
Malam itu Niko sedang bercengkerama hangat dengan Tuan Surya. Mereka berbincang bincang seputar pekerjaan Niko, dan di tengah tengah percakapan, Tuan Surya bertanya tentang rencana Niko ke depannya.
"Bagaimana rencana kamu ke depannya Niko? Jika sudah resmi menduda, kamu harus memulai lagi lembaran baru. Usia kamu semakin matang, kamu sudah waktunya memiliki keturunan agar hari tua kamu tidak sendirian."
Niko menarik nafas dalam menanggapi pertanyaan tersebut. Hingga saat itu sebenarnya dia belum punya pandangan untuk berniat serius dengan seseorang meski banyak sekali wanita yang ingin dekat dengannya.
"Aku belum tahu Pa, aku belum memikirkan tentang hal itu. Biar saja semua berjalan dengan seiring waktu hingga aku bertemu dengan orang yang tepat." jawab Niko.
"Iya, semua terserah padamu. Tapi menurut Papa, jika nanti kamu menemukan wanita yang kamu anggap tepat, kamu tidak perlu menyembunyikan apapun darinya." petuah Tuan Surya kepada putra angkatnya.
Setelah selesai bercakap cakap, Niko masih diam di tempat ketika Tuan Surya pamit untuk masuk ke kamarnya. Niko memikirkan langkah yang akan dia ambil ketika akta cerainya sudah keluar. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Niko kemudian beranjak dari tempatnya duduk, lalu segera masuk ke dalam kamar untuk segera tidur.
__ADS_1
Keesokkan hari ketika Niko baru saja tiba di ruang kerjanya, ada seorang perawat yang datang ke ruangan Niko untuk memberitahukan jika Niko sedang di tunggu Direktur Utama di ruangannya. Tanpa mengulur waktu, Niko lekas keluar dari ruangannya menuju ke ruangan orang nomor satu di Rumah Sakit tersebut. Setelah tiba di sana, nampak Livia berdiri di sebelah Papanya seraya melipat kedua tangan di dada. Tatapannya sinis mengarah kepada Niko. Dan bisa Niko tebak, mungkin Livia telah mengadukan kejadian kemaren kepada Papanya.
"Duduklah!" titah Sang Direktur kepada Niko. Niko kemudian duduk dengan sopan di hadapan Papa Livia itu, dan usai mempersilahkan Niko untuk duduk, lelaki berusia lima puluh enam tahun tersebut mulai memberi beberapa pertanyaan kepada Niko.
"Apa benar kemaren kamu meninggalkan Livia sendirian di Supermarket ketika sedang membeli hadiah ulang tahun untuk saya?" Tanya beliau tanpa basa basi, lalu Niko membenarkan pertanyaan itu.
"Iya, benar. Saya minta maaf." jawab Niko seraya menundukkan kepala. Setelah mendengar jawaban dari Niko, Direktur tersebut hendak memberikan pertanyaan yang lain, tetapi keburu di sela oleh Livia.
"Diam dulu Livia, Papa sedang bertanya kepada Niko, bukan kepadamu!" tegur Papa Livia kepada putrinya. DNA hal itu membuat bibir Livia mencebik karena kesal dan merasa di permalukan di depan Niko.
"Dokter Niko, selama ini saya mengenal anda sebagai pribadi yang ramah dan bertanggung jawab, lalu alasan apa yang membuat anda sampai meninggalkan Livia di Supermarket? Kenapa anda tidak menemaninya dan pulang bersama? Bukankah kalian berangkatnya juga bersama?" tanya Sang Direktur kepada Niko. Beliau menanyakan apa alasan Niko, karena memang Livia tidak memberi keterangan yang jelas tentang kejadian itu.
__ADS_1
"Saya mohon maaf sebelumnya, memang saya salah sudah tidak bertanggung jawab karena meninggalkan Dokter Livia di Supermarket, padahal saya yang mengantarnya. Akan tetapi, saya punya alasan kenapa melakukan hal itu. Siang itu ada jadwal operasi, dan satu jam sebelum jadwal operasi di mulai, saya sudah mengajak Doker Livia untuk segera kembali ke Rumah Sakit, tetapi Dokter Livia menolaknya. Hingga pada akhirnya pada saat tiga puluh menit sebelum operasi itu di lakukan, saya terpaksa kembali ke Rumah Sakit lebih awal lalu meninggalkan Dokter Livia." ungkap Niko menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Penjelasan itu tentu membuat Papa Livia kesal kepada putrinya, tetapi Livia tidak mau di salahkan begitu saja.
"Apa benar begitu Livia? Dokter Niko mengatakan jika dia sudah mengajak kamu pulang tapi kamu tidak mau?"
"Tapi kan dalam operasi itu ada Dokter lain juga yang menangani? Lagian urusanku juga penting karena membeli kado untuk Papa di hari Spesial," sangkal Livia mencoba membela diri.
"Papa tidak tanya alasan kamu, tapi Papa tanya apa benar jika Dokter Niko sudah mengajak kamu pulang tapi kamu tidak mau?" bentak Sang Direktur kepada Livia, hingga membuat Livia terkejut.
"Iya benar." jawab Livia dengan raut wajahnya yang kesal. Dia yang awalnya ingin membuat Papanya memarahi Niko dan ingin membuat Niko menyesal karena telah meninggalkannya di Supermarket, tetapi yang ada Livia sendiri yang kena marah oleh Papanya.
"Papa kecewa sama kamu! Papa gagal mendidik kamu menjadi Dokter yang sejati. Apa seperti itu tanggung jawab seorang Dokter? Seorang Dokter tidak boleh mengutamakan kepentingan pribadi dari pada kepentingan pasien selama masih bertugas. Seharusnya kamu banyak belajar kepada Dokter Niko tentang profesi Dokter yang sesungguhnya!"
__ADS_1