu." "Baik Tuan. Saya permisi." Keenan mengangguk dan menyenderkan punggungnya disandaran kursi, ia memutar kursinya menghadap kejendela tampat matahari sudah tenggelam berganti dengan lampu jalan yang menerangi . Ingatannya berputar dua tahun silam ketika wanita yang begitu dicintainya memilih menikah dengan laki laki lain dengan alasan keluarganya memiliki hutang pada keluarga laki laki itu. Dan bertepatan pada waktu itu , perusahaan keluarganya juga dalam keadaan yang tidak baik. Padahal selama menjalin hubungan, Keenan selalu menuruti apapun keinginan kekasihnya itu. Ia juga sering bersitegang dengan orang tuanya karena membela kekasihnya. ****** "Bagaimana Niz?" tanya Mariana selesai diperiksa oleh sahabatnya. "Alat itu harus dilepas Trid , sepertinya tubuhmu tidak bisa merespon dengan baik." "Kapan bisa dilakukan?" "Sekarang juga bisa. Apa tidak sebaiknya kamu membicarakan dengan suamimu?" "Dia mana mau tahu urusan seperti ini. Baginya yang penting ranjangnya hangat tiap malam." Daniza terbahak dengan jawaban sahabatnya. "Ini salah satu yang aku suka darimu , ngomong nggak pakai basa basi. Aku bisa menebak kalau dia melakukannya dengan lembut." Daniza mengedipkan sebelah matanya. "Itu rahasia dapur." "Huh..dasar pelit. Aku kan juga pengen tahu soal seperti itu dari yang sudah menikah , jadi kalau aku sudah menikah nanti tidak kaku." "Menikah saja dulu, nanti juga pintar sendiri. Jomblo tidak baik membahas urusan seperti ini." "Berbaringlah , aku akan mulai. Tunggu sekitar satu bulan , baru boleh pakai kontrasepsi lagi." "Iya." ******* Mariana tengah menyedu minumannya, ketika Keenan pulang. Mereka saling menatap sekilas , kemudian saling melempar pandangan . Mariana menyeruput minumannya, sedangkan Keenan masuk kamar. Keenan keluar kamar menghampiri Mariana,laki laki tampak segar setelah mandi. Ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan istrinya. Sekian menit keduanya sama sama diam. "Apa kau butuh sesuatu?" Mariana yang tidak tahan akhirnya mengalah untuk memulai percakapan. "Buatkan coklat hangat." "Coklatnya habis." "Cappucino." Tak berapa lama, minuman yang dipesan Keenan sudah tersedia dimeja. "Apa rencanamu setelah pernikahan ini berakhir?" tanya Keenan. "Tentu saja melanjutkan hidupku kembali seperti dulu , merealisasikan rencana yang sudah aku buat." Mariana meneguk kembali minumannya. "Apa kamu mau melanjutkan kuliah lagi?" "Mungkin." "Kenapa? Bukankah karirmu sudah bagus." "Aku menuntut ilmu bukan untuk karir , tapi aku ingin hidupku ada manfaatnya." "Salah satunya dengan bersedia menikah denganku?" "Apa ada gunanya aku menjawab pertanyaanmu? Bahkan aku sudah bosan menjawab pertanyaanmu yang itu." "Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku." Keenan menatap tajam Mariana. "Kalau saja statusmu bukan suamiku , aku pasti sudah menghajarmu." "Ha..ha...bahkan saat ini pun aku mengijinkanmu untuk menghajarku." Mariana mengetukkan jari telunjuknya dimeja hingga berbunyi tuk ..tuk. Ia sedang memikirkan sesuatu , kemudian tersenyum licik. "Apa benar kau mengijinkan aku menghajarmu?" "Hem. Tapi ada syaratnya?" "Apa?" "Kalau dalam waktu lima belas menit kau tidak bisa merobohkan aku, kau harus menuruti satu permintaanku." "Kalau aku bisa menghajarmu, apa yang aku dapatkan?" "Apapun." "Aku pegang kata katamu , kalau sampai kau ingkar aku bukan saja menghajarmu tapi juga akan mengebirimu. Dan aku rasa itu jauh lebih menyiksa bagi seorang laki laki sepertimu." Mariana menyeringai , dan membuat Keenan agak menciut kalau sampai Mariana mengebirinya. Keduanya bersiap dan memasang kuda kuda , lima menit , sepuluh menit Mariana belum bisa menyentuh Keenan. Keduanya sama sama imbang Keenan akui Mariana cukup tangguh, gerakannya lincah dan serangannya terarah dan fokus. "Buktikan kalau kamu bisa menghajarku." Keenan tersenyum remeh. "Jangan senang dulu , tadi aku hanya ingin tahu sampai sejauh mana kemampuanmu. Apa kau masih ingat dengan ucapanmu barusan, bahwa kau akan menuruti apapun permintaanku?" "Aku masih ingat , dan aku pantang mengingkari janji." "Bagus. Aku ingin kau melepaskan aku saat ini juga andai aku bisa merobohkanmu dalam menit ketiga."Keenan tercengang dengan permintaan Mariana , ia tidak menyangka Mariana meminta hal seperti itu. "Apa tidak ada yang lain." "Tidak ada, hanya itu yang aku inginkan." "Baiklah." Mariana tersenyum lebar , senyum yang baru pertama Keenan lihat. "Apa kau sudah siap?" Mariana melihat jam dinding didepannya , Keenan mengangguk. Dengan gerakan yang sangat cepat, Mariana melayangkan tendangannya kekaki Keenan. Sedangkan Keenan dengan gerakan yang tidak kalah cepat berhasil menghindar. Mariana tersenyum , kemudian ia melompat seperti melayang dan menendang dua kaki Keenan sekaligus dari belakang mengakibatkan Keenan tersungkur kedepan. "Dua menit sepuluh detik." Mariana mengulurkan tangannya bermaksud membantu Keenan berdiri , tapi siapa sangka Keenan menarik tangannya hingga ia ambruk dan menimpa tubuh Keenan. Keduanya saling menatap dengan jarak yang hanya beberapa inci , entah siapa yang memulai bibir keduanya sudah bertemu dan saling *******. Keenan membelai wajah cantik Mariana dengan ibu jarinya , entah mengapa hatinya begitu berat untuk melepas wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya ini. "Berikan hakku sebagai suami untuk yang terakhir." meskipun berat akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Keenan. "Aku tadi siang baru melepas iud." "Kenapa?" "Tubuhku menolak alat itu , akhir akhir ini aku mudah lelah. Jadi kalau kau melakukannya ,keluarkan diluar." Keenan mengangguk , keduanya bangun dan berniat ke kamar. Saat Mariana berjalan, tiba tiba tubuhnya melayang. "Agh...aku kaget." keduanya saling melempar senyum , Mariana mengalungkan kedua tangannya dileher Keenan agar tidak jatuh. Keenan merebahkan tubuh Mariana keatas kasur dengan perlahan. Ia mengungkung tubuh istrinya , dan menatap wajah Mariana yang entah mengapa kali ini begitu cantik. "Apa kakimu sakit?" Keenan menggeleng ,'hatiku yang sakit', batinnya. "Apa kau ingin aku yang memulainya?" tanya Mariana lagi. "Tidak, biar aku yang melakukannya." dengan lembut dan penuh perasaan , Keenan mulai menelusuri setiap inci tubuh istrinya. Untuk pertama kalinya, ia berhubungan suami istri dengan Mariana memakai perasaan. "Keluarkan diluar Ken." Mariana memeperingatkan Keenan saat laki laki itu hendak sampai pada puncak dari penyatuan . Setelah membersihkan diri , Keenan merebahkan dirinya di ranjang. Ia masih belum percaya, kalau ini saat terakhit ia bersama istrinya. Delapan bulan bukanlah waktu yang sebentar , ia sebenarnya sudah nyaman dengan semua perhatian Mariana saat bersama. "Belum tidur?" Mariana masuk dengan membawa dua gelas berisi air minum seperti biasa saat hendak tidur.