Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Tidak menambah jatah belanja


__ADS_3

Mila susah payah menelan saliva mendengar pertanyaan dari Niko. Tidak dia sangka, ternyata Niko bisa menebak isi kepalanya. Akan tetapi, Mila berusaha membela diri dan mencari alasan yang tepat atas kedatangannya.


"Harusnya aku yang tanya sama kamu Mas? Kenapa selama ini kamu menyembunyikan semua ini dari aku? Jika kamu ternyata adalah seorang Dokter, pasti gaji kamu itu besar. Lalu kamu kemanakan sebagian gaji kamu itu Mas? Apa kamu punya selingkuhan atau istri lain Mas?" tuduh Mila kepada Niko. Dia justru membalikkan keadaan dan menyudutkan Niko.


"Jaga bicara kamu. Awalnya aku memang seorang kuli bangunan. Dan baru enam bulan yang lalu aku lulus dari kuliah kedokteran. Dan awalnya aku ingin memberikan surprise karier ini kepada perempuan yang telah setia mendampingi ku dan memberi dukungan padaku sejak aku masih kesusahan. Tetapi sayang, perempuan yang selama ini mendampingi ku justru hanya selalu merendahkan aku dan selalu merasa kurang dengan penghasilanku. Jadi maafkan aku jika aku menyembunyikan semua ini dari kamu. Aku ingin kamu menerima aku dan mencintaiku bukan hanya dari harta dan jabatan saja. Aku juga sudah selalu berusaha bertahan dengan pernikahan kita dan meminta kamu untuk lebih bersabar lagi, tetapi yang ada di pikiran kamu hanya uang dan harta!" ungkap Niko menjelaskan semua isi hatinya selama ini.


Mila nampak begitu kesal mendengar jawaban Niko, tetapi dia berusaha menyembunyikan kekesalannya demi kembali mendapatkan hati Niko. "Udahlah Mas, itu kan dulu. Sekarang aku akan berubah menjadi lebih baik. Aku tidak akan mengatakan hal hal buruk tentang kamu lagi. Aku akan dukung karier kamu dan akan selalu setia sama kamu," cakap Mila dengan manis dan berharap bisa meluluhkan hati Niko agar dia di beri kepercayaan lagi.


"Kalau misalnya saat ini aku masih seorang kuli bangunan, apa kamu juga akan berkata seperti itu?" Niko bertanya balik, dan seketika raut wajah Mila sedikit berubah. Kekesalannya semakin nampak terlihat, tetapi dia tetap berusaha menutupi.

__ADS_1


"Huh, dasar! Kalau bukan karena ingin mendapatkan kehidupan yang mewah, malas sekali aku bersikap sok sabar dan sok bijak seperti ini! Lihat aja Mas, kalau nanti kita kembali rujuk, akan aku tuntut nafkah yang lebih sebagai gantinya!" geram Mila dalam hati. Namun, apa hang Mila katakan lain di hati dan lain di mulut.


"Tentu Mas. Aku udah sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini salah. Aku selalu berusaha menuntut kamu lebih. Padahal, kamu tidak pernah telat memberiku uang belanja meskipun hanya mampu di gunakan untuk makan dan kebutuhan pokok. Tapi, kita nggak pernah punya utang kayak para tetangga." ujar Mila berusaha semakin meyakinkan hati Niko. Memang benar, meski nafkah yang di berikan oleh Niko tidaklah besar, tetapi kebutuhan Mila tidak pernah kekurangan. Dia juga tidak pernah punya hutang untuk sekedar makan seperti para tetangganya. Makan pun juga cukup untuk di makan Mila dengan adik dan Ibunya. Akan tetapi keinginan Mila semakin menjadi ketika dia sering melihat teman dan saudaranya yang lebih kaya, sehingga dia selalu merasa kurang dan kurang.


Niko terdiam mendengar ucapan Mila. Dalam hatinya berusaha mempercayai ucapan tersebut, tetapi ada sedikit keraguan. Dan untuk menghilangkan keraguan itu, Niko memberikan jawaban yang membuat Mila tidak bisa berkutik lagi.


"Loh, kok gitu sih Mas? Nggak bisa gitu dong! Bukannya kalau suami punya gaji yang besar itu harus banyak di berikan kepada istrinya? Ini kamu kok malah pelit dan itung itungan sama aku? Tentu saja aku nggak mau Mas kalau jatah belanja ku nggak di tambah!" tegas Mila dengan terus terang.


"Ini bukan itung itungan, lagian aku kan udah bilang kalau sebagian uangnya aku tabung untuk membangun klinik. Ini juga demi masa depan kita, agar aku tidak perlu jauh jauh kerja ke kota kalau bisa membuka klinik di kampung. Dan lagi, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau uang pemberian ku itu cukup untuk kebutuhan. Lantas, kalau kamu mau meminta uang lebih, itu untuk apa? Jika hanya untuk di hambur hamburkan, bukankah lebih baik di tabung untuk masa depan kita? Membangun klinik juga dapat membantu banyak orang agar tidak jauh jauh berobat." Tutur Niko selanjutnya. Dia berharap penjelasan yang dia berikan dapat merubah pola pikir Mila. Akan tetapi sayangnya Mila tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Duh, ngapain sih Mas kamu ini susah susah mikirin bantuin orang? Aku nggak masalah kok kalau kamu harus kerja di kota, yang penting kita bisa menikmati hidup. Menikmati gaji dari kesuksesan kamu. Memang salah?" sangkal Mila dengan wajah yang kesal. Dan hal itu membuat Niko menggelengkan kepala.


"Sukses? Apa kamu tahu bagaimana caranya meraih sukses? Kamu hanya lihat hasilnya tanpa mau tau prosesnya. Bagiku aku belum sukses selagi aku belum mempunyai klinik sendiri dan bisa dekat dengan keluarga. Apa bagi kamu jauh dari suami itu bukan masalah asal dapat transferan uang yang banyak?" Niko kembali memberi pertanyaan mematikan kepada Mila, dan Mila pun menjawab dengan lantang.


"Iya Mas. Yang aku mau hanya uang. Kamu paham kan?" sahut Mila dengan tegas. Pada akhirnya dia tidak bisa menutupi sifat aslinya. Dia katakan dengan tegas bahwa yang dia mau hanya uang.


"Baiklah, aku akan mempercepat proses perceraian kita agar kamu lebih mudah mencari pengganti sesuai dengan keinginan kamu!" seru Niko dengan tegas.


"Ok! Cepat kirim aku surat cerai itu Mas. Akan aku buktikan, kalau aku akan mendapat pengganti yang lebih baik dari pada kamu. Dan aku pastikan kamu tidak akan mendapat perempuan seperti yang kamu mau, karena di dunia ini semua perempuan butuh uang!" ketus Mila sembari membuka pintu mobil dan segera keluar.

__ADS_1


__ADS_2