
Kini Citra tengah duduk berjejer dengan Niko di kursi usang yang ada di ruang tamu rumah Citra. Keduanya saling terdiam, apalagi Citra. Dia bahkan tidak berani mengangkat pandangannya untuk memandang wajah Niko. Dan setelah beberapa waktu terdiam, Niko kemudian memecah keheningan.
"Kamu tadi kemana aja? Selama istirahat aku cari kamu tapi tidak ada."tanya Niko.
Citra tersentak mendengar pertanyaan itu. Dia terlihat gugup karena tidak tahu harus menjawab bagaimana? Jika dia jujur, dia takut jika dirinya justru akan semakin terkena masalah. Jadi jalan satu satunya dia harus mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Niko.
"Emm, tadi saya, saya jenguk teman Dok. Iya, benar saya jenguk teman yang kebetulan lagi opname di rumah sakit itu Dok," dalih Citra mencari alasan. Dia tidak mau berkata yang sejujurnya jika dirinya di minta oleh Shella untuk menjauhi Niko.
"Benarkah? Ada di ruang mana teman kamu itu?" tanya Niko. Sepertinya Niko mengetahui jika Citra sedang berbohong.
__ADS_1
"Emmm, ada di.. ada di.. di.. ruang atas Dok. Eh maksudnya lantai atas." jawab Citra dengan asal. Dia sendiri baru bekerja di Rumah Sakit itu dan belum hafal betul tentang ruangan ruangannya.
Niko tersenyum mendengar jawaban Citra. Dia semakin yakin jika Citra tidak jujur kepadanya. Tetapi, untuk apa Citra berbohong? Niko menarik nafas panjang memikirkan ucapan Citra. Gadis itu nampak tertekan dan gelisah. Sehingga membuat Niko semakin penasaran apa alasannya. Tanpa berbasa basi, Niko lekas menginterogasi Citra.
" Jangan berbohong, katakan saja yang sebenarnya. Kenapa kamu menghindar dari ku? Apa aku melakukan kesalahan? Atau kamu tidak nyaman berteman dengan ku?" cecar Niko kepada Citra. Sontak Citra mengangkat pandangannya dan menatap Niko dengan kedua bola yang membulat. Dia sama sekali tidak mengira jika Niko akan menanyakan hal seperti itu.
"Tidak Dok, tidak kok. Dokter tidak melakukan kesalahan apa apa. Aku sendiri yang salah Dok," terang Citra sembari menggelengkan kepala untuk meyakinkan ucapannya jika dirinya tidak menganggap Niko bersalah. Namun, tanpa sengaja dia justru memancing Niko untuk kembali bertanya.
" Sebelumnya saya minta maaf Dok, seharusnya dari awal saya tahu diri siapa saya dan siapa Dokter." ucap Citra. Dia menghentikan kalimatnya di saat Niko belum bisa mengerti apa maksud ucapan itu.
__ADS_1
" Apa maksud kamu? Aku benar benar tidak mengerti. Tolong jangan berbelit belit." pinta Niko. Citra menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar agar dadanya sedikit lebih longgar. Dia tahu resiko apa yang akan dia hadapi jika dirinya jujur. Akan tetapi, jika Citra hanya diam dan terus menghindar tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya, itu hanya akan membuat dirinya tidak tenang dan pasti akan mengganggu kinerja sebegai pegawai baru di Rumah Sakit. Sebagai pegawai baru, dia di jauhi oleh beberapa orang karena kedekatannya dengan Niko.
" Maaf Dok, sebenarnya...."
"Citra... Citra..."
Ketika Citra baru akan memulai memberi penjelasan kepada Niko, mendadak Siti berteriak memanggil nama Citra berulang kali dari arah kamar Seno.
"Ibu, ada apa Bu?" sahut Citra seraya berdiri dan berlari kecil menuju ke tempat dimana Ibunya berada. Niko pun ikut berdiri dan mengekor di belakang Citra. Dan setelah tiba di kamar Seno, Citra dan Niko terkejut melihat keadaannya.
__ADS_1
"Citra, Bapak kamu ini kenapa?" teriak Siti sembari memegangi tubuh suaminya yang tidak bergerak dengan mata terpejam.