
Keenan berjalan cepat menuju ruang kerja Mariana , entah mengapa ia ingin sekali melihat istrinya itu. Tampa megetuk pintu terlebih dulu, ia langsung membukanya. CEKLEK "Astaga!" Mariana mengusap dadanya pelan dengan telapak tangannya karena kaget. Belum hilang rasa kagetnya , Keenan dengan cepat menghampiri nya dan menyambar bibirnya dengan lembut. Di rasa cukup , Keenan melepas pagutannya dan mengusap bibir Mariana yang basah dengan ibu jarinya. "Kamu ini asal nyosor saja." lanjut Mariana agak kesal. "Hei..dari mana dapat kosa kata itu?" tanya Keenan menahan tawanya dengan ungkapan Mariana. "Darimu..karena kamu asal sambar saja." Mariana duduk disofa dan diikuti Keenan. "He..he..aku rindu dengan bibir ini." Keenan menjepit gemas dagu Mariana denga ibu jari dan telunjuknya. "Ada apa ke sini? Bukannya masih jam kerja?" "Aku ini bosnya , jadi sesuka aku." "Ya..ya..aku hampir saja lupa kalau kamu itu bosnya.Tiga puluh menit lagi aku ada meeting." Mariana melihat jam dinding di ruangannya. "Aku akan menunggumu, kita pulang sama sama." kata Keenan sambil memainkan rambut Mariana. "Apa rencanamu setelah kita berpisah?" tanya Keenan tiba tiba. Mariana menatap Keenan sejenak dan menghembuskan nafas dengan perlahan. "Mungkin aku akan melanjutkan study ke luar negeri beberapa tahun. Seteleh itu ..menunggu barang kali ada laki laki yang cari istri." PLETAK Keenan menyentil kening Mariana. Dan mengakibatkan yang punya kening meringis sambil mengusap keningnya. "Sakit Ken..mau kamu aku sentil?" ucap Mariana sewot. "Ngawur kamu." Keenan tiba tiba merasa kesal sendiri dengan ucapan Mariana , seperti ada rasa tidak rela kalau istri kontraknya suatu saat menikah dengan laki laki lain. Mariana mengangkat kedua bahunya karena tidak faham dengan kata kata Keenan. Ia menyenderkan kepalanya disandaran sofa , sambil membaca email yang masuk. Sedang Keenan masih setia mengamati wajah Mariana dari jarak yang dekat, akhir akhir ini jantungnya sering berdetak lebih cepat bila berdekatan dengan Mariana. "Yes!" pekik Mariana kegirangan , spontan ia langsung memeluk Keenan. Senyumnya mengembang sempurna , matanya berbinar menunjukkan ke bahagiaan. Keenan menerima pelukan Mariana dengan senang, meskipun ia tidak tahu mengapa Mariana begitu senang. "Ada apa sih?" tanya Keenan setelah Mariana melepas pelukannya. "Aku lolos seleksi Ken..akhirnya." Keenan mengangkat kedua bahunya seperti yang dilakukan Mariana tadi dan membuat Mariana gemas. ****** "Kamu tidak salah mengajak ku ke sini Ken?" kata Mariana ketika mereka sampai di toko perhiasan. "Pilihlah yang kamu suka." Mariana menggeleng dan membuat Keenan heran , menurutnya para wanita pasti menyukai perhiasan. "Kenapa? Apa kamu tidak menyukai perhiasan?" "Suka ..tapi mengapa tiba tiba kamu mau membelikan aku perhiasan? Aku jadi curiga." Keenan berdecak dan mengacak acak rambut Mariana. "Selama ini aku belum pernah membelikanmu apa apa, aku seperti suami yang pelit." Mariana mencebikkan bibirnya. "Baiklah kalau kamu memaksa." "Hei..aku tidak memaksa ya." keduanya terkekeh pelan karena takut mengganggu pengunjung yang lain. Keenan antusias memilihkan perhiasan untuk Mariana. "Terimakasih Ken." "Ya...simpan dengan baik jangan digadaikan apalagi sampai kamu jual." "Hah..padahal aku sudah berencana akan menggadaikannya." kata Mariana dengan senyum smirknya. "Awas kalau berani melakukannya." Keenan menarik hidung Mariana. "Kita pulang saja yuk..aku akan masak spesial untukmu." Keenan mengangguk dan menggandeng tangan Mariana keluar dari pusat perbelanjaan. ****** Keenan termenung sendiri di ruang kerjanya , seharian ini ia tidak bersemangat melakukan apapun. Dua hari lagi ia harus melepas wanita yang setahun ini menemani hidupnya. Ia bingung dengan hatinya , ia merasa berat untuk melepas Mariana tapi ia juga tidak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan untuk Mariana. Ia tidak mau mengecewakan Mariana seandainya ia menahan Mariana dan rasa yang ia miliki ternyata bukan cinta. 'hah!' ia menyugar rambutnya dengan kasar. Di tempat lain , tampak tiga wanita cantik tengah menikmati makan siang dengan wajah berseri. Ketiganya saling melempar candaan setelah menyelesaikan makannya. "Dokter Galih sudah punya pacar belum sih?" tanya Jesica. "Kenapa memangnya? Apa kamu naksir?" Daniza gantian tanya balik. "Sepertinya..selain tampan dia itu juga sopan ,ramah, dan kalau tersenyum manis sekali." puji Jesica, sambil matanya menerawang membayangkan wajah Galih yang tersenyum padanya. "Woi...senyum senyum sendiri." Daniza menepuk paha Jesica. "Tanya Astrid , dia yang sering berinteraksi dengan Dokter Galih." "Kami berinteraksi sebatas urusan pekerjaan, tidak lebih. Tapi sepertinya beliau bukan tipe laki laki yang suka pacaran , maunya langsung nikah." "Trid...kamu carikan informasi tentang Dokter Galih sedetail detailnya ya." pinta Jesica. "Ogah banget , kaya kurang kerjaan aja." jawab Mariana cepat. "Ho..oh, kamu saja yang pdkt sendiri." Daniza ikut menimpali ucapan Mariana. "His..dasar pada nggak setia kawan." ******* "Apa kamu sudah selesai?" tanya Keenan pada Mariana yang masih berkutat di dapur. "Sebentar lagi. Memang ada yang penting?" tanya Mariana tampa menghentikan aktivitasnya. "Ada." jawab Keenan singkat.Ia duduk dibalik meja makan memperhatikan Mariana yang membuat masakan untuk makan malam mereka. Beberapa menit kemudian , Mariana menghampirinya dan duduk berhadapan dengan Keenan. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" "Aku sudah lapar." Mariana berdecak kesal karena ia kira Keenan mau membicarakan hal yang penting dengannya. Mariana kembali ke dapur menuang masakannya ke piring besar dan membawanya ke meja makan, setelah semua telah siap, keduanya mulai makan dalam diam. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. "Kamu istirahatlah , biar aku yang membereskan semua." kata Keenan setelah mereka selesai makan.